Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 264 - Pertanyaan-pertanyaan Putri


__ADS_3

Entah apa yang di rencanakan oleh Desi, Naya, dan juga Luna, sehingga membuat Putri terjebak di dalam mobil bersama Arash saat ini juga.


"Seharusnya aku tidak mudah percaya sama mereka," cicit Putri pelan di saat melihat mobil Arash yang di kendarai oleh Naya pun sudah melaju meninggalkan dirinya yang berada di dalam mobil Naya bersama dengan Arash.


Desi yang kebetulan di jemput oleh Jo pun, membuat  Naya memiliki ide untuk bertukar mobil dengan Arash. Di mana mobil pria itu berjenis mobil sport yang hanya bisa menampung dua orang di dalamnya. Untuk itu, Naya dan Luna pun diam-diam masuk ke dalam mobil Arash, di saat Putri sudah duluan masuk ke dalam mobil Naya.


"Kita berangkat sekarang?" ajak Arash sehingga membuat Putri menoleh ke arahnya.


"Aku naik taksi aja," tolak Putri yang sudah siap membuka pintu mobil.


Sayangnya mobil milik Naya ini termasuk mobil canggih yang hanya bisa di buka oleh si pengemudi dari tempatnya, sehingga membuat Putri tidak bisa membuka kunci mobil tersebut secara manual.


"Rash—"


"Maaf, Put, aku tidak bisa membiarkan kesempatan ini terlewatkan begitu saja," ujar Arash dengan tersenyum miring.


Putri hanya terbengong mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Arash, di mana sepertinya dia saat ini menjadi korban penculikan dari pria yang ada di sampingnya.


"Kita mau ke mana?" tanya Putri dengan panik.


"Ke tempat yang kamu sukai," jawab Arash.


"Aku mau pulang," pinta Putri.

__ADS_1


"Haruskah aku ke Bandung dan meminta kamu dari Om Satria?" tanya Arash sehingga membuat Putri membulatkan matanya.


"Apa maksud kamu?"


"Aku serius, Put, aku mencintai kamu dan ingin menikahi kamu," ujar Arash sambil melirik ke arah wajah Putri sekilas, kemudian dia kembali fokus ke jalanan yang ada di depannya.


"Rash, aku sudah menerima lamaran Soni! Kamu tidak bisa—"


"Soni hanya melamar kamu saja kan? Bukan meminta kamu dari Om Satria," jawab Arash yang lagi-lagi membuat Putri membulatkan matanya.


"Kamu—"


"Tidurlah, perjalanan kita akan sangat panjang. Aku tidak ingin kamu merasa lelah karena terus ingin berdebat denganku, sehingga membuat kamu tidak bisa menikmati kejutan yang akan aku berikan nanti," titah Arash yang mana membuat Putri mendengus kesal mendengarnya.


"Dasar pemaksa," cibir Putri yang masih di dengar oleh Arash.


"Katakan, kenapa aku harus menerima cinta kamu?" tanya Putri yang sudah menghadapkan tubuhnya ke arah Arash.


"Karena aku mencintai kamu," jawab Arash tanpa beban sedikit pun.


"Bagaimana perasaan kamu kepada Sifa? Bukannya dia wanita yang selama ini kamu cari dan ingin kamu jadikan sebagai istri?" ujar Putri lagi yang bertujuan ingin menjebak Arash dengan semua pertanyaan-pertanyaan yang gadis itu berikan.


"Awalnya aku pikir begitu, tapi ternyata aku salah," jawab Arash sambil melirik ke arah Putri.

__ADS_1


"Kenapa salah? Bukannya kamu sudah sangat yakin sekali dengan apa yang kamu katakan dulu? Jika hanya Sifa yang cocok menjadi pendamping hidup kamu," tekan Putri.


"Itu karena aku berpikir jika aku mencintainya. Tapi ternyata aku salah, Put. Aku tidak mencintai Sifa, melainkan aku mencintai kamu." Arash pun melirik ke arah Putri untuk melihat ekspresi wajah dari gadis yang duduk di sebelahnya saat ini.


"Secepat itu kamu mencintai aku?" tanya Putri lagi.


Maklumlah jika Putri memberikan banyak pertanyaan, secara dia kan seorang pengacara yang hebat. Jadi, wajar saja kan jika dia terus memberikan pertanyaan?


Arash tidak menjawab, pria itu lebih memilih fokus untuk menatap jalanan yang ada di hadapanya saat ini.


Putri menghitung di dalam hati, seberapa lama pria itu membungkam bibirnya untuk tidak bersuara.


"OKe, baiklah kalau kamu tidak mau menjawab. Aku akan menganggap jika kamu hanya ingin bermain-main saja dengan aku," ujar Putri yang sudah menatap ke arah luar jendela dengan perasaan yang seperti tertusuk-tusuk oleh duri.


Tiba-tiba saja mobil yang di kendarai oleh Arash pun berhenti di pinggir jalan, sehingga membuat Putri menoleh ke arahnya.


"Aku tidak menjawab, bukan karena aku tidak memiliki jawaban," ujar Arash yang sudah menghadap ke arah Putri. "Aku diam, karena aku ingin menjawab semua pertanyaan kamu di saat kita sudah tiba di tempat yang aku maksud," sambung pria itu. "Untuk itu, bisakah kamu bersabar sedikit untuk mendengar jawaban yang akan aku berikan ke kamu?" pinta Arash yang hanya di respon oleh Putri dengan kedipan mata saja.


"Aku anggap itu sebagai jawaban 'ya', jadi saat ini biarkan aku menyetir denga fokus, karena perjalanan kita jauh. Sebaiknya kamu tidur dan beristirahat saja. Atau kamu bisa memikirkan pertanyaan-pertanyaan apa saja yang ingin kamu tanyakan sepanjang perjalanan panjang ini, dan kamu dapat menanyakan pertanyaan itu nanti di saat kita sudah tiba di tempat yang aku maksud." Arash pun membelai kepala Putri dengan lembut, sehingga membuat jantung gadis itu pun tidak merasa aman.


Putri sangat takut sekali jika Arash akan mendengar detak jantungnya saat ini.


"O-oke, sekarang menyetirlaha," titah Putri dan menurunkan tangan Arash yang ada di kepalanya.

__ADS_1


Gadis itu pun menatap ke arah luar jendela di saat merasakan pipinya yang memanas. Hal itu pun dia lakukan agar Arash tidak melihat rona merah jambu yang sedang bersemu di pipinya saat ini.


"Baiklah tuan Putri," jawab Arash yang mana membuat pipi Putri semakin memanas mendengarnya.


__ADS_2