Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Curhat Pada Darriel (Extra Part)


__ADS_3

"Delil, mama sedih."


Lea berkata pada sang anak, ketika tengah berdua saja di kamar Darriel.


"Hokhoaaa."


Darriel seperti menangapi ibunya.


"Papa Rich sakit." ujar Lea lagi.


"Mama tuh sekarang takut. Takut kehilangan papa Rich."


Lea mendadak menitikkan air mata. Secara serta merta Darriel menoleh pada ibunya itu.


"Hokhoaaa."


Ia seperti berbicara.


"Hoaaa."


"Kamu sayang papa Rich?" tanya Lea.


"Heheee."


Darriel tertawa, Lea makin tersedu tangisnya. Darriel pun jadi diam dan terus menatap ibunya itu.


"Dulu, mama nggak tau papanya mama ini siapa. Mama pernah hidup sebentar sama papanya om Leo kamu. Dia baik, tapi terus pisah. Oma kamu nikah lagi sama papa yang nggak baik. Pas mama udah ketemu sama papa kandung mama, posisi mama udah menikah. Mama nggak punya banyak waktu sama dia. Dan sekarang dia sakit."


Lea benar-benar terisak dalam tangis yang begitu menyayat. Ia sudah membayangkan hal buruk terjadi. Apalagi Daniel bilang masalah Richard seperti berhubungan dengan otaknya.


Lea sangat takut terjadi penyakit seperti di film-film. Dimana Richard akan kehilangan ingatannya secara perlahan, kemudian menjadi permanen.


Lea tidak mau dilupakan oleh sang ayah. Ia tidak ingin saat menyapa Richard, dirinya tak dikenali.


"Delil doain papa Rich ya nak. Semoga papa Rich bisa sembuh dan bisa sama-sama dengan kita terus. Sampai Delil gede, sampai bisa bikin papa Rich marah. Ya sayang ya?"


"Hokhoaaa."


Darriel menggapai-gapaikan tangannya. Seakan hendak meraih wajah Lea. Lea pun mendekat, Darriel menempelkan tangannya di wajah Lea yang masih banjir air mata tersebut. Tatapan mata mungilnya tak terlepas dari sang ibu. Menjadikan Lea kian menangis tersedu-sedu.


"Kita sama-sama doa ya nak ya." ujar Lea lagi.


Lalu Darriel tersenyum, Lea kemudian menyeka air matanya dengan tissue. Saat dirasa cairan hidungnya penuh, Lea pun beralih menuju kamar mandi.


***


Selang dua jam kemudian, Lea tertidur di kamar bawah sehabis mengikuti perkuliahan online. Saat itu Daniel yang tengah terpikir akan Richard turun untuk mencari dimana istrinya.


Namun Lea ternyata tidur dengan lelap bahkan sedikit mendengkur. Mungkin saking lelahnya. Daniel beralih menilik ke kamar sang anak, dan ternyata Darriel sudah bangun.

__ADS_1


"Darriel."


Bayi itu menoleh dan langsung menggerakkan tangan serta kakinya dengan antusias.


"Hokhoaaa."


"Hoaaa."


Ia seolah berbicara pada Daniel. Ayahnya itu lalu melangkah dan duduk di sisi box, tempat dimana Darriel kini berada.


"Papa disini ya." ujar Daniel dengan suara lemah. Ia bersandar pada box Darriel dan membuang tatapan jauh ke depan.


"Papa boleh cerita nggak sama Darriel?"


Daniel sedikit menoleh. Saat itu Darriel masih melihat ke arahnya sambil memainkan tangan dan kaki. Kemudian Daniel menunduk dan melempar kembali pandangannya jauh ke depan.


"Papa itu ketemu papa Rich di TK. Dia itu dari kecil udah baik banget sama orang. Seingat papa pernah dulu ada anak yang diganggu oleh anak lain. Dan papa Rich kamu belain anak itu, di usianya yang masih segitu."


Daniel diam dan menarik nafas guna menahan air mata yang mulai merebak.


"Kami selalu sama-sama dari kecil. Dari yang tadinya berteman biasa, menjadi sebuah kebutuhan. Kami saling butuh satu sama lain, termasuk dengan om Ellio. Kami bertiga nggak bisa dipisahkan."


