
"Hokhoaaa"
"Awaaaaah."
Darriel mengeluarkan celotehan-celotehan khas bayi, ketika Daniel pulang dan menggendong dirinya. Saat itu Daniel sudah mandi, sehingga aman baginya untuk mengendong sang anak yang tengah sakit.
"Kamu masih nggak enak badan ya?" tanya Daniel.
"Heheee."
Darriel tertawa, meski wajahnya masih terlihat menahan rasa tak nyaman.
"Darriel cepet sembuh ya sayang. Papa doakan Darriel supaya sehat terus."
"Hokhoaaa."
"Iya sayang."
Daniel mencium kening bayi itu lalu mengajaknya berjalan kesana kemari. Bahkan melihat ke arah kaca.
"Awaaaaah."
Darriel kembali bersuara. Sementara Daniel kini tersenyum dan membelai kepala sang anak dengan lembut.
"Mas, ini kopinya."
Lea meletakkan segelas kopi hangat ke atas meja.
"Tarok situ aja dulu, Le. Makasih ya." ujar Daniel.
"Sama-sama mas."
Lea lalu lanjut mengerjakan hal lain. Sebab ada berapa hal yang memang belum beres. Seperti mencuci piring dan mencuci baju.
Usai melakukan semua itu, ia kembali pada Daniel. Dan ternyata Darriel sudah tidak ada lagi dalam gendongan suaminya tersebut.
"Darriel tidur mas?" tanya Lea seraya duduk di sisi suaminya tersebut.
"Iya, barusan aja." jawab Daniel.
"Syukur deh kalau gitu."
Daniel menarik nafas dan membawa Lea ke dalam pelukannya.
"Makasih ya udah ngurus Darriel dengan baik." ucapnya kemudian.
"Sama-sama mas." jawab Lea.
"Makasih juga kamu selalu menyempatkan waktu buat Darriel. Dia kayaknya kangen melulu kalau sama kamu." lanjut perempuan itu.
Daniel jadi tertawa.
"Dia emang lebih dekat sama aku." imbuhnya.
"Padahal congor ibunya yang sehari-hari dia lihat." ucap Lea.
Daniel makin tertawa, lalu mencium kening istrinya itu dengan lembut.
__ADS_1
"Mungkin kalau aku yang di rumah dan kamu yang kerja. Dia bakalan kangen terus sama kamu." ucap Daniel.
"Karena dia ketemu aku terus tiap hari." lanjutnya lagi.
"Iya sih, mungkin dia cari apa yang menurut dia kurang." jawab Lea.
"Oh ya, mau makan sesuatu nggak?" tanya Daniel.
"Hmm, apa ya?"
Lea bergumam.
"Martabak telor kayaknya enak ya mas." ujarnya memberi saran.
"Boleh juga tuh. Order yuk!" ajaknya.
"Ayo!"
Lea bersemangat. Tak lama mereka pun mengorder makanan tersebut via halaman ojek online.
***
Di hari yang sama.
Nadya tampak diam di depan kaca kamarnya, tak lama kemudian Putri masuk. Karena sebelumnya telah meminta izin untuk membersihkan kamar majikannya tersebut.
"Bu, ibu kenapa?" tanya Putri heran.
"Put." Nadya menoleh ke arah Putri.
Jujur Putri agak kaget. Namun ia pun menjawab,
"Baik bu."
Nadya bergegas membuka lemari, mengambil berkas-berkas yang diperlukan untuk melakukan gugatan. Ia dibantu oleh Putri.
Asisten rumah tangganya itu terlihat antusias, ia senang akhirnya Nadya mengambil langkah yang pasti. Sebab tak perlu menunggu lama untuk menghempaskan pria seperti Hanif.
Kita tidak sedang hidup dalam drama rumah tangga dalam televisi ikan terbang. Dimana para istri hanya bisa kumenangis dan selalu terlihat seperti tak punya power. Putri sangat tidak sabar untuk membicarakan hal ini terhadap Lita.
"Bu, saran saya sebelum gugatan ini masuk dan dipelajari oleh orang pengadilan. Jangan sampai ibu cerita ke siapapun itu kecuali saya atau pengacara ibu." ujar Putri.
"Kenapa Put?" tanya Nadya heran.
