Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Semakin Bertambah


__ADS_3

Disepanjang perjalanan pulang, Daniel lebih banyak diam. Namun diamnya itu tak begitu digubris oleh Lea. Pasalnya sang istri terhitung masih remaja, ia tak begitu mengetahui apa arti dari gelagat sang suami.


"Lo kenapa, Dan?"


Ellio bertanya pada Daniel pada keesokan harinya, ketika pria itu menembak dengan ekspresi penuh dendam. Mereka kini tengah berada di pusat latihan menembak, tak biasanya Daniel melepaskan peluru begitu banyak. Biasanya ia adalah orang yang santai dan banyak tawa ketika melakukan kegiatan tersebut.


"Dor, dor, dor, dor."


Empat tembakan kembali ia lepaskan, keempatnya meleset dari titik sasaran. Karena pikirannya tengah berkecamuk. Padahal di hari biasa, Daniel adalah seorang penembak yang jitu.


"Kenapa dia?" Richard menyikut Ellio dan ikut memperhatikan Daniel.


Sahabat mereka itu pun menyudahi tembakan terakhirnya, lalu berpindah tempat.


"Lo kenapa sih?" Lagi-lagi Ellio bertanya, Daniel mereguk air mineral yang ada didalam genggaman tangannya.


"Hhhh."


Daniel menghela nafas.


"Gue juga nggak tau kenapa." jawabnya kemudian.


"Lo ada masalah sama Lea?"


Richard seakan mengetahui isi kepala sahabatnya itu.


"Nggak, gue sebel aja sama salah satu temen cowoknya dia di kampus."


Richard dan Ellio saling bertatapan, sambil berusaha menahan senyum.


"Ceritanya lo cemburu?" goda Ellio.


Daniel diam, ia juga baru menyadari hal tersebut.


"Ngapain gue cemburu sama bocil?" Daniel ngeles, Richard dan Ellio tertawa.


"Dan, bocil jaman now juga udah bisa nyari duit. Ada yang dari main game online, bisnis, jadi YouTuber, content creator. Kita yang usianya udah mateng dan sukses kayak kini, harus waspada terhadap para bocil." Ellio menyerang mental Daniel.


"Betul Dan, gue setuju sama Ellio." Richard menimpali.


"Kita jangan kepedean mentang-mentang kita udah sukses, karena bocil jaman now banyak yang bahkan sukses di umur 20 an. Mereka muda, masih fresh, keuangan ok, pengetahuan mereka luas, hits dan lain sebagainya. Buru-buru dah, lo buntingin si Lea. Biar nggak melipir ke hati bocil lain."


Daniel terdiam mendengar ucapan tersebut, bahkan ketika esok harinya ia masih terpikir.


"Pagi mas."


Lea menyapa Daniel di pagi hari itu. Daniel yang masih terngiang akan ucapan sang sahabat pun, kini memperhatikan Lea. Tubuh istrinya itu tampak dibalut dress berbahan scuba, dengan panjang 7/8.


Dress tersebut sangat ketat di bagian dada serta perut. Akhir-akhir ini karena Lea banyak makan, perut perempuan itu sedikit membuncit.


"Mas?"


Lea menyapa Daniel untuk yang kedua kalinya, pasalnya sang suami terlihat menatap dengan tak berkedip sedikitpun.


"Mas?"


Daniel tak menjawab, ia hanya mendekat dan mengangkat tangannya. Kemudian perlahan ia mengusap perut Lea.

__ADS_1


"Kamu hamil, sayang." ujarnya sambil terus menatap mata Lea. Nafas Daniel kini terdengar naik turun.


"Nggak mas, aku cuma banyak makan dan..."


"Aku mau kamu hamil sekarang."


Daniel makin memberikan usapan di perut istrinya itu.


"Mas, aku harus kuliah dan..."


"Sssttt."


Tangan Daniel terus memutar-mutar di perut Lea, memberikan sensasi kegelian tersendiri bagi wanita itu. Sesekali tangan Daniel turun dan mengusap bagian yang lebih sensitif.


"Mas, ini udah mepet waktunya."


Lea berkata seakan menolak, namun matanya kini naik ke atas dan hanya menyisakan putihnya saja. Sentuhan tangan Daniel mulai membangkitkan gairah gadis itu.


Dalam sekejap Daniel sudah mendominasi pergumulan dan Lea terpaksa menyerah pada kenikmatan.


"Maaaas."


"Lea, aaakh."