Daniel kembali diam, sementara Darriel seperti fokus mendengarkan.


"Sering kami bertengkar, apalagi setelah SMP-SMA. Kami pergi ke kelompok lain untuk mencari teman baru, tapi akhirnya kami bersama lagi. Karena nggak ada satupun orang yang bisa berteman seperti cara kami berteman."


"Hokhoaaa."


"Papa takut, Darriel. Papa takut kehilangan dia sekarang. Papa belum siap untuk itu."


Air mata Daniel benar-benar jatuh dan membasahi pipi pria itu. Darriel diam memperhatikan sang ayah.


"Hokhoaaa." celotehnya kemudian.


"Papa sayang sama sahabat-sahabat papa. Papa tau usia itu bukan milik manusia. Tapi papa belum bisa berpisah sama salah satu dari mereka sekarang."


Daniel benar-benar terisak, sama seperti Lea sebelumnya. Bedanya Daniel lebih parah karena ia mengenal Richard dari kecil.


***


Tak jauh berbeda dari Daniel dan Lea. Ellio pun curhat pada istrinya mengenai Richard. Ia bahkan sampai menangis tersedu-sedu. Marsha yang tengah hamil dan hormonnya naik turun tersebut pun, ikut menangis.


"Aku nggak kebayang kalau hari-hari aku tanpa Richard, Sha. Kamu tau ide connecting kantor itu dari kami bertiga, saking kami nggak mau berpisah satu sama lain."


Ellio berujar sambil menyeka air matanya dengan tissue. Marsha pun masih menitikkan air mata sampai detik ini.


"Aku sayang sama Richard dan Daniel, Sha. Mereka saudara aku."


Marsha mengangguk lalu mereka saling berpelukan.

__ADS_1


Sementara itu di kediamannya, Richard tengah bermain play station dengan salah seorang dari dua sekuriti yang berjaga di depan.


Disaat anak, menantu, serta sahabatnya tengah menangisi dirinya. Richard malah war dalam dunia game sambil memakan gorengan.


"Rini, rujak kangkungnya udah jadi belum?" tanya Richard pada salah satu asisten rumah tangganya.


"Udah pak." jawab Rini.


"Bikinin dua dong, eh tiga sekalian. Buat pak Cakra tuh di depan, bawain gorengan juga." ujar Richard.


"Beres pak." ujar Rini.


Tak lama kemudian rujak kangkung yang diminta Richard tiba. Ia dan sekuriti yang bermain dengannya makan bersama.


"Pake nasi enak kayaknya ya pak?" ujar Richard.


"Iya pak, saya kalau makan rujak kangkung pasti pake nasi." ujar sekuriti tersebut.


Maka Richard mengambil rice cooker yang ada di meja makan lalu menurunkannya ke ruang tengah, tempat dimana ia tadi bermain.


Mereka lalu makan rujak kangkung pakai nasi. Ditemani dengan gorengan tempe, tahu dan juga bakwan.


"Pak Richard lama-lama makin melokal tuh." ujar salah seorang asisten rumah tangga pada asisten rumah tangga yang lainnya.


"Lagian dia, apa yang kita makan mau minta mulu. Kecanduan makanan kampung kan akhirnya." celetuk Rini.


Mereka semua tertawa sambil memperhatikan Richard yang makan sambil mengobrol dengan sekuriti.


"Semoga aja kalau pak Richard dapat istri, kita nggak diberhentikan kerja disini."


Salah satu asisten rumah tangga kembali berujar.


"Iya sih, semoga aja istrinya baik dan bukan tipe mak lampir yang suka mengatur berlebihan." jawab yang lain.


"Kalau istrinya yang tipe kayak gitu, kalian tau apa yang harus kalian lakukan gaes." ujar Rini dengan senyum penuh maksud.


Mereka semua lalu tersenyum satu sama lain.


"Hempaskaaaan." ujar mereka secara serentak.


"Ada apa Rin?" teriak Richard.


Ia kaget dengan suara para asisten rumah tangganya itu. Sementara para asisten rumah tangga kompak menutup mulut sambil menahan tawa.


"Nggak pak, ngomongin drakor." teriak Rini.


"Oh, oke." jawab Richard.


Lalu mereka semua pun cekikikan.

__ADS_1


__ADS_2