
(Bacalah dari episode sebelumnya, karena kolom pengumuman sudah diganti bab cerita)
"Serius Le, bapak lo bakalan ditemukan?"
Vita bertanya dengan nada tak percaya pada Lea, diikuti tatapan Nina yang sama kagetnya.
"Iya, tapi nyokap gue malah nyuruh gue minta duit. Heran sama nyokap gue, apa-apa duit. Dia nggak mikir apa, gimana perasaan gue selama ini."
Vita dan Nina menatap Lea.
"Dulu nyokap gue nggak gitu-gitu banget loh. Setelah kenal dengan bapak tiri gue yang ini, jadi berubah."
Vita menghela nafas.
"Kadang pasangan itu bisa membawa kita ke arah yang lebih baik, bisa juga ke arah yang lebih buruk. Tergantung salah atau tidaknya kita dalam memilih pasangan." ujar Vita.
Lea diam, di lemparkannya pandangan ke suatu sudut yang menghadirkan kehampaan.
***
Sementara itu di kantor.
"Pak tolong ini ditandatangani."
Salah seorang karyawan masuk ke ruangan Daniel. Ia membaca sejenak apa yang disodorkan padanya, kemudian ia tanda tangani.
"Pak Dan."
Salah seorang kepala divisi masuk ke ruangan Daniel. Kemudian ia membicarakan sebuah perkara yang membuat Daniel benar-benar merasa pusing.
"Tolong urus sebisanya, nanti saya usahakan cara yang lain." ujar Daniel ketika akhirnya dirasa tak ada jalan keluar.
"Baik pak, berarti bapak setuju dengan cara saya?"
"Iya atur aja pak Liem, gimana baiknya."
"Baik pak, saya permisi."
"Silahkan."
Kepala divisi tersebut pergi meninggalkan ruangan Daniel, tak lama Daniel pun memanggil sang sekretaris
"Marsha."
"Sha."
"Iya pak." jawab Marsha seraya masuk ke dalam.
Tolong Shanti suruh menghadap saya.
"Shanti?"
"Tanya di bagian depan." ujar Daniel lagi.
"Oh, baik pak." Marsha bergegas, tak lama kemudian ia kembali.
"Pak, kata mereka Shanti mengalami kecelakaan dan dirawat dari dua hari lalu."
Daniel terkejut mendengar semua itu, saking sibuknya ia, sampai-sampai tak mendengar kabar berita dari salah satu karyawan pentingnya tersebut.
Tanpa berbicara lagi, ia segera keluar dari ruangan dan menyambangi divisi tempat Shanti bekerja. Di sana Daniel mendapatkan kabar yang sama persis, dengan apa yang barusan disampaikan oleh Marsha.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu, nanti saya akan jenguk dia." ujar Daniel.
Ia kembali ke ruangan, ia tak marah atau apapun. Karena ini adalah musibah, meski ia sangat membutuhkan tenaga serta pikiran dari Shanti. Guna mengatasi permasalahan yang kini tengah melanda.
"Pak Dan."
Seorang karyawan kembali menyambangi ruangan Daniel, kali ini ada lagi masalah yang dibicarakan. Daniel benar-benar ruwet dihari itu, sampai-sampai ia kehilangan selera makan.
"Bro, makan...!"
Ellio memerintahkan Daniel untuk makan, karena sejak tadi Daniel hanya diam. Sementara makanannya mulai dingin.
"Dan, ntar sakit loh. Inget kita ini udah cukup berumur." Richard menimpali.
Daniel pun akhirnya mencoba untuk makan, meski sulit.
***
"Apa ini semua ada hubungannya sama Lea?"
Ellio bertanya pada Daniel, ketika mereka semua telah selesai makan dan membakar sebatang rokok.
"Maybe." jawab Daniel lalu menghisap batang rokoknya.
"Mungkin Frans sakit hati, karena anaknya dikecewakan oleh Lea dan Hans mungkin ngadu kalau Lea sama gue." lanjut Daniel lagi.
"Tapi masa iya, Frans segitunya mencampur adukkan antara urusan sakit hati anaknya dan perusahaan." ujar Richard.
"Kalau gitu ya sama aja, dia kekanak-kanakan dong berarti." lanjutnya kemudian.
