
Pagi itu ada info kemacetan lalu lintas di sepanjang perjalanan menuju ke kantor. Hanif yang saat ini tinggal di tempat Shela terpaksa harus mengambil jalur alternatif.
Sebab menurut informasi yang beredar, kemacetan di sebabkan adanya truk tangki yang terguling di sebuah titik.
Truk tangki tersebut berisi minyak goreng dan dikhawatirkan akan membahayakan pengguna jalan. Sebab kini minyak goreng itu mengalir kemana-mana.
Hanif akhirnya menempuh jalur yang melewati kantor Daniel. Meski jalan di depan kantor Daniel pun terbilang cukup macet, tetapi masih bisa ditolerir.
Ia melintasi jalan tersebut dengan kecepatan sedang, bahkan cenderung lambat. Semua biasa saja, sampai kemudian ia melihat sebuah mobil Rolls Royce masuk ke gerbang kantor tersebut.
Pikiran Hanif langsung tertuju kepada peristiwa tempo hari, saat dirinya memergoki Nadya turun dari mobil yang sama.
Sayangnya Hanif lupa memotret atau menghafal plat nomor mobil tersebut, hingga kini ia tidak bisa memastikan dengan jelas.
Hanif turut masuk ke pelataran parkir kantor Daniel. Ia berhenti agak jauh dari tempat dimana mobil yang dicurigainya itu diparkir.
Hanif terkejut ketika melihat Richard keluar dari dalam mobil itu. Tapi kemudian Hanif tertawa sendiri. Sebab ia tau reputasi Richard yang selalu dikelilingi wanita seksi. Mana mungkin Richard tertarik pada Nadya yang kolot dan berpenampilan tertutup.
Jelas itu bukan selera Richard, pikirnya. Maka Hanif pun kini hendak berbalik ke arah mobilnya. Namun secara serta merta Daniel tiba dan melihat temannya itu.
"Bro, koq lo disini?"
Daniel bertanya, karena ia pikir mungkin Hanif ada perlu dengannya. Tetapi biasanya Hanif mengabari terlebih dahulu via WhatsApp.
"Masih macet banget bro di depan. Makanya gue mampir dulu, mau ngopi bentar di kantin kantor lo." Hanif beralasan.
"Tumben lo lewat sini, biasanya kan dari rumah bini ketiga lo nggak lewat sini." ujar Daniel lagi.
Hanif agak gelagapan kali ini.
"Aaa, tadi lagi ada urusan gitu dan terpaksa harus lewat jalur sini." ucapnya kemudian.
"Oh ya udah, ayo!. Kita ngopi bentar." ujar Daniel.
"Gue parkir dulu." lanjutnya lagi.
Maka Hanif yang terlanjur terjebak omongan tersebut, mau tidak mau menuruti keinginan Daniel. Mereka pergi ke kantin kantor untuk ngopi bersama.
Sementara Richard yang tak melihat kehadiran Hanif, kini telah naik ke atas dan menyiapkan pekerjaan.
***
Di rumah.
Lea memasangkan baju yang sudah cukup lama tak dipakai oleh Darriel. Tetapi ia kaget karena baju itu sudah terlihat kekecilan pada sang anak.
"Hokhoaaa."
"Heheee."
Darriel tertawa-tawa.
__ADS_1
"Kamu ya Delil, mama beliin ini diatas usia kamu yang sekarang loh. Baru pake dua kali, udah nggak muat aja."
"Heheee."
Darriel kembali tertawa.
"Gimana ini coba, gembul sih kamu."
"Hokhoaaa."
"Hokhoa-hokhoa melulu. Mama unyel-unyel kamu ya."
"Heheee."
"Dikit-dikit ketawa. Kitik, kitik, kitik."
Lea gemas dan menggelitik Darriel. Bayi itu pun kembali tertawa-tawa.
"Delil gendut."
"Heheee."
"Anaknya papa Daniel."
"Hehe, hoaaaaaa."
"Gemes mama tau nggak. Mama makan aja pipinya, mama makan. Hap, hap, hap."
"Heheee."
"Kita kumpulin bajunya Delil yang udah nggak muat, terus kita kasih panti asuhan ya." lanjutnya lagi.
"Hokhoaaa."
"Berbuat baik ya nak ya. Delil harus berbagi sama orang lain ya sayang. Baju Delil kan bagus-bagus semua."
"Heheee."
