
Para penyidik mulai bergerak mendatangi lokasi, tempat dimana diduga Sharon berada. Mereka kini mengintai dari jarak yang cukup dekat.
Bahkan ada pihak yang berwajib berpura-pura sebagai tukang sate dan nasi goreng keliling. Mereka semua melakukan tugasnya dengan sangat profesional serta penuh kehati-hatian.
Di lain pihak,
"Dert."
"Dert."
"Dert."
Tiba-tiba handphone Daniel berbunyi. Ternyata panggilan daeoy Marcell.
"Iya, hallo cell?"
Marcell menyampaikan apa yang hendak ia katakan. Daniel terdiam, dilihatnya Lea yang sudah tertidur lelap di dekatnya. Saat ini mereka tengah menginap di rumah Richard, karena Richard yang meminta.
"Ok, ok. Gue kasih tau Richard dulu."
Daniel segera keluar dari kamar dan menghampiri Richard serta Ellio yang masih ngopi di ruang makan.
"Bro, Marcell barusan telpon. Katanya mereka udah bergerak ke rumah yang dicurigai, sebagai tempat penyekapan si Sharon." ucap pria itu.
"Oh ya udah, kita kesana aja." ujar Richard.
Ia dan Ellio pun bergegas.
"Gue ikut nggak?" tanya Daniel.
"Lo tinggal aja, siapa yang jagain Lea nanti."
"Ok deh."
Maka Richard dan Ellio pun, pergi ketempat dimana kini Marcell berada. Sedang Daniel tetap dirumah menjaga Lea.
***
Di kamar.
"Ssshh."
Lea tiba-tiba terbangun dan merasakan sakit di perutnya. Sakit yang ia rasakan tersebut lebih hebat, dari apa yang pernah ia rasakan sebelumnya.
"Ssshh."
"Duh, koq sakit banget ya." Lea berujar seraya membuat gerakan memutar di perutnya.
"Ssshh, huuuh." Ia menghela nafas panjang dan coba menenangkan diri.
__ADS_1
"Ssshh, huuuh."
Lea mengafirmasi dirinya sendiri, bahwa mungkin kini anaknya sedang belajar mencari jalan keluar. Sesuai yang ia dapatkan dari kursus melahirkan belakangan ini.
Tak lama rasa sakit di perutnya itu perlahan mereda. Lea lalu menumpuk tiga bantal kemudian bersandar disana. Masih ada sisa ketegangan di bagian perut yang ia rasakan, namun tak sehebat tadi.
"Le, udah bangun."
Tiba-tiba Daniel masuk, namun ia menyadari wajah Lea yang sedikit pucat.
"Koq kamu pucat gitu." tanya nya kemudian.
"Perut aku sakit mas, tiba-tiba." jawab Lea.
Daniel mendekat lalu memegang perut istrinya itu dengan wajah super cemas.
"Sakitnya gimana?" tanya nya pada sang istri.
"Ya sakit, kayak dua atau tiga kali lipat dari biasanya gitu mas." jawab Lea lagi.
"Ok, bentar. Aku chat dokter dulu." ujar Daniel.
Ia lalu mengambil handphone dan mencoba berkomunikasi dengan salah satu dokter, yang biasa menangani Lea.
Dokter pun mulai memberikan pertanyaan pada Daniel, yang kemudian di tanyakan eh pria itu pada sang istri.
"7 mas." jawab Lea.
Daniel mengetik dan memberitahu dokter. Kemudian dokter memberikan lagi pertanyaan. Dan lagi-lagi Daniel menyampaikannya pada Lea.
"Seberapa intens?" ujarnya.
"Baru ini sih mas, belum ada pengulangan." jawab Lea.
"Oke."
Daniel pun kembali memberitahu dokter. Lalu dokter mengajukan pertanyaan demi pertanyaan. Hingga di dapatlah kesimpulan jika Lea harus istirahat dan diperhatikan.
