
Daniel menanyakan keadaan Darriel di sela-sela pekerjaannya. Ia begitu khawatir pada anaknya itu. Tak hanya sekali ini saja, setiap kali Darriel demam ia selalu seperti itu adanya.
"Dia baik-baik aja mas, udah tidur lagi. Sepanjang pagi ini dia udah tidur dua kali." jawab Lea.
"Kamu sendiri nggak apa-apa kan?" tanya Daniel.
"Nggak mas, aku baik-baik aja." jawab Lea.
"Ya udah, syukur deh kalau begitu. Jangan stress ya kamu."
"Iya mas, tenang aja."
"Mau aku kirim makanan?" tanya Daniel.
"Yah, udah order mas. Nanti sayang ada yang nggak kemakan." jawab Lea.
"Oh ya udah kalau gitu. Kalau butuh apa-apa bilang aja."
"Iya mas."
Mereka lanjut bercakap sejenak dan kembali pada rutinitas masing-masing. Di satu sisi Shela si sugar baby wanna be tengah menyusun strategi bersama teman-temannya, dan di bantu Susi via telepon.
"Kayak gitu aja?" tanya Shela pada Susi.
"Iya kayak gitu aja. Gue yakin koq, si Daniel bakalan klepek-klepek sama lo." jawab Susi.
"Ini metodenya elo?" tanya Shela sambil tertawa.
"Ya iyalah, ini buktinya gue bisa menggaet mas Hanif. Kalau gue bisa, lo juga pasti bisa koq." ucap Susi dengan penuh percaya diri.
Semangat Susi memang patut di acungi jempol. Tetapi dia lupa kasus yang dihadapinya dan kasus yang dihadapi Shela itu berbeda.
Ia berhasil menggoda Hanif, lantaran Hanif memang memiliki pribadi yang buaya dan murahan. Alias gampang suka terhadap banyak wanita.
Laki-laki dengan sifat gatal seperti Hanif memang sangat mudah di taklukan. Tak perlu memakai trik khusus. Kambing di beri make up dan di suruh menari-nari di depan matanya pun, mungkin dia akan langsung tertarik. Apalagi digoda oleh perempuan.
Sedang untuk pria-pria lain, ada yang masih waras walaupun itu hanya sedikit. Umumnya mereka tak begitu gampang menyukai perempuan di luar sana.
Daniel sendiri banyak menemui perempuan-perempuan yang bahkan jauh lebih cantik dari Lea, apalagi dibanding Shela sendiri. Mau yang pribadinya seperti apapun, Daniel telah banyak menemui perempuan seperti itu selama hidupnya.
Ia menikah cukup telat dan ia sudah tak begitu kaget lagi melihat ada perempuan yang datang untuk menggoda dirinya. Daniel telah benar-benar puas dengan masa lalunya.
Dulu saja ia tak banyak berpindah. Bahkan ketika Grace mengkhianati dirinya pun, Daniel belum bisa move on dengan secepat kilat.
Adalah salah jika orang seperti Susi dan Shela merasa akan dengan mudah menaklukan orang seperti Daniel.
Tetapi mungkin mereka terlalu terlena ke dalam khayalan babu. Maka mereka pun merasa jika mereka adalah perempuan paling cantik di dunia ini, yang bisa melakukan segalanya.
__ADS_1
"Pokoknya, gue yakin gue akan berhasil mendapatkan Daniel." ujar Shela.
"Nah gitu dong, mesti pede say." Susi kembali berbicara.
Lalu mereka melanjutkan khayalan tersebut sampai jauh. Hingga makin kesini, makin kesana.
***
"Om Richard, jangan lupa maka ya."
Tiba-tiba Arkana mengirim pesan singkat pada Richard. Richard sendiri kaget, namun ia tersenyum membaca semua itu.
"Iya sayang, kamu juga ya." balas Richard.
