
"Hmmh."
Lea berbalik dari sisi kanan ke kiri sambil bersuara. Ia tampak gelisah dan itu tertangkap oleh pandangan mata Daniel yang kebetulan belum tidur dan masih membaca buku.
"Hmmh."
Lea kembali bersuara, hingga membuat Daniel kian curiga. Maka pria itu mendekat dan menyentuh tangan Lea.
Ia terkejut, pasalnya tangan Lea terasa panas. Daniel kemudian meraba kening perempuan itu dan ternyata benar, Lea tengah terserang demam.
Daniel mulai dihinggapi rasa khawatir. Detik berikutnya ia beralih ke box bayi dan mengecek kondisi Darriel. Pasalnya bayi itu meminum ASI dari ibunya dan saat ini ibunya sedang sakit.
Namun suhu tubuh Darriel aman dan ia masih tertidur nyenyak. Daniel merasa sedikit lega, sebab Lea tak menulari anaknya.
Tetapi tak dapat di pungkiri saat ini kekhawatirannya menjadi lebih besar. Daniel kemudian membuka aplikasi chat dokter. Ia bertanya obat apa yang seharusnya diberikan pada ibu menyusui yang terserang demam.
Dokter menjawab tak mengapa memberikan Paracetamol atau ibuprofen. Dokter juga menjelaskan jika Lea juga tak masalah untuk terus memberi ASI Darriel. Sebab penyakit flu dan demam tidak ditularkan melalui hal tersebut.
Tetapi usahakan Lea memakai masker ketika tengah memberi makan pada anaknya. Sebab dikhawatirkan flu menular melalui udara yang di keluarkan oleh sang ibu.
Daniel semakin lega, ia kemudian mengambil mangkuk stainless dan mengisinya dengan air dingin. Ia mengompres kening Lea, hingga pada suatu ketika Lea terbangun. Akibat menyadari ada sesuatu yang dingin menempel di keningnya.
"Mas." Lea memanggil Daniel.
Pria itu kemudian mendekat, mengajaknya bicara dan memberikan ia air minum. Tak lama berselang Daniel memberikan tablet penurun panas pada Lea. Seperti dugaannya Lea demam disertai flu. Sebab sebelum itu Lea memang bandel, ia makan es krim, minum es coklat dan lain-lain.
Sejatinya minuman dingin bisa saja tidak mengandung virus sama sekali. Sehingga kecil kemungkinan menyebabkan orang sakit apabila di proses secara higienis.
Tetapi makanan atau minuman dingin cukup berperan dalam penularan sebuah penyakit. Ini terjadi karena makanan atau minuman dingin menyebabkan kemacetan pada mukosa saluran pernapasan.
Mukosa sendiri merupakan lapisan pelindung yang melapisi jaringan pernapasan. Fungsi bagian ini adalah sebagai mekanisme pertahanan terhadap infeksi.
Saat mukosa tersumbat atau menyusut lapisan pernapasan akan mudah terserang virus dan bakteri. Sehingga menyebabkan infeksi yang memicu sakit tenggorokan, bisa juga di sertai flu dan lain sebagainya.
Beberapa waktu belakangan Lea juga sering keluar rumah untuk jajan, dan bisa saja virus tersebut ia dapatkan dari luar. Ditambah kebiasaan buruknya yang suka mengkonsumi minuman dingin, maka jadilah ia seperti ini.
***
"Dan, Dan."
Richard menemukan Daniel tertidur di sofa dengan posisi setengah duduk, sambil mendekap Darriel.
"Dan."
"Hmmh?"
Daniel terbangun dan menemukan Richard ada di depan matanya.
"Koq lo sama Darriel tidur disini?" tanya Richard heran.
"Lea sakit, semalam Darriel ada nangis dan gue takut tangisannya ganggu istirahat Lea. Makanya dia gue ajak keluar. Eh, ketiduran di sini."
Daniel menjelaskan.
"Sakit apa Lea?" tanya Richard khawatir.
"Demam sama flu. Tapi udah gue kasih obat semalam dan mudah-mudahan dia udah nggak apa-apa." ujar Daniel lagi.
"Coba gue cek dulu." tukas Richard seraya beranjak.
Setibanya di kamar Lea, ternyata Lea sendiri baru saja terbangun. Ia menatap kehadiran Richard.
"Yah." ujarnya kemudian.
"Kamu kenapa, Lea?"
__ADS_1
Richard mendekat seraya meraba kening puterinya tersebut.
"Nggak apa-apa yah, cuma sedikit demam dan flu." jawab Lea.
"Mungkin karena kamu sering jajan akhir-akhir ini. Apa yang lewat depan rumah kamu beli, mana minum es terus lagi."
Richard berkata sambil menatap anaknya itu. Ia duduk di pinggir tempat tidur.
"Iya kali ya yah."
"Bukan kali lagi, emang fix virusnya berasal dari situ. Kamu kan menyusui, cobalah perhatikan makannya."
"Iya yah, nggak lagi koq. Oh ya, Darriel sama mas Dan kemana?"
"Ada di bawah." jawab Richard.
