
"Hei."
Daniel menemui Iqbal, Nina, dan juga teman-teman Lea yang lain di kampus. Tepat setelah mereka mempertanyakan dimana keberadaan Lea saat ini.
Secara spontan Daniel menemukan sebuah ide, sesaat setelah Lea menelpon dirinya. Kini ia hadir, membuat teman-teman Lea begitu terkejut.
"Mas Dan." ujar Nina seraya memperhatikan pria itu.
"Saya mau minta tolong sama kalian, soal Lea." ujarnya langsung to the point."
"Kita juga lagi nyariin Lea, mas." ujar Nina lagi.
"Lea, dia ada sama ayahnya dan dia di larang keluar rumah. Bahkan tidak boleh menemui saya."
"Kenapa kayak gitu?" tanya Iqbal heran. Diikuti tatapan teman-temannya yang juga tak kalah heran.
Daniel kemudian menceritakan siapa ayah Lea, dan bagaimana akhirnya Lea bisa di kurung oleh pria itu.
"Mungkin saking syok nya jadi ayah, dan karena masalah Lea sama om tempo hari. Jadi papanya Lea takut buat melepaskan anaknya lagi. Tapi itu juga nggak baik sih, buat kesehatan Lea." Kali ini Adisty yang berujar.
"Bener, apalagi Lea saat ini lagi hamil. Bisa stress loh dia, kalau di tekan terus." timpal Ariana.
"Apa om nggak coba menemui dan bicara baik-baik sama ayahnya Lea?" Iqbal bertanya pada Daniel.
"Udah, dan hasilnya tetap nihil. Bahkan terakhir kami bertengkar, dan itu membuat Lea pingsan. Tapi Richard tetap bersikeras, bahwa saya nggak boleh menemui anaknya."
Iqbal menghela nafas, lalu menjatuhkan pandangannya ke bawah. Teman-temannya yang lain juga sama bingungnya kini.
"Saya mau minta tolong sama kalian." ujar Daniel.
"Kalian bisa datangi kediaman ayahnya Lea, dengan alasan Lea butuh mengejar ketertinggalannya dalam pelajaran." lanjutnya lagi.
"Tapi om, kalau ayahnya lea nanya. Kita tau Lea ada disitu dari siapa, gimana?" tanya Rama kemudian.
"Iya, om. Takutnya ayah Lea curiga, kalau om yang kasih tau kami." timpal Dani.
"Gimana om, caranya?" Adisty ikut-ikutan bertanya, Daniel kini tampak berfikir.
"Gini aja, gue yang akan bilang kalau Lea sempat kasih tau dan kirim WA pas dia baru sampai ke rumah itu." Nina memberikan solusi.
"Good idea." ujar Daniel kemudian.
"Pokoknya kalian datangi dia secara bergantian, kalau bisa kalian bujuk ayahnya. Supaya Lea diizinkan kuliah."
"Ok om, kita akan usahakan." ujar Iqbal, diikuti anggukan yang lainnya.
***
Sore hari pada keesokan harinya. Richard yang tengah mengerjakan sesuatu di laptop miliknya, tiba-tiba di hampiri oleh seorang maid.
"Pak, ada beberapa anak muda di depan pagar. Katanya nyariin bapak." ujar maid tersebut, Richard mengerutkan keningnya.
"Siapa?" tanya nya kemudian.
"Nggak tau pak, katanya ada perlu sama bapak."
__ADS_1
Richard pun menyudahi aktivitas dan bergegas menuju pintu pagar. Ia mengintip sejenak, tampak dua orang pemuda dan dua orang gadis seumur Lea ada di sana. Richard lalu membuka pintu pagar, karena mengira mereka sekelompok mahasiswa yang hendak meminta sumbangan atau semacamnya.
"Siang om." Salah anak muda perempuan, menyapa Richard.
"Siang, maaf kalian siapa dan ada perlu apa ya?" tanya Richard kemudian.
"Saya Adisty om, kami semua teman kampusnya Lea."
Richard terkejut mendengar semua itu.
"Teman kampus Lea?"
"Iya, om. Udah beberapa hari Lea nggak masuk dan nggak ada kabar. Dia ketinggalan banyak pelajaran dan kita semua khawatir. Takut kalau Lea sakit." jawab Adisty.
"Dari mana kalian tau Lea ada disini?" tanya Richard penuh kecurigaan.
"Mmm, kami tau dari teman akrab Lea om. Namanya Nina."
"Nina?"
"Iya om, kata Nina Lea menemui ayah kandungnya beberapa hari lalu. Lea sempat chat Nina beberapa kali dan kasih tau kalau dia disini."
