Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Amarah (Bonus Part)


__ADS_3

Hanif tengah duduk di meja kerjanya, meski hari sudah cukup malam. Jam kantor telah usai, tetapi masih banyak karyawan yang lembur demi menyelesaikan pekerjaan. Ia sendiri pun masih berkutat untuk mencapai target.


Ditemani segelas kopi, ia mencoba memisahkan isi kepalanya yang sedang berkecamuk akibat proses perceraian. Ia tak ingin hal tersebut mengganggu pekerjaan.


"Pak, ada yang mau ketemu bapak."


Sang sekretaris yang sebentar lagi akan pulang, memberitahu Hanif mengenai hal tersebut.


"Siapa?" tanya Hanif kemudian.


"Joko pak." jawab sekretaris itu.


Hanif pun sedikit terkejut, sebab Joko adalah mata-mata yang ia suruh mengawasi setiap gerak-gerik Nadya.


"Suruh dia masuk menemui saya." ucap Hanif.


"Baik pak." jawab sekretaris itu.


Tak lama berselang Joko pun tiba dan masuk ke ruangan pria itu.


"Ada apa?" tanya Hanif.


"Mau melaporkan sesuatu bos." jawab Joko.


Hanif yang masih sibuk tersebut, menghentikan pekerjaan. Ia lalu menatap ke arah Joko yang kini mendekat.


"Apa yang mau kamu laporkan." tanya Hanif.


Joko kemudian mengeluarkan handphone dan memperlihatkan beberapa foto pada Hanif. Seketika pria itu pun naik pitam, darahnya serasa mendidih. Sebab yang ia lihat adalah foto Richard yang tengah berada di kediaman Nadya.


Foto tersebut diambil dari kejauhan, tetapi isinya sangat jelas. Seluruh kecurigaan Hanif selama ini terbukti benar. Nadya dan Richard memang memiliki hubungan yang spesial.


"Ya sudah, nanti kamu saya transfer uang." ujar Hanif pada Joko. Tak lama Joko pun berpamitan, sementara Hanif sudah tak kuasa menahan amarah yang bergejolak di hatinya.


Dengan penuh kemurkaan dan tanpa menghiraukan pekerjaan yang masih menumpuk, segera ia pun bergegas ke rumah istrinya tersebut.


Namun, ketika ia sampai disana, seperti biasa ia ditahan oleh sekuriti dan juga Putri yang tak mau membuka pintu pagar.


"Dimana Nadya dan Richard?" tanya nya dengan penuh angkara murka.


Tentu saja Putri dan sekuriti kaget demi mendengar semua itu. Keduanya lalu saling bersitatap dalam ketakutan serta kebingungan yang mendalam.


"Maksudnya apa ya pak?"


Putri pura-pura tak mengerti. Untungnya memang Richard sudah tidak ada di tempat tersebut.


"Jangan pernah menutupi kebusukan di depan saya. Buka pintu ini!" ujar Hanif.


"Tapi pak, bu Nadya sedang tidak ada ditempat dan beliau melarang kami membuka pintu untuk siapapun." jawab Putri.

__ADS_1


Hanif menatap rumah tersebut dari celah pintu pagar, dan memang sudah tak ada mobil Richard disana.


"Saya akan seret kalian berdua juga." ancamnya.


"Sebab kalian sudah melindungi sebuah perselingkuhan." lanjutnya kemudian.


Wajah Putri dan sekuriti tersebut kian diliputi ketakutan. Namun tak lama kemudian Hanif pun pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Brengsek."


Ia memukul stir kemudi mobilnya, sambil menginjak pedal gas mobil dalam-dalam. Pikiran pria itu kini dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa ia jawab.


"Ke mana Nadya dan Richard pergi? Apa yang sedang mereka lakukan bersama?."


Sudah pasti sang istri pergi dengan pria itu, dan bahkan mungkin juga mengajak Arkana. Hanif benar-benar sudah tak dapat membendung emosi. Richard mesti membayar mahal semua ini.


***


Kembali ke kediaman Nadya.


Setelah Hanif meninggalkan tempat tersebut , Putri segera mengambil inisiatif untuk menghubungi Lita, asisten rumah tangga Richard.


Menanggapi telepon tersebut, Lita yang sedang sibuk dengan pekerjaan rumah tangga segera mengangkat telepon.


"Put, kenapa?. Tumben lo nelpon gue?" sapanya dengan ramah.


