Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 319 -


__ADS_3

Putri membuka pintu mobil, gadis itu masuk dan duduk kursi penumpang bagian depan.


"Yuk, kita berangkat sekarang," ajak Putri yang sedang memasang sabuk pengaman tanpa menoleh ke arah pria yang duduk di belakang kemudi.


Setelah memasang seat bel, Putri langsung menyandarkan punggung dan menutup mata.


Lima belas detik tak merasakan ada pergerakan, Putri pun mengernyitkan kening dan membuka matanya.


"Kenapa gak jalan Bar----a---" lirih Putri di akhir kalimatnya, di saat melihat jika yang duduk di sampingnya bukanlah sang adik, melainkan Arash.


Putri berniat membuka kembali seat belnya, akan tetapi Arash menahan pergerakan tangan gadis itu.


"Hanya sebentar, aku mohon," pinta Arash dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Rash, ini----"


"Hanya sebentar saja, Put. Aku mohon. Sebentar saja. Biarkan aku bersama kamu," pinta Arash.


Putri menghela napasnya pelan, pergerakan tangannya yang ingin melepaskan seat bel pun dia urungkan.


"Izinkan aku menggenggam tangan kamu, Put. Aku mohon," pinta Arash lagi.


Merasa tak tega melihat wajah sendu Arash, Putri pun menganggukkan kepalanya dan membiarkan Arash menggenggam tangannya.


"Terima kasih," lirih Arash dan menggenggam tangan Putri.


Pria itu menangkup genggaman tangannya di tangan Putri, membawanya ke bibir dan mengecupnya dengan pelan.


"Maafin aku, yang tidak bisa menjaga kamu malam itu, Put. Aku---"


"Hentikan Rash, aku tidak ingin membahasnya lagi. Kita sudah pernah membahas ini, bahkan kita sudah sepakat dengan keputusan yang aku buat," potong Putri.

__ADS_1


"Tidak, Put. Aku tidak pernah menyetujui apa yang kamu putuskan," tegas Arash.


"Rash, aku----"


"Put, saat ini aku sudah kehilangan kakek, aku mohon, jangan biarkan aku kehilangan kamu, Put," pinta Arash.


"A-aku ... "


"Aku janji, aku akan menemukan siapa pelakunya, Put. Tapi aku mohon, jangan tinggalkan aku. Aku butuh kamu."


Putri tak sanggup menahan air matanya. Dia juga tidak bisa kehilangan Arash, akan tetapi, jika terbukti kalau malam itu adalah nyata, maka Putri akan sangat bersalah sekali dengan Arash, bahkan dia tidak bisa menikah dengan pria itu karena terbayang akan Abash.


"Arash, aku minta maaf. Aku tidak bisa menjanjikan apapun kepada kamu." Putri menarik tangannya dari genggaman tangan Arash, gadis itu pun membuka seat bel dan keluar dari dalam mobil.


"Put," panggil Arash, akan tetapi Putri malah berlalu begitu saja.


Bara yang memperhatikan dari jauh, merasa iba dengan sang kakak. Jika dia berada di posisi Arash, maka dia juga akan melakukan hal yang sama. Dan jika dia berada di posisi Putri, maka dia juga akan melakukan hal yang sama dengan sang kakak.


"Maaf," ujar Bara, saat Putri sudah berada di depannya.


"Aku akan pulang sendiri." Putri berlalu melewati Bara, akan tetapi pria itu menahan lengannya.


"Pulang bersama aku, Mbak. Aku tidak ingin kecolongan lagi," lirih Bara.


Putri mengangguk, gadis itu pun berbalik mengikuti pergerakan tangan Bara yang menuntun tubuhnya.


"Kami pulang dulu, Rash," pamit Bara.


Arash menatap wajah Putri, dengan kepala yang tertunduk.


"Tolong jaga dia untuk aku, Bar," ujar Arash tanpa menoleh ke arah Bara.

__ADS_1


"Baiklah."


Putri hanya menoleh ke arah Arash sekilas, kemudian gadis itu menundukkan kepalanya. Mereka pun berlalu, dengan Putri yang enggan menatap wajah kekasihnya itu lagi.


*


Penyelidikan kasus Putri dan Abash pun terhenti sejenak, karena kabar duka yang menyelimuti Keluarga Moza. Bahkan, pernikahan Abash dan Putri pun terpaksa di undur.


"Syukurlah, Mama pikir kamu----"


"Ma, Putri kan udah bilang, kalau Putri cuma masuk angin aja, Ma," potong Putri yang sudah menebak apa yang ingin dikatakan oleh Mama Nayna.


"Iya, Mama kan cuma khawatir aja, Kok."


"Ma, apa Putri tes visum aja?" tanya Putri kepada Mama Nayna.


"Sayang, kamu yakin?" tanya Mama Nayna balik. "Kamu tau kan, kalau kamu melakukan tes visum, maka kasus ini akan menjadi sarapan publik dan merusak nama baik kamu, sayang. Begitu pun juga dengan keluarga Moza."


"Tapi, Ma. Putri capek di curigai terus. Putri yakin, setelah Putri pikir-pikir dan mencoba mengingat kejadian malam itu, Putri rasa tidak ada terjadi apapun antara Putri dan Abash," ujar Putri.


"Kamu yakin? Atau kamu setengah yakin dengan ucapan kamu itu, sayang?" tanya Mama Nayna lagi.


"Put, Putri sangat yakin, Ma. Putri yakin sekali."


"Baiklah, jika kamu sangat yakin tidak pernah melakukan hal itu dengan Abash, maka kamu harus bersedia menikah dengan Arash."


"Ma ..." rengek Putri dengan menggelengkan kepalanya.


"Kamu tidak berani menerimanya kan? Karena kamu merasa tidak yakin dengan ingatan kamu sendiri."


Ya, Putri kurang yakin dengan apa yang dia ingat. Malam itu, dia hanya mengingat jika dirinya mengendus tubuh Abash, sedangkan pria itu memeluk tubuhnya. setelahnya, Putri benar-benar tidak mengingat apapun lagi. Begitu pun dengan Abash, pria itu juga tidak mengingat apa yang terjadi pada malam itu.

__ADS_1


Tapi, Abash mulai melakukan terapis hipnotis dengan Dokter Safrizal, di mana dokter tersebut berusaha membantu Abash untuk kembali mengingat apa yang terjadi malam itu. Namun, sudah empat kali pertemuan, belum juga menemukan titik terang akan kejadian malam kelam itu.


__ADS_2