
"Ayah nanti mau ikut yah, ke acara nikahan teman mas Daniel?"
Lea bertanya pada Richard ketika ia tiba untuk menitipkan Darriel disana. Saat ini mereka tengah sarapan di meja makan. Richard pun agak memperlambat makannya ketika mendengar semua itu.
"Iya, orang ayah juga diundang. Nggak enak kalau nggak datang." ujarnya
"Kamu kenapa sih?" tanya Richard.
"Nggak tau kesel aja denger cowok memperbanyak bini. Kayak nggak bisa banget nahan diri." Lea berkata seraya memakan roti isi yang ada di hadapannya.
"Udah gitu pelakunya kayak cowok baik-baik lagi rata-rata. Kalau baik-baik mestinya paham dong, kita itu harus bisa menahan diri. Itu kan bagian dari kebaikan itu sendiri." lanjutnya kemudian.
"Ini koq malah kalah sama yang dulunya begajulan, yang tatoan. Rata-rata bininya satu sampe tua." tambahnya.
Lagi dan lagi Richard tertawa.
"Mungkin dulunya kurang berpetualang. Jadi penasaran sama cewek-cewek, makanya jadi norak." ujar Richard.
"Sama banget kayak omongan mas Dan." tukas Lea.
"Ya rata-rata emang gitu." ucap Richard.
"Laki-laki yang dikit-dikit main pelakor itu rata-rata non good looking, tapi berduit kan?" tanya nya.
"Iya sih." jawab Lea.
"Nah bisa jadi dulunya semasa sekolah sebelum berduit, mereka tuh sering di tolak-tolakin cewek. Biasanya ya, nggak semua." lanjut Richard.
"Ketika punya duit, jeleknya ketutupan harta dan uang. Jadi pada gragas gitu sama perempuan?" tanya Lea.
"Ya iya."
"Jadi kayak semacam balas dendam gitu ya yah?"
"Iya, pengen membuktikan diri kalau dia mampu menggaet banyak cewek. Padahal mah ceweknya butuh duit dia doang. Ayah yakin pasti nggak cinta-cinta amat."
"Ih ayah mah, lancip banget mulutnya." Lea berkata sambil tertawa.
"Bener kata mas Dan, mulut ayah lebih lancip daripada dia." lanjut perempuan itu.
__ADS_1
Richard ikut tertawa.
"Ayah tuh ngomongin fakta, Le. Di dunia ini banyak cewek-cewek yang bodo amat fisik cowoknya mau kayak gimana. Mau kayak sapu ijuk juga terserah, yang penting berduit. Ketemu sama cowok-cowok berduit, mirip cobek yang dulunya sering di tolak cewek. Cocok dah tuh. Mulailah pelakoran terjadi."
"Tapi kenapa ya yah, cowok-cowok berduit dan sorry biasanya non good looking kayak kata ayah itu. Mereka baru berpetualang pas udah nikah, udah punya istri dan anak. Kenapa nggak sebelum nikah aja?" tanya Lea.
"Kebanyakan sebelum nikah tuh masih susah. Jadinya nyari perempuan mana aja yang mau diajak susah. Perempuan yang mau diajak susah, rata-rata nggak terlalu good looking, tapi mau di ajak susah, mau mendampingi suami dalam suka duka. Mereka biasanya melayani dan mendoakan suami dengan baik." ujar Richard.
"Nah si cowok setelah berduit, banyak nih cewek cantik yang mendekati. Akhirnya lupa diri. Yang menemani dari nol nggak bakal dianggap lagi, pandangan matanya udah ketutupan sama yang bening, yang cantik. Yang banyak berkorban di lupakan." lanjutnya lagi.
Lea menarik nafas panjang.
"Amit-amit ya yah, punya suami kayak gitu. Nih kalau ayah atau mas Dan kayak gitu, aku geprek kalian. Om Ellio juga, awas aja." ujar perempuan itu.
Richard lagi-lagi tertawa. Ia lalu menyelesaikan sarapannya, begitu pula dengan Lea.
