Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Baby D


__ADS_3

"Dan."


Richard dan Ellio tiba setelah melalui drama yang cukup panjang di jalanan. Richard memanggil Daniel yang kebetulan tengah berjalan terburu-buru di koridor.


"Richard?"


Daniel menatap Richard dengan ekspresi yang penuh emosional. Richard dan Ellio berlarian ke arah sahabat mereka itu.


"Bro, gimana?" tanya Richard panik.


Daniel tersenyum namun seperti hampir menangis.


Richard kemudian memeluk Daniel dan begitupun sebaliknya. Ellio sendiri tersenyum menyaksikan semua itu. Richard melepaskan pelukan. Mereka bertiga sama-sama mengusap air mata.


"Mana Lea?" tanya Richard kemudian.


Daniel lalu membawa mereka ke dalam. Richard langsung memeluk anaknya dengan erat, dan mencium keningnya penuh kasih.


Tak lama ia dan Ellio pun melihat bayi yang tengah tertidur di dalam box. Richard dan Ellio tersenyum penuh haru.


"Numpang doang yah di rahim. Mirip bapaknya banget." ujar Lea.


Mereka semua tertawa. Bayi itu masih terpejam dan kelihatan nyenyak sekali.


***


Esok harinya teman-teman Lea datang. Sesuai kesepakatan, mereka masuk bergantian dan tidak boleh terlalu lama.


Sebenarnya baik dari Daniel maupun Lea tak membatasi waktu kunjungan tersebut. Namun teman-teman Lea sendiri yang membuat aturan, untuk tidak mengganggu waktu istirahat Lea.


Sebab perempuan itu baru saja melahirkan dan butuh ketenangan serta istirahat yang cukup. Ia mengeluarkan banyak tenaga dan juga darah selama proses persalinan berlangsung.


Teman-teman Lea tak ingin menjadi seperti warga kebanyakan. Yang apabila ada orang melahirkan, maka disitu mereka beramai-ramai datang. Kemudian berlama-lama, membuat kebisingan, mengganggu ketenangan. Bahkan ada yang mengomentari serta menyindir rupa dan berat badan si bayi langsung di depan ibunya yang masih terbaring lemah.


Belum lagi para orang tua, mertua, para tante, yang sibuk memberi nasehat ini dan itu. Melarang dengan mitos yang mereka percayai dan sistem pemaksaan. Padahal yang terpenting dari seseorang yang baru melahirkan itu, adalah istirahat yang banyak serta gizi yang cukup.


Maka dari itu teman-teman Lea datang bersama, namun masuk hanya dua orang. Kemudian gantian setelah beberapa menit.


"Namanya siapa, Le?" tanya Adisty yang kini masuk bersama Ariana. Tadi Vita dan Nina sudah, kemudian Iqbal, Rama dan Dani. Masing-masing tak lama kemudian keluar.


"Namanya Darriel Eric Liam Roberts." jawab Lea.


"Namanya bagus, sesuai sama mukanya." Seloroh Adisty.


Lea dan Ariana tertawa-tawa.


"Itu Eric namanya om Ellio sama ayah di gabung. Ngambek kalau nama mereka nggak di ikut sertakan." ujar Lea.


"Oh ya?" Adisty dan Ariana makin tertawa-tawa.


"Iya, udalah yang hamil gue, yang berojolin gue. Yang sibuk kasih nama mereka. Gue cuma kebagian ngasih nama Darriel doang sama Liam. Kalau Roberts kan nama bapaknya." seloroh perempuan itu lagi."


"Lucu deh mereka, kayak bocil kadang." ujar Ariana.

__ADS_1


"Emang." jawab Lea.


"Gue yang beranak, mereka yang heboh." lanjutnya kemudian.


Ketiganya lanjut berbincang untuk beberapa saat. Tak lama Adisty dan Ariana pun pamit.


***


"Hai sayang."


Daniel masuk ke ruangan sambil membawa sesuatu, ketika ruangan telah hening dan sepi.


"Makan dulu yuk." ajak pria itu kemudian.


"Mas bawa apa?" tanya Lea.


"Sup ayam ginseng." jawabnya.


"Dari mana, mas beli?" tanya Lea lagi.


"Bikin sendiri dong. Kata salah satu karyawan aku, ini tuh bagus buat orang yang habis melahirkan. Biar tenaga dan darahnya cepet balik."


