
"Richie, mami ada kirim bunga ke rumah. Buruan kamu bawa ke tempatnya si Maryam."
Ibu Richard kembali berulah. Richard yang baru tiba dari kantor itu pun menarik nafas panjang. Ia melihat memang ada buket bunga besar di suatu sudut. Sudah dipastikan buket tersebut bernilai jutaan.
Namun perkaranya Richard begitu malas untuk membawa bunga itu ke tempat Maryam. Seperti yang ia katakan pada Daniel maupun Ellio tadi pagi di kantor.
Bahwa secara look ia tertarik pada Maryam. Pasalnya gadis itu memang sangat cantik. Meski ia berpakaian tertutup, Richard bisa memastikan jika gadis itu dalamnya sangatlah sexy. Secara otak Richard memang otak laki-laki yang sudah terkontaminasi dosa sejak dulu.
Tetapi secara sifat, ia kurang menyukai gadis itu. Ia menginginkan perempuan yang bisa mengimbanginya. Bukan hanya sekedar menurut seperti tokoh utama dalam sinetron azab. Richard menyukai keseimbangan dan kurang menyukai sesuatu yang timpang dalam hal apapun.
Bagi laki-laki insecure di luar sana yang memiliki penghasilan pas-pas an. Mereka sangat mengharap dapat istri yang sangat penurut. Alasan secara psikologis adalah, mereka tak ingin di interupsi maupun di pojokkan atas kemampuan mereka yang kurang dalam hal mencari uang.
Maka dari itu mereka membutuhkan sosok perempuan yang bisa di manipulasi dan bisa ditundukkan. Sebab mereka merasa tak memiliki power apabila berhadapan dengan perempuan mandiri. Apalagi yang bisa menghasilkan uang sendiri, lebih dari laki-laki.
Berbeda halnya dengan orang-orang seperti Richard. Mereka memiliki power, dan tak perlu mencari power lagi dengan menundukkan seorang wanita di hadapan mereka. Mereka menyukai interaksi yang dinamis dan saling bisa mengungkapkan apapun itu mengenai pasangan mereka.
"Tok, tok, tok." terdengar suara ketukan pintu.
Richard melihat tak adanya asisten rumah tangga yang melintas. Maka ia pun pergi ke dekat pintu dan membukanya.
Richard diam, ia terkejut melihat apa yang kini ada di depan matanya. Ya, itu adalah Dian yang berdiri sambil tersenyum. Richard balas tersenyum pada gadis itu, tak lama keduanya pun saling berpelukan.
"Kamu kapan pulang?. Kenapa nggak bilang?" tanya Richard pada Dian.
"Sengaja, mau kasih kejutan."
Dian masih tersenyum pada Richard. Maka Richard pun kembali memeluk perempuan itu dengan erat.
***
Esok Hari.
Lea ditemani Adisty mengikuti kelas kursus melahirkan. Daniel bilang hari ini ia banyak pekerjaan penting, dan mungkin hanya akan bisa menjemput saja nantinya. Lea sendiri tak masalah. Toh ia pergi diantar oleh supir, dan ditemani pula oleh Adisty.
Pertama-tama ia agak malu saat ditanyai soal usia. Karena sepertinya di sesi itu, hanya ia yang paling muda diantara perempuan hamil lainnya.
"Mereka nganggep gue kegatelan nggak sih, Dis?" Lea berbisik pada Adisty.
"Kenapa emangnya, Le?" Adisty balik bertanya.
"Iya, gue kecil-kecil udah bunting. Orang umur nikah minimal aja 19 tahun. Gue belum sampai umur segitu udah buncit." ujarnya lagi.
__ADS_1
Adisty terkekeh.
"Iya juga sih, tapi bodo amat lah Le. Buncit sama laki sendiri ini, daripada diem-diem di buntingin laki orang. Kan amit-amit jabang bayi."
Keduanya lalu cekikikan. Lea mengikuti kelas dengan baik, para peserta lain ternyata sangat baik dan ramah. Meski Adisty masih gadis, namun ia mengikuti saja kelas tersebut. Toh ilmunya bisa ia praktekkan kelak di kemudian hari. Seandainya ia memutuskan untuk menikah dan memiliki anak.
