
"Kalian tau kenapa kalian mami panggil kesini?"
Ibu Richard berujar pada Daniel dan juga Ellio. Kedua pria itu tampak terdiam di sofa bersama Richard.
"Nggak tau mi." jawab Ellio kemudian.
"First, mami mau ke Daniel dulu."
Daniel menatap wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya tersebut. Sementara Richard terlihat begitu gusar, namun tak bisa melawan. Kedua temannya tak tau nasib apa yang akan menimpa mereka kali ini.
"Kenapa mi?" tanya Daniel tak mengerti.
"Mami sudah tau kalau kamu menikahi cucu mami."
Daniel dan Ellio tersentak mendengar pernyataan tersebut. Baik Daniel maupun Ellio, tak ada yang mengetahui jika Lea juga berada di rumah itu. Lea saat ini ada di ruangan lain, mengobrol bersama kakek dan juga om nya Reynald.
"Ma, maksud mami?"
"Nggak usah pura-pura bodoh kamu Daniel. Mami tau kamu itu pintar. Mami cuma mau bilang, jangan pernah kamu sakiti Lea cucu mami."
Daniel kian tersentak, ia menatap Richard dan Richard hanya diam serta membuang pandangannya ke suatu sudut.
"Denger nggak kamu Daniel?"
"I, iya mi. Denger." ujar Daniel kemudian.
Pria itu benar-benar lumpuh kali ini. Richard tak memberi aba-aba apapun padanya. Ia tak diberitahu jika keluarga Richard sudah mengetahui perihal Lea.
"Kamu sudah punya anak, dan anakmu sudah menikah. Kamu harus jadi contoh keluarga yang baik untuk anak dan menantu mu." Ibu Richard kembali berujar.
"Kamu harus menikah, Richie."
Richard yang semula diam kembali terusik, kali ini ia melirik kedua temannya.
"Nikahi ibu dari anakmu." ujar ibunya lagi.
"Dia sudah menikah, mi. Dia punya suami dan anak lain sekarang."
Ibunya menghela nafas, ia tidak tahu jika itulah kenyataannya.
"Baik, kalau begitu kamu akan mami jodohkan."
Richard tersentak mendengar pernyataan tersebut. Sedang Daniel dan Ellio kompak menahan tawa.
"Jodohin aja mi, biar Richard tobat."
"Kamu juga akan mami jodohkan, Ellio.
Kali ini Ellio yang kena semprot. Gantian Richard dan Daniel yang menahan tawa untuknya.
"Ya jangan mi, Ellio kan masih bimbang antara mau nikah atau nggak mau nikah."
__ADS_1
"Yang boleh tidak menikah itu hanya orang yang mampu mengendalikan dirinya sendiri. Lah ini kalian, pacaran sana-sini, gonta-ganti. Mempermainkan hati anak perempuan orang, ada yang sampai bunting nggak ketahuan."
"Yang kita permainkan itu juga cewek-cewek yang suka mempermainkan cowok, mi."
"Nggak usah membela diri Ellio, pokoknya kamu dan Richard siap-siap. Mami akan segera mencarikan jodoh untuk kalian."
"Hahaha." Daniel terbahak.
"Kamu nggak usah senang dulu Daniel."
"I, iya mi."
"Mampus lu." Richard dan Ellio berujar pada Daniel meski tanpa suara.
"Kamu harus buktikan kalau kamu adalah suami yang baik dan setia untuk Lea. Sampai kamu terbukti main perempuan, mami akan jepit punya kamu pake tank."
"Waduh mi, jangan dong. Ntar bengkak, nggak bisa kasih cicit lagi buat mami." seloroh Daniel.
"Makanya kamu jaga diri, jaga hati, dan jaga mata."
Richard dan Ellio kompak menahan tawa.
"Jangan kayak Richie sama Ellio."
Lagi-lagi Richard dan Ellio kena semprot. Keduanya kembali memasang wajah yang serius. Intinya di saat itu, mereka merasa begitu tersiksa.
***
Richard berujar, ketika akhirnya ia, Daniel, Ellio dan juga Lea berkumpul di kediaman Ellio. Mereka telah kembali dari rumah orang tua Richard.
"Loh, kenapa nggak mau?" tanya Ellio heran.
