
"Marvin."
"Marvin."
Clarissa bergegas menyusul Marvin yang baru saja keluar dari kantor, serta hendak masuk ke dalam mobil. Marvin tak menggubris, dan justru malah terlihat seperti tidak kenal pada Clarissa.
"Marvin tunggu!"
Clarissa mencekal lengan pria itu, hingga menyebabkan Marvin kaget dan refleks menepisnya. Saat itu juga hati Clarissa benar-benar terluka. Ia yang selama ini selalu di puja para sugar daddy, kini seolah mengemis cinta pada pria yang coba mengabaikannya.
"Kamu mau apa?" tanya Marvin dengan nada setengah marah. Sebab ia tak mungkin meluapkan seluruh kekesalannya di muka umum. Saat itu parkiran tengah penuh oleh karyawan yang baru saja pulang.
"Kamu nggak bisa kayak gini ke aku, aku hamil anak kamu."
Clarissa berkata dengan nada berapi-api, membuat hati Marvin kian bertambah kesal. Karena tak menutup kemungkinan ada pihak-pihak yang mendengar hal tersebut.
"Bisa kan kecilin dikit suara kamu?" Marvin balas membentak Clarissa.
"Lagipula siapa yang menjamin itu anak aku, kalau kamu aja masih berhubungan dengan laki-laki lain."
"Aku bersumpah ini anak kamu, dan aku berani untuk tes DNA. Karena sejak aku sama kamu, aku cuma berhubungan dengan kamu. Nggak dengan siapapun."
"Kalau begitu tunggu saja sampai anak ini lahir dan buktikan. Kamu nggak perlu repot mengusik kehidupan aku kayak gini. Lagipula aku malu dengan papa, sebab papa tau siapa kamu sebenarnya."
"Itu bohong!"
Clarissa makin berteriak lagi.
"Itu semuanya bohong. Aku dan papa kamu itu cuma ketemu sesekali, karena dia berteman dengan orang yang terakhir punya hubungan sama aku."
"Sugar daddy lebih tepatnya. Iya kan?"
Marvin membuat Clarissa benar-benar terdiam kali ini. Beberapa pasang mata kini tertuju kepadanya. Air mata perempuan itu pun seketika mengalir.
"Tega kamu Marvin." ujarnya terisak.
"Kamu tega sama anak kamu sendiri." lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Kamu lebih tega sama aku, Clarissa. Aku mulai cinta sama kamu, aku perjuangkan kamu di depan orang tua aku demi anak ini. Tapi apa yang aku dapat?"
Marvin menatap mata Clarissa dalam-dalam. Sebait sesal pun kini menyerang hati dan benak perempuan itu. Mengapa ia tak melepaskan saja sugar daddy nya setelah mendapat Marvin.
Mengapa ia begitu egois dengan masih sesekali bertemu untuk meminta uang. Dan di beberapa pertemuan itu, ia bertemu ayah Marvin.
Kini semuanya seolah seperti terlambat. Ia benar-benar berada di ambang kehancuran. Sementara bayi didalam kandungannya akan terus tumbuh dan membesar.
"Pokoknya aku mau kamu nikahi aku."
Clarissa masih bersikeras. Marvin kini menarik salah satu sudut bibirnya.
"Nikah kamu bilang?. Hah?"
"Iya, karena kamu sudah menghamili aku. Atau aku akan tuntut kamu di pengadilan. Aku akan laporkan tindakan kamu yang tidak bertanggung jawab ini ke polisi."
"Silahkan!" ujar Marvin kemudian.
Pria itu lalu masuk ke dalam mobil dan menghidupkan mesin. Clarissa menggedor-gedor kaca mobil kekasihnya itu dan memaksa untuk di bukakan.
Marvin tak menghiraukan dan hanya menekan pedal gas mobilnya dalam-dalam. Tak lama ia pun berlalu.
"Marvin."
"Marviiiin."
"Aarrgghh."
"Haaaaaa."
Clarissa berteriak histeris dan menangis sejadi-jadinya. Saat itu tak ada seorang pun yang sudi mendekat ataupun membantu dirinya.
