Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Kandidat (Bonus Part)


__ADS_3

Richard senyum-senyum sendiri saat menyetir mobil, sepulang dari rumah sakit. Hal tersebut tentu saja membuat Lita yang ada disampingnya menjadi ikut-ikutan bahagia.


Belum pernah Richard sebahagia itu saat mengenal wanita. Bahkan kini dia terlihat seperti ABG yang tengah kasmaran.


"Darriel."


Richard langsung menyambut dan menggendong sang cucu. Sebab ketika ia dan Lita tiba dirumah, mobil yang membawa Lea serta Darriel pun ikut tiba.


Anak dan cucu Richard itu sengaja mampir, karena Lea tau sang ayah pasti sudah merindukan Darriel.


"Darriel kesayangan papa Rich."


Richard mencium bayi itu sambil menimang-nimang. Mereka bahkan melangkah dan berputar kesana-kemari.


"Heheee." Darriel tertawa.


"Ayah kenapa?. Koq energinya kayak kelebihan gitu mbak?" tanya Lea pada Lita.


"Ah, nggak koq mbak Lea. Mungkin lagi ngerasa sehat aja kali bapak."


Lita memang di suruh Richard untuk merahasiakan prospeknya terhadap Nadya. Demi menjaga agar Lea tak bercerita pada Daniel dan Daniel tidak harus merasa tak enak pada Hanif, karena ia tak tau apa-apa.


"Ayo Darriel, kita ke atas yuk!" ajak Richard.


"Heheee."


Pria itu kemudian membawa cucunya ke dalam dan menuju ke lantai atas.


"Ayah nggak mau makan dulu, ini aku bawain ayam bakar yah." ucap Lea.


"Kamu aja duluan, ayah mau main dulu sama Darriel."


"Oh oke." jawab Lea.


Richard lanjut meniti anak tangga, sedang Lea meletakkan apa yang ia bawa ke atas meja makan.


***


Daniel dan Ellio menemui tiga kandidat, yang rencananya akan mereka jodohkan pada Richard.


Kandidat pertama merupakan perempuan yang cukup cantik dan agak seksi, namanya Corry.


Kesan pertama saat melihat Corry adalah nyaris sempurna. Tinggi semampai dengan tubuh yang proporsional. Gaya langkah elegan, seperti lulusan sekolah kepribadian.


Ellio bertanya-tanya pada gadis itu, setelah mereka sama-sama duduk di salah satu kafe dan memesan minuman. Sedang Daniel menimpali sesekali dan menanyakan pertanyaan yang Ellio lupa.


Setelah melalui perbincangan cukup panjang. Mereka pun berpisah. Corry pamit pulang pada Daniel dan juga Ellio.

__ADS_1


"Skip yang ini, keliatan banyak maunya." ujar Ellio.


"Dan keliatan banyak ngatur." timpal Daniel.


"Belum jadi bini aja udah ngasih jadwal pergi dan pulang untuk Richard. Pengen handphone dan akun sosial media pasangan dikasih tau password-nya. Nggak suka ada asisten rumah tangga perempuan muda dan lain-lain" lanjutnya lagi.


"Mau nikah apa mau jadi satpam." tambah Daniel.


Ellio tertawa.


"Oke kita tunggu yang kedua." tukas sahabat Daniel tersebut.


Tak lama kandidat kedua itu datang, dan ia bernama Marina. Seperti sebelumnya Daniel dan Ellio berbasa-basi terlebih dahulu. Menanyakan nama, kegiatan, pendidikan.


Kemudian cerita pun berlanjut ke topik utama. Yakni tentang Richard. Dalam diskusi yang cukup panjang itu, Marina mengajukan syarat pernikahan berupa mas kawin uang sebesar satu milyar dan juga pesta pernikahan yang mewah.


Syarat lainnya adalah Richard harus membelikan mobil dan rumah minimal seharga dua milyar atas nama perempuan itu.


"Skip lagi, kemahalan kayak jual diri." ujar Ellio ketika Marina sudah pulang.


Daniel tertawa.


"Hati-hati ngomong kayak gini kalau di dekat netizen." ujar Daniel.


"Bisa-bisa mereka protes. Bilangnya, kalau nggak sanggup ya berarti lo cowok miskin. Bla, bla, bla." lanjut pria itu.


"Mereka bakalan jawab lagi, bro. Ntar dibilang, anak perempuan sama bapaknya di manjain. Atau bapak gue membiayai hidup gue bla, bla, bla. Masa nikah sama cowok, cowoknya nggak sanggup biayain. Bapak lo ngurus elo, ya itu tanggung jawab seorang bapak terhadap anaknya. Nggak usah lo jadikan alasan buat merampok laki-laki juga." ucap Daniel.


