
"Ayah beneran belum komunikasi sama kak Dian?"
Lea bertanya pada Richard, ketika Daniel dan Ellio tengah berada di smooking area. Sementara Richard sendiri sudah merokok duluan sejak tadi.
"Belum." jawab Richard lalu sedikit membuang pandangannya.
"Ayah nggak boleh menyalahkan kan Dian sampe segitunya, ini nggak sepenuhnya salah dia. Dia kan nggak tau, aku anaknya ayah. Saat itu dia cuma niat membantu dan nggak maksa. Dia cuma menawarkan, kalau aku mau. Karena saat itu dia sering ngeliat aku di bully sama Sharon dan teman-temannya."
Richard menghela nafas, dan tetap menjatuhkan pandangannya ke suatu sudut.
"Ayah masih sayang kan sama kak Dian?"
Richard tak menjawab, jauh di lubuk hatinya yang terdalam ia membenarkan semua itu. Namun egonya yang tinggi mengalahkan segalanya.
"Ayah cobalah temui dia, jangan terlalu keras hati. Dia itu sayang banget loh sama ayah, walau dia tau ayah masih suka jalan sama cewek lain dibelakang dia."
Richard menatap Lea, ucapan anaknya itu seperti sebuah pukulan baginya. Ia merasa terlalu banyak menuntut pada Dian. Padahal Dian sendiri mau menerima dan memaafkan segala kesalahannya.
***
"Apa nggak bisa?"
Sharon berteriak pada pengacara ayahnya.
"Bagaimana mungkin, saya yang anaknya tidak memiliki akses terhadap aset itu."
Lagi-lagi ia berujar dengan nada yang tak begitu nyaman di telinga.
"Bukannya papa saya sudah bikin surat wasiat untuk saya." ujar Sharon lagi.
"Iya, harap tenang dulu. Pak Rony sudah membuat surat wasiat, dari aset-aset yang merupakan hasil kerja keras beliau. Surat itu akan dipindah tangankan jika si pembuat telah meninggal dunia atau sedang tersandung masalah serius."
"Ya sekarang kan papa saya sedang tersandung masalah serius. Kenapa saya tidak boleh memiliki aset yang ini."
"Karena ini bukan bagian atas nama kamu, tetapi atas nama saudara kamu."
"Sa, saudara?"
Langit seakan menimpa kepala Sharon, ia yang selama ini merupakan anak tunggal sangat bingung mendengar hal tersebut.
"Iya, pak Rony punya anak dari perempuan lain."
"Apa?"
Sharon benar-benar terkejut sekaligus syok. Di dekatnya berdiri ada Tasya dan juga Maya yang juga tak kalah syok mendengar semua itu.
"Nggak mungkin, papa saya nggak pernah dan nggak akan pernah selingkuh dari mama saya. Anda jangan mengada-ada ya. Atau jangan-jangan Anda mengarang cerita, supaya bisa menguasai aset papa saya."
Sharon berkata dengan emosi super kacau.
"Disini tertulis atas nama Karenina Davina Wijaya."
Langit benar-benar runtuh, darah Sharon seakan naik ke ubun-ubun. Hanya warisan inilah satu-satunya yang bisa ia harapkan. Setelah seluruh aset hasil korupsi disita oleh pihak yang berwajib. Kini disaat semuanya sudah kacau balau, muncul lagi sebuah masalah baru.
"Siapa dia, siapa orang itu?" Sharon berteriak dengan emosi yang meledak-ledak, hingga Maya dan Tasya pun harus menenangkannya.
"Gue nggak rela harta bapak gue diambil sama dia." teriaknya lagi.
Tak lama kemudian, ia pun mengamuk. Melempar segala apa yang ada di ruangan tersebut.
***
"Vita, ayolah kembali ke rumah."
Sugar daddy Vita masih berusaha membujuk gadis itu, setelah beberapa kali Vita menolak ajakan pria tersebut.
__ADS_1
"Kamu seenaknya menyakiti aku dan sekarang meminta aku untuk kembali?. Kamu kehilangan otak?" tanya Vita dengan nada penuh kemarahan.
"Vita, aku tau aku salah, dan ternyata dia menipu aku. Dia bukan hamil anakku tapi anak orang lain."
"Kamu pikir aku peduli?" teriak Vita di wajah sugar daddy nya itu.
"Aku udah nggak peduli sama kamu, kemarin-kemarin kamu perlakukan aku kayak sampah. Jangan mentang-mentang kamu berduit, kamu bisa seenaknya bertindak, seenaknya memperlakukan perempuan. Aku udah nggak peduli dan nggak silau dengan semua kekayaan yang kamu miliki. Kamu kan berduit, sana cari perempuan lain yang haus akan duit kamu itu. Aku sekarang sudah kerja dan walaupun gajiku kecil, aku bisa cari uang sendiri."
Vita berlalu dari hadapan sugar daddy nya itu.
"Vit, Vitaaa."
Sugar daddy nya berteriak menyerukan nama Vita. Namun seperti sudah diliputi kebencian, sedikitpun Vita enggan kembali ke belakang.
***
"Mas, pengen sate ayam."
Lea berujar pada Daniel di telpon, ketika sore hari telah menjelang. Daniel sebentar lagi akan pulang ke rumah.
"Kenapa nggak pesan online?" tanya Daniel.