"Oh ya?"


"Aku nggak tau juga sih, tapi ya makan aja. Orang enak."


Daniel berujar sambil tertawa. Lea pun jadi ikut-ikutan tertawa.


"Makan ya." ujar Daniel lagi.


Daniel pun mulai mempersiapkan makanan tersebut untuk Lea. Tak lama ia segera menyuapi istrinya tersebut.


"Masih sakit nggak perut kamu?" tanya nya di sela-sela menyuapi.


"Masih mas, tapi dikit. Sakit kayak mau datang bulan gitu, tapi nggak parah sih."


"Nanti juga sembuh koq." ujar Daniel.


"Iya, tapi untungnya nggak robek dan nggak di jahit. Kalau dijahit aku nggak kebayang sakitnya kayak apa."


Daniel tersenyum lalu membela kepala dan rambut istrinya itu.


"Makasih ya udah berjuang buat anak kita."


"Sama-sama mas. Makasih juga udah sabar nemenin aku. Sampai kamu kecakar kemaren."


Daniel tertawa dan melihat bekas cakaran Lea di tangannya. Karena saking sakitnya perempuan itu saat melahirkan, ia tak sadar telah mencakar lengan suaminya sendiri.


"Nggak apa-apa, cakaran doang koq. Kamu pasti lebih sakit dari ini kemarin."


Tiba-tiba bayi mereka menangis. Daniel menatap Lea lalu mereka sama-sama tertawa.


"Belum abis emaknya makan." ujar Lea kemudian.

__ADS_1


Daniel meletakkan sup ayam itu ke atas meja, lalu mengambil Darriel dan menyerahkannya pada Lea.


Lea membuka kancing bajunya, kemudian menatap Darriel sambil menghela nafas panjang.


"Kenapa Le?" tanya Daniel seraya menangkap keraguan di wajah Lea.


"Sakit tau mas." ujarnya kemudian.


Daniel lalu berpindah ke sisi kanan Lea dan duduk disana. Ia merangkul dan mencium kening istrinya itu beberapa kali.


"Maafin Darriel ya mama, kalau mama sakit. Darriel kan belum bisa makan soto ayam, makannya dari mama."


Daniel berkata seolah-olah itu adalah suara anaknya. Lea pun akhirnya tertawa dan memberikan ASI nya pada Darriel.


"Pelan-pelan ya nak, kasihan mama nya nahan sakit buat kamu."


Darriel mulai menyusu kepada sang ibu. Karena telah dibesarkan hatinya oleh sang suami, Lea pun menjadi lebih ikhlas dan rasa sakit yang ia rasakan perlahan berkurang.


***


Hari ketiga.


Richard baru keluar dari ruangan tempat dimana Lea masih dirawat.


"Bro makan yuk." ajak Ellio.


"Ayo!"


Richard melangkah ke suatu arah. Namun kemudian,


"Gubrak, gubrak, gubrak."


Ia berlari ke arah yang berbeda. Ellio heran dan tak sempat bertanya. Ternyata di arah yang tadi ada ibu dan ayah Richard. Khawatir ditanyai oleh ibunya kemana Richard, Ellio pun ikut kabur.


"Byuuur."


Mereka menghilang sebelum sempat wanita itu melihat mereka.


"Hhhhh."


Richard berhenti di suatu titik dengan nafas yang tersengal. Tak lama Ellio pun menyusul.


"Bro, kenapa nggak bilang kalau ada mami. Main kabur-kabur aja lo. Kan kalau mami ngeliat, kan gue yang jadi sasaran."


"Udah, yang penting sekarang kita udah aman dari dia." ujar Richard kemudian.


"Ya udah deh, mau makan dimana nih?' tanya Ellio.


"Kita ke tempat yang jauh aja sekalian. Ntar lagi enak-enak makan, tau-taunya dia ngeliat kita. Abis hidup kita di oceh-ocehin depan umum. Ngomongin masalah perjodohan mulu." ujar Richard.


"Emang mami masih ngotot mau jodohin lo sama Maryam?"


"Masih, makanya gue kabur. Males gue di atur-atur mesti nikah sama siapa."

__ADS_1


"Ya udah, cabut aja sekarang." ajak Ellio.


Richard mengangguk. Keduanya kini berjalan ke arah halaman parkir. Tak lama mereka masuk ke mobil dan meninggalkan tempat itu.


__ADS_2