
Abash memeluk Sifa dengan penuh cinta. Tanpa sadar, pria itu juga meneteskan air matanya. Bang Fatih menjadi saksi, seberapa besar cinta kedua insan yang ada di hadapannya saat ini.
Abash merelaikan pelukannya, kemudian pria itu menghapus air mata Sifa yang membasahi pipinya.
"Mas," lirih Sifa sambil sesenggukan. "Mas kok nangis?" tanya Sifa yang juga sudah menangkup pipi Abash dan mengusap air mata pria itu.
"Ah ini---"
"Maaf ya, aku udah bikin Mas nangis dan sedih karena mendengar masa lalu aku," lirih Sifa. "Aku tau, Mas pasti malu punya calon istri kayak aku, di mana rumahnya setiap malam di hinggapi oleh tikus dan memiliki pakaian yang terkadang terpaksa di tempel untuk menutupi bekas gigitan tikus."
"Gak, sayang. Gak. Aku malah bangga punya calon istri seperti kamu. Kamu berjuang dan menjadi diri kamu sendiri, hingga kamu sampai ke tahap ini tanpa bantuan siapapun. Kamu berhasil masuk ke dalam perusahaan aku karena kepintaran kamu, bukan karena aku tertarik dengan kamu. Kamu berhasil bergabung ke tim Cobra karena kepintaran kamu juga, sayang, bukan juga karena aku. Semua murni karena diri kamu sendiri, sayang. Hubungan kita tidak ada sangkut pautnya dengan kesuksesan kamu," ujar Abash sambil mengusap pipi Sifa dengan lembut.
"Kamu tau, aku itu tidak peduli, siapa kamu di masa lalu dan juga tentang kasta kita. Aku tidak peduli dengan hal itu. Yang terpenting bagi aku itu adalah attitude yang kamu miliki, terlepas kamu mau pintar atau tidak. Karena, kalau tidak ada attitude, kepintaran yang kamu miliki pun semuanya hanya sia-sia sayang. Aku pilih kamu, karena aku cinta kamu dari kepribadian kamu yang baik dan sopan, serta apa hal unik yang ada di dalam diri kamu." Abash menjeda ucapannya.
"Aku cinta kamu, karena apa adanya kamu, sayang. Dengan semua kerendahan hati, kesabaran kamu selama ini, dan juga tekad kamu yang kuat untuk mewujudkan semua mimpi-mimpi kamu. Aku salut dan kagum dengan semua hal itu. Karena semua hal itulah yang membuat aku jatuh cinta kepada kamu."
"Dan aku jatuh cinta kepada kamu, karena kejutekan dan keegoisan kamu, Mas. Kamu tau, kamu itu benar-benar nyebelin dan bikin aku selalu kepikiran tau gak sih," sahut Sifa sambil terkekeh pelan di tengah isak tangisnya.
"Aku gak jutek," jawab Abash. "Aku juga gak egosi."
"Dasar pembohong. Kamu itu egois banget dan suka memaksakan kehendak kamu tau gak sih. Kamu juga suka curi-curi ciuman aku dan bilang kalau itu tidak ada artinya. Apa itu namanya kalau bukan egois?" jawab Sifa sambil mengerucutkan bibirnya.
Bang Fatih yang menjadi penonton pun menaikkan alisnya sebelah. Apa saat ini Sifa dan Abash tidak menyadari keberadaannya?
__ADS_1
"Aku bukan curi ciuman kamu, sayang. Itu karena aku ingin meraba perasaan aku ke kamu. Lagian, kamu itu kenapa selalu saja muncul dalam pikiran aku dulu? Bikin aku tuh pingin ketemu kamu terus, tau gak sih?" balas Abash.
"Mas aja yang pikirannya ngeres. Datang-datang ke apartemen main cium-cium aku."
"Loh, siapa yang duluan cium? Yang jatuh dari kursi saat mengambil koper dan cium aku duluan, siapa hayo? Gara-gara ciuman kamu itu, pikiran aku jadi terkontaminasi tau gak sih. Bawaanya pingin cium kamu terus," kekeh Abash.
"Iih, dasar mesum. Itu kan aku gak sengaja, Mas. Lagian, kenapa juga Mas ada di situ, kalau Mas gak ada di situ, kan aku jadi gak cium, Mas."
"Itu karena aku gak mau kamu terluka, sayang. Dan kamu tau, kamu adalah perempuan pertama yang bikin tubuh dan pikiran aku bergerak untuk menolong." bisik Abash sambil membenarkan rambut Sifa.
"Kan, bohong lagi. Dulu Mas pernah nolongin seorang gadis saat di sekolah kan? Dan, karena gadis itu, Mas gak mau mengenal gadis lain, kan?" tebak Sifa.
"Sok tau." cibir Abash. "Aku cuma kasian aja sama dia, makanya aku tolongin."
"Kamu cemburu?" tanya Abash sambil menatap menggoda ke arah calon istrinya itu.
"Dih, siapa juga yang cemburu?" Sifa pun mengedipkan matanya cepat, menandakan jika gadis itu sedang berbohong saat ini.
"Cemburu, kan? Cemburu juga gak papa kok. Aku malah senang kamu cemburu," ujar Abash yang sudah merengkuh pinggang Sifa.
"Iih. Mas, apaan sih ..." lirih Sifa saat Abash ingin menciumnya. Gadis itu pun memukul dada bidang Abash dengan pelan.
Saat keduanya sedang terlihat bermesraan, Bang Fatih pun berdehem pelan, untuk mengambil atensi keduanya. Sifa dan Abash pun serentak menoleh ke arah sumber suara, kemudian mereka langsung menjaga jarak dengan cepat.
__ADS_1
"Baru nyadar kalau ada Abang di sini?" goda Bang Fatih tersenyum dengan penuh arti menatap ke arah Abash dan Sifa.
"Maaf, Bang, kelepasan," cicit Abash sambil mengusap tengkuknya.
"Hmm, asal jangan kelepasan yang lain aja," jawab Abash.
Sifa dan Abash terlihat salah tingkah, hingga Quin masuk ke dalam ruangan khusus tersebut sambil membawa cake pesanan Bang Fatih dan juga Abash.
"Loh, ada apa ini? Kok bau-baunya lagi ada yang kesemsem?" tanya Quin saat melihat wajah merona Abash dan Sifa
"Biasa, ada yang menganggap dunia milik sendiri," sahut Bang Fatih.
"Maksudnya?"
"Itu, tadi ada yang---"
"Bang--" tegur Abash dan memberikan kode kepada Fatih, agar tidak mengatakan satu kata patah pun kepada Quin. Jika Quin sampai tau, bisa-bisa panjang urusannya nanti.
"Tadi apa?" tanya Quin penasaran dan sudah duduk di samping Sifa.
"Itu, tadi ada yang terpesona dengan gambar sketsa aku," elak Bang Fatih dan melirik ke arah Abash. Terlihat Abash menghela napasnya dengan pelan.
"Oh ya, coba aku lihat?" Quin pun mengambil buku sketsa yang ada di atas meja. "WOww, memang gambar-gambar kamu gak di ragukan lagi, Tih," puji Quin yang mana membuat Bang Fatih semakin bangga dengan hasil karya coretannya.
__ADS_1