"Ngapain juga begitu, Le. Kayak nggak ada puasnya aja selama ini. Kalau udah nikah ya udah, kecuali istri kita bertingkah. Dia selingkuh duluan misalnya. Itu pasti ayah ceraikan dan cari istri baru." ujar Richard.
"Beneran yah?" tanya Lea.
"Waktu itu pacaran sama kak Dian, ayah masih loh berpetualang sana-sini." lanjutnya lagi.
"Iya sih, tapi itu mungkin karma ayah juga. Selingkuh mulu."
"Heheee."
Darriel yang ada di ayunan elektrik mendadak tertawa. Padahal sepanjang Lea dan Richard mengobrol tadi, bayi itu hanya diam dan mendengarkan.
"Iya Delil, hukuman buat papa Rich ya." ujar Lea.
"Heheee."
"Tuh, Darriel aja paham."
Richard terus saja tertawa.
"Kamu jahat ya sama papa Rich." ujar Richard.
"Hokhoaaa."
__ADS_1
"Apaan hokhoa?. Ngomong dong!"
"Hokhoaaa."
Lea dan Richard mengakhiri sarapan mereka dengan minum teh hangat. Kemudian Richard pamit berangkat ke kantor. Lea pergi ke kampus setelah menitipkan Darriel pada asisten rumah tangga yang ada disana.
***
"Bapak aja yang pergi, nanti aku emosi. Mana perut lagi berisi begini, hormon naik turun. Yang ada sampai sana aku ngamuk sama semuanya."
Marsha berkata dan menjawab tawaran Ellio, yang mengajaknya pergi ke pernikahan Hanif. Ellio pun mendadak tertawa.
"Ya jangan emosi. Itu kan dia yang nikah, bukan aku." ujar Ellio.
"Tetap aja bakalan bikin naik darah. Dulu kan aku udah pernah datang ke pernikahan dia yang kedua. Diajak sama bos aku, yang sebelum pak Daniel. Waktu aku masih kerja di tempat lama. Itu aja aku udah emosi banget, ngeliat istri tuanya cuma nunduk, sementara dia ketawa-ketiwi sama si pelakor. Pengen banget aku siram pake kuah bakso ikan yang aku makan." Marsha berkata dengan penuh berapi-api.
"Waktu itu aku nggak hamil loh, pak. Tapi bisa se-emosi itu. Apalagi sekarang, mau roboh tenda pernikahan mereka sama aku."
"Hahaha." Ellio ngakak.
Ia baru kali ini melihat Marsha begitu kesal terhadap orang lain.
"Ya udah kalau kamu nggak mau ikut, Lea juga nggak ikut sih kata Daniel. Sama emosinya kayak kamu." ujar Ellio.
"Lea belum pernah ketemu dia kan?" tanya Marsha lagi.
Ellio menggeleng sambil masih tertawa.
"Dia aja emosi apalagi aku."
"Ya udah, nanti nggak usah ikut." ujar Ellio.
"Tapi awas ya kalau sampe kemakan pengaruhnya si Hanif. Dulu bos aku dibilangin sama dia, pengusaha koq istrinya satu. Harusnya dengan uang berlimpah kita bisa membantu ekonomi perempuan yang kesusahan." ujar Marsha.
"Bilang aja lo gatel. Membantu orang lain nggak mesti dinikahi kali. Sumbangin aja duit lo ke yayasan atau panti asuhan. Gatel tapi berlindung dibalik kata membantu. Membantu koq ada pamrihnya. Minta menikah dan tidur bareng." lanjutnya lagi.
Ellio menghela nafas, Hanif memang terkenal mampu membuat perempuan waras mendadak emosi. Karena ia sendiri terkenal dikalangan istri para pengusaha.
Para istri pengusaha tersebut sangat mewanti-wanti suami mereka agar tidak terpengaruh Hanif. Meskipun ada beberapa diantaranya yang kecolongan.
__ADS_1