"Sebab orang lain bisa saja membuat ibu terpengaruh dan kembali ke belakang." jawabnya kemudian.
"Maaf kalau saya lancang, bu. Tapi ibu berhak bahagia. Ibu berhak mendapatkan yang lebih baik dari pada pak Hanif."
Nadya diam, kemudian perempuan itu menghela nafas panjang dan menjawab.
"Iya, saya janji." ujarnya.
Maka Putri pun tersenyum lega demi mendengar semua itu.
***
"Kamu mau apa?. Hah?"
__ADS_1
Hanif bertengkar dengan Yayah istri keduanya. Sebab ia tak terima Yayah meminta cerai. Cita-cita Hanif memang beristri banyak dan dilayani oleh banyak istri.
Bila perlu istri-istrinya itu berada dalam satu rumah. Meski pada kenyataannya sangatlah sulit membuat mereka menjadi akur satu sama lain.
Hanif tak ingin ada satupun istrinya yang memberontak. Sebab itu merupakan pukulan harga diri baginya sebagai laki-laki. Ia ingin semua perempuan yang ia nikahi menuruti perkataannya. Meski pada kenyataan, hanya Nadya lah istri yang selama ini paling penurut dan menghargai suami.
Baik Yayah maupun Susi, keduanya sama-sama kasar dan suka mengeluarkan kata-kata kotor ketika marah.
"Aku mau cerai, bangsat."
Kata-kata tersebut keluar dari mulut Yayah.
"Jadi suami katanya mau adil. Mana keadilan yang kau bilang itu, bacot doang bisanya. Apa-apa untuk si Susi, semua untuk Susi."
"Ya harusnya kamu sabar dulu lah. Sebagai istri yang baik, kamu harusnya mengerti keadaan suami."
"Itu melulu yang di omongin. Sebagai istri yang baik, sebagai istri yang baik. Omongan template tau nggak?. Basi!" ujar Yayah penuh berapi-api.
"Dikit-dikit nuntut istri jadi yang terbaik. Terus kamu sebagai suami nggak apa-apa gitu nggak baik?. Hah?"
Yayah makin menjadi-jadi.
"Orang-orang kayak kamu itu selalu menggunakan senjata "Sebagai istri yang baik, kamu harus bla, bla, bla." Sendirinya sebagai suami nggak ada baik-baiknya. Bilangnya mau adil, adil apaan model gini?"
"Ya aku sendang berusaha, seharusnya kamu ngerti."
"Minta di ngertiin mulu, kapan kamu ngertinya ke aku?"
"Bisa diem nggak kamu?"
"Plaaaak."
Tanpa sadar Hanif refleks menampar Yayah. Bahkan itu terjadi di depan anak-anak. Tak tinggal diam Yayah pun balas memukul suaminya itu, sehingga pergulatan sengit pun terjadi.
Anak-anak Yayah berteriak dan akhirnya mengundang perhatian warga sekitar. Warga mulai berdatangan dengan membawa pak RT setempat, untuk menyelesaikan masalah tersebut.
***
"Sus, ibu mau beli tanah sama sawah."
Seperti kebanyakan orang miskin yang menjual anak demi kepentingan, tentu saja orang tua Susi memanfaatkan keadaan. Dan memang tujuan Susi menikahi Hanif adalah untuk memperbaiki ekonomi keluarganya dengan cara yang instan.
Sebab prinsipnya untuk apa berusaha keras, jika bisa melakukan segala sesuatu dengan mudah.
"Iya bu, tunggu aja. Nanti Susi minta uangnya sama mas Hanif. Ibu mau beli apa lagi?" tanya Susi..
"Pengen benerin rumah, Sus. Biar tetangga memuji-muji kita." ujar ibunya lagi.
"Ibu tenang aja, itu akan Susi atur."
"Bener ya, Sus." ibunya sangat bersemangat.
"Iya." jawab Susi.
Lalu mereka lanjut berbincang dan sang ibu mencibir tetangganya yang baru membeli mobil, dengan perkataan yang sangat iri dengki.
Susi kian terbakar semangatnya, untuk segera membelikan sang ibu dan keluarganya ini serta itu. Agar cepat menyainginya para tetangga di kampung.
__ADS_1