Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Kehangatan Sesungguhnya.


__ADS_3

"Mas Dan, sshh."


"Lea."


"Mas, hmmh, sshh."


Daniel benar-benar tengah terjepit oleh kenikmatan. Sepulang dari bermain ice skating, ia benar-benar meminta kehangatan pada istrinya.


"Gimana rasanya sayang, hmmh?"


"Enak mas, ah, sshh."


Daniel terus bergerak maju-mundur, sementara Lea meremas seprai tempat tidur sambil terus meracau dan menyebut nama suaminya.


Lama keduanya menyatu, sampai kemudian...


"Mas Dan, aaakh."


"Leaaa, aaakh."


Tubuh keduanya menegang, seperti tersetrum listrik. Tak lama seluruhnya pun bergetar hebat, seiring dengan pelepasan yang terjadi.


"Mas, aku sayang sama mas."


Lea mencium pipi Daniel berkali-kali, setelah semua cairan hangat Daniel tertumpah dalam rahimnya. Sementara Daniel sendiri kini ambruk dalam pelukan sang istri, mencoba mengatur nafas yang memburu. Keheningan lalu merayap bersama kantuk.


Daniel terbangun setelah hampir dua jam tertidur, ia ingat jika mereka belum mandi. Lalu pria itu pun pergi ke kamar mandi Lea dan mengisi bathub dengan air hangat. Tak lama kemudian, ia pun membangunkan istrinya itu.


"Lea, mandi dulu. Baru kita tidur lagi." ujarnya pada sang istri.


"Males, mas." rengek Lea, masih setengah tertidur.


"Nggak boleh, kita harus tidur dalam keadaan bersih." ujar Daniel lagi.


Lea masih terlihat malas, maka Daniel pun menyibak selimut yang menutupi tubuh istrinya itu. Ia menggendong Lea hingga ke kamar mandi, kemudian mereka berendam bersama di air hangat.


Usai cukup lama berendam, mereka mulai membersihkan diri dengan sabun, shampo dan lain-lain di bawah terpaan air hangat dari shower room.


"Mas tidur di sini, ya." Pinta Lea ketika mereka telah selesai mandi.


"Iya, aku ganti baju dulu." ujar Daniel.


Pria yang hanya mengenakan handuk itu pun naik ke atas. Sesaat kemudian setelah berganti pakaian, ia membantu Lea mengganti seprai dan sarung bantal. Karena semuanya telah terkena keringat dan segala cairan ketika mereka berhubungan tadi.


Setelah semuanya rapi, Daniel pun menyusun bantal dan duduk sambil bersandar. Lea keluar sejenak lalu kembali dengan dua gelas susu hangat.


"Minum, mas." ujarnya sambil meletakkan susu tersebut ke atas meja samping tempat tidur, tepat disisi kiri Daniel.


"Makasih, ya." ujar Daniel sambil tersenyum, ia lalu menarik Lea untuk duduk di atas tempat tidur bersamanya.

__ADS_1


Lea merebahkan kepala di dada sang suami. Daniel lalu membelai kepala dan rambut wanita itu, kemudian mencium keningnya dengan lembut.


"Mas."


"Hmm?"


"Mas pernah merasa kesepian nggak, selama hidup?"


"Always."


Lea menatap Daniel.


"Tapi belakangan ini udah nggak." lanjut Daniel lagi.


Pria itu kemudian menatap Lea sambil tersenyum, Lea yang juga menatap suaminya itu kini kian mempererat pelukannya.


"Nih minum dulu."


Daniel menyerahkan segelas susu pada Lea, Lea pun mengambilnya. Kemudian Daniel minum dari gelas yang satunya lagi.


Mereka lanjut berbincang malam itu, hingga kemudian keduanya sama-sama tertidur lelap.


***


"Bangsat emang tuh perempuan."


Ellio mereguk wine yang ada di ruang kerja Daniel, ditemani Richard. Daniel yang baru datang pagi itu, tentu saja menjadi sangat terkejut.


"Brengsek." teriak Ellio. Ia tak melihat kedatangan Daniel, karena tengah memandang ke arah kaca.


Daniel menaik turunkan sedikit kepalanya, tanda bertanya pada Richard perihal apa yang terjadi. Mengapa sampai kedua sahabatnya itu berada di ruangannya sepagi ini.


"Ellio di selingkuhi ceweknya." ujar Richard pada Daniel. Seketika Ellio pun sadar jika Daniel datang, namun ia tak bergeming sama sekali. Pria itu masih terus memandang ke arah kaca.


