Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Di Rumah


__ADS_3

"Oeeeeek."


"Oeeeeek."


"Oeeeeek."


Darriel menangis kencang, meski telah di beri susu dan kini di gendong oleh Daniel.


"Uh, ngambek ya. Mama sama papa nya pergi, papa Rich sama opa Rey nya juga pergi. Darriel cuma sama om Arsen doang ya tadi?"


Lea berbicara pada Darriel yang masih menangis kencang.


"Oeeeeek."


"Oeeeeek."


"Oeeeeek."


"Ini papa nak, papa disini. Ada mama juga, ada opa Rey, om Arsen. Papa Rich nya lagi jaga om Ellio ya. Jangan nangis lagi, papa sama mama udah pulang."


Daniel mencoba menenangkan Darriel.


"Tadi waktu om sama Lea belum pulang, dia nggak nangis om." ujar Arsen kemudian.


"Oh ya?"


"Tanya sama mbak, nggak ada nangis. Pas denger suara kalian langsung nangis." lanjut Arsen lagi.


"Fix ini mah, caper." ujar Daniel seraya tertawa memperhatikan Darriel.


"Oeeeeek."


"Oeeeeek."


"Oh nggak, nggak. Sayang papa nak."


"Oeeeeek."


"Iya nggak caper koq, Darriel ganteng sayang papa."


Darriel agak sedikit mereda tangisnya. Sementara Daniel, Lea, Arsen dan Reynald kini tertawa.


***


"Darriel bakalan punya temen main seumuran nih mas."


Lea berujar ketika dirinya tengah mengganti seprai tempat tidur, dibantu oleh Daniel. Sedang Darriel sudah tidur didalam box.


Sejak menghuni kamar ini, mereka memang membereskan dan membersihkannya sendiri. Sebab Lea tak suka jika kamarnya terlalu banyak di masuki oleh asisten rumah tangga.


"Iya, semoga anak Ellio cewek." jawab Daniel.


"Kalau cowok, kenapa emangnya?" tanya Lea.


"Ya bakalan nggak jauh-jauh. Kalau anak Ellio cowok. Terus ntar anak Richard sama Dian misalkan cowok juga. Bakalan jadi kayak aku, Richard, sama Ellio. Ancur nanti semuanya."

__ADS_1


"Hahaha, takut karma ya mas?" ledek Lea.


Daniel tertawa sambil mengangguk.


"Nggak kebayang aku, Le. Kalau anak mereka juga cowok. Bakalan jadi ketua geng si Darriel. Karena kan sifat anak nggak bakal jauh-jauh banget dari bapaknya."


"Lah, kamu sama papa kamu beda jauh sifatnya." ujar Lea.


"Kan aku gede-gedenya di rumah Ellio sama Richard. Terpengaruh sama didikan orang tua mereka. Makanya sedikit banyak aku berbeda sama papa. Tapi ada hal yang nggak bisa di ubah sama sekali. Kayak sifat keras aku, gigih, kadang nggak mau ngalah. Itu semua sifatnya papa yang masih ada dalam diri aku. Darriel juga pasti sedikit banyak akan mewarisi sifat aku dan kamu. Begitu juga anaknya Ellio dan anaknya Richard nanti."


"Iya sih." ujar Lea sambil masih tertawa.


"Siap-siap aja kamu mas, dibuat pusing sama mereka." lanjut perempuan itu.


"Semoga mereka jadi anak baik, kalau nggak bakalan naik terus tensi aku." tukas Daniel.


Pasangan suami-istri itu pun tertawa.


"Oh ya mas?. Tau yang menyerang om Ellio siapa?" tanya Lea pada Daniel.


"Mmm, masih di dalami kasusnya Le." jawab Daniel.


Ia sengaja tak memberitahukan hal tersebut pada Lea. Meski sudah mengantongi nama orang yang ia curigai. Daniel tak ingin Lea hidup dalam ketakutan. Apalagi jika Lea tau ada orang yang tak suka pada suaminya.


"Semoga cepat ketemu ya mas, pengen tau dia maksudnya apa kayak gitu. Semoga sampai ke akar-akarnya bisa di ungkap. Supaya hidup kita kembali tenang."


