Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Siapa Yang Menyerang


__ADS_3

"Anak lo Richard, capek banget gue. Minta yang aneh-aneh mulu. Minta makanan yang gue nggak tau apa, nyuruh gue pake parfum yang dia punya. Gue harus makan pake piring Doraemon, minta semua yang nggak masuk akal."


Daniel curhat pada Richard di pagi hari saat mereka sudah tiba di kantor.


Richard tertawa.


"Kan di dalamnya ada anak lo juga. Bisa jadi itu karena anak lo, bukan karena emang Lea nya begitu." ujarnya kemudian.


"Iya juga sih." ujar Daniel.


"Tapi capek banget gue." lanjutnya lagi.


"Ya resiko dong, kan itu bini sama anak lo."


Daniel tertawa kecil lalu menyeruput kopi paginya.


"Ellio udah sehat belum sih?" tanya Richard.


"Jangan nanya ke gue lah, tanya sama pawangnya noh." ujar Daniel.


"Pawang?" Richard tak mengerti.


Daniel lalu memberinya tatapan yang penuh maksud.


"Sha, Marsha." Daniel memanggil sekretarisnya.


"Iya pak."


Marsha masuk ke ruangan Daniel dan mendekat.


"Ellio gimana keadaanya?" tanya Daniel.


Richard menatap Daniel, lalu beralih menatap Marsha. Ia kini mengerti apa yang dimaksud, dan ia pun menahan senyum.


"Pak Ellio udah lumayan baik sih, pak. Cuma masih belum hilang semua cacarnya."


"Oh ya udah, bagus deh. Makasih ya udah merawat Ellio dengan tulus."


Wajah Marsha pun bersemu merah.


"Sama-sama pak." ujarnya kemudian.


Sekretaris Daniel itu lalu kembali ke meja kerjanya yang ada di luar. Daniel dan Richard saling bersitatap sambil tersenyum.

__ADS_1


"Jadi Ellio udah ada yang ngurus sekarang?" tanya Richard pada Daniel.


"Gue nggak jodohin mereka. Cuma menangkap ada hal lain aja, dari cara Marsha menanggapi berita soal sakitnya Ellio."


"Dan Ellio nya?" tanya Richard lagi.


"Dia mah yang penting good looking dan bohay. Ellio kan nggak ribet kalau soal nyari pasangan. Cuma dia nya aja yang kadang bernasib sial, sering ditinggalin sama cewek."


Daniel dan Richard pun lalu sama-sama terkekeh.


***


Sementara di lain pihak, Lea berangkat ke kampus. Namun ia lupa jika hari ini jadwalnya adalah siang hari. Karena sudah terlanjur meninggalkan rumah, rasanya malas untuk kembali ke belakang.


Maka Lea pun memutuskan untuk pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Lumayan cuci mata pagi-pagi pikirnya. Sekalian bisa makan di restoran jika ia merasa lapar.


Saat itu pusat perbelanjaan baru saja buka, dan keadaan sekitar masih cukup sepi pengunjung. Lea menyambangi toko skincare dan kosmetik. Karena sepanjang mata melihat, hanya counter itu lah yang paling menarik perhatian dan seakan-akan memanggil dirinya untuk singgah.


Ia melihat-lihat dan membeli beberapa. Jika tidak ingat yang dirumah masih ada, rasanya ia ingin membeli semuanya karena lapar mata. Usai membeli ia keluar, dan berjalan sambil berpikir mau kemana lagi dirinya. Karena sibuk melihat-lihat, akhirnya ia pun tanpa sengaja menabrak seseorang.


"Buuuk."


"Maaf bu, saya nggak sengaja." ujarnya kemudian.


Perempuan berusia paruh baya itupun mengangguk lalu berlalu, Lea juga kembali melangkah. Namun kemudian Lea menyadari sesuatu.


"Degh."


Lea pun menoleh, namun ibu-ibu itu telah jauh.


"Ah, perasaan gue aja kali ya."


Lea kembali melangkah, kali ini rencananya adalah makan. Setelah itu, ia baru akan berangkat kembali ke kampus.


***


"Buru-buru amat pulang, pak."


Yohan sang kepala salah satu divisi, menyingung Daniel dengan nada bercanda. Mereka sudah seperti teman akrab meski Daniel adalah bosnya. Saat itu sejatinya belum jam pulang, namun Daniel sudah terlihat bersiap meninggalkan kantor.


