
Lucas sudah memeriksa keadaan Abash, pria itu juga sudah memeriksa semua hasil yang di periksa oleh dokter sebelumnya. Dia merasa bingung dengan keadaan Abash.
“Tidak ada keganjalan sejauh ini, Dok. Tapi, saran saya Pak Abash sebaiknya kembali melakukan MRI,” saran dokter lain memberi usul.
Lucas mendengar usulan itu dan tidak buruk juga, demi untuk kebaikan Abash. “Lakukan,” titah Lucas yang kemudian di angguki oleh dokter tersebut.
Lucas pun kembali beralih kepada Sifa, di mana gadis itu kedapatan mengusap air matanya. Tampak matanya dan hidungnya telah memerah.
“Kenapa Sifa menangis?” batin Lucas merasa bingung. “Atau jangan-jangan?” Dia terdiam sebentar, mencoba untuk berpikir.
Lucas pun mengambil sebuah kesimpulan di mana perkataan Mama Kesya saat berbicara kepada Sifa, yang mana seolah memaksa gadis itu untuk menjaga Abash di ruangannya, sepertinya memiliki maksud yang tersembunyi. Atau jangan-jangan Sifa dan Abash memang memiliki hubungan spesial yang tidak di ketahui oleh orang lain, kecuali Mama Kesya.
Jika tidak, mana mungkin Mama Kesya sampai sangat bersemangat sekali menyuruh Sifa untuk menjaga Abash tadi?
“Sifa,” tegur Lucas yang mana membuat Sifa menoleh ke arah pria itu dengan cepat
“Iya, Kak?” tanya Sifa. Air yang sudah ada di ujung hidungnya dia tahan, jangan sampai meleleh dan dia hirup kembali. Sulit rasanya menahan kesedihan ini bagi dirinya.
“Em, nanti kalau Mama ke sini, trus tanyain Abash ke mana, kamu jangan bilang ya kalau Abash baru mengalami muntah-muntah hingga tak sadarkan diri,” pesan Lucas yang mana di angguki oleh Sifa dengan gerakan yang cepat
“Iya, Kak,” jawab Sifa pelan.
“Ya sudah kalau gitu, Kakak keluar dulu, ya,” pamit Lucas.
“Kak,” panggil Sifa yang mana membuat Lucas telah menghentikan langkahnya dan kembali berbalik ke arah gadis itu.
“Ya?” tanya Lucas dan kali ini pria itu benar-benar melihat air mata Sifa yang menggenang di mata gadis itu, hampir terjatuh.
Terlihat pancaran kesedihan di sana, yang tak mungkin di rasakan oleh orang yang tidak memiliki hubungan spesial dengan orang yang bersangkutan.
“Apa Pak Abash baik-baik saja?” tanya Sifa yang tidak bisa menahan lagi air matanya. Ya, sangat sulit baginya untuk bisa menahan perasaannya sekarang ini. Dia tidak tahan lagi dan sekarang dia tidak peduli jikalau Lucas melihatnya menangis.
Lucas pun memajukan langkahnya, mengikis jarak di antara dirinya dan Sifa. Tak disangka, Lucas mengulurkan tangannya untuk meraih puncak kepala Sifa dan mengusapnya lembut.
“Kamu tenang aja, ya. Abash akan baik-baik saja. Dia pria yang kuat. Kakak cuma minta doa dari kamu, agar Abash bisa melewati semua ini,” ujar Lucas dengan tersenyum lembut.
Sifa menganggukkan kepalanya. “Terima kasih, Kak,” jawab Sifa yang merasa belum lega, sebelum gadis itu melihat sendiri keadaan sang kekasih baik-baik saja.
“Kakak yakin, Abash akan segera pulih demi orang yang dia cintai. Dan juga, dia pasti akan senang sekali di saat mengetahui jika dicintai sebesar ini oleh seorang yang baik sepeti kamu,” ujar Lucas yang mana sebenarnya hanya menebak-nebak saja, jika Sifa dan Abash saling mencintai.
__ADS_1
Melihat ekspresi Sifa yang berubah, membuktikan jika apa yang di duga oleh Lucas ternyata benar.
Sifa mengalihkan tatapannya dari laki-laki itu dan menghindarinya. Jujur saja dia takut. Takut jika ada yang tak suka dengannya, dan takut jika dia tidak diperkenankan untuk berada di samping Abash lagi untuk hari selanjutnya.