Sebab selama ia hidup, tak pernah pula ia membantu orang lain. Jangankan membantu, peduli saja tidak. Kini semua berbalik menjadi semacam karma. Seperti ia tengah menuai apa yang telah ia tanam selama ini.
***
Di sepanjang jalan, tentu saja Marvin terpikir. Ia sangat kecewa sekaligus marah, perihal Clarissa yang tak pernah jujur mengenai siapa dirinya selama ini.
__ADS_1
Marvin sangat menyayangkan kebohongan yang di lakukan wanita itu. Bagaimanapun Clarissa berusaha keras meyakinkan, ia tetap tidak percaya jika anak yang di kandung wanita itu adalah anaknya.
Tak ada yang bisa memastikan kecuali anak itu telah lahir nanti. Tetapi seperti kata sang ayah, Clarissa adalah wanita yang licik. Bisa saja nanti ia memanipulasi hasil tes DNA dan menyatakan jika anak itu adalah anak Marvin, padahal bukan. Marvin enggan dibohongi lagi oleh orang yang pernah ia percayai sepenuh hati.
Adalah hal bodoh jika ia sampai jatuh dua kali di lubang yang sama. Kini ia hanya ingin berkonsentrasi mengurus perusahaan, dan juga permasalahannya dengan Daniel. Hal tersebut lebih baik daripada mengurusi tindakan curang Clarissa selama ini.
***
"Perempuan itu masih meneror juga?"
Ayah Marvin bertanya pada sang istri, ketika mereka hanya berdua saja di rumah.
"Iya, pa. Nur bilang seperti itu." jawab istrinya.
Nur sendiri adalah salah satu asisten rumah tangga yang bekerja untuk mereka. Sejak kejadian ribut dengan Clarissa tempo hari, telah puluhan kali Nur mengangkat telpon yang berisi ancaman dari Clarissa.
Perempuan itu mengatakan jika ia akan membuat perhitungan, seandainya ayah Marvin masih tak mengizinkan sang putera untuk menikahinya.
"Kita akan laporkan ke polisi, kalau sudah sangat meresahkan." ucap ayah Marvin lagi.
"Iya, pa. Biar sekalian itu perempuan berhenti mengejar-ngejar Marvin. Lagian Marvin pergaulannya di luar itu gimana sih, masa ketipu sama perempuan kayak gitu doang. Katanya banyak yang suka, di puja-puji oleh perempuan. Eh, kecantol sama yang kayak gitu modelnya." Ibu Marvin mengoceh panjang lebar.
"Papa juga nggak habis pikir, ma. Sepertinya ini karena kita sudah terlalu membebaskan Marvin. Tidak seperti saat dia remaja dulu, yang apa-apa masih kita kontrol dan awasi. Sekarang papa sendiri nggak tau dia bergaul sama siapa, dimana. Siapa aja teman-temannya. Teman-teman dia yang dulu sudah di luar negri semua kan sekarang."
Ibu Marvin menghela nafas.
"Kadang serba salah juga sih, pa." ujar perempuan itu.
"Terlalu mengawasi anak yang sudah dewasa, dibilang kolot. Kalau tidak di awasi, ya begini jadinya." lanjut perempuan itu.
"Pokoknya jaga jangan sampai si perempuan itu berhasil mempengaruhi dia lagi. Gawat kalau sampai Marvin menikahi orang yang pernah berhubungan dengan teman papa. Mau tarok dimana muka papa, ma. Pasti akan jadi bahan tertawaan mereka-mereka yang pernah ketemu perempuan itu."
"Iya, pa. Pokoknya mama juga akan awasi Marvin lebih ketat lagi. Mama juga nggak mau punya menantu seorang simpanan, sugar baby, atau apapun itu. Mama juga punya teman-teman sosialita yang akan menertawakan mama. Kalau mama membiarkan anak satu-satunya menikah dengan orang semacam itu."
Ayah Marvin menarik nafas panjang, sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Dalam hati ia pun bertekad, akan menjauhkan Marvin dari Clarissa sebisa mungkin..
***
__ADS_1