Keduanya berteriak ketika sama-sama mencapai puncak, setelah beberapa menit berada dalam penyatuan.


Daniel memeluk Lea yang kini terbaring di sofa, dengan kedua kaki yang terbuka lebar. Begitupula dengan Lea, ditengah nafasnya yang masih tersengal ia pun memeluk sang suami dengan erat.


"Inget Lea, kamu milik aku. Benih aku udah ada didalam sini, jangan sekali-kali selingkuh."


Lea tak menjawab, ia masih memeluk suaminya dan merengkuh sisa-sisa kenikmatan. Daniel tak pernah gagal dalam hal menumbuhkan perasaan di hati istrinya.


"Lea."


Iqbal menghampiri Lea, ketika perempuan itu naik ke tangga.


"Hei." ujar Lea seraya tersenyum.


"Yang lain mana?" tanya Lea kemudian.


"Udah di atas." jawab Iqbal.


Mereka pun bergegas, karena sebentar lagi kelas akan dimulai.


"Cieee yang datang berduaan."


Teman-teman Lea dan Iqbal meledek mereka berdua. Lea hanya tersenyum, sementara Iqbal terlihat salah tingkah.


***


Daniel tiba di kantor, agak telat. Karena sehabis menghantam sang istri, ia sempat tertidur beberapa saat karena lelah.


"Pak Daniel, ini sekretaris bapak yang baru."


Seorang karyawan memperkenalkan sekretaris baru untuk Daniel, ketika Daniel tiba di muka ruangannya.


"Selamat pagi, pak." Sapa gadis itu

__ADS_1


"Pagi, siapa nama kamu?" tanya Daniel.


"Marsha, pak." ujar si gadis.


"Baik, selamat datang disini dan saya harap kamu bisa bekerja dengan baik."


"Baik, pak."


Daniel masuk ke ruangannya dan sang sekretaris baru kembali duduk. Sementara karyawan yang tadi memperkenalkan sang sekretaris, kembali ke mejanya.


***


"Anak kamu itu kemana sih, abis nikah koq menghilang?"


Ayah tiri Lea bertanya pada ibu Lea, ketika mereka baru saja terlibat cekcok perihal masalah keuangan.


"Mas, Lea itu udah jadi istri orang. Suaminya itu nggak bisa kita atur-atur, apalagi soal uang. Waktu itu kan kita udah dikasih, salah mas sendiri kenapa usahanya malah bangkrut."


"Ya namanya usaha pasti ada jatuh bangunnya, nggak bisa langsung berhasil. Coba liat pengusaha sukses yang suka tampil di tivi dan YouTube, mereka juga ruginya milyaran sebelum sukses."


"Ya terus aku harus apa sekarang, mas?"


"Ya kamu bilang lah sama anak kamu, kita butuh modal lagi. Sayang kalau usaha kita mandek ditengah jalan kayak gini."


"Aku nggak bisa maksa Lea, untuk kasih kita uang lebih banyak lagi."


"Kamu itu ibunya, Lea harus berbakti sama kamu. Kamu ngurus dia dari kecil juga pakai duit kan?"


Ibu Lea tak menjawab sepatah kata pun lagi, ia benar-benar berada di dalam keadaan yang bingung sekarang.


***


"Le, makan seblak yuk...!"


Vita yang kebetulan jadwal kuliahnya selesai di jam yang sama dengan Lea, kini menghampiri sahabatnya itu. Ada Nina juga di dekat mereka.


"Mau makan seblak dimana nih?" tanya Lea kemudian.


"Hmm, di seberang jalan sana ada yang enak." ujar Vita.


"Ya udah, ayok...!" Lea bersiap, Vita pun demikian. Mereka kini serentak menoleh ke arah Nina.


"Nin?" Lea memperhatikan sahabatnya itu. Tampak Nina memegang kepalanya, seperti mengalami pusing atau semacamnya.


"Nin?" Vita ikut-ikutan memanggil, ia dan Lea mulai merasa khawatir.


"Nin, lo kenapa?" tanya Lea.


Nina tak menjawab, perempuan itu terus berusaha menarik nafas dan...


"Buuuk."


Nina jatuh tak sadarkan diri tepat di hadapan Lea dan juga Vita. Kedua perempuan itu pun mendadak panik dan langsung menghampiri sahabat mereka.


"Nin, Nina." Lea mengguncang tubuh Nina.


"Nin."

__ADS_1


"Nin, bangun Nin."


Tak lama mahasiswa dan mahasiswi pun mulai berdatangan dan membantu.


__ADS_2