Daniel kemudian mengambil minuman lain dari dalam lemari, yang kadar alkoholnya lebih tinggi. Ia kemudian duduk di pinggiran meja kerjanya dan menuangkan minuman itu untuk Ellio. Tanpa basa-basi Ellio segera meminum minuman tersebut, kemudian Daniel menuangnya kembali.


Beberapa saat berlalu, Ellio mulai mabuk berat. Pria itu kini meracau dan menceritakan semua masalahnya secara detail, kepada Daniel dan juga Richard.


"Gue itu udah mau ngelamar dia, tapi dia ternyata masih open B.O dan yang ngebooking dia adalah orang dari circle kerjaan kita juga. Padahal gue udah mau memuliakan dia, mau gue jadikan pasangan seumur hidup tanpa memandang masa lalu. Tapi emang dasar nggak tau diri."


Ellio meraih lagi botol minuman yang masih berisi tersebut. Namun Daniel menghalangi dengan mencekal lengan sahabatnya itu.


"Enough." ujar Daniel tegas, namun dengan volume suara yang rendah.


"Dan, please."


"Enough, lo udah mabok." ujar Daniel lagi.


Ellio lalu menurunkan tangannya meski berat hati, ia kini terdiam dan mulai menangis.

__ADS_1


"Gue kurang apa coba sama dia, gue sayang banget sama dia. Gue belum pernah sesayang itu sama cewek, kecuali sama dia."


Daniel melirik Richard.


"Bawa dia pulang, bro. Dia butuh istirahat." ujar Daniel.


Richard pun mengangguk.


"Semua benda tajam di rumahnya, lo amankan dulu sementara waktu. Racun serangga dan hal yang membahayakan lainnya juga jangan lupa." lanjut Daniel lagi.


"Ok."


Richard mengangkat tubuh Ellio agar berdiri.


"Kita pulang." ujar Richard.


Ellio pun pasrah dibawa oleh sahabatnya itu, ia melangkah tanpa perlawanan. Tubuhnya pun sudah oleng, karena minum cukup banyak. Usai Richard dan Ellio keluar, Daniel membereskan ruangannya dan mulai bekerja.


***


Di suatu tempat.


Nina yang tengah mengandung, mendapati perutnya semakin tumbuh dari hari ke hari. Namun akhir-akhir ini, terdapat keanehan pada diri suaminya.


Entah mengapa ketika bercinta, suaminya tiba-tiba suka merekam dirinya dengan kamera handphone. Pria itu tak henti-hentinya menyorot bagian perut Nina yang mulai membuncit.


Ketika di tanya alasan suaminya adalah, untuk dilihat jika ia tengah rindu pada Nina. Padahal suami Nina sudah jarang berpergian, ia bahkan selalu berada di rumah setelah jam kerja. Setiap hari ia melihat istri sirinya itu.


"Gemes kali laki lo, ngeliat lo hamil. Makanya pengen liat perut lo terus, walau dari rekaman." ujar Vita ketika ia mengadukan uneg-unegnya tersebut pada Vita dan juga Lea.


Lea sendiri tak menjawab, ia merasa ada kejanggalan dan keanehan pada suami Nina itu sejak lama. Namun sampai hari ini ia belum berani menjudge langsung di depan Nina, karena ia takut salah duga dan takut Nina jadi kepikiran.


"Biasanya sih, sebagian besar cowok itu seneng dan bangga ngeliat istrinya hamil. Karena itu artinya membuktikan kalau mereka itu perkasa." ujar Vita lagi.


"Ya, semoga aja ketakutan gue ini cuma perasaan doang." ujar Nina.


"Lo gimana Le, udah positif?" tanya Nina, diikuti tatapan Vita.


"Nggak tau gue, kayaknya belum deh. Orang gue nggak ngerasain apa-apa." ujar Lea.


"Semoga di percepat ya." ujar Nina.


"Aamiin." ucap mereka bertiga di waktu yang nyaris bersamaan.


"Pokoknya sampe gue keteteran kuliah gara-gara hamil dan punya anak. Awas aja, mas Dan yang gue suruh ngerjain tugas sama nyusun skripsi gue nanti."


"Istri macam apa lo." tanya Vita seraya tertawa.


"Gue adalah istri yang macam-macam."

__ADS_1


"Hahaha." Mereka bertiga pun lalu tertawa.


Tentu saja Lea hanya bercanda mengatakan hal tersebut. Awalnya ia memang ragu, untuk memiliki anak di usianya yang sekarang. Namun melihat sikap Daniel yang begitu baik belakangan ini, ia jadi yakin kalau suaminya itu adalah orang yang tepat untuk membangun sebuah keluarga.


__ADS_2