"Mau service mobil, gue." jawab Daniel seraya berhenti sejenak di dekat Yohan.


"Gue baru kemaren service." ujar Yohan.

__ADS_1


Mereka pun lalu berbincang-bincang selama beberapa saat mengenai perawatan kendaraan. Tak lama Daniel berpamitan. Ia mengendarai mobilnya menuju ke tempat dimana ia biasa memberikan pelayanan, pada setiap kendaraan yang ia miliki.


Ketika hampir mencapai tempat tersebut, tiba-tiba Daniel di hadang oleh dua pemotor. Daniel yang bingung kemudian turun dan menghampiri.


"Ada apa ini?" tanya nya kemudian.


Lalu...


"Buuuk."


Seseorang memukul kepala Daniel dari belakang dengan kayu. Namun pria bertubuh tinggi tersebut tak jatuh begitu saja. Ia masih berdiri, hanya saja kepalanya terasa pusing dan pandangan matanya sedikit kabur.


Ketika dua pemotor yang ada di depan menyerangnya, Daniel pun dengan sigap melawan. Terjadinya perkelahian satu lawan 5 orang. Karena yang memukul kepala Daniel tadi berasal dari motor yang ada di belakang.


Daniel di pukul, namun ia balas menghajar mereka semua dengan tak gentar. Ia tak tau siapa orang-orang ini dan apa maksudnya.


Salah satu karyawan tempat service mobil kemudian melihat kejadian itu. Ia berteriak memanggil beberapa orang di sekitarnya dan mereka akhirnya membantu Daniel. Suasana pun menjadi seperti tawuran. Mereka mengenal Daniel dengan baik dan berusaha membantu pria itu.


Alhasil, para penyerang Daniel pun akhirnya kabur. Meski masih di kejar-kejar oleh karyawan tempat service mobil dan di lempari batu oleh mereka.


"Pak Daniel nggak apa-apa pak?" tanya salah satu dari mereka."


"Nggak." ujar Daniel, namun hidungnya mengeluarkan darah akibat hantaman pukulan yang tadi ia terima.


Daniel menyerahkan kunci mobilnya kepada salah satu karyawan. Sementara karyawan lain membawa Daniel ke kantor mereka dengan berjalan kaki.


Di sana Daniel di obati, tak lama manager tempat itu tiba dan bertanya. Para karyawan menjelaskan jika Daniel di serang orang di jalan yang tak jauh dari sana. Manager tersebut bertanya apakah Daniel memerlukan perawatan rumah sakit. Daniel bilang tidak perlu, karena ia sudah merasa baikan.


Sementara mobilnya di service, Daniel memberitahu Richard soal penyerangan itu. Richard pun bertanya dimana posisi Daniel kini.


Daniel memberitahu. Richard yang tadinya berencana menengok ibu Lea di rumah sakit, kini berubah haluan. Ia menyambangi Daniel di tempat service mobil dengan penuh ke khawatiran.


"Lo beneran nggak apa-apa?" tanya Richard cemas, ketika ia sudah tiba dan menemukan Daniel tengah duduk di suatu sudut.


"Nggak, gue nggak apa-apa. Cuma gue pengen tau mereka itu suruhan siapa.


"Ciri-ciri nya gimana?"


Daniel pun menjelaskan, dan ia teringat jika kamera dashboard mobilnya masih menyala ketika kejadian itu berlangsung. Maka ia dan Richard memutuskan untuk melihat hasil rekaman.


"Lo harus lapor polisi, karena siapa tau ini perbuatan saingan bisnis lo atau orang yang dendam sama lo. Masih ok kalau lo di serang sendirian begini, setidaknya lo melawan untuk melindungi diri lo sendiri. Nah kalau diserang pas lagi sama Lea?. Kan lebih kacau jadinya."


"Iya sih."

__ADS_1


"Ayo gue temenin ke kantor polisi." ujar Richard.


Daniel pun akhirnya bersiap, ia berkata pada salah satu karyawan tempat service jika ia akan mengambil mobil ya besok. Maka karyawan tersebut mengiyakan. Lalu Daniel bersama Richard masuk ke mobil dan menuju ke kantor polisi.


__ADS_2