Lea memberi botol susu berisi ASI kepada bayi itu. Kemudian ia mengumpulkan baju-baju Darriel dari dalam lemari dan membungkusnya dengan plastik.
Lalu baju-baju itu diletakkan ke dalam kotak kardus yang masih bagus. Rencananya baju-baju tersebut akan ia bawa ke panti asuhan terdekat, antara besok atau lusa.
***
Sore hari.
"Ini buat aku mas?"
Shela kaget sekaligus senang bukan kepalang. Ketika Hanif tiba dan membawa sebuah paper bag berisi tas mahal, yang sudah diidamkannya sejak lama.
"Iya buat kamu, gimana?. Kamu suka atau mau ganti yang lain?" tanya Hanif.
__ADS_1
Shela bisa saja mengatakan ia kurang puas dan meminta yang lebih mahal. Pasti Hanif mau menggantinya dengan yang baru.
Tetapi saat ini dirinya tengah berada dalam rangka merebut suami orang. Jadi ia harus terlihat sedikit berbeda dari Shela.
Laki-laki sangat suka pada perempuan yang tak banyak menuntut. Meski mereka sendiri sanggup memenuhi tuntutan tersebut.
"Ini cukup koq mas, aku suka."
Shela bersikap seolah dirinya adalah perempuan baik. Padahal perempuan baik-baik tidak ada yang merusak rumah tangga orang lain. Tetapi sekali lagi laki-laki adalah makhluk yang gampang ditipu dengan keindahan dan kebaikan.
Maka Hanif pun menjadi senang bukan kepalang, karena merasa pemberiannya sangat dihargai.
Mereka kemudian saling berpelukan. Dalam hati Shela berjingkrak-jingkrak, lantaran ia mulai mendapatkan segala yang pernah Susi dapatkan.
Sore itu ia meminta izin pada Hanif untuk menemui temannya. Hanif mengizinkan, karena Shela dianggap penurut. Shela menemui Susi dan memamerkan tas barunya.
Susi sengaja tak menyinggung perihal tas tersebut dan pura-pura tidak tahu. Sebab ia agak iri melihat Shela yang mulai sukses menurut versi pandangan matanya.
Susi tau Shela kini mendapat sugar daddy yang entah siapa itu. Susi enggan mengorek keterangan lebih lanjut, karena tak ingin Shela merasa tersanjung kemudian melayang di udara.
Meski kerap menyemangati teman-temannya untuk mencari pria kaya. Nyatanya Susi masih memiliki rasa dengki yang cukup tinggi terhadap orang lain. Ia tidak ingin disaingi dan tetap ingin menjadi yang nomor satu.
Sementara Shela melakukan flexing, Susi berusaha mengalihkan topik pembicaraan ke arah lain.
***
"Elo mau nikah?"
Lea senang mendengar Nina akhirnya menemukan tambatan hati. Setelah sekian lama sahabatnya itu berdiam diri dalam duka, akibat kehilangan anak.
"Iya, Le. Dia aparat militer. Gue udah dikenalin ke keluarganya dan dia nggak punya istri. Gue udah cari info ke kesatuannya dan dia emang masih single." ucap Nina.
"Ya ampun, Nin. Gue senang banget denger hal ini. Gue bersyukur akhirnya lo bener-bener ketemu cinta sejati lo." ucap Lea.
"Iya, si Vita lagi pacaran sama dokter. Tapi dia juga di kesatuan sama kayak calon laki gue. Pangkatnya lebih tinggi malah." ujar Nina.
"Wah, wah, wah, calon ibu persit semua nih dua-duanya." ucap Lea.
"Iya, Le. Kita berdua bersyukur banget. Karena calon laki kita tau masa lalu kita dan mereka mau menerima apa adanya. Mereka nggak mempermasalahkan masa lalu."
"Ya ampun, Nin. Itulah kalau kita mau memperbaiki diri. Kita dipertemukan sama yang lebih baik." ujar Lea lagi.
"Iya, Le. Ini gue mau ngundang lo sama mas Daniel. Gue lamaran dan tunangan minggu depan." ujar Nina.
"Secepat itu, Nin?"
"Iya, lo tenang aja. Calon laki gue beneran single, udah diperiksa semuanya. Gue udah nggak bego kayak dulu lagi." ujar Nina.
"Gue senang banget, gue pasti datang." ujar Lea.
"Awas aja kalau sampe lo nggak datang. Gue sleding pala lo." ujar Nina.
__ADS_1
Maka kedua sahabat itu kini tertawa-tawa.