"Ya kita kan nggak tau gimana rasanya jadi bapak, bro. Hans itu kan anak kesayangannya Frans. Kalau kita di posisi dia, mungkin kita akan melakukan segala cara untuk membalas orang yang sudah menyakiti anak kita. Termasuk ini, Frans menghentikan suplai secara sepihak ke perusahaan Daniel. Padahal mereka terikat kerjasama dan itu adalah salah satu hal bodoh yang dilakukan oleh bos sebesar Frans." Ellio menimpali dengan panjang lebar.
"Tapi lo udah membicarakan hal ini dengan Frans?" tanya Richard.
***
"Mas Dan."
Lea yang baru pulang dari kampus langsung menghampiri sang suami yang tengah sibu dengan pekerjaannya di ruang makan.
Hari ini Lea pulang agak malam, karena ada dosen yang tak bisa datang. Hingga kelasnya pun dialihkan ke kelas sore. Sebelum kelas itu dimulai, ia menghabiskan waktu di kosan teman satu kelasnya. Kebetulan kost tersebut tak jauh dari kampus.
"Gimana kerjaan mas hari ini?" tanya Lea lalu mencium pipi suaminya secara serta merta. Ia kini berdiri di belakang Daniel.
"Baik." ujar Daniel lalu tersenyum.
Ia menutupi apa yang ia hadapi di kantor hari ini. Ia tak ingin membawa masalah tersebut ke rumah, sebab rumah adalah tempat dimana harusnya semua merasa nyaman.
"Mas udah makan?" tanya Lea.
"Udah, tadi di kantor." jawab Daniel.
"Sore ini belum berarti?"
Daniel mengangguk.
"Ya udah, aku bikinin ya. Lea beranjak, namun Daniel mencekal lengan istrinya itu. Hingga Lea pun kini berbalik menatap Daniel.
"Aku lagi nggak pengen makan."
"Loh kenapa, mas?" tanya Lea heran.
__ADS_1
"Badan aku pegal semua, aku mau berendam air hangat. Kamu temani aku ya." pinta Daniel.
"Atau sekalian ikut mandi."
"Ok." ujar Lea.
Dalam sekejap keduanya sudah berada di dalam kamar mandi atas. Daniel merendam tubuhnya di air hangat, sementara Lea berada di belakang dan memijat kepala serta bahu suaminya itu.
"Minum dulu mas." ujar Lea menyerahkan segelas minuman pada Daniel.
"Ini apa?" tanya Daniel seakan terganggu dengan bau aroma khas minuman tersebut.
"Itu susu jahe."
Daniel membenci jahe, namun demi sang istri ia memaksa diri untuk meminumnya.
"Mas nggak suka ya?"
Lea bertanya, ketika mendapati ekspresi suaminya yang seakan sangat tidak nyaman. Daniel tertawa, dan berujar.
"Biasanya aku kalau berendam gini, pasti minum wine. Pas udah nikah jadi minum param kocok."
Lea tak kuasa menahan tawa, demi mendengar semua itu.
"Janganlah, mas. Masa minum alkohol terus, katanya mau punya anak."
Daniel diam, namun kemudian ia tersenyum.
"Kalau masnya mabok terus, ntar kualitas benihnya jadi oleng. Mau anaknya beler kayak orang mabok?"
Daniel terbahak kali ini, seketika kepenatan akan masalah di kantor menghilang begitu saja dari benaknya. Ia terus tertawa mendengar celotehan Lea, di sela-sela pijatan yang diberikan istrinya itu.
"Mas."
"Hmm?"
Lea mencium bibir suaminya itu.
Daniel membalas dengan sangat, lalu menarik Lea agar masuk ke dalam bathtub.
"Mas, kamu mah mesum mulu otaknya."
Lea menggerutu, namun dengan nada yang manja.
"Salah siapa yang mancing duluan?" tanya Daniel. Lea kini berada dalam pangkuannya.
"Salah aku sih, hehe."
"Makanya jadi istri jangan nakal."
Daniel meremas bagian belakang Lea dan disambut desah manja oleh istrinya tersebut. Lea melingkarkan tangannya di leher sang suami, lalu mereka kembali berciuman.
"Mas, nanti malem bantu aku ngerjain tugas ya." ujar Lea.
"Baru semester satu, awal lagi. Masa tugas udah minta bantuan." Daniel meledek Lea.
"Ya udah kalau mas nggak mau, aku minta tolong suami orang aja gimana?"
"Oh udah mulai kamu ya."
Daniel menggelitik Lea, hingga kemudian mereka tertawa-tawa.
__ADS_1
"Mas ampun, mas."
"Hahaha."