Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 112 - Lift 3


__ADS_3

"Em, anu.. Anda sebaiknya membuka pengait br* yang anda gunakan."


"Apa?"


"Maaf, jangan berpikir buruk dulu. Saya melihat jika Anda mulai kesulitan bernapas. Untuk itu, sebaiknya Anda melepaskan pengait br*-nya," bujuk Arash.


Arash tidak tahu, berapa lama lagai mereka akan terkurung di dalam lift. Sedari tadi pria itu sudah berusaha untuk menekan tombol bantuan yang ada di lift, akan tetapi tombol itu tidak lagi berfungsi semenjak lift kembali terjatuh untuk kedua kalinya.


"Tidak, saya tidak akan melepaskannya," lirih Putri dengan napas yang tersenggal-senggal.


Melihat Putri yang semakin kesulitan bernapas, membuat Arash pun nekad melepaskan pengait br* milik gadis itu.


"Tidak kada cara lain," lirih Arash pelan dan mengulurkan tangannya ke punggung Putri.


"Maaf," ujar Arash dngan rasa bersalah.


"Ap-apa yang Anda lakukan?" tolak Putri, akan tetapi tenaga gadis itu sudah sangat lemah.


"Saya janji, saya tidak akan melakukan hal yang tidak senonoh," bisik Arash dan berusaha melepaskan pengait br* milik Putri.


Tangan pria itu dapat merasakan jika kulit Putri sudah basah dengan keringat, bahkan pakaian minim gadis itu pun sudah terasa sangat basah sekali.


"Lepas, brengsek," maki Putri dengan setengah kesadarannya dan napas yang tersenggal.


"Maaf, ini demi kebaikan Anda," bisik Arash.


Putri masih terus mendorong tubuh Arash, akan tetapi tenaga gadis itu tidak mampu membuat Arash menjauh darinya. Arash bernapas lega setelah berhasil melepaskan pengait br* dengan susah payah, kemudiana pria itu pun langsung memberikan jarak anatara dirinya dan Putri.


"Dasar brengsek," maki Putri dengan rasa malu yang harus dia tanggung.


"Maafkan saya," ujar Arash sambil membasahi bibirnya yang mulai terasa kering.


Di dalam lift pun, semakin terasa panas dan berkurangnya oksigen, sehingga membuat kedua insan itu pun terkulai lemas. Arash sudah melepaskan kemejanya, sehingga hanya menyisakan kaos putih polos pas body miliknya.


"Berapa lama lagi kita kan terkurung di sini?" tanya Putri dengan suara yang sangat pelan sekali.


"Saya juga tidak tahu, seharusnya mereka sudah bergerak cepat dan menyelamatkan kita," jawab Arash dengan suara yang lirih juga.


"Hiks ..."


Terdengar suara isakan tangis dari Putri, sehingga membuat Arashs pun langsung menoleh ke arah gadis yang sudah terlihat sangat lemas sekali itu.

__ADS_1


"Ma, maafin, Putri," lirihnya dengan sangat pelan. "Papa, Bara, tolongin Putri," lirih gadis itu lagi, sebelum dia kehilangan kesadarannya dan jatuh tergeletak di lantai.


"Nona," panggil Arash dan merangkak ke arah Putri.


Arash pun mengagkat kepala Putri ke atas pangkuannya, pria tu menepuk pelana pipi gadis itu agar tetap dia tetap dalam keadaan sadar.


"Nona, bangunlah," panggil Arash masih terus menepuk pipi Putri yang terasa dingin.


"Hei, bangunlah. Anda tidak boleh tidur," ujar Arash lagi berusaha membangunkan Putri untuk tetap dalam keadaan sadar.


Arash memeriksa urat nadi Putri di lehernya, pria itu tak dapat merasaakan detakan apa pun di sana. Dengan tangan yang gemetar, Arash mencoba meletakkan jarinya di dekata lubang hidung Putri.


"Dia masih bernapas," lirih Arash.


Pria itu pun mengambil jas miliknya dan melipatnya dengan asal, pria itu pun menggantikan pahanya dengan jas, agar dia dapat mempermudah memberikan napas buatan kepada gadis itu.


