
Lea diajak Daniel pergi ke Singapore. Sebab Lea sendiri tak mau bila pergi ke Thailand. Seperti yang pernah ia katakan sebelumnya, ia takut mengajak Darriel yang masih bayi ke negara itu.
Sebab orang disana masih percaya hal mistis. Padahal itu semua hanya ketakutan Lea saja sebagai seorang ibu muda.
Di Singapore mereka menginap di sebuah hotel dan esok harinya Daniel mengajak Lea untuk berbelanja apapun yang ia minta.
"Pokoknya, ambil aja apa yang kamu mau. Selagi menurut kamu itu bakalan kamu pake dan nggak cuma di pajang doang." ujar Daniel.
"Iya mas." jawab Lea.
"Heheee."
Darriel tetap pada kebiasaan barunya yakni tertawa. Setiap ada orang yang melintas di dekatnya, ia tertawa. Sehingga orang-orang tersebut akhirnya menoleh dan menatap ke arahnya.
"Heheee."
"Tau aja kamu yang cakep lewat."
Daniel berujar ketika salah seorang wanita cantik melintas dan Darriel tertawa kepadanya. Wanita itu melambaikan tangan pada Darriel dan Darriel makin tertawa.
"Ngeliatin apa bapak sama anak?"
Tiba-tiba Lea muncul dan Daniel pura-pura tidak tau. Darriel pun mendadak diam dengan memandangi tangan serta kukunya.
"Sok kalem ya, pas mama pergokin." ujar Lea seraya mendekat.
Darriel terus fokus pada jari-jemari di tangannya.
"Delil, mau mama cubit?"
Lea membuat gerakan seolah-olah hendak mencubit dan Darriel berusaha menghindar.
"Heheee." Ia tetap tertawa.
"Kamu udah selesai, Le?" tanya Daniel. Karena sejak tadi ia dan Darriel hanya menunggu di luar.
"Belum mas, hehe." Lea nyengir.
"Ya udah sana, belanja lagi!" ucap Daniel.
"Kita mah ngikut aja, soalnya banyak yang..."
"Yang apa?" tanya Lea.
"Heheee." Lagi-lagi Darriel tertawa.
"Yang hehe ya." ujar Daniel.
"Heheee."
"Hehe, hehe. Ganjen dua-duanya." Lea mencubit pipi Darriel namun tidak kuat, setelah itu ia mencubit Daniel hingga Daniel mengaduh.
__ADS_1
"Aduh Le, sakit Le. Kayak guru BP kamu."
"Guru BK." ucap Lea.
"Dasar lawas kamu." lanjutnya kemudian.
Daniel tertawa. Mereka kemudian kembali berjalan. Mengikuti keinginan Lea yang hendak membeli ini dan itu. Daniel sendiri tertarik membeli sepasang sepatu. Setelah didapat, mereka terakhir belanja untuk Darriel.
Tampak bayi itu sangat antusias, meski mungkin ia belum mengerti apa itu belanja. Namun ia senang saja berada di tempat yang mungkin menurutnya terlihat berbeda dengan suasana rumah.
Dari sejak di Maldives kemarin ia sangat antusias. Mungkin ke depan ia harus lebih sering diajak keluar rumah. Supaya ia tidak merasa bosan. Tiba-tiba Richard menelpon Daniel.
"Hallo, bro." Daniel menyapa mertuanya itu.
"Lo jadi ke Singapore, bro?"
"Ini udah disini, Bambang." jawab Daniel kemudian.
"Gue kesana, ah." ujar Richard.
Sebab di Singapore ia bisa pulang hari itu juga. Sehingga memungkinkan Ellio tak mengetahui itu semua.
"Ya udah kesini aja." ujar Daniel.
"Ntar gue order tiket dulu." ucap Richard.
Daniel memberikan ruang sejenak.
"Keberangkatan jam berapa?" tanya Daniel.
"Tiga jam lagi sih, tapi gue mau siap-siap dulu."
"Ya udah sana!"
