Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Pencuri Hati


__ADS_3

Beberapa saat sebelum Lea bercakap dengan Hans.


"Dan."


Richard dan Ellio masuk ke ruangan Daniel. Mereka bermaksud menyelamatkan sahabat mereka itu dari godaan Grace yang terkutuk.


Mereka lah yang mengutuk Grace, meskipun Grace tidak menjadi batu. Namun mereka berdua sangat-sangat tidak menyukai mantan kekasih Daniel tersebut.


Mereka tak ingin Daniel kembali baper, namun agaknya usaha penyelamatan itu sedikit terlambat. Pasalnya Grace sudah tidak ada di ruangan tersebut. Yang tersisa hanyalah Daniel, pria itu kini terdiam melamun. Seolah hati nya kembali terpukul.


"Dan."


Richard membuyarkan lamunan Daniel. Seketika Daniel pun terkejut dan baru menyadari kehadiran kedua temannya itu.


"Bro." ujar Daniel dengan nada suara yang tak begitu jelas terdengar.


"Mana Grace?" Richard menginterogasi.


Daniel terkejut, karena ia merasa tidak memberitahu kedua temannya itu. Perihal kedatangan Grace yang tiba-tiba.


"Lo tau dari mana?" tanya Daniel heran.


"Lea yang kasih tau, dia tadi bilang kalau Grace ada disini." timpal Ellio.


"Lea?"


"Iya." ujar Ellio lagi.


Daniel tidak tahu jika Lea datang dan mengetahui soal kehadiran Grace.


"Dia dimana sekarang?" tanya Daniel.


"Di depan, lagi beli minum." ujar Richard.


Daniel pun terdiam, ia kini harus mengahadapi pertanyaan dari kedua sahabatnya.


"Lo nyuruh Grace kesini?" tanya Ellio.


"Nggak, gue bahkan nggak tau. Siapa orang yang udah mengabari dia dan bokap gue. Dia bilang orang kantor."


Richard dan Ellio saling bersitatap.


"Terus dia sekarang dimana?" tanya Ellio.


"Udah gue suruh pulang." jawab Daniel.


Richard dan Ellio kembali menghela nafas. Pengaruh Grace pasti sudah mengotori segenap pikiran dan perasaan Daniel. Jika tidak segera dialihkan fokusnya, mereka khawatir Daniel akan semakin terpikir akan wanita itu.


"Ya udah, nih gue sama Ellio bawain lo baklava sama knafeh. Ini juga ada buah dari Lea. Lo mau?" tanya Richard.


Daniel menatap kedua sahabatnya itu, lalu mengangguk. Tak ada alasan untuk menolak dessert yang berasal dari wilayah timur tengah tersebut, meski apapun keadaan yang tengah di hadapi.

__ADS_1


"Mau apa dulu?" Ellio yang membuka makanan tersebut bertanya pada Daniel.


"Knafeh." ujar Daniel kemudian.


Ellio memberikan penganan tersebut pada Daniel dan Daniel pun mulai memakannya.


"Lo udah bisa nelen kan?" tanya Richard.


Daniel mengangguk.


Tak lama kemudian, Lea masuk. Daniel, Richard dan Ellio menoleh ke arah pintu. Mereka bertiga terkejut, karena Lea datang bersama dengan Hans.


"Hans." Daniel berujar seraya menatap anak rekan bisnis nya itu.


"Om Dan, om Ellio, om Richard."


Hans tersenyum pada ketiganya. Daniel, Ellio dan Richard balas tersenyum. Mereka belum mengetahui jika Lea yang membawa pemuda itu. Mereka hanya mengira Lea dan Hans masuk di waktu yang bersamaan, hanya karena kebetulan semata. Mungkin tak sengaja tiba berbarengan.


Mereka pun menduga jika Hans mengetahui keadaan Daniel, dari ayahnya. Karena biasanya sang ayah tau keadaan Daniel dari grup WhatsApp kantor.


"Om Dan, papa katanya mau kesini. Tapi belum bisa hari ini, jadi dia suruh saya ngeliat om." ujar Hans.


Ucapan tersebut memanglah benar, karena Hans sempat mengabarkan pada ayahnya jika Daniel dirumah sakit.


"Sampaikan ke papa kamu, om baik-baik aja." ujar Daniel.


Hans mengangguk, mereka lalu berbincang sejenak. Sampai kemudian, Hans merasa kunjungannya sudah cukup. Karena Daniel haruslah beristirahat.


"Makasih udah dateng, salam sama your dad." ujar Daniel lagi.


"Sama-sama, oh iya om Ellio."


Hans menatap Ellio, begitupula sebaliknya.


"Boleh nggak, saya ngajak Lea nonton?"