"Bertahanlah, Nona," ujar Arash dan menarik napas panjang, kemudian memencet hidung Putri dan membuka sedikit mulutnya.


Arash pun meniupkan napas ke dalam mulut Putri, agar gadis itu tetap bisa bertahan sampai bantuan menolong mereka.


Grek .. Grek ...


"Ya Allah, tolong bantu kami," doa Arash pelan.


Pria itu kembali memberikan nnapas buatan untuk Putri, sehingga dirinya pun mulai kehabisan napas.


"Tidak, aku tidak boleh lemah. Aku harus kuat. Jika tidak, di antara kami tidak akan ada yang bisa selamayt," lirih Arash.


Pria itu pun kembali menatap wajah Putri yang terlihat sangat pucat sekali. Ada rasa ibda dan tak tega, jika dia tak menyelamatkan gadis yang sudah tak sadarkan diri itu lagi.


"Bertahanlah," ujar Arash dan kembali memberikan napas buatan.


Braak ... Kraak ... Kraak ...


Setitik cahaya pun mulai muncul, bersamaan dengan pintu lift yang berbuka.


"Apa kalian baik-baik saja?" tanya seorang pria yang sudah membuka pintu lift seluas tubuhnya.


Arash berbalik denga wajah lemasnya, pria itu bernapas lega karena bala bantuan akhirnya tiba.


"Cepat, panggil ambulans," lirih Arash dengan napas yang ngos-ngosan.

__ADS_1


"Siapakan peralatan medis, ada yang pingsan di sini," pekik pria tersebut.


Arash mengambil jas miliknya yang ada di atas kepala Putri dan menutupi tubuh bagian atas milik Putri, Pria itu pun berusaha bangkit dan menggendong gadis itu untuk keluar dari lift.


Pria yang ada di dedpan lift, berusaha untuk mendorong pintu lift untuk terbuka dengan lebar kembali, sehingga bisa membuat Arash dan Putri keluar bersamaan.


Tim medis dengan cepat langsung mengambil alih Putri dari gendongan Arash dan meletakkannya ke atas brankar, kemudian langsung memasangkan oksigen ke gadis itu.


Tim medis yang lain pun merangakul Arash dana menyuruhnya untuk naik ke atas brankar juga, ak lupa memberikan okesigen kepada pria itu.


Krek .. Krek .. Krek ..


Terdengar suara roda yang bergesekan dengan lantai, membuat semua orang yang ada di sana dan ikut khawatir dengan keadaan orang yang terjebak di dalam lift merasa iba dan juga ikut bernapas dengan lega, karena mereka akhirnya bisa di selamatkan dengan susah payah.


*


Putri menggerakkan tangannya dengan pelan, gadis itu perlahan membuka matanya.


"Sayang," panggil Mama Nayna dengan suara yang serak.


Putri menoleh ke arah sumber suara, gadis itu pun mengedipkan matanya pelan saat menatap wajah khawatir sang mama.


"Mama," lirih Putri.


"Alhamdulillah , syukurlah kamu sudah sudah sadar, Sayang," ujar Mama Nayna dan mengecup punggung tangan Putri.


"Putri di mana?" tanya gadis itu. "Kenapa Mama bisa ada di sini?" sambungnya lagi.


"Kamu di rumah sakit, sayang. Tadi kamu pingsan di dalam lift. Syukurlah kamu tidak apa-apa, sayang. Mama khawatir sekali," lirih Mama Nayna.


Putri menolehkan kepalanya ke sebelah kiri, di saat mendengar suara sang papa yang sedang berbicara dengan seseorang yang suaranya juga taka asing di telinga.


"Baiklah, saya akan percaya sama nak Arash, tapi, jika terbukti Nak Arash melakukan hal yang tidak senonoh dengan putri saya, maka saya akan menuntun Anda," ujar Papa Satria.


"Hal tidak senonoh?" batin Putri dengan kening menngkerut.


Gadis itu pun kembali teringat di saat mana Arash membuka kaitan br* miliknya, sehingga dia bisa sedikit bernapas tanpa ada sesuatu yang mengikat tubuhnya. Juga, Putri mengingat di mana Arash memberikan napas buatan untuknya.


"Tidak."


Sreeekk .....

__ADS_1


__ADS_2