Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Ada Dia (Bonus Part)


__ADS_3

Richard kembali datang pada keesokan harinya ke rumah sakit. Ia membawa donat kesukaan Arkana.


Richard sudah membayangkan Arkana akan bahagia menerima pemberiannya tersebut. Mereka juga pasti akan menghadapi momen yang seru.


Richard melangkah dan ia tiba di muka kamar rawat Arkana. Richard mencoba membuka pintu kamar tersebut, namun ia kaget karena melihat ada Hanif disana.


Pria itu ternyata sudah pulang dan saat ini tengah bersama dengan Arkana dan juga Nadya. Richard berbalik arah. Tanpa ia melihat betapa lesunya wajah Arkana saat bersama pria yang ditakdirkan pencipta menjadi ayah kandungnya.


Ia sama sekali tak bahagia, bahkan pertanyaan Hanif di jawab acuh tak acuh oleh anak itu. Nadya juga melihat betapa Arkana sangat berbeda dibandingkan bila ia ada di dekat Richard. Seolah ayah kandung anak itu memang benar adalah Richard dan bukan Hanif.


"Pak Richard."


Putri berlarian menyusul Richard. Sebab dari ujung koridor sana ia melihat pria itu tengah berjalan menjauhi kamar Arkana.


"Hanif kapan pulang?" tanya Richard pada asisten rumah tangga Nadya tersebut.


"Nggak tau kapan sampainya pak, tapi yang jelas dia kesini itu beberapa menit lalu. Saya baru mau mengabari pak Richard." tukas Putri dengan nafas yang masih ngos-ngosan.


"Ya sudah, saya titip ini aja."


Richard menyerahkan donat yang ia bawa, dan Putri pun menerimanya.


"Jangan bilang dari saya, di depan Hanif." ujar Richard lagi.


"Beres pak." ucap Putri.


Tak lama Richard berlalu dan Putri kini bergerak menyambangi kamar Arkana.


***

__ADS_1


Di kamar.


Suasana benar-benar sudah membuat muak, namun Hanif masih ada di tempat tersebut. Nadya sendiri tak bisa menolong Arkana terlalu banyak, dari rasa bosan.


Sebab biar bagaimanapun Hanif tetaplah ayah kandung Arkana dan berhak menemui anaknya kapanpun yang ia mau.


Putri masuk, Arkana melihat ke arah asisten rumah tangga itu. Terutama pada kotak donat yang ada di tangannya. Nadya pun sama melihat hal tersebut.


Putri meletakkan jari telunjuk di bibir tanda menyuruh diam. Dan entah mengapa Arkana langsung mengerti jika donat tersebut adalah pemberian Richard.


Arkana mendadak sumringah.


"Ayo habiskan dulu makanan kamu!"


Hanif memerintahkan sang anak tanpa menyuapinya. Tadi Nadya ada sempat menyuapi, namun dimarahi oleh Hanif. Hanif bilang mendidik anak laki-laki sepatutnya keras, agar ia tumbuh menjadi lelaki sejati.


Padahal kasih sayang dan perhatian lebih efektif untuk membentuk anak-anak menjadi anak-anak yang penuh simpati dan empati. Mereka akan tumbuh menjadi laki-laki yang penyayang dan mengerti arti dari kata "Keluarga."


"Arka udah nggak mau makan bubur nasinya." ucap Arka pada Hanif.


"Habiskan!" perintah Hanif.


"Mbak mau minta donat."


Arkana berucap pada Putri. Hanif pun menoleh. Tampak Putri membawakan donat dari Richard kepada anak itu.


"Anak tuh jangan diajarkan makan beginian terlalu banyak. Gimana mau sehat, makan nasi aja nggak mau."


Hanif marah pada Nadya.

__ADS_1


"Yang penting dia mau makan mas." ujarnya kemudian.


"Ya tapi kamu harus memperhatikan juga jenis makanannya apa aja."


"Ya ini juga kan nggak bahaya mas."


"Ini bahaya, ini gula" Hanif bersikeras.


"Bisa nggak papa diam sedikit?"


Arkana dengan penuh kemarahan berkata pada Hanif. Seumur hidup Hanif belum pernah mendengar anaknya seperti itu. Tentu saja ia kaget sekaligus marah.


"Kamu berani sekali sama orang tua." ucap Hanif pada Arkana dengan nada marah.


"Kemarin-kemarin kami nggak ada papa dan kami baik-baik aja. Jadi jangan rusak suasana hati kami." ujar Arkana.


Hanif hendak memukul Arkana namun dihalangi oleh Nadya. Tak lama pria itu pun berlalu dengan emosi yang naik turun.


Nadya memeluk Arkana dan menangis. Putri mencoba menenangkan majikannya itu.


"Udalah ma, ngapain mama nangis gara-gara orang tukang kawin kayak papa. Rugi." ujarnya kemudian.


"Iya bu, nggak pantas laki-laki kayak pak Hanif ibu tangisi. Sayang air matanya.." Putri menimpali.


"Tapi kamu nggak apa-apa kan?"


Nadya bertanya pada sang anak, sebab ia takut anak itu memiliki trauma.


"Nggak, sebenarnya Arka dari papa datang tadi udah cari celah buah ribut. Supaya papa pergi kayak gini." ujarnya sambil tertawa, lalu membuka box donat.

__ADS_1


Nadya bingung harus memberi tanggapan apa kali ini. Ia hanya mencium kening anak itu, dan berharap itu akan menenangkan hatinya.


__ADS_2