Pertanyaan tersebut membuat Ellio, Daniel dan Richard tersentak. Ellio sempat melirik sekilas ke arah Daniel. Sementara Lea seakan menunggu izin dari orang tua nya.


"Tadi di luar kita sempat bicara sih. Lea mau, tapi harus izin dulu katanya."


"Kalian, tadi ketemu di luar?" tanya Daniel pada Hans.


"Iya om, kita lama ngobrol di depan." jawab Hans. Ia kini beralih pada Ellio.


"Boleh kan, om Ellio?"


Ellio terdiam, ini benar-benar sebuah kesalahpahaman. Hans benar-benar mengira jika Lea adalah keponakannya, sejak pesta pernikahan Sam waktu itu.


Ellio melirik ke arah Daniel. Pria itu pun mengerjapkan matanya, pertanda memberikan izin. Meski entah mengapa hatinya kini terasa terbakar. Padahal ia tak memiliki perasaan apa-apa terhadap Lea. Sama seperti saat pertama kali, ia melihat Hans bersama Lea di pesta Sam waktu itu.


"Ok boleh, tapi pulangnya jangan terlalu malam." ujar Ellio.

__ADS_1


Hans dan Lea sumringah. Daniel menghela nafas dan melempar pandangannya ke lain arah.


"Ya udah, kami pergi dulu ya om." ujar Hans seraya menatap ketiga pria dewasa itu bergantian. Ia dan Lea kini bergerak ke arah pintu.


"Hans."


Richard menghentikan langkah Hans dan juga Lea.


"Iya, om."


"Jaga Lea." ujar pria itu kemudian.


"Iya om." Hans tersenyum, lalu kembali berbalik arah. Lea terlihat begitu senang.


Meski wajahnya terlihat rusuh, namun Daniel merasa lega. Karena Richard sudah mewakilkan dirinya, dalam mengucapkan apa yang hendak ia katakan. Ia sejatinya merasa gengsi untuk meminta Hans menjaga Lea. Ia tak ingin kedua sahabatnya, menjadikan hal tersebut sebagai bahan ledekan nantinya.


Hans dan Lea menghilang dibalik pintu, sementara Daniel kini menghela nafas. Richard dan Ellio menangkap gelagat aneh dari sahabat mereka tersebut.


"Lo cemburu, bro?" tanya Ellio seraya tersenyum. Richard pun sama tersenyum menatap Daniel.


"Ngapain gue cemburu, punya perasaan aja kagak."


Daniel lanjut makan, namun seperti orang yang hanya berusaha mengalihkan kekesalan. Sementara Richard dan Ellio saling bersitatap dan tersenyum satu sama lain.


***


"Oh ya, Hans. Umur kamu berapa sih?" Lea bertanya ketika mobil yang dikemudikan Hans telah berjalan cukup jauh meninggalkan rumah sakit.


"16 masuk 17."


"Hah?" Lea terkejut menatap pemuda itu, ia benar-benar tak menyangka pada apa yang barusan ia dengar.


"Aku kira kamu itu udah kuliah."


"Aku keliatan tua ya?" tanya Hans.


"Bukan tua yang gimana sih, tapi keliatan kayak udah 19 atau 20 tahunan gitu. Mungkin karena kamu tinggi kali ya, terus atletis juga."


Hans tertawa, Lea masih menatap pemuda itu dengan tatapan yang tidak percaya. Pantas saja baik Daniel, Ellio maupun Richard, masih memperlakukan pemuda itu layaknya seperti anak-anak. Mereka selalu bicara dengan nada yang lembut dan menatap mata anak itu saat berinteraksi. Seperti perlakuan orang tua kepada anak, bukan seperti teman kepada temannya sendiri. Karena ternyata memang Hans masih dibawah umur.


"Oh ya Lea, nanti mau nonton film apa?" tanya Hans, seraya menoleh sejenak.


"Hmm, nggak tau. Aku nggak tau ada film baru apa." jawab Lea.


"Ya udah, ntar liat disana aja ya. Adanya apa."


"Iya." jawab Lea.


Mereka pun pergi menuju ke sebuah mall, dan menyambangi bioskop yang ada di lantai paling atas dari mall tersebut. Hans dan Lea cepat melebur, layaknya kedua orang yang telah lama bersahabat. Bahkan polah tingkah mereka kini mirip seperti orang yang sedang pacaran, sangat dekat satu sama lain.


Mereka membeli makanan dan minuman disela-sela menunggu jam tayang. Tampak keduanya tertawa-tawa, atas hal-hal yang tengah mereka bahas. Tanpa Lea sadari, bahwa di bioskop tersebut. Ada Rangga dan Sharon, yang juga sama-sama tengah menunggu jam tayang dari sebuah film.

__ADS_1


__ADS_2