"Iya Le, kamu nggak usah mikir macem-macem. Fokus aja sama kuliah kamu dan ngurus Darriel. Aku janji hidup kita akan selalu aman." ujar Daniel.


"Iya mas." jawab Lea.


Mereka telah selesai membereskan tempat tidur.


"Udah dong, udah cantik gini masih dibilang belum mandi."


"Bukan itu." ujar Daniel seraya memukul kepala istrinya dengan bantal guling.


"Apa emangnya?" tanya Lea sambil tertawa.


"Kalau kamu belum mandi, bareng aja sama aku."


"Nggak ah, orang belum empat puluh hari juga."


"Ye siapa juga yang mau ngapain kamu. Mandi bareng kan bukan berarti mau aku apa-apain."


"Bukan kamu mas, tapi aku yang pengen di apa-apain sambil mandi."


Lea berseloroh, hingga menyebabkan bantal guling kembali mendarat di kepalanya.


"Buuuk."


"Remaja ganjen tau nggak kamu." ujar Daniel sewot.


Lea hanya nyengir.


"Jangan salahin aku ya, kalau nanti selepas empat puluh hari kamu hamil lagi. Orang yang godain kamu, bukan aku."

__ADS_1


"Mas juga suka kan sama jepitan aku."


Daniel makin terperangah dengan mulut Lea yang ceplas-ceplos.


"Jepit rambut maksudnya mas. Kamu mah, aku ngomong gitu doang langsung keras bawahnya."


Daniel menggeleng-gelengkan kepala sambil mengelus dada. Kemudian pria itu mengambil handuk dan bersiap masuk ke kamar mandi.


"Kamu kalau kelakuan kayak gini terus, Le. Ntar banyak box bayi yang berderet tuh disitu." ujarnya kemudian.


Lea tertawa.


"Nanti ada Darriel, Darrel, Denis, Davin dan lain-lain. Pusing-pusing dah tuh kamu ngehandle semuanya."


"Ya sama kamu lah mas, kan kamu bapaknya."


"Nggak mau."


"Lah, bikinnya mau tapi ngurusnya nggak mau."


"Makanya kamu jangan mancing-mancing."


Daniel masuk ke kamar mandi, sedang Lea makin tertawa-tawa.


***


"Kita harus temui Marvin dan buat perhitungan."


Richard berujar pada Daniel di balkon rumah, sehari setelah kejadian yang menimpa Ellio terjadi. Saat ini keduanya tengah merokok bersama.


Sedang Reynald di bawah bersama Lea dan juga Arsen. Mereka tengah menyiapkan makan malam dibantu oleh asisten rumah tangga.


"Ya, itu orang udah nggak bisa di diemin. Kita harus kasih dia pelajaran. Kita harus kumpulkan bukti yang banyak, supaya dia juga bisa di dakwa." ujar Daniel.


"Padahal kita udah cukup lama nggak berurusan sama dia." lanjut Richard lagi.


"Mungkin dia masih dendam soal waktu itu." Daniel kembali menjawab.


Richard menghisap batang rokok dan menghembuskan asapnya ke udara.


"Di belakang dia ada banyak orang-orang licik. Kita semua harus mempersiapkan diri." ujarnya kemudian.


"Kalau kita masih kayak dulu. Di saat gue nggak tau kalau punya anak, lo masih single, pacar Ellio nggak hamil. Kita akan jauh lebih leluasa untuk bergerak. Tapi saat ini kita punya keluarga." tukas pria itu lagi.


"Ya, itu salah satu yang gue pikirin juga saat ini."


Daniel juga menghisap batang rokok lalu menghembuskan asapnya ke sekitar.


"Intinya kita bentengi dulu yang dirumah, baru kita serang." ujar Richard.


"Sekarang kita harus pake strategi kalau mau membalas siapapun itu." lanjutnya kemudian.


Keduanya sama-sama menghisap sisa batang rokok lalu menyudahi obrolan tersebut. Kebetulan pada beberapa detik berikutnya seorang asisten rumah tangga datang dan mendekati mereka.


"Pak, makan dulu kata mbak Lea dan pak Rey."

__ADS_1


"Iya, bentar lagi kita turun." ujar Richard.


Asisten rumah tangga tersebut berlalu. Tak lama Daniel dan Richard turun ke bawah, untuk makan malam bersama.


__ADS_2