"Oh."
Richard tidak tahu jika anaknya menjalin komunikasi dengan Nina, dihari ia dibawa kesini.
"Lea, ada di dalam." lanjutnya kemudian.
"Silahkan masuk...!" ujarnya lagi.
Richard sengaja bersikap baik, ia tidak ingin teman-teman anaknya itu curiga. Jika saat ini ia tengah mengurung dan menjauhkan Lea dari Daniel. Karena sepanjang pengetahuannya, pernikahan antara Daniel dan Lea di rahasiakan oleh keduanya. Richard mengira jika teman-teman Lea tak tahu menahu soal itu.
"Tunggu sebentar disini...!" ujarnya kemudian.
"Iya om." jawab mereka serentak.
Richard kemudian naik ke lantai atas, membuka pintu kamar Lea dan mendekati puterinya itu.
"Lea, di bawah ada teman kuliah kamu."
Lea terkejut mendengar semua itu.
"Temen kuliah yah?" tanya nya kemudian. Ia saat ini tengah membaca buku yang tersedia di kamar itu. Lantaran begitu bosan tak boleh kemana-mana dan tak boleh menggunakan gadget.
"Katanya kamu cerita sama Nina, waktu kamu ayah bawa kesini."
"Mmm." Lea agak berfikir, namun kemudian ia mengerti.
"I, iya yah. Aku ada cerita sama Nina, soal mau ketemu ayah. Dan aku juga cerita kalau aku ayah bawa ke rumah ini." Lea berdusta.
Richard menatap puterinya itu dalam-dalam.
"Waktu itu aku masih takut, kaget dan bingung harus gimana. Aku baru ketemu ayah dan nggak tau harus apa."
"Ok, ayah akan suruh mereka kesini. Tapi kamu nggak boleh meminjam handphone, atau meminta mereka menyampaikan segala sesuatu kepada Daniel. Kalau nggak, temen-temen kamu akan terima akibatnya."
__ADS_1
"I, iya yah. Nggak koq, mereka nggak tau kalau aku sama mas Dan udah nikah."
Lea kembali berdusta. Meski ia tidak mengetahui, apakah Richard tau soal temannya yang telah mengetahui akan hal tersebut.
"Ok."
Richard berlalu dan kembali ke bawah. Ia menghampiri teman-teman anaknya itu dan menyuruh mereka untuk naik ke atas.
"Kalian ke kamar Lea aja." ujar nya kemudian.
Lalu Richard memerintahkan seorang maid untuk mengantar para teman anaknya itu ke atas. Mereka berjalan perlahan, hingga tiba di kamar Lea.
"Braaak."
Iqbal mengunci pintu dari dalam. Ia, Adisty, Ariana, dan Rama langsung mendekat ke arah Lea.
"Lea."
"Gaes." Lea memeluk mereka semua.
"Lo baik-baik aja kan Le, Adisty berujar seraya memperhatikan Lea.
"Kalian tau dari mana gue disini?" tanya Lea.
"Dari laki lo." ujar Ariana.
"Mas Dan?"
"Sssttt." Iqbal menyuruh Lea mengecilkan volume suaranya.
"Pelan-pelan ntar bapak lo denger. Kita masih bersikap seolah nggak tau, kalau lo punya laki." ujarnya kemudian.
"Iya, maaf. Gue saking senengnya." ujar Lea.
"Lo sehat kan?" tanya Iqbal lagi.
"Sehat gue, cuma ya gini keadaannya. Bapak gue ngurung gue disini." ujar Lea.
"Oh ya Le." Ariana dan Adisty memberikan paper bag berisi banyak barang belanjaan.
"Ini apa?" tanya Lea pada mereka.
"Yang ini dari kita, yang ini titipan dari om Daniel." ujar Ariana.
Lea tersenyum, namun nyaris saja ia menangis.
"Makasih ya semuanya, kalian udah bela-belain menempuh bahaya. Cuma demi nemuin gue."
Adisty dan Ariana memeluk Lea. Perempuan muda itu kini benar-benar berada dalam kondisi yang emosional.
"Tok, tok, tok."
Terdengar suara ketukan pintu, Mendadak mereka diam. Lea bergerak ke arah sana dan membukanya. Ternyata dua orang maid, yang membawakan makanan serta minuman untuk mereka.
"Mbak Lea maaf, ini minumnya." ujar mereka seraya melangkah masuk.
__ADS_1
"Iya mbak, tarok aja disitu." ujar Lea.
Para maid itu meletakkan semuanya ke atas meja. Tak lama mereka pun kembali keluar, dan Lea kembali berbincang dengan teman-temannya itu.