"Kan enak di jodohin." lanjutnya lagi.
"Lo sendiri gimana?" Richard balik bertanya.
"Ya gue liat-liat dulu aja orangnya. Kalau ok sih, gue mau." jawab Ellio.
"Lo bukannya dukung gue, supaya kita nggak di jodohin sama mami."
"Lah kalau jodohnya oke punya, kenapa nggak. Iya nggak, Dan?" Ellio meminta persetujuan Daniel.
"Bener, kenapa sih lo nggak mau?" Daniel bertanya pada Richard.
"Dua bulan yang lalu, mami sama papi itu mau menjodohkan gue sama ukhti-ukhti lulusan Kairo tau nggak."
"Loh kenapa, bagus dong?" ujar Daniel.
"Iya gue nya yang nggak bagus. Masa gue yang nggak baik gini di jodohin sama ukhti. Kasian ukhti nya dong."
"Halah, bilang aja lo masih mikirin duniawi kan. Masih pengen sama yang sexy, bohay, badai semeriwing. Yang kalau pake baju, belahan dadanya kemana-mana." ujar Ellio.
__ADS_1
"Eh bangsat, kayak lo mau aja kalau di jodohin sama yang kayak begituan."
"Dih gue mah mau, siapa tau ukhti nya bisa membawa gue ke jalan yang lebih baik. Gue mah nggak duniawi oriented kayak lu, Richard."
"Iya, harusnya lo bersyukur. Biar Lea bisa punya ibu tiri yang solehah, walaupun bapaknya nggak sholeh. Iya kan Le?" Daniel meminta dukungan istrinya, sementara Lea hanya tertawa-tawa sejak tadi.
"Pokoknya kalau lo berdua mendukung mami sama papi buat menjodohkan gue, gue nggak akan mau ngomong sama lo berdua lagi."
"Dih ngambek." ujar Ellio.
"Udah tua Bambang, masih aja ngambek. Kagak pantes." Daniel menimpali.
"Ya terserah, mau udah tua kek, jompo kek. Pokoknya gue nggak akan mau ngomong, kalau lo berdua bantuin papi sama mami masalah perjodohan itu."
Richard lalu beranjak ke dapur Ellio.
"Mau ngapain lo?" tanya Daniel heran.
"Mau masak mie, laper."
Richard berujar dengan nada sewot. Sementara Daniel, Ellio dan Lea kompak tertawa.
***
Rangga berpegangan pada penyanggah, ia terus berusaha belajar berjalan pasca kecelakaan hebat yang menimpanya. Beruntung ia masih memiliki harapan untuk bisa berjalan kembali.
Dokter mengatakan jika benturan yang ia alami lebih keras lagi, kemungkinan Rangga akan lumpuh seumur hidup.
"Ayo Rangga, semangat."
Seorang perawat berujar padanya. Rangga tersenyum dan terus berusaha. Setiap hari ia selalu menyempatkan diri untuk belajar berjalan.
"Lihat apa yang kamu lakukan."
Ibu Rangga berujar pada suaminya yang kini berdiri di depan kaca, sambil menatap sang anak.
"Dia harus berjuang untuk mendapatkan lagi kemampuan untuk berjalan. Kalau sampai dia cacat seumur hidup, aku nggak akan pernah memaafkan kamu dan perempuan itu."
Ibu Rangga kembali berujar, sementara ayahnya membisu dan beku. Matanya terus tertuju pada Rangga.
"Sekali lagi Rangga, sekarang saya akan sedikit agak menjauh dari posisi tadi."
Perawat itu bergeser menjauhi Rangga.
"Ok." ujar Rangga kemudian.
Pemuda itu menarik nafas, lalu memulai sesi latihannya lagi. Ia hampir terjatuh dan perawat itu refleks hendak menghampiri. Namun Rangga menahannya dengan tangan.
Tak lama Rangga pun kembali berjalan. Dan ketika tiba di dekat sang perawat, ia benar-benar oleng dan terlepas dari pegangan. Beruntung sang perawat langsung menangkap tubuhnya.
Lalu mereka sama-sama terpaku dalam diam, dan bersitatap cukup lama. Ada perasaan hangat yang tiba-tiba menjalar di hati keduanya.
__ADS_1