Kali ini Ellio benar-benar terbahak.


"Gue juga nggak mau anak perempuan gue nikah sama pengangguran. Tapi nggak gitu juga." Lagi-lagi Daniel berucap.


"Sebenarnya Richard juga nggak masalah sih soal duit segitu. Orang lain aja pasti dia bantu, apalagi buat orang yang jadi istrinya." ujar Ellio kemudian.


"Tapi kalau baru ketemu langsung mengajukan syarat dan minta-minta kayak gitu kan, kesannya kayak apa ya?" lanjutnya lagi.


"Ya, kayak orang merampok " tukas Daniel lagi.


Ellio tampak berpikir.


"Iya sih ya, aji mumpung jatuhnya." tukas pria itu.


Tak lama kandidat yang ketiga datang. Sebelum itu Ellio sempat ada mencurigai sesuatu, sebab kandidat yang ketiga ini bernama Cindy.


"Wah, jangan-jangan Cindy temennya Lea nih." tukas Ellio.


"Liat aja fotonya." ujar Daniel.

__ADS_1


"Nggak mirip sih, tapi siapa tau aja dia pake foto orang lain buat mengelabui."


Daniel tertawa, dan yang datang ternyata adalah Cindy lain. Cindy yang ini tak kalah oke dengan teman Lea. Ia juga masih berusia 25 tahun.


Daniel dan Ellio menyambut gadis itu dengan baik. Namun sama seperti sebelum-sebelumnya, ia juga mengajukan syarat mas kawin yang tinggi dan juga meminta dibangunkan rumah untuk orang tuanya. Ia juga meminta rumah dan mobil atas nama pribadinya.


"Hhhhh, besok-besok kita pasang profil Richard di akun biro jodoh sebagai karyawan aja lah. Biar kita lihat ada nggak yang bener-bener mau."


Ellio berujar ketika semua kandidat telah ditemui dan kini hanya tersisa ia dan Daniel saja. Mereka juga telah masuk ke dalam mobil.


"Ya udah pasang kayak gitu aja, bro. Biar ketahuan tulus apa nggaknya tuh cewek." ucap Daniel kemudian.


"Pada matre semua anjir." gerutu Ellio lagi.


Daniel tertawa kemudian menghidupkan mesin mobil.


"Padahal orang kayak gue, lo, sama Richard tipikal orang yang ngasih tanpa di minta." ucap Daniel.


"Nggak usah matre juga kita kasih koq. Tapi kalau ketara banget matre itu, kita jadi illfeel sendiri." lanjut pria itu.


"Makanya, kayak berasa sapi perah tau nggak." timpal Ellio.


"Beruntung banget deh gue dapat anaknya Richard." ucap Daniel.


"Walau di awal-awal gue khawatir dia bakalan mengeruk harta gue. Ternyata orangnya santai, nggak banyak nuntut. Jadi merasa bersalah sendiri kalau gue nggak penuhi kebutuhan dia." tambahnya.


"Marsha juga gitu. Justru kalau nggak diminta, gue tuh jadi sadar sendiri. Kalau gue belum ngasih apa-apa ke dia. Coba kalau dia tipikal kayak cewek-cewek tadi, nggak bakal gue kasih. Udah kesel duluan gue." ucap Ellio.


Lagi-lagi Daniel tertawa.


"Tapi ini teori gue ya, bro." ujarnya.


Ellio menoleh pada sahabat itu.


"Menurut gue, cewek-cewek matre itu bermunculan karena adanya cowok pelit dan perhitungan. Yang kalau nggak diminta DNA nggak disindir, nggak bakal ngasih." ucap Daniel lagi.


"Bisa jadi sih. Mungkin ada cewek yang tipikalnya kayak Lea atau Marsha. Tapi mereka dapatnya laki-laki yang nggak peka terhadap kebutuhan istri. Makanya cewek-cewek lain pada menerapkan syarat untuk pernikahan mereka, biar nggak kayak gitu." tukas Ellio.


"Gara-gara banyak juga kasus pelakoran juga akhir-akhir ini." ucap Daniel.


"Dan pelakor itu menyerang rumah tangga yang istri sahnya nggak kerja. Jadi mungkin cewek-cewek takut kalau nikah, nggak ada aset atas nama mereka, terus rumah tangga mereka di rusak pelakor. Mereka gigit jari." lanjutnya kemudian.


"Makanya mereka wanti-wanti." timpal Ellio.


"Iya, bisa jadi begitu." ujar Daniel.


Kemudian obrolan tersebut pun berlanjut, seiring dengan melajunya mobil melintasi jalan demi jalan.

__ADS_1


***


__ADS_2