Sebab ada kemungkinan bayinya akan lahir dalam waktu dekat. Rasa cemas, khawatir sekaligus bahagia berkecamuk di hati Daniel.
Sebab ia akan segera bertemu dengan anaknya yang selama sembilan bulan ini sudah ia nantikan.
"Kamu istirahat aja, kalau sakit lagi bilang."
Daniel mengusap-usap perut Lea. Maka Lea pun mengangguk dan kembali berbaring. Tak lama ia pun memejamkan mata.
***
Richard dan Ellio tiba di lokasi, bergabung dengan Marcell dan yang lainnya. Mereka turut mengintai dari sebuah sisi. Mereka mengamati setiap pergerakan yang ada di rumah tersebut.
__ADS_1
Beberapa anggota kepolisian telah tiba dan siap dengan senjata lengkap. Ketika pengintaian di rasa cukup, mereka pun mulai menyergap dari pintu depan.
Mula-mula satu orang petugas berpakaian preman mengetuk pintu. Sedang yang lainnya bersembunyi di masing-masing titik yang telah di tentukan sebelumnya.
Seorang penjaga rumah membuka pintu kecil seukuran mata, yang terdapat di pintu pagar tersebut. Ia ingin memastikan siapa yang datang, kemudian bertanya ada keperluan apa.
Petugas itu menyatakan jika ia telah membuat janji untuk bertemu dengan Herman. Penjaga pintu depan agak curiga, sebab Herman tak memberitahu apapun sebelumnya.
Petugas kepolisian itu mengatakan, jika ia ada pertemuan rahasia dengan Herman. Maka sang penjaga pun akhirnya membuka pintu pagar itu.
Dan ketika pintu itu terbuka, semuanya langsung menyergap. Maka terjadilah perkelahian dan juga baku tembak.
Sebab anak buah Herman memberikan perlawanan. Namun tentu saja pihak yang berwajib sudah memikirkan itu semua secara rinci dan matang. Hingga para anak buah Herman pun berhasil di lumpuhkan.
Richard, Ellio, Marcell dan yang lainnya mulai bergerak ke dalam. Bersama para anggota lainnya. Sharon ditemukan di dalam sebuah kamar dalam kondisi bengong seperti orang stress.
Sementara beberapa anggota kepolisian lain juga menemukan beberapa gadis di bawah umur, yang disekap di basemen.
Tak lama petugas di tempat lain memberitahu Marcell via telpon, bahwa mereka telah berhasil menangkap dan mengamankan Herman. Kebetulan memang Herman tengah berada di lokasi yang berbeda.
Beberapa wartawan televisi yang ikut dalam proses penyergapan itu, kini langsung membuat berita.
Sharon dan beberapa gadis dibawa petugas medis. Untuk kemudian diperiksa kesehatan dan kondisi kejiwaannya.
Teman-teman Sharon, yakni Maya dan Tasya yang ikut mengintai dari rumah Nic. Bersama teman-teman Lea yang lain kini bernafas lega. Sekalipun mereka prihatin karena Sharon seperti orang yang lupa akan semuanya.
Marcell bilang, itu lazim untuk orang yang pernah disekap. Mereka biasanya butuh waktu dan bimbingan psikolog atau psikiater untuk bisa kembali ke kondisi semula.
Tapi meskipun begitu, semua lega karena Sharon ditemukan dalam kondisi hidup. Mengenai beberapa gadis lainnya, Marcell dan pihak kepolisian telah mendapatkan informasi serta mempelajari pola penculikan yang sama. Kebetulan rata-rata dari penculikan itu tertangkap oleh CCTV jalan.
Namun karena Herman adalah seorang bos detektif, ia bisa menyimpan rapi semuanya dan pandai menghilangkan jejak. Awalnya Marcell sendiri dan teman-temannya tak percaya, jika Herman adalah otak dari pelaku penculikan tersebut.
Mereka semua menghormati serta menjadikan Herman sebagai panutