
Sifa kembali ke ruangannya dengan mata yang sembab. Kak Uli langsung menghampiri gadis itu dengan perasaan khawatir.
"Ada apa, Sifa? Apa kamu membuat kesalahan besar?" tanya Kak Uli.
Sifa mengerjapkan matanya, dia bingung dengan apa yang di maksud oleh teman seruangannya itu. Lagi pula, dia menangis bukan karena membuat kesalahan, tetapi karena takut jika sang kekasih terluka.
"Sifa, kenapa diam? Kalau ada masalah, cerita aja. Gak papa kok, mana tau kami bisa membantu," ujar Kak Uli yang di angguki oleh Bimo.
"Iya, Sifa. Apa yang terjadi? Apa Pak Abash marah besar sama kamu?" tanya Bimo dengan perasaan khawatir.
Sifa perlahan mulai paham dengan apa yang di maksud oleh Kak Uli dan Bimo, mungkin ini juga kesempatan Sifa membuat alasan agar tak ada yang tahu tentang dirinya dan Abash. Biarkan semua orang berpikir jika dirinya baru saja di marahi oleh bos mereka.
"Iya, Kak, Mas, saya membuat kesalahan," bohong Sifa akhirnya.
"Ya sudah, jangan sedih lagi, ya. Gimana kita makan siang di luar?" usul Kak Uli yang langsung di setujui oleh Bimo.
"Iya, Sifa, sesekali kita makan di luar. Gimana? Biar mood kamu kembali lagi," bujuk Bimo.
Sifa menjadi salah tingkah, haruskah dia menerima ajakan teman-temannya? Sedangkan dirinya juga sudah berjanji dengan sang kekasih untuk makan siang bareng? Ya, walaupun Abash sudah mengatakan jika dirinya tidak bisa berjanji untuk menepati, akan tetapi Abash akan berusaha untuk menepati janjinya makan siang bersama Sifa.
"Eng, gimana ya?"
"Ayolah, Sifa. Sesekali juga kok. Lagian kamu gak bawa bekal, kan?" buku Kak Uli yang memang tak melihat paparbag yang biasa Sifa bawa untuk membawa bekalnya.
"Eng, iya deh kalau begitu," setuju Sifa akhirnya.
"Nah, gitu dong. Sekarang jangan sedih lagi ya," ujar Kak Uli sambil mengusap sisa-sisa air mata di sudut mata gadis itu.
"Heh, Sifa. Lo kenapa di panggil ke ruangannya Pak Bos?" tanya Lila dengan menatap remeh ke arah Sifa. "Lo habis nangis? Di marahi sama Pak Bos?" ejek Lila.
"La, udah deh, gak usah nemgerusuh. Bukannya menghibur malah kasih beban," cibir Kak Uli.
"Siapa yang kasih beban? Aku ini cuma mau kasih nasihat aja ke dia, biar gak keras kepala karena udah di puji saat ujian waktu itu. Lagian, ilmu masih rendah aja udah belagu," cibir Lila dan berlalu meninggalkan yang lainnya.
"Sifa, gak usah di dengar ya, dia cuma iribaja sama kamu, itu," ujar Kak Uli membesarkan hati Sifa.
Di tempat lain, Arash baru saja menyelesaikan masakannya. Pria itu melanjutkan membuat omelet untuk sarapan dirinya dan Putri.
"Maaf, ya," lirih Putri merasa tak enak kepada Arash.
Seharusnya pria itu saat ini sedang beristirahat, bukannya malah berdiri di dapur dan membuatkan sarapan untuk mereka berdua.
"Gak papa, lagian aku tinggal masak telurnya aja, kan? Semuanya juga sudah kamu selesaiin," ujar Arash dengan tersenyum.
"Aku gak tau apa yang terjadi sama aku. Yang jelas aku takut sekali melihat sosis-sosis itu," lirih Putri sambil memainkan kuku-kukunya.
__ADS_1
"Selesai," ujar Arash dan meletakkan omelet di atas piring.
"Dengar, kamu gak boleh mikirin hal itu, ya. Karena kalau kamu mikirin hal itu terus, nanti trauma saat melihat sosis akan semakin kuat, dan kamu akan semakin susah buat lupainnya," ujar Arash mencoba memberi nasehat kepada Putri.
"Iya, aku akan berusaha untuk melupakan hal tersebut."
"Ya sudah kalau gitu, sekarang kita sarapan ya. Aku udah lapar banget ini," ajak Arash sambil tersenyum.
"Iya," jawab Putri.
