Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Takut


__ADS_3

"Mas."


Lea terbangun di malam hari. Ini sudah hari pertama kepulangan mereka ke penthouse milik Daniel.


"Kamu kenapa?" tanya Daniel pada perempuan itu. Terlihat Lea begitu cemas, dan keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya.


"Kamu mimpi buruk?" tanya Daniel lagi.


Lea mengangguk, nafas perempuan itu masih tersengal. Daniel kemudian mencoba memeluk dan menenangkannya.


"Aku mimpi liat orang melahirkan dan dia teriak-teriak mas. Bayi nya itu susah banget keluarnya, aku takut. Sampe di gunting sama dokternya mas, takut."


"Ssshhh, kamu tenang ya. Itu cuma mimpi, sayang. Semua akan baik-baik aja."


"Nggak mau mas, takut." rengeknya lagi.


Daniel pun makin erat memeluk perempuan itu.


Esok harinya Daniel mengajak Lea berkonsultasi ke dokter kandungan. Dokter menasehati Lea untuk tidak terlalu takut. Apalagi sampai sengaja menonton tayangan sinteron atau film, yang menggambarkan betapa menyeramkanya proses melahirkan.


Dokter mengatakan, jika Lea memang hendak menonton untuk mendapatkan tips. Ia bisa menonton tayangan melahirkan di YouTube. Yang di dokumentasikan oleh orang-orang bersangkutan secara langsung.


Biasanya video mereka jarang ada yang drama dalam melahirkan. Mereka umumnya menunjukkan sikap santai dan kuat dalam menghadapi hari tersebut.


Proses kelahiran bayi mereka pun tak begitu memakan waktu lama. Hingga konten mereka tersebut tak memberi kesan takut berlebihan, pada siapapun yang menyaksikan.


"Inget kan apa yang dibilang dokter tadi?" ujar Daniel pada Lea.


"Iya mas, tapi aku masih takut. Kalau di robek dan digunting sama dokternya gimana. Mau pilih operasi caesar juga sama aja, di belek, di gunting juga. Serem banget." ujarnya lagi.


Daniel kini menatap Lea, lalu coba tersenyum pada istrinya itu.


"Sayang nggak sama dia?" Daniel berujar seraya mengusap perut Lea.


"Sayang." jawab Lea kemudian.


"Kamu juga mau kan ketemu dia?" tanya Daniel lagi.


"Mau." Lea kembali menjawab.


"Kalau kamu sayang sama dia dan pengen ketemu sama dia, kamu harus berjuang."


Lea kini menatap Daniel. Sementara laki-laki itu mulai membelai lembut pipi sang istri.


"Kamu pasti kuat. Setiap perempuan yang di titipkan anak di rahimnya itu, nggak ada yang. agak kuat. Itulah kenapa mereka dipercaya untuk melahirkan."


Daniel menarik kedua sudut bibirnya dan tersenyum tipis pada Lea.


"Kamu mamanya dia, kamu harus berjuang untuk dia. Aku akan ada di sisi kamu, untuk mendukung kamu. Kita akan sama-sama terus." ujar Daniel lagi.


Air mata Lea menetes, kemudian Daniel mengusapnya dengan tangan. Terlihat kedua sudut mata pria itu ikut basah.


"Jangan takut lagi ya, kamu harus mengalahkan semua itu. Kamu pasti bisa dan pasti kuat." lanjutnya kemudian.


Lea mengangguk, keduanya lalu saling berpelukan satu sama lain.

__ADS_1


***


"Ikut kursus melahirkan aja, Le." ujar Adisty pada keesokan harinya.


Kandungan Lea hari ini sudah masuk bulan ke delapan. Ia sejatinya sudah harus ambil cuti kuliah, demi mempersiapkan kelahiran sang anak.


Namun ia bersikeras untuk tetap pergi ke kampus, dengan alasan tak mau pendidikannya terganggu hanya demi itu semua. Lea masih sangat egois, namun Daniel tak ingin memaksa Lea untuk bisa bersikap dewasa dan berkorban banyak hal demi bayi mereka.


Sebab itu bisa membuat mental Lea tertekan, ia masih berhak atas hidupnya. Dan lagipula Daniel yang membuatnya hamil. Maka Daniel pun harus membagi secara adil, antara kebutuhan bayi mereka dan juga kebutuhan Lea sendiri.


"Emang ada kursus begituan?" tanya Lea pada Adisty.


"Ih ada tau, tetangga gue pernah ikut."


"Terus yang di pelajarin apaan?. Ngeden gitu?. Kalau anaknya berojol beneran gimana?"


Kali ini Adisty tertawa.


"Ya nggak gitu juga, Lele. Paling lo diajarin secara teori, terus diajarin kayak teknik pernafasan gitu."