"Pengennya mas yang beliin."
Daniel tertawa.
"Ya udah deh, ntar aku beliin ya."
"Iya 15 tusuk ya mas."
"Iya ntar yang ke 16 aku yang nusuk."
"Mas ih, mulai deh mesum." Lea menjadi sewot, sementara Daniel tertawa.
"Ya udah, mau pake lontong nggak?"
"Ya udah ntar masakan kamu, aku yang makan. Kamu masak apa hari ini?"
"Ada sambel rendang sama kentang balado, sayurnya kangkung tumis."
"Wah enak nih, pengen cepet-cepet pulang."
"Ya udah jangan lupa ya mas, pesanan aku."
"Iya, nanti aku beliin."
"Kalau lupa, aku ngamuk."
"Iya." Lagi dan lagi Daniel tertawa.
Mereka lalu lanjut berbincang beberapa saat, sampai kemudian Daniel bersiap untuk pulang.
***
Daniel mampir ke sebuah warung sate, beruntung istrinya tak memberikan syarat yang aneh-aneh. Kareja menurut cerita Yohan, salah satu kepala divisi di kantornya. Ia sangat-sangat kerepotan saat istrinya tengah mengidam.
Pasalnya permintaan sang istri sangat aneh. Mulai dari meminta dibelikan kentang goreng tetapi jumlahnya harus genap. Minta dibelikan martabak yang tempat membelinya sangat jauh. Ia akan tahu jika sang suami membelinya di tempat lain. Harus ini, harus itu sampai Yohan nyaris memiliki gangguan mental.
Daniel menilai Yohan agak hiperbola dalam mengatakan hal tentang istrinya. Namun itu semua jadi kelucuan tersendiri untuk Daniel.
"Pak, saya pesan 15 tusuk ya." ujar Daniel pada si penjual sate.
"Pedes nggak pak?"
"Nggak, nggak usah." ujarnya kemudian.
__ADS_1
Daniel pun lalu agak sedikit menjauh, karena banyaknya asap dan juga pembeli lain yang mengantri.
"Haaa."
Tiba-tiba seorang bayi yang berada dalam gendongan seorang wanita, mengejutkan Daniel. Sama seperti Daniel, ibu dari bayi itupun terkejut.
"Dan?"
"Grace?"
Daniel menatap wajah perempuan itu, terlihat begitu banyak beban di sana meski ia tak mengatakan apapun. Daniel pernah cukup lama bersama wanita itu. Ia mengetahui apapun yang terjadi, meski Grace sengaja bungkam.
Dalam sekejap, keduanya terlibat percakapan. Usai memesan makanan, Grace kembali ke dekat Daniel, karena kini Daniel menggendong anaknya.
"Kenapa kamu nggak ngelawan dan malah pergi dari rumah. Kamu istri sah dia, kamu berhak atas sebagian hartanya dia. Kenapa malah membiarkan perempuan lain masuk kesana?"
Daniel bertanya panjang lebar pada Grace. Wanita itu kini membuang tatapannya.
"Berat, Dan. Aku sakit hati dengan ulah ayah kamu."
Daniel menghela nafas, tampak Danisha begitu nyaman dalam gendongannya.
"Dulu, aku kira dia benar-benar sudah berubah. Karena dia sepertinya sangat mencintai aku. Tapi setelah Danisha lahir beberapa bulan, semuanya mulai berubah."
"Sebenarnya saat kamu masih hamil, dia sudah mulai bertingkah."
Kali ini Grace menatap Daniel.
"Aku pernah ketemu dia di suatu tempat dan dia sedang ingin mendekati Lea."
Daniel balas menatap Grace.
"Dia itu laki-laki bejat, Grace. Dan dia nggak akan pernah berubah. Paling cuma sebentar, abis itu balik lagi. Kamu aja yang suka menjatuhkan diri ke dalam masalah. Padahal waktu itu, kamu pun waktu untuk membatalkan semuanya."
Grace menelan ludah, dalam hati kini ia menyalahkan diri sendiri.
"Kalau aku boleh kasih saran, kamu harus kembali ke rumah itu. Kamu istri yang sah, kamu dan Danisha berhak atas apa yang ada di rumah itu."
"Tapi gimana soal perempuan itu?" tanya Grace.
"Kamu mau mengalah gitu aja?" tanya Daniel.
Grace kini menarik nafas dan berfikir.
"Pikirkan masa depan Danisha. Kecuali kalau kamu punya tabungan milyaran, kamu mau pergi dari sia silahkan. Tapi selama kamu belum memiliki apa-apa, terutama untuk kamu. Ya kamu harus perjuangkan."
"Pak ini sudah jadi." Si tukang sate mendekat dan memberikan pesanan Daniel.
"Ini pak, sekalian sama punya ibu ini." ujar Daniel.
"Baik pak."
"Sisanya ambil aja."
"Makasih pak." ujar si tukang sate itu lalu pergi.
"Dan, aku masih punya uang sendiri."
"Ya nggak apa-apa, sekalian aja." ujar Daniel.
"Danisha, Dan pulang ya?"
"Huuuu." Danisha bersuara.
"Jangan nakal ya."
__ADS_1
"Hukhuuu."
Daniel mencium adiknya itu lalu mengembalikannya pada Grace, sesaat kemudian ia pun pamit pada mantan kekasihnya tersebut.