Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Richie


__ADS_3

"Baik, terima kasih pak."


Sharon merelakan salah satu mobil kesayangannya terjual hari ini. Semua demi membiayai pengobatan sang ibu. Pasca ibu nya tersebut di vonis menderita kanker darah. Disaat sang ayah kini dipenjara dan sebagian besar harta mereka disita negara.


"Lo nggak apa-apa kan Shar?"


Maya bertanya pada Sharon yang kini tampak murung. Orang yang membeli mobilnya telah bergerak masuk ke mobil dan membawanya menjauh.


"Jujur gue nggak baik-baik aja, tapi mau gimana lagi?. Gue butuh biaya banyak." ujar Sharon.


Maya dan juga Tasya sama-sama sedih, jujur mereka berdua tak bisa membantu banyak. Dan sejatinya Sharon pun tak menuntut hal tersebut. Masih ditemani saja dalam keadaan seperti ini, ia masih merasa bersyukur.


Meski dirinya terbilang pribadi yang cukup jahat, namun ada kalanya Sharon ingat untuk bersyukur pada apa-apa yang masih ia miliki. Kejadian ayahnya telah membuka mata gadis itu sedikit banyak, meski ia masih saja jahat dalam berbagai hal.


"Gue kayaknya harus nyari kerja deh." ujar Sharon.


"Tapi gue kerja apa ya?." lanjutnya lagi.


"Gue nggak punya skill, nggak punya network. Gimana dong?"


Maya dan Tasya saling bersitatap.


"Ya lo coba-coba aja dulu ngelamar via aplikasi pencari kerja gitu." ujar Tasya.


"Iya, siapa tau dapat." Maya menimpali.


Sharon tampak berfikir, ia kini menjatuhkan pandangannya ke suatu sudut.


***


"Ini yang mana lagi, yah?"


Lea bertanya pada Richard, ini terjadi setelah beberapa hari pria itu di rawat. Richard telah sehat dan mengajak Lea berbelanja ke sebuah mall. Karena sejak mengetahui Lea adalah anaknya, belum pernah sekalipun mereka jalan berdua.


Meski sudah menjadi tanggung jawab Daniel. Namun sebagai seorang ayah, Richard ingin menjalin kedekatan dengan Lea. Salah satunya dengan cara berbelanja bersama, atau pergi ke tempat-tempat yang di sukai oleh Lea.


Ia hanya ingin merasakan jadi ayah seutuhnya. Sebelum akhirnya ia akan menyandang gelar kakek di usia yang belum terlalu tua.


"Kamu ambil aja mana yang kamu mau. Kalau mau beliin adik-adik kamu juga boleh. Ambil aja sesuka hati kamu."


"Ok." ujar Lea gembira.


Meski telah mendapat banyak warisan dari Richard, namun di traktir belanja adalah sesuatu yang tak akan pernah Lea tolak.


"Yah, aku mau yang ini, ini, ini, sama ini dan ini, juga ini."


Lea menunjukkan apa-apa yang ingin ia beli.


"Ok." jawab Richard.


Setelah itu mereka melintasi toko kue. Lea benar-benar tergoda dan berhenti disana, sambil memasang wajah penuh harap bak lemur Madagaskar. Richard tertawa lalu kemudian mereka pun membeli kue-kue tersebut. Lea makan seperti orang yang kelaparan, dan Richard sangat menikmati momen-momen tersebut. Bahkan ada beberapa kali ia tampak menyuapi Lea.


Baginya itu adalah semacam penebus dosa. Karena pada saat Lea lahir dan tumbuh, Richard tak pernah menyuapi anak itu. Mereka berjalan kesana-kemari, sambil bergandengan tangan. Richard juga membelikan Lea beberapa perhiasan dan sebuah tas yang cukup mahal.


"Udah semua?" tanya Richard pada Lea.


"Udah, beliin adek-adek juga udah." jawab Lea kemudian.


"Ok, makan yuk..!" ajak Richard.

__ADS_1


"Ayok...!"


Lea tak menolak. Karena meskipun sudah makan kue cukup banyak, ia tetap harus diberi nasi. Agar semuanya menjadi mantap jiwa.


Richard mengajak Lea makan di sebuah restoran. Lea makan dengan sangat lahap dan Richard sangat senang melihat Lea bahagia.


"Richie?"


Tiba-tiba seorang perempuan paruh baya yang tampaknya juga tenaga mengunjungi restoran tersebut, berkata ke arah Richard. Perempuan itu baru saja keluar dari arah toilet.


"Richie?" gumam Lea.


Ia melihat perempuan tua yang menyebut kata itu dan melihat lagi ke arah Richard. Ternyata Richard sudah terdiam dengan ekspresi wajah yang terkejut.


"Mami?" ujar Richard kemudian.


"Perempuan mana lagi yang kamu ajak, Richie?"


Richard menoleh ke arah Lea. Lea sejatinya terkejut dengan pertanyaan tersebut, namun disaat yang bersamaan ia juga ingin terbahak mendengar kata "Richie." Ia tidak tahu jika ayahnya yang tinggi, atletis dan berwajah tampan serta cool tersebut, memiliki panggilan seimut itu.


"I, ini..."


"Mami kan sudah bilang jangan sering mempermainkan perempuan. Gonta-ganti, gonta-ganti, udah kayak beli hape kamu."


Beberapa pengunjung restoran melihat ke arah Richard. Membuat Richard merasa malu, karena takut dikira playboy cap karung beras.


"Mi, ini anak Richard."


"A, anak?" Kali ini gantian ibunya yang terlihat syok.


Dalam beberapa waktu, Richard dan Lea sudah tampak duduk di sebuah sofa ruang tamu sebuah rumah. Ada ibu, ayah dan juga kakak Richard, Reynald. Reynald sejatinya adalah sepupu Richard, namun dari kecil ia diasuh orang tua Richard.


Ayah Richard yang lebih mirip kepala badan intelijen itu mulai menginterogasi anaknya. Richard diam dan menarik nafas, sementara Lea tampak tertunduk.


"Jawab...!" Ibunya menimpali.


Mau tidak mau Richard pun akhirnya menjawab.


"Dia..."


Richard mulai menjelaskan secara rinci tentang siapa Lea, dan bagaimana anak itu akhirnya bisa ada. Kedua orang tuanya tampak syok, sedang Reynald kini tampak menyilangkan tangan di dada seraya menghela nafas.


"Kamu itu sudah berapa kali kami peringatkan. Jangan terus-terusan main perempuan, begini kan jadinya." Ayahnya berujar dengan nada kesal namun tertahan.


"Nama kamu siapa?"


Ibu Richard bertanya dengan nada sangat lembut kepada Lea. Padahal jika berbicara pada Richard, terlihat amat sangat galak.


"Le, Lea oma." jawab Lea kemudian.


"Kamu tinggal dimana sekarang?" tanya ibu Richard lagi.


"Dia tinggal sama Daniel." celetuk Richard.


"Tinggal sama Daniel?"


Ayah, ibu dan kakak Richard bertanya dengan nada setengah berteriak. Membuat Richard dan Lea jadi terkejut.


"I, iya, dia lagi hamil anaknya Daniel." ujar Richard lagi.

__ADS_1


"Apaaa?"


Ketiganya makin berteriak, Richard semakin cemas dan gelagapan. Ia tak bisa berada di dalam keadaan penuh desakan seperti ini, apalagi desakan tersebut berasal dari keluarganya.


"Maksud Richard, dia. Dia menikah sama Daniel."


"Apaaa?" Lagi-lagi ketiganya berteriak, kali ini mereka tampak begitu syok sekaligus emosi.


"Bagaimana bisa kamu membiarkan anak kamu menikah dengan teman sebaya kamu sendiri?" Ibu Richard mencecar anaknya dengan penuh kemarahan.


"Ayah macam apa kamu?" timpal ayahnya.


"Lo keterlaluan, Richard." kakaknya menambahi.


"Denger dulu." ujar Richard.


"Kamu udalah nggak becus ngurus anak, pas udah ketemu malah kamu suruh nikah sama temen kamu sendiri. Kamu aja belum nikah, nyuruh anak nikah dengan teman yang sebaya dengan kamu."


"Mi, dengerin dulu. Ceritanya tuh rumit."


"Ayah macam apa kamu ini, otak kamu dimana?"


"Mi, Daniel lebih dulu menikah sama dia. Baru Richard tau kalau dia anak Richard."


Ayah, ibu dan kakak Richard terdiam. Sementara Richard kini coba mengambil nafas panjang. Berdebat dengan keluarganya serasa masuk simulasi api neraka.


"Lea."


Ibu Richard mendekat dan menggenggam tangan cucunya itu.


"Iya oma." jawab Lea kemudian.


"Bagaimana kamu bisa bertemu Daniel dan menikah dengan dia?"


Lea diam, lalu menatap sang nenek dengan penuh keraguan.


"Jelaskan pada kami dengan jujur."


Lea pun akhirnya menceritakan kronologi, bagaimana ia bertemu dengan Daniel dan sampai mereka menikah. Hati keluarga Richard mendadak seperti di pukul benda keras. Betapa buruknya nasib Lea selama ini.


"Sekarang kamu hamil?" tanya ibu Richard lagi.


Lea mengangguk. Ayah dan kakak Richard menarik nafas, sedang ibu Richard menangis. Mereka merasa miris dengan nasib Lea.


"Kamu itu masih muda, masih panjang masa depan kamu."


Ibu Richard membelai kepala Lea, suasana pun menjadi campur aduk. Sedang Richard sudah tak dapat berkutik sejak tadi.


"Maafkan ayah kamu, dan maafkan kami. Seandainya kami tau soal kamu lebih awal." ujar Ibu Richard lagi.


Lea tersenyum.


"Nggak apa-apa, oma. Lea bahagia koq sekarang. Mas Daniel juga baik orangnya."


"Oma tau Daniel itu anak baik, dia besar-besar di rumah ini. Diantara Richard dan Ellio, Daniel itu paling baik dan paling lembut hatinya. Cuma yang oma sayangkan itu, usia kalian terlalu jauh. Daniel itu lebih pantas jadi ayah kamu, walaupun secara fisik dia masih seperti orang yang berusia 27-28 tahunan. Tapi secara usia nggak bisa bohong, Lea. Kamu harusnya bisa tumbuh tanpa beban dan tanggung jawab terhadap rumah tangga. Kamu harusnya bisa dapat laki-laki yang lebih muda."


Lea menarik nafas, gantian ia yang memegang tangan neneknya tersebut.


"Saat ini Lea bahagia, oma. Apalagi hari ini Lea bisa kenal kalian semua. Lea senang." ujarnya kemudian.

__ADS_1


Tanpa terasa Lea pun menyesakan air mata, lalu neneknya tersebut memeluknya dengan erat. Tak lama sang kakek turut mendekat dan memeluknya dengan penuh kasih.


__ADS_2