Richard pun menyudahi telpon tersebut dan bersiap. Tiga jam kemudian Richard sudah ada di terminal keberangkatan bandara. Ia bahkan tak membawa koper sama sekali, karena berencana pulang di hari yang sama.
Ia hanya ingin bertemu dan bercengkrama dengan Darriel, untuk mengobati kerinduan yang ia rasakan.
Saat berangkat, tak ada hal yang mencurigakan. Namun ketika telah sampai dan dirinya sudah ada di lobi hotel tempat dimana Daniel menginap. Tiba-tiba Richard dikejutkan oleh seseorang.
"Hallo, Bambang. Enak ya pergi tanpa gue." ujar orang itu kemudian.
Richard kaget, sebab tak menyangka jika Ellio juga berada di tempat yang sama.
"Lah, lo sendiri pergi nggak ngasih tau gue." Richard memutarbalikkan fakta.
"Ya, gue kesini karena ngeliat insta story Daniel kalau dia lagi disini. Sengaja nggak gue kasih tau, sebab gue nggak bakal di bolehin sama dia. Nah lo sendiri, pergi nggak ngajak-ngajak gue."
Ellio yang pandai berkilah itu kini mengembalikan semuanya lagi kepada Richard.
"Iya kan bini lo lagi hamil muda, nggak mungkin juga gue ngajak lo."
__ADS_1
"Nggak usah alasan, Richard. Ini tuh Singapore, pulang sekarang juga kita bisa. Nggak jauh-jauh amat soalnya. Bilang aja lo nggak mau ngajak gue, iya kan?"
"Bukan itu, sekarang kalau lo mau gue balikin. Lo juga pergi sendiri kan kesini, tanpa memberitahu ataupun mengajak gue." ujar Richard.
"Ya kalau gue kasih tau, nanti lo nggak ngajak gue." ujar Ellio.
"Eh, Karyono, Karyadi."
Tiba-tiba Daniel muncul dan menyelamatkan suasana. Ia menolong Richard yang mulai sakit kepala akibat argumen Ellio yang berbelit-belit.
"Thanks God." ujar Richard seakan hendak bersujud syukur.
"Udah pada booking kamar belum lo berdua?" tanya Daniel.
"Nggak ada booking kamar, ntar sore juga pulang." jawab Richard dan Ellio serentak. Entah mengapa mereka bisa begitu kompak, hingga membuat daniel nyaris tertawa.
"Ya udah kalau gitu, tarok barang dulu ke kamar gue. Abis itu kita makan." ujar Daniel.
"Gue nggak bawa barang." jawab Richard.
"Sama." Ellio menimpali.
"Orang gue kesini bentar doang koq." lanjutnya kemudian.
"Ya udah kita langsung makan aja yuk, abis itu ngopi. Daripada cekcok mulu kayak ABG kemarin sore." ucap Daniel.
"Nih ABG nya nih." ujar Richard.
"ABG tua." lanjutnya lagi.
"Elu, jadi temen bukanya ngajak." tukas Ellio.
"Udah-udah." Lagi-lagi Daniel menengahi keduanya.
Mereka pun lalu berjalan.
"Darriel mana?" tanya Richard.
"Ntar dia nyusul sama Lea. Tadi masih mandi." ucap Daniel.
***
Setelah beberapa saat mereka makan. Dimana Richard serta Ellio sudah mereda dan tak bertengkar lagi. Lea datang dengan membawa Darriel.
Tentu saja Darriel langsung antusias melihat Richard. Tak ada acara bengong atau mencoba mengenali terlebih dahulu. Begitu melihat Richard ia langsung menempel.
"Kalau sama ayah gitu, ya. Langsung nempel." ujar Lea.
"Coba kalau sama aku. Abis aku pulang dari kampus aja, dia bengong dulu mengenali. Beberapa detik kemudian baru antusias." lanjut wanita itu.
"Heheee."
__ADS_1
Darriel pun hanya tertawa mengikuti tawa Ayah, kakek beserta om-nya.