Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Bengkak


__ADS_3

Lea tertidur lelap di sofa ruang tengah dekat kamarnya. Entah berapa lama ia sudah tertidur di tempat itu. Ketika akhirnya ia merasa ada yang menyentuh pipinya.


"Hah."


Lea terkejut dan mendadak bangun, wajahnya syok sekaligus bingung.


"Hei." ujar Daniel dengan suara pelan, seraya tersenyum.


Lea masih bengong, nyawanya belum semua kembali.


"Mas Dan?"


Ia melihat Daniel tampak baru selesai mandi dan berganti pakaian. Aroma segar di tubuh suaminya itu terasa sampai ke hati.


"Mas udah pulang dari tadi?" tanya Lea.


Daniel mengangguk.


"Ya." jawabnya kemudian.


"Kenapa nggak bangunin aku mas?"


"Le, aku bukan raja. Yang kalau setiap pulang kerja mesti banget kamu dalam kondisi siap siaga, sedia, berdiri tegak. Emang kamu Paspampres?"


Lea tertawa kecil, ia masih begitu mengantuk. Ia kembali merebahkan diri dengan Daniel duduk disisinya.


"Ngantuk banget aku mas, abis beresin rumah dan ngerjain tugas."


"Makan dulu yuk, sebelum selera makan kamu hilang." ujar Daniel.


"Mas jadi beliin satenya?"


"Jadi dong, yuk makan. Aku juga udah laper, masakan kamu memanggil-manggil tuh." ujar Daniel lagi.


"Mas belum makan dari tadi?"


Daniel menggeleng.


"Mau nungguin kamu."


Lea tersenyum.


"Ya udah, kita makan sekarang. Mas duluan aja ke meja makan, aku mau cuci muka bentar."


"Ok."


Daniel beranjak ke meja makan, sedang Lea pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya yang berminyak akibat tadi tertidur. Saat tidur, produksi minyak di wajahnya memang jadi lebih banyak. Usai membersihkan area tersebut, ia menuju ke meja makan. Daniel sudah mengambilkan nasi untuknya.


"Baik banget kamu."


Lea mencium pipi Daniel dari arah belakang, pria itu hanya tersenyum. Lea lalu duduk disisinya dan mulai menyantap sate yang Daniel bawa.


"Mas makan juga dong satenya." ujar Lea.


"Kamu aja, aku lagi nggak pengen." ujar Daniel. Ia kini melahap masakan Lea.


"Enak nggak mas, rendangnya?"


"Enak, pedesnya juga pas. Kamu belajar dari mana?"

__ADS_1


"YouTube." jawab Lea.


"Ini yang ke berapa kali kamu coba bikin?"


"Yang pertama."


"Oh ya?"


"Iya."


"Enak." ujar Daniel kemudian.


Lea pun tersenyum, ia senang jika masakannya berhasil.


"Kamu makan sayur, jangan makan sate doang." Daniel kembali berkata.


"Iya mas."


Lea lalu mengambil tumis kangkung yang ada di hadapannya.


"Buah-buahan masih?" tanya Daniel.


"Masih mas, tadi baru beli lagi. Aku beli jeruk, apel, kiwi dan lain-lain."


Daniel mengangguk.


"Pokoknya gizi harus seimbang, jangan lupa olahraga juga."


"Iya mas, kan tiap dua atau tiga hari sekali di olahragain sama mas."


"Kali ini Daniel tertawa."


"Orang kamu nya juga suka."


Daniel pun ikut tersenyum, lalu mereguk air putih yang ada di dalam gelas. Pria itu kemudian lanjut makan, sambil menanyakan bagaimana kuliah Lea hari ini. Lea bercerita banyak tentang suasana kampus, ia juga menanyakan perihal pekerjaan Daniel hari itu.


***


"Ada nggak sih jimat yang bisa menggugurkan kandungan orang?"


Clarissa melontarkan pertanyaan ektrem kepada Kinar dan juga Nia, saat mereka tengah berkumpul di kamar apartemen Clarissa. Gadis itu kini telah mendapat mangsa baru, yang memberinya apartemen. Meskipun dalam hatinya, ia masih ingin terus berjuang mendapatkan Daniel.


"Emang ada jimat kayak gitu?" tanya Kinar.


"Gue nonton di drama Korea kolosal gitu, ada. Kadang kalau misalkan kayak tokoh permaisuri nya lagi hamil. Pasti ada pihak yang mau mengugurkan atau mengganti kelamin anak yang dikandung jadi cewek, biar nggak jadi pewaris. Nah mereka pake jimat gitu, di tarok di langit-langit dapur. Tempat dayang suka bikinin makanan buat si permaisuri itu." ujar Clarissa.