"Lit, gawat Lit." ujar Putri dengan nada cemas dan penuh ketakutan di seberang sana.


Lita masih saja bercanda, sebab selama ini pun tak pernah ada masalah serius diantara mereka berdua.


"Bukan itu, ini soal bu Nadya sama pak Richard." ujar Putri kemudian.


"Loh, kenapa emangnya?" tanya Lita heran.


"Pak Hanif udah tau soal hubungan antara pak Richard sama bu Nadya," jawab Putri.


"Apa?."


Lita terdiam sejenak, tercengang mendengar berita tersebut. Ia tak pernah menduga bahwa rahasia itu akhirnya terbongkar.


"Gi, gimana bisa?. Gimana ceritanya?."


Kini ia pun ikut-ikutan panik. Putri lalu menjelaskan semuanya. Bahwa Hanif datang dan tiba-tiba langsung menanyakan soal Richard.


"Gue nggak tau persis dia tau dari mana, yang jelas dateng-dateng ia langsung ngomongin hal tersebut." ucap Putri.


"Emang lo nggak bisa ngeles?" tanya Lita masih dengan nada pertanyaan yang dipenuhi kepanikan.


"Gue nggak membenarkan semua itu, tapi jelas dia nunjukin kalau dia udah tau." jawab Putri.

__ADS_1


Lita lalu diam sejenak dengan kecemasan yang kian memuncak.


"Terus gimana dong?" tanya nya kemudian.


"Ya mana gue tau, gue aja bingung." jawab Putri.


"Lo udah kasih tau bu Nadya?" tanya Lita.


"Belum, itu dia masalahnya. Gue takut dia nanti kepikiran. Mana proses perceraian dia masih berjalan lagi." jawab Putri.


"Gue kasih tau pak Richard aja deh."


Lita membuat sebuah keputusan. Tak lama kemudian ia pun mengambil handphone dan memberitahu Richard mengenai hal tersebut.


Pada saat itu Richard sedang menikmati makanan bersama Nadya dan juga Arkana di sebuah restoran, sambil sesekali bersenda gurau.


"Pak, pak Hanif udah tau soal hubungan bapak sama bu Nadya."


Begitulah isi pesan yang disampaikan oleh Lita. Seketika pria itu pun terkejut, dan wajahnya langsung berubah.


Ia tak takut sama sekali pada Hanif, ia hanya memikirkan bagaimana nasib Nadya kedepannya nanti.


"Om, om Richard kenapa?"


Arkana seperti biasa mengenali perubahan mimik wajah pria itu. Tetapi kemudian Richard ngeles dan mengatakan jika dirinya tidak apa-apa. Mereka lalu kembali membahas apa yang sebelumnya mereka bahas.


***


Hanif yang diliputi kemarahan kini terlihat berdiri di depan kediaman Richard. Seluruh tubuhnya bergetar oleh adrenalin yang terpompa dari kelenjar tubuhnya. Memburu keinginan pria itu untuk segera menghadapi Richard.


Namun tampaknya keberuntungan belum berpihak. Richard belum pulang dan ia kian terbakar oleh kekesalan yang semakin memuncak. Padahal niat hati ingin mengajak Richard berkelahi habis-habisan.


Dimana bos Kamu yang brengsek itu?."


Seru Hanif pada Lita dan satu asisten rumah tangga lainnya, dengan suara yang penuh kebencian.


Lita yang masih kaget dengan kedatangan Hanif itu pun, kemudian memandanginya dengan pandangan yang penuh ketakutan.


"Saya nggak tau pak, dari pagi pak Richard belum pulang." jawab Lita.


"Kamu tau dia selingkuh dengan istri saya?" tanya Hanif.


Seketika Lita pun makin terkejut, ia benar-benar tak tau harus berbuat apa.


"Se, selingkuh gimana pak?." tanya nya dengan nada penuh terbata-bata.


Sementara Hanif kini menatap tajam ke arah perempuan itu. Seakan mencari sebuah kebenaran yang sengaja di sembunyikan.


"Sampai saya mendapat bukti bahwa kalian semua tau dan terlibat. Saya akan seret kalians semua ke ranah hukum." ucap Hanif.

__ADS_1


"Be, beneran saya nggak ngerti apa maksud bapak." ucap Lita.


Tak lama kemudian Hanif pun segera meninggalkan tempat tersebut.


__ADS_2