Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Jealous


__ADS_3

Waktu berlalu, Lea kini telah memulai perkuliahan di hari pertama. Setelah tempo hari menjalani masa perkenalan kampus atau ospek selama beberapa hari.


"Hai Lea."


Iqbal menghampiri Lea pagi itu, sementara di suatu sudut ada yang memperhatikan Lea.


"Hai Iqbal, Rama sama Dani mana?" tanya Lea kemudian.


"Lagi dijalan." jawab Iqbal.


"Lo udah sarapan belum?" lanjut Iqbal lagi.


"Mm, udah."


"Yah kirain belum." Iqbal agak kecewa.


"Kenapa mau traktir gue?" tanya Lea.


"Tadinya."


"Selesai jam pertama deh." ujar Lea.


"Serius?"


"Serius, siapa yang nolak kalau di traktir."


Lea berkata sambil nyengir.


"Ya udah ntar kita bareng Rama sama Dani. Kalau Adisty sama Ariana mau ikut, boleh."


"Ok." jawab Lea bersemangat.


***


Di kantor Daniel.


"Lo serius mau punya anak?" tanya Richard tak percaya, setelah Daniel menyatakan keinginannya tersebut.


"Mendadak banget, biasanya lo santai?" Ellio menimpali.


"Nggak tau, belakangan ini tiba-tiba gue pengen punya anak. Pengen kalau gue pulang kerja, ada yang gue ajak main."


Daniel membuang pandangannya jauh ke depan, namun bibirnya tersenyum tipis.


"Ini bukan karena lo sakit hati, gara-gara Grace sama bokap lo udah punya anak kan?" Ellio bertanya lagi, kali ini Daniel tertawa.


"Gue udah nggak peduli soal mereka. Gue pengen punya, ya anak karena pengen aja."


Daniel menoleh pada kedua sahabatnya itu sambil tersenyum. Seketika Richard dan Ellio pun, ikut tersenyum bahkan tertawa kecil.


"Makanya sering-sering dong, biar bini lu tekdung." seloroh Richard.


Daniel memalingkan pandangan sejenak ke arah lain sambil tertawa.


"Udeh sering, Bambang." jawabnya sambil menghisap rokok.


"Bentar lagi juga jadi." timpal Ellio.


"Mudah-mudahan." ujar Daniel, ia menghisap rokoknya sekali lagi.


"Pak Daniel."


Seorang karyawan masuk ke ruangan Daniel.


"Iya, gimana Saira?. Udah banyak yang masuk?" tanya Daniel kemudian.


"Sudah pak, sudah ada beberapa kandidat. Besok akan mulai diinterview oleh HRD."


"Ok."


Saira mendekat dan memberikan sebuah file.


"Ini ada yang harus bapak tanda tangani." ujarnya kemudian.

__ADS_1


Daniel pun menandatangani file tersebut, sesaat setelahnya Saira berlalu.


"Belum dapat sekretaris baru juga lo?" tanya Richard.


"Belum, keteteran banget kerjaan gue. Sejak Nisa nikah terus resign, susah nyari sekretaris yang kerjanya cekatan kayak dia."


"Sekretarisnya Richard noh, makeup doang nomor satu." seloroh Ellio.


"Iya tuh, bro. Kadang kerjaan nggak ada yang beres." Richard menimpali


"Kenapa masih lo tahanin, Solihin?" tanya Daniel heran.


"Dia masih terikat kontrak di kantor gue. Udah sering gue kasih tau, kerja bener, tetep aja di ulang lagi."


Daniel tertawa.


"Gue aja nggak tau ini nanti gimana, mudah-mudahan bisa cepet dapet." ujarnya kemudian.


***


"Lea."


Seseorang memanggil Lea dari suatu arah, perempuan yang baru saja menyelesaikan seluruh mata kuliah hari pertamanya itu pun menoleh.


"Sharon?"


Ternyata Sharon dan kedua temannya yakni Maya dan Tasya.


"Heh, cewek murahan."


Secara serta merta Sharon menjambak rambut Lea, namun diluar dugaan Lea melawan. Ia mendorong Sharon, hingga gadis itu jatuh terjerembab.


"Buuuk."


Pada saat yang bersamaan mahasiswa dan mahasiswi kampus Lea menoleh ke arah mereka.


"Kurang ajar lo ya, dasar cewek murahan. Simpanan om-om."


"Plaaak."


"Leaaa."


Iqbal, Rama, Dani beserta Adisty dan Ariana mendekat. Sementara dari arah lain Vita dan Nina pun turut bergegas menghampiri.


"Asal kalian tau ini cewek jual diri ke om-om." teriak Sharon.


"Plaaak."


Lagi-lagi Lea menamparnya, Sharon hendak membalas namun di dorong lagi oleh Lea.


"Di SMA lo boleh sok berkuasa, tapi disini nggak."


Lea berkata dengan nada sangat ketus pada Sharon.


"Lo pikir gue bakalan malu, lo kata-katain gue simpanan?. Lo ngomong nggak ada buktinya, tapi kalau lo jelas anak koruptor."


"Kalian tau kan koruptor yang baru-baru ini ketangkep?" Lea berteriak pada banyak orang yang mengerubuti mereka.


"Dia nih anak nggak tau malu, yang ikut makan duit rakyat hasil korupsi bapaknya."


"Oh jadi ini anaknya?" Salah seorang mahasiswi nyeletuk. Maka hal tersebut disambut dengan sorakan, serta hujatan dari yang lainnya.


"Bapak koruptor aja, banyak gaya lo."


Sharon dihujat, dengan penuh kekesalan ia pun melangkah. Diikuti Maya dan Tasya yang menahan malu.


"Drama queen tau nggak lo." teriak Vita.


"Sinetron anjay." Nina turut menimpali, sesaat kemudian mereka pun mendekati Lea.


"Gila, sampe dateng kesini loh. Perkara mau ngebully lo doang." ujar Nina.


"Sakit kali tuh anak." Adisty nyeletuk.

__ADS_1


Lea tertawa.


"Oh ya, ini temen sekelas gue Vit, Nin."


Lea memperkenalkan teman-teman barunya pada Vita dan juga Nina. Lalu obrolan mereka pun berlanjut.


***


"Lea."


Iqbal berlarian ke arah Lea, ketika perempuan itu berjalan ke arah pintu gerbang kampus.


"Hei."


"Lea tadi itu keren banget, gue suka cewek-cewek yang ngelawan kayak lo. Jangan diem aja kalau ada penindasan." ujar Iqbal kemudian, Lea tersenyum.


"Gue udah terlalu lama diem saat di SMA, semua supaya gue bisa lulus dengan baik. Gue diem juga bukan karena takut sama dia, tapi pihak sekolah yang selalu menyudutkan gue."


Iqbal menghela nafas.


"Gue nggak tau persis sih, apa yang lo alami semasa lo SMA. Mungkin lo berminat menceritakan hal itu lebih detail di lain waktu, sambil ngopi gitu dimana." ujar Iqbal lagi.


Lea kembali tersenyum.


"Ntar kalau ada waktu, gue kabarin." jawab Lea.


Mereka terus berbincang, sambil berjalan. Tadi sebelum kedatangan Sharon, mereka sempat makan bersama. Saat kelas pertama usai, lalu disambung kelas kedua dan datanglah perempuan pembuat gaduh tersebut.


Kini mereka sama-sama berjalan ke arah gerbang, sambil terus membahas sesuatu. Kadang mereka cekikikan, ketika ada hal yang lucu. Tanpa Lea sadari dari depan sebuah mobil, Daniel tengah memperhatikan dirinya. Ia terus saja bercakap, sampai kemudian.


"Mas Dan?" ujarnya dalam hati.


Lea menghentikan langkah, saat matanya melihat Daniel yang berdiri sambil menyilang kan tangan di dada. Wajah suaminya itu begitu dingin, sementara Iqbal pun jadi bingung.


"Iqbal, gue udah di jemput." ujar Lea kemudian.


"Oh ya udah." ujar Iqbal.


Lea berjalan ke arah mobil, Daniel menatap Iqbal dan begitupun sebaliknya.


"Om, jagain Lea ya om." ujarnya kemudian.


Seketika Daniel pun terkejut, betapa tengilnya pemuda itu ternyata. Daniel kemudian hanya menggerakkan sedikit kepalanya tanda berpamitan, namun wajahnya tetap dingin seperti es batu.


Lea dan dan Daniel masuk ke dalam mobil, Rama dan Dani tiba-tiba menghampiri Iqbal.


"Siapa tuh Bal, yang sama Lea?" tanya Dani seraya mengerutkan kening.


"Bapaknya Lea, liat aja mukanya mirip." jawab Iqbal.


"Keren ya bapaknya." tukas Rama.


"Bisa-bisanya cewek tadi nuduh Lea simpanan." lanjutnya lagi.


"Iyalah, mana mau Lea sama om-om buncit." seloroh Iqbal.


Pemuda itu memang gaul, namun tak cukup banyak pengetahuan mengenai dunia per-sugar daddy an. Dia taunya wujud om-om adalah pria buncit, tua, namun doyan daun muda. Tanpa ia ketahui jika ada om-om sejenis Daniel, yang tinggi, tampan, sixpack, berwibawa dan tentu saja kaya raya.


"Ya udah, balik yuk." ajak Iqbal pada kedua temannya, mereka pun berlalu meninggalkan tempat tersebut.


***


Sementara di jalan, Daniel masih memasang wajah dingin. Bahkan lebih dingin dari freezer kulkas yang baru dibeli."


"Mas, koq diem aja? tanya Lea heran. Karena sejak pernikahan, baru kali ini ia melihat Daniel wajahmu benar-benar kecut.


"Itu tadi siapa?" tanya Daniel dengan nada suara yang tak begitu ramah.


"Temen, mas." jawab Lea.


"Bener cuma temen?" tanya nya lagi.


"I, iya mas."

__ADS_1


Lea agak sedikit takut, pasal Daniel kini seperti marah kepadanya.


__ADS_2