"Jauh dong, kalau mesti ngambil tuh jimat ke Korea. Kalau gue kesana nih, keburu di rekrut sama SM entertainment." seloroh Nia.


"Lagu lu." Kinar dan Clarissa menoyor kepala teman mereka tersebut sambil tertawa.


"Lagian jauh amat nyari referensi jimat, kenapa nggak paksa aja tuh cewek hamil minum air tape sama jejelin jus nanas muda ke mulutnya." lanjut Nia lagi.


"Itu namanya kriminal, Nia yang nggak pake Ramadhani." Kinar sewot pada Nia.


"Maksud Clarissa itu, kalau bisa mencelakakan orang tanpa menyentuh, kenapa harus menyentuh. Iya kan Ris?" Kinar bertanya pada Clarissa.


"Yes, gue pengennya kagak gitu." jawab Clarissa sambil menatap keduanya.


Kali ini Kinar dan Nia saling pandang, dengan wajah yang sama-sama terkejut.

__ADS_1


"Ini maksudnya serius?" tanya Kinar pada Clarissa.


"Iya, gue pengen menggugurkan anaknya Daniel yang sekarang ada di perut Lea."


Kinar dan Nia terdiam, mereka pikir sejak tadi Clarissa hanya bercanda. Namun ternyata gadis itu benar-benar ingin berbuat kejahatan.


"Ris, mendingan lo pikirin lagi deh. Dosa tau kayak begitu." ujar Nia berusaha mengingatkan temannya itu.


"Iya, ngapain sih masih mikirin Daniel. Sekarang kan lo udah dapat sugar daddy baru. Emang apa sih yang ada dalam diri Daniel, sampe lo segitu terobsesinya." tanya Kinar.


Clarissa membuang pandangan jauh ke depan.


"Gue udah terlanjur mentok hati sama dia. Gue pengen suami kayak Daniel, yang cakep, gagah, kaya, dia harus jadi milik gue. Apapun yang terjadi akan gue perjuangkan, akan gue singkirkan si cewek kampung itu berikut bayinya."


Clarissa kemudian tertawa-tawa, suasana yang tenang mendadak berubah horor.


***


Hari demi hari berlalu, kandungan Lea mulai terlihat ke permukaan. Berat badannya pun semakin bertambah. Setiap hari sebelum berangkat kuliah, ia begitu lama mematut diri di depan kaca. Lantaran makin tidak percaya diri dengan bentuk tubuhnya yang tak karuan.


"Lea, udah belum?"


Daniel memanggil istrinya, karena pagi itu mereka berencana berangkat bersama.


"Ntar dulu mas."


Daniel kemudian membuka pintu kamar Lea dan terlihat perempuan itu masih berada di depan kaca.


"Masih lama?" tanya Daniel kemudian.


"Mas liat tuh badan aku, mirip badak. Perutnya buncit."


Daniel tersenyum dan tertawa kecil. Ia kemudian mendekat dan memeluk istrinya itu dari belakang.


"Dia tumbuh makin besar." ujarnya seraya mengelus perut sang istri.


"Aku nya jadi aneh." Lea memasang wajah cemberut.


"Nggak koq, malah aku lebih suka kamu kayak gini. Menurut aku lebih cantik."


"Cantik dari mana?. Insecure sama cewek-cewek yang sexy di luar sana."


"Ngapain insecure sama mereka, aku aja mikirin kamu setiap saat."


"Emang iya?" Lea menatap suaminya meminta kepastian.


"Iya, kepikiran terus kamu gimana, ada masalah apa nggak hari ini sama kandungan kamu. Kamu makan dengan baik apa nggak, semuanya aku pikirin."


"Emang mas sampe segitunya?"


"Ya terserah kamu mau percaya atau nggak, yang jelas aku jujur loh soal ini."


Daniel mencium pipi Lea, ada perasaan hangat yang menjalar di hati wanita itu.


"Jangan tergoda sama cewek lain ya mas, karena badan aku yang udah membengkak ini."


Daniel tertawa.


"Cewek lain sexy doang, nggak ada bayi aku di dalam perutnya. Di kamu ada."

__ADS_1


"Ih gombal deh, awas aja kalau selingkuh. Aku muntahin dan aku pindahin ini anak ke perut kamu."


Daniel terus tersenyum dan tertawa, sesaat kemudian mereka sama-sama berangkat.


__ADS_2