"Emang mesti ada tekniknya gitu?. Nafas mah nafas aja kali." Seloroh Lea.


"Eh, kalau lagi beranak nggak bisa sembarangan nafas. Ada tata caranya, biar nafas lo nggak abis."


"Emang iya ya?" tanya Lea lagi.


"Iya, udah lo ikut aja. Ntar gue temenin daftar." ujar Adisty.


"Emang lo tau tempatnya?"


"Ntar gue tanya tetangga gue, atau cari di google deh. Gampang." jawab Adisty.


"Iya." Lagi-lagi Adisty menjawab.


***


"Hueeek."


Marsha terdengar seperti hendak muntah. Daniel menatap Ellio yang saat ini tengah berada di ruangan kerjanya.


"Hueeek."


Marsha berlarian ke arah toilet kantor.


"Lo apain, Marsha?" tanya Daniel penuh curiga pada Ellio.


"Kagak, perasaan kagak gue apa-apain." ujarnya kemudian.


"Lah itu kenapa sampe muntah-muntah gitu?" tanya Daniel lagi.


"Ya orang kagak gue apa-apain."


"Dan."


Richard muncul di pintu ruangan kerja Daniel, kemudian masuk. Ayah mertua Daniel itu datang karena ingin menanyakan sesuatu mengenai pekerjaan. Namun ia terjebak dalam percakapan antara sang menantu dan juga Ellio.

__ADS_1


"Ada apaan nih?" tanya Richard seraya menatap keduanya.


"Marsha muntah-muntah." ujar Daniel.


Richard kini turut menatap Ellio.


"Apaan sih, orang belum gue apa-apain tuh cewek. Masih mikir enaknya di rumah gua apa di hotel. Eh..." Ellio menutup mulutnya karena keceplosan.


"Beneran belum lo hajar?" tanya Richard kemudian.


Pasalnya Ellio termasuk orang yang tak kuat menahan gairah syahwat di mata kedua temannya itu. Jadi sangat terasa mustahil jika ia belum meniduri Marsha.


"Beneran bro, gue nggak bohong. Sumpah." ujarnya lagi.


"Awas lu ya kalau bohong." ujar Daniel lagi.


"Gue bukan apa-apa. Sampe si Marsha tekdung, dan ujungnya bakal cuti lama buat beranak. Gue sekretarisnya siapa?. Jaman sekarang lagi sudah cari sekretaris yang kerjanya bener. Yang ada banyak kerja nggak becus, snapgram mulu, tiktokan di jam kerja. Rata-rata gitu semuanya sekarang."


"Kagak Dan, gue udah bilang kagak. Nggak percayaan banget jadi orang. Emang sebegitu nggak meyakinkannya muka gue, nada bicara gue?"


"Ya kan lo penjahat kelamin juga, walau nggak parah." Richard berseloroh.


"Ya penjahat kelamin juga bisa libur atau tobat kali. Nggak selamanya berada di jalan yang salah."


"Terus kenapa Marsha muntah-muntah gitu?" Lagi-lagi Daniel bertanya.


"Ya bisa aja kan dia maag atau asam lambung. Atau abis nonton tayangan YouTube Prindavan street food. Yang di kobok-kobok pake tangan." Ellio terus membela diri.


"Pokoknya sampe Marsha hamil, lo mesti cariin gue sekretaris baru. Kalau kerjanya nggak bener, setengah saham perusahaan lo jadi punya gue." ujar Daniel.


"Iye Bambang." jawab Ellio kemudian.


Tak lama setelah itu Marsha kembali. Ellio buru-buru keluar dan menghampiri gadis itu.


"Sha, kamu udah berapa bulan?" tanya nya kemudian.


"Ih."


"Plaaak."


Marsha memukul lengan Ellio, pria itu pun lalu tertawa.


"Ngapa-ngapain aja belum, berapa bulan apanya?. Ntar di denger yang lain loh pak, dikira saya hamil beneran." Marsha sewot.


Daniel dan Richard yang mendengar semua itu dari dalam, hanya bisa saling menatap sambil sedikit melebarkan bibir. Seperti hendak tersenyum namun tidak begitu jelas.


"Beneran nggak mu hamil sama saya?. Enak loh." ujar Ellio lagi.


"Ih sana, sana!. Bapak pulang aja ke kantor bapak, saya lagi asam lambung gini emosi liat bapak ngomong."


Kali ini Ellio menghela nafas dan menatap Marsha dengan serius.


"Tunggu disini aku beli obat." ujarnya kemudian.


"Pak."

__ADS_1


Marsha mencoba menghalangi, karena tak ingin merepotkan.


"Udah diem disitu." ujar Ellio lagi.


__ADS_2