Lucas pun tersenyum dengan lembut. Senyuman yang tidak pernah Sifa lihat dari pria dingin yang tak bisa tersentuh itu. Dan ini adalah untuk pertama kalinya, Sifa melihat Lucas tersenyum lebar kepadanya. Manis sekali. Juga sangat tampan.
"Kamu tenang saja. Abash akan baik-baik saja," ucap Lucas, lalu mulai berbalik.
Pria itu pun berlalu meninggalkan Sifa yang menatapnya dengan tatapan heran. Mungkin gadis itu berpikir dari mana Lucas tahu jika Sifa dan Abash saling mencintai. Apakah ada yang memberitahunya? Atau terlihat dengan begitu jelas?
Sifa duduk di samping brankar Abash, menatap kekasihnya itu dengan tatapan yang nanar. Iba, khawatir, kasihan melihat sosok laki-laki yang dia sayangi tak berdaya terbaring tak berdaya di atas sana. Rasanya dia rela jika saja harus berbagi rasa sakit yang diderita oleh laki-laki itu dengannya.
Ya, manusia terkadang memang gila. Apalagi saat jatuh cinta seperti itu. Siapa yang akan tega jika melihat orang yang disayangi tengah kesakitan?
Setelah kepergian Lucas, tak berapa lama dua perawat pun datang untuk membawa Abash menuju lab. Sifa yang tidak tahu harus berbuat apa di dalam kamar inap sang kekasih sendirian pun, memilih untuk ikut menemani pria itu, walaupun Abash tidak akan pernah tahu jika kekasihnya berada di dekatnya di saat dia tak sadarkan diri.
*
Arash duduk di lantai dengan punggung yang bersandar di daun pintu kamar Putri. Pria itu pun terus meminta maaf kepada gadis itu, tetapi Putri sama sekali tak menjawab permintaan maafnya. Yang hanya Arash dengar adalah, sebuah isak tangis yang keluar dari bibir Putri.
Arash menatap gagang pintu yang ada di atas kepalanya, ada niatan untuk mendobrak saja pintu tersebut dan masuk untuk mendapatkan kata maaf dari Putri, tapi apakah wanita itu akan memaafkannya?
'Jangan gila. Iya jika dia memafkanku. Bagaimana jika dia bertambah marah karena pintunya aku rusak?' pikir Arash. Maka, dia hanya diam sambil memeluk lututnya sendiri dan menatap dinding yang ada di kejauhan sana. Dia tengah berpikir cara apa untuk mendapatkan maaf dari wanita tersebut.
Dia baru saja mendapatkan panggilan dari rekan kerjanya. Malam ini mereka akan menyelinap masuk ke sebuah hotel, di mana sedang diadakan sebuah pesta yang hanya di datangi oleh orang-orang yang mencintai judi.
Ya, malam ini Arash akan mengungkapkan salah satu kartu mati Yosi.
Arash terdiam, sedikit bimbang, apakah dia harus pergi atau akan menyerahkan tugas itu saja kepada rekannya. Akan tetapi, bagaimana pun juga itu sudah menjadi tugas yang harus dia lakukan sekarang ini.
“Put, aku minta maaf, ya. Aku gak bermaksud nyakiti hati kamu. Aku hanya–.” Arash pun tak mampu melanjutkan ucapannya. Dia hanya menggigit bibirnya sebelum kembali berbicara.
Arash mencoba untuk menarik napasnya, dan mencoba untuk melepaskan sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya. Meskipun itu sepertinya tidak berhasil sama sekali.
“Put, aku harus pergi patroli, kamu baik-baik ya di rumah. Sebentar lagi Desi akan pulang, kok,” ujar Arash akhirnya memberi tahu, tetapi dia tidak mendengar jawaban apa pun dari dalam kamar itu.
Putri yang berada di dalam kamarnya dan menyandarkan tubuhnya di dinding pun, mendengarkan semua apa yang Arash katakan barusan. hatinya sakit. Benar-benar sakit, tapi dia juga sadar akan apa yang terjadi sebelumnya sehingga Arash membentaknya seperti tadi.
“Kamu gak perlu minta maaf, Rash, karena memang aku yang salah,” lirih Putri pelan saat mendengar pergerakan dari balik pintu kamarnya.