Seketika pria itu tersadar, jika di hadapannya kini banyak sekali petinggi kantor yang mengikuti rapat harian. Sedang layar handphone nya terhubung ke monitor.
Sontak saja mereka semua terdiam menatap Richard. Bukan karena mereka mengetahui siapa Arkana dan siapa Hanif. Tetapi mereka tau jika sampai saat ini Richard belum menikah. Dan kini ia mengatakan "sayang" pada seseorang bernama Arkana.
Tentu semua paham jika nama Arkana bukanlah nama seorang perempuan, melainkan laki-laki.
"Mmm, ini nggak seperti yang kalian bayangkan."
Richard mencoba mengklarifikasi mengenai hal tersebut. Namun keadaan masih jua kaku dan awkward. Malah terdengar seperti ada suara jangkrik yang tiba-tiba paduan suara.
"Krik, krik, krik, krik."
Seisi ruangan tersebut akhirnya lega, mereka sudah mengira Richard berbelok ke arah yang tidak semestinya. Richard sendiri dengan bodohnya menggunakan handphone pribadi untuk menyimpan data pekerjaan.
Kadang dengan alasan kepraktisan. Tetapi justru malah membuat orang lain jadi tau mengenai rahasia pribadinya. Tapi untung saja orang-orang kantornya adalah orang-orang yang 100% berpihak pada Richard. Dan lagipula mereka tidak mengenal Hanif dan istrinya sama sekali.
Sehingga kali ini ia bisa sedikit bernafas lega. Meski ia cukup malu dan hendak tertawa mengenai kejadian barusan.
***
"Ih nggak mau, maunya di elus perutnya."
Marsha tengah manja kepada Ellio. Ia menyambangi ruangan kerja suaminya itu, ketika jam istirahat tiba.
"Ya udah sini, aku elus."
Ellio memenuhi keinginan sang istri.
"Tapi abis ini makan ya." pintanya kemudian.
"Belum mau pak, orang nggak kepengen."
"Nggak biasanya kamu gitu, hari-hari kemaren barbar kalau makan."
__ADS_1
"Iya tadi tuh aku udah makan buah dua kilo pak."
"Pantes aja." seloroh Ellio sambil tertawa.
"Aku pikir emang nggak selera makan sama sekali." lanjutnya kemudian.
"Ya mustahil lah kalau aku nggak laper, udah segini buncit ini perut. Dia makanannya kan banyak." jawab Marsha.
Ellio tertawa, memang saat ini perut sang istri sudah mulai kelihatan dan ia menyukai perubahan itu.
"Sayang, papa laper tau. Tapi mama kamu minta kamu di elus dulu nih." ujarnya seperti mengadu.
Lalu terasa ada getaran di dalam sana dan Ellio pun kaget.
"Eh dia bereaksi tuh." ujarnya heboh sendiri.
"Iya, dia tau lagi disayang sama papanya." jawab Marsha.
Ellio pun lalu memberikan ciuman di perut sang istri, sambil berkata seolah-olah tengah mengobrol dengan si jabang bayi.
"Papa sayang sama kamu, papa akan jagain kamu dan mama selamanya."
Marsha tersenyum, lalu membelai kepala dan rambut suaminya itu dengan lembut.
"Ya udah, bapak makan gih sana!." ujarnya kemudian.
"Udah boleh nih?" tanya Ellio.
"Ya boleh dong, masa nggak boleh."
"Kirain."
Ellio mencium bibir Marsha lalu beranjak ke meja kerjanya. Ia membuka makanan yang tadi ia pesan.
"Sini, makan sama aku." ujarnya.
"Bapak aja."
"Beneran nggak mau?"'
"Ih, udah bapak aja yang makan."
"Oh ya udah."
Ellio mulai makan. Namun beberapa menit kemudian tiba-tiba Marsha mendekat.
"Pak, mau." rengeknya.
__ADS_1
Ellio tertawa, kemudian menyuapi istrinya itu.