
Nina lamaran hari ini. Lea dan Daniel datang dengan membawa Darriel. Daniel memakai batik warna gold, sedang Lea mengenakan kebaya berwarna senada.
Darriel sendiri memakai kaos tapi dengan motif batik seperti ayahnya. Lea memang sengaja mengcustom baju sang anak dengan bahan seperti itu. Semata agar Darriel merasa tetap nyaman.
“Hokhoaaa.”
Ia berceloteh dan tertawa-tawa melihat para undangan. Dan ketika teman-teman Lea yang mengenal Nina turut serta hadir disana kemudian menghampiri, Darriel langsung saja mengangkat tangannya minta digendong.
“Kamu tuh nak, nanti kusut loh baju om Iqbal.”
Daniel berujar pada Darriel, namun Darriel malah semakin memeluk teman kuliah ibunya itu.
“Kayaknya dia nggak akan peduli mas, ngikut siapa aja ayo.” tukas Lea.
“Kayaknya itu sifat Richard lagi deh.”
Daniel mengkambinghitamkan sang mertua, padahal yang seperti itu adalah dirinya sendiri. Dulu waktu bayi Daniel adalah anak yang gampang ikut orang lain. Ia pernah mendengar hal tersebut dari ibunya, namun ia enggan mengakui.
Tak lama pihak besan datang, semua orang termasuk Lea pun kini menoleh. Tampak seorang perwira dengan tubuh tinggi tegap dan wajah teduh kini melangkah.
Ia tersenyum menatap ke arah Nina dan keluarga yang berdiri menyambutnya. Tak terasa air mata Lea dan Vita yang menyaksikan semua itu menetes.
Keduanya ingat mereka yang dulu. Karena kebutuhan ekonomi dan ingin bergaya, mereka terjebak ke dalam perdagangan manusia yang berkedok agency model.
Lea cukup beruntung dipertemukan dengan Daniel dan juga ayah kandungnya, Richard. Tetapi nasib Nina dan Vita agak lain dengannya.
Kedua temannya itu harus melewati masa sulit dan tersuram dalam hidup mereka. Jatuh, bangun, dibodohi, disakiti, dikhianati. Semua telah mereka alami.
Mereka mungkin kotor di mata sebagian orang. Tetapi yang terpenting adalah tekad untuk berubah dan memperbaiki diri. Kini salah satu dari mereka sudah melangkah untuk menuju kebahagiaan.
Terlihat wajah kedua orang calon mertua Nina yang ramah dan bersahaja. Selaras dengan anak mereka yang gagah dan berwibawa.
“Heheee.”
Darriel tertawa disaat semua orang tengah hening menikmati diam yang khidmat. Lea melirik sang anak, maka bayi itu bersungut di pelukan Iqbal.
Sang perwira menyampaikan maksud melamar Nina, maka pihak Nina pun menerima itu semua dengan penuh haru.
“Bapak, ibu. Apakah boleh saya ingin meminta Nina untuk menjadi pendamping hidup saya?”
“Heheee.”
Darriel tertawa ditengah-tengah hadirin yang hening dan menyaksikan semua itu. Maka semua orang pun ikut tertawa. Membuat Daniel dan Lea merasa tidak enak.
“Nggak boleh gitu.”
__ADS_1
Daniel dan Lea memperingatkan sang anak yang belum juga mau berpindah dari pangkuan Iqbal.
Calon suami Nina melanjutkan kata-kata, dan saat Nina memberi respon Darriel kembali tertawa. Lagi-lagi hadirin pun tertawa, termasuk Nina dan calon suaminya itu sendiri.
Akhirnya lamaran yang sedikit tegang itu pun berubah penuh tawa. Saat Nina dipasangkan cincin oleh tunangannya, semua orang bertepuk tangan. Darriel ikut-ikutan bertepuk tangan sambil tak henti tertawa.
Dan ketika sesi lamaran tersebut usai, semua orang berfoto dengan Nina dan calon suaminya. Darriel memberikan reaksi ingin digendong oleh calon suami Nina.
Calon suami Nina melihat Darriel dan menghampiri bayi itu, kemudian menyambutnya.
“Mas Darriel mas, malu tau aku.” ujar Lea seperti makin tidak enak akibat tingkah sanga anak yang terlalu saat going.
Darriel telah dibawa oleh calon suami Nina kembali ke dekat perempuan itu.