__ADS_1
Putri diam, mencoba untuk mendengarkan apabila masih terdengar suara yang lain dari balik pintu itu. Akan tetapi, tak ada lagi yang bisa dia dengar di sana. Hanya kekosongan yang merajai ruangan tersebut.
'Apa Arash sudah pergi?' tebak Putri di dalam hati. Dia mencoba mendengarkan lagi, tapi suara napas laki-laki itu masih terdengar saja.
Saat hanya merenung seperti itu, ponsel Putri pun berdering, gadis itu bangkit dari duduknya dan mengambil ponselnya yang ada di atas kasur, melihat siapa yang telah membuat panggilan kepadanya.
“Om Martin,” lirih Putri dan segera menggeser tombol hijau yang ada di sana.
“Ya, Om?” ujarnya saat panggilan sudah tersambung dan terdengar suara laki-laki di seberang sana.
“Put, nanti akan ada orang yang menjemput kamu. Kamu lihat saja kode mobil, Om, ya,” ujar Om Martin memberi tahu.
“Iya, Om.”
Panggilan pun terputus. Putri pun bergegas untuk membersihkan diri, dia harus segera pergi untuk membongkar dan mendapatkan salah satu kelemahan Yosi, agar dirinya dan Abash bisa terbebas dari ancaman keji pria itu.
Putri menggunakan gaun sabrina berwarna biru dongker, kemudian dia tak lupa menggunakan bros yang sangat indah pada bagian dadanya, sebagai penghias penampilan gadis itu. Sebenarnya bros itu bukanlah bros biasa, tetapi terdapat sebuah kamera tersembunyi di dalamnya. Bros yang di berikan oleh Om Martin yang sudah dirancang sedemikian rupa dengan ketajaman kamera dan sebuah mic kecil, untuk mengungkap kebusukan Yosi.
Ya, malam ini Putri akan menyusup ke sebuah acara pesta yang hanya di hadiri oleh orang-orang yang senang berjudi masino. Di mana hanya orang-orang yang benar-benar kaya dan memiliki pengaruh besar saja yang bisa masuk ke dalam sana. Jangan harap orang biasa bisa masuk ke dalamnya, bahkan meski mereka kaya, tapi orang terpilih lah dan yang hanya memiliki akses masuk yang bisa masuk ke dalamnya.
Tok ... tok ….
Putri menoleh ke arah pintu kamarnya yang di ketuk perlahan, dia pun sengaja memperlambat pergerakannya agar tak di dengar oleh orang yang ada di luar kamarnya.
“Put, aku pergi ya. Kamu hati-hati di rumah. Hubungi aku jika terjadi sesuatu,” ujar Arash sebelum pria itu pergi.
Putri pun bernapas lega, di saat dia mendengar suara pintu apartemen yang tertutup.
“Huff, aman,” lirihnya pelan dan bergegas untuk keluar kamar. Sudah tak ada lagi Arash di luar sana.
Putri pun melihat kembali penampilannya di cermin, sebelum gadis itu benar-benar pergi.
“Akhh, kenapa harus nangis sih tadi? Kan jadi sembab matanya,” lirih Putri yang melihat matanya sedikit bengkak. Menyesal, tapi apalah guna sekarang. Jika penyesalan berada di depan, bukankah itu pendaftaran namanya?
“Untung pakai topeng,” gumamnya dan kembali memastikan barang-barang yang akan dia bawa.
Putri pun membuka pintu kamarnya secara perlahan, mengecek apakah ada orang atau tidak. Merasa aman dan sepi, gadis itu pun bergegas keluar kamar sambil menenteng sepatu high heels milknya.
“Semoga ini berhasil,” lirihnya pelan sambil memakai sepatunya dan keluar dari apartemen.
__ADS_1
Putri bernapas lega, di saat tidak menemukan Arash di depan pintu lift. Setidaknya dia tidak akan bertemu dengan pria itu kan saat ini, karena Arash sudah duluan pergi sekitar sepuluh menit yang lalu sebelumnya.
Putri keluar dari lift, gadis itu pun melenggang dengan santai dan tersenyum kepada satpam. Saat Putri sudah berdiri di depan lobi, sebuah mobil mewah berwarna hitam, dengan kode yang di katakan oleh Om Martin pun, berhenti di depanya. Gadis itu pun bergegas masuk ke dalam mobil itu, tanpa dia ketahui jika ada yang memperhatikan dirinya sedari keluar dari dalam lift tadi.