Seusai mengikuti sesi, ritual selanjutnya adalah makan seperti biasa. Semenjak sering bersama Lea, berat badan Adisty menjadi naik. Sebab Lea selalu meminta ditemani makan. Mau tidak mau Adisty pun jadi ikut makan. Akibat tak tahan dengan cara makan Lea yang super menggoda, seperti selebgram yang di endorse penjual makanan.
"Ari pacaran mulu dah."
Lea berujar ketika mereka sudah berada di tempat makan dan menikmati sepiring besar hidangan laut.
"Ya kan lagi anget-angetnya sama si babang Hans." jawab Adisty.
"Gue denger kata babang, jadi inget babang tamvan." seloroh Lea.
"Hahahaha, anjrit. Amit-amit Le, lo lagi hamil anjir. Ntar anak lo mirip babang Tamvan baru tau rasa lo."
"Amit-amit, ih lu mah gitu D
"Makanya." ujar Adisty.
"Cindy sama siapa tuh?" tanya Lea pada Adisty.
"Nggak tau, gebetan barunya kali." seloroh gadis itu.
Lea melanjutkan makan, karena tak mungkin juga memanggil Cindy atau pun menghampiri. Gadis itu ada di seberang jalan yang cukup padat dilalui pemotor.
"Eh Le..."
Adisty menghentikan ucapannya. Seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ragu.
"Kenapa Dis?" tanya Lea penasaran.
"Nggak."
"Apaan?. Jangan buat gue penasaran." ujar Lea.
"Nggak ada Le, gue lupa." ujar Adisty lagi.
"Gue tau lo bohong."
__ADS_1
Lea menatap Adisty dalam-dalam. Memang sulit membohongi seorang perempuan yang tengah hamil.
"Iya, iya. Gue jujur deh, gue mau ngomongin soal Cindy." jawab Adisty.
"Cindy?"
"Iya, dia ada jalan sama bapak lo beberapa kali." ujar gadis itu lagi.
"Oh ya?"
"Iya, gue sama Ariana ada mergokin dia. Kayaknya dia mau ngedeketin bapak lo.
"Bapak gue banyak yang mau anjay." seloroh Lea seraya tertawa.
"Kalah gue yang anaknya." lanjut perempuan itu lagi.
"Gue sih nggak masalah bapak lo mau sama siapa aja. Tapi jangan sama Cindy juga." ujar Adisty dengan nada ragu.
Lea kini menatap temannya itu.
"Cindy tuh keluarganya matre parah, Le. Bisa muntah darah bokap lo di buatnya."
"Oh ya?" Lea menghentikan makannya dan fokus kepada Adisty.
Adisty lalu menceritakan beberapa perkara yang membuat Lea benar-benar terdiam.
"Separah itu?" tanya Lea.
"Separah itu, Le. Tanya deh sama Ari." tukas Adisty lagi.
"Cindy tuh sebenernya anak baik, tapi dia nggak berani ngelawan keluarganya. Terutama emaknya, yang ya gitu deh."
"Coba ntar gue bilang ya ke bokap gue."
"Iya, ini bukan perkara gue iri loh Le. Gue nggak ada iri sama sekali dengan Cindy. Tapi gue cuma ngasih tau aja, supaya bokap lo nggak gimana-gimana nantinya. Kan sayang aja, di porotin sama keluarganya dia. Mana bokap lo gitu lagi, keliatan santai banget kalau ngeluarin duit."
"Iya sih, bokap gue tuh emang baik banget ke semua orang. Nyokap gue aja yang udah nggak ada hubungan lagi sama dia, bisa di modalin anjir ratusan juta."
"Nah makanya itu Le, bilang aja ke bokap lo. Ya kalau dia masih mau dekat sama Cindy nggak apa-apa. Tapi kalau di manfaatin sama keluarganya jangan mau." ujar Adisty lagi.
"Iya deh, ntar gue bilangin." jawab Lea.
__ADS_1