“Ya lihat aja tuh anaknya. Gimana coba?” tanya Daniel.
“Abis mereka foto-foto, ambil mas. Nggak enak tau, ntar dikira orang kita nyerahin anak ke orang lain karena pengen santai.” lanjutnya kemudian.
Daniel lalu menunggu sampai sesi foto-foto mereka dengan Darriel selesai. Kemudian ia mengambil anak itu dan menjauhkannya. Tak lama Darriel pun menangis dan Daniel membawanya keluar gedung.
“Hokhoaaa.”
Darriel mengoceh pada Daniel, sementara Daniel hanya tersenyum memperhatikan.
“Nggak boleh begitu ya. Masa Darriel mau ikut semua orang. Kan nggak semua orang kuat lama-lama gendong kamu.” ujar Daniel menasihati.
Darriel terus saja mengeluarkan celoteh khas bayi yang dimilikinya.
“Be nice ya. Jadi anak baik.” ucap Daniel.
“Heheee.”
Darriel tertawa.
Daniel mengusap sisa air mata di pipi anak itu, kemudian mereka kembali masuk ke dalam. Tak lama setelahnya Darriel pun tertidur lelap.
Lea, Vita, dan Nina menangis di belakang. Mereka sama-sama mengingat ke masa yang sama. Dimana mereka banyak melalui hal berat dalam hidup.
“Semoga lo bahagia selalu, Nin.” ujar Lea.
Vita makin terisak dan menyeka air matanya. Sementara Nina mengangguk kemudian memeluk kedua sahabatnya itu
“Makasih ya.” ujarnya kemudian.
Acara pun akhirnya dilanjutkan sampai selesai.
__ADS_1
***
Di waktu yang sama Richard menjenguk Arkana. Namun mereka tak bertemu di kediaman Nadya melainkan di rumah sakit.
Sebab Nadya membawa anak semata wayangnya itu ke dokter spesialis. Arkana memeluk Richard, seperti seorang anak yang lama tak bertemu ayahnya. Richard pun balas memeluk anak itu dan menemani sebanyak yang ia mau.
“Kenapa om lama banget nggak ketemu sama Arka.” ujar Arkana pada pria itu.
“Om kerja sayang, om sibuk banget akhir-akhir ini.”
Richard beralasan dan hanya itulah yang bisa ia ungkapkan saat ini. Karena hal tersebut gampang dimengerti oleh anak kecil seusia Arkana.
“Kapan om nikah sama mama dan kita tinggal bareng di satu rumah. Biar Arka punya papa yang setiap hari pulang ke rumah. Nggak pulang ke rumah tante atau teteh.”
Hati Nadya terpukul mendengar semua itu, sementara Richard tersentuh jiwanya. Itu adalah ungkapan jujur dari seorang anak yang kesepian. Akibat ayahnya terlalu banyak istri dan terlalu banyak waktu yang dibagi dengan mereka.
Sebuah hal yang harusnya membuka mata para laki-laki yang hanya memikirkan kesenangan dirinya sendiri.
“Arka sabar aja, semua mimpi Arka terwujud nantinya. Arka berdoa dan minta yang terbaik.” ujar Richard.
Arka mengangguk, sedang Nadya memalingkan wajah dan menyeka air matanya dengan tangan.
***
Lea dan Daniel pulang dari acara Nina. Darriel bangun dan berceloteh di car seat tengah.
“Wawawa.”
“Heheee.”
“Hokoaaa.”
“Ngoceh melulu.” ucap Lea seraya tertawa kecil.
“Namanya juga Darriel.” ujar Daniel terus mengemudikan mobilnya.
“Heh Delil, kamu jangan kebiasaan ya apa-apa minta gendong sama orang. Mama malu tau nggak liat kelakuan kamu.”
Lea berbicara seraya sedikit menoleh ke belakang. Namun alih-alih mendengarkan, Darriel malah tertawa dengan suara kencang.
“Heheee.”
“Hehe, hehe mulu.” ujar Lea.
“Heheee.”
__ADS_1
“Gemes banget aku mas, pengen aku cubit kuat-kuat rasanya.” ujar Lea.
Kali ini Daniel yang tertawa. Sebab siapapun yang melihat Darriel memang akan merasakan hal serupa. Darriel terlalu gemoy untuk didiamkan.