Mereka pun menikmati omelet yang di buat oleh Arash, hingga keduanya saling memandang di saat suapan pertama.
"Maaf ya, ke asinan," kekeh Arash dengan tersenyum malu.
"Aku pikir tadi ada lautan di dalam telurnya," ejek Putri yang mana membuat keduanya tertawa.
*
Abash menghela napasnya pelan, karena apa yang dia takutkan ternyata tidak terjadi.
"Jadi, nih beneran Lo gak mau di bawa ke rumah sakit?" tanya Abash kepada sang kembaran.
"Iya, gue gak papa. Tapi, sebaiknya kamu bawa deh Putri ke rumah sakit. Temui dengan Naya," saran Arash.
"Kamu harus menjalani terapi, Put, agar trauma kamu hilang," ujar Arash yang mana membuat Abash mengernyitkan keningnya.
"Trauma?" tanya Abash.
"Iya, tadi pagi Putri mau masak omelet sosis, tetapi saat melihat sosi itu, dia---." Arash sengaja menggantung ucapannya dan berharap jika sang kembaran mengerti dengan apa yang dia katakan.
"Ah, begitu. Kalau begitu aku buat janji dulu dengan Naya," ujar Abash dan meraih ponselnya.
"Harus emangnya aku ikut terapi?" tanya Putri kepada Arash.
"Hanya berjaga-jaga saja, agar trauma kamu terhadap sosis tidak akan lama," ujar Arash yang di angguki pelan oleh Putri.
"Naya bilang siang ini dia kosong, bagaimana kalau siang ini kita pergi?" tanya Abash kepada Putri.
"Siang ini?" ulang Putri sambil melirik ke arah Arash.
"Lebih cepat lebih baik," ujar Arash yang di angguki oleh Abash.
"Tapi aku gak punya baju ganti." Putri melihat penampilannya.
"Ayo, saya temani Anda mengambil baju," ajak Abash yang di angguki oleh Putri.
__ADS_1
Sesampainya di apartemen Putri, Abash terkejut saat melihat ada orang yang sedang membersihkan apartemen gadis itu. Pria itu mengenali mereka cukup dari pakaian yang mereka gunakan.
"Buk, Pak," sapa salah satu dari mereka.
"Lanjutkan saja pekerjaannya," titah Abash yang diangguki oleh mereka.
"Mbak, boleh temani saya ke kamar?" pinta Putri kepada salah satu cleaning service yang sedang bekerja itu.
"Boleh, Buk."
Putri pun masuk ke dalam kamar, gadis itu bernapas dengan lega, karena kamarnya tidak di berantakan oleh orang yang tidak di kenal. Putri mengambil koper dan memasukkan beberapa pakaian ke dalamnya. Sepertinya dia untuk sementara tidak akan tinggal di kamar itu dulu.
"Ayo," ajak Putri sambil membawa koper yang ada di tangannya yang mana membuat Abash menaikkan alisnya sebelah.
"Anda mau tinggal sama Arash?" tebaknya yang mana membuat Putri menggelengkan kepalanya.
"Enggak, tapi saya akan tinggal dengan teman. Dokter Luna," ujar Putri yang di angguki oleh Abash.
"Ya sudah kalau begitu, ayo."
Mereka berdua pun kembali menuju apartemen Arash, di mana pria itu saat ini sudah terlelap dalam tidurnya.
"Saya mandi dulu, tolong tunggu sebentar," pamit Putri yang di angguki oleh Abash.
Arash terbangun saat Putri sudah masuk ke dalam kamarnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Abash kepada sang kembaran
"Sepertinya dia dulu pernah mengalami hal yang sama. Tapi tidak separah ini," ungkap Arash.
"Dari mana kamu tau?"
"Semalaman dia terus mengigau," jawab Arash yang langsung di tangkap oleh Abash.
"Baiklah, Lo kasih tau Naya apa yang terjadi tadi malam, karena gue yakin, Putri gak akan cerita dengan Naya."
"Iya, gue akan hubungi Naya setelah kalian pergi."
Putri pun keluar dari dalam kamar, gsdis itu pun mengajak Abash untuk berangkat ke rumah sakit.
"Hati-hati di jalan, kasih kabar kalau terjadi sesuatu," ujar Arash kepada sang kembaran.
Saat dalam perjalanan ke mobil, Abash pun mengirimkan pesan singkat kepada sang kekasih, jika dirinya akan mengantarkan Putri ke rumah sakit.
"Apa yang terjadi dengan Mbak Putri?" gumam Sifa merasa penasaran.
__ADS_1