"Darriel nggak ikut sakit kan yah?" tanya nya lagi.
Tiba-tiba Daniel muncul bersama Darriel.
"Nggak, dia baik-baik aja." ujar Daniel seraya meletakkan Darriel ke dalam box bayi.
"Tapi mas, kan dia ASI sama aku. Apa nggak apa-apa?" ujar Lea lagi.
"Kata dokter nggak masalah. Flu dan demam nggak di tularkan lewat ASI. Kecuali kamu bersin dan batuk di muka Darriel, baru dia akan ketularan."
"Beliin masker mas, takut nularin dia nanti."
"Iya ini aku mau ke apotek, beli penurun panas lagi dan sekalian aja nanti."
"Titip rokok, Dan." ujar Richard.
"Oke."
"Aku udah suruh mbak di bawah bikin, biar lebih higienis."
"Oke."
Daniel kemudian turun ke bawah. Ia mengambil kunci motor Richard dan bergerak menuju apotek serta mampir ke minimarket untuk membeli rokok titipan Richard.
***
Pukul 10:35 pagi.
"Hmmph."
Daniel mematikan rokok, ketika merasakan sensasi mual di perutnya. Saat ini ayah dari Darriel tersebut sudah berada di kantor.
"Hmmph."
Para saat yang bersamaan, Marsha yang tengah hamil muda pun mengalami hal serupa di meja sekretaris.
"Hmmph."
Keduanya tidak tahan dan akhirnya sama-sama berlarian ke arah toilet. Para karyawan yang tengah sibuk dikejutkan dengan kejadian tersebut.
"Bos sama sekretaris kenapa?" tanya salah seorang dari mereka.
Para karyawan itu saling bersitatap satu sama lain. Dalam sekejap mereka sudah bertumpuk untuk mengintip ke arah toilet.
Kantor Daniel memiliki toilet besar dan megah seperti yang terdapat di mall. Di area depan sebelum pemisah antara toilet laki-laki dan perempuan ada sebuah kaca panjang, lengkap dengan meja dan kursi untuk siapapun perempuan yang hendak bermake-up.
Ada juga smooking area di daerah sana. Sehingga sangat memungkinkan bagi para karyawan untuk bersembunyi sambil mengintip.
"Hueeek."
__ADS_1
"Hueeek."
"Hueeek."
Daniel dan Marsha muntah di saat yang bersamaan, meski berada di dalam toilet yang berbeda. Para karyawan yang mendengar suara tersebut kini mulai membentuk spekulasi di kepala mereka masing-masing.
"Jangan-jangan kayak cerita novel online nih." celetuk salah seorang karyawan perempuan.
"Cerita apaan?" tanya karyawan laki-laki dengan nada super kepo.
"Hamil anak bos." ucap si karyawan wanita.
"Menjadi selingkuhan CEO."
Wanita yang lainnya menimpali.
Memang rata-rata dari mereka suka membaca novel online dengan tema perselingkuhan. Meski mereka tak ingin hal tersebut terjadi dalam hidup mereka.
"Menurut lo pada, mungkin nggak sih mbak Marsha sama bos begituan?"
Salah seorang karyawan laki-laki kembali melontarkan pertanyaan.
"Ya mungkin aja, siapa tau ya kan." celetuk yang lainnya lagi.
"Hueeek."
"Hueeek."
"Hueeek."
Terdengar suara flush kloset, disambung dengan langkah yang sepertinya mengarah ke wastafel. Lalu terdengar lagi suara keran, yang menandakan mereka sedang berkumur dan menetralisir rasa mual. Tak lama Daniel dan Marsha sama-sama keluar dan saling bertemu muka.
"Bapak nggak apa-apa pak?" tanya Marsha pada Daniel.
"Nggak, kamu sendiri?."
"Masih mual banget pak rasanya."
"Kamu kalau mau pulang, pulang aja Sha. Atau ke dokter dulu deh, ke dokter kandungan tempat Lea biasa periksa aja. Biar di kasih solusi, kasian kalau mual terus sepanjang kehamilan. Kamu nggak bisa makan nanti."
Para karyawan yang mendengar hal tersebut sama-sama menganga. Tubuh mereka gemetaran dan saling mencari pegangan. Mereka benar-benar tak menyangka Daniel dan Marsha terlibat sebuah skandal.
"Anjir gue pikir bos setia." ujar salah satu dari mereka.
"Sama, anjir."
Mereka hendak berbalik karena Daniel dan Marsha sudah bergerak. Namun kemudian,
"Gubraaak."
Mereka semua terjatuh ke hadapan Daniel dan Marsha, akibat ada salah satu yang oleng dan menyebabkan semuanya tak bisa berdiri tegak.
"Kalian?"
Marsha berujar penuh keterkejutan begitupula dengan Daniel.
"Kalian ngapain disini?" tanya Daniel.
"A, anu pak."
Para karyawan itu menjadi takut dan cemas, namun kini mereka sudah bertemu muka.
"Kalian tadi dengar percakapan diantara kami?" tanya Daniel lagi.
Mereka semua mengangguk, maka Daniel dan Marsha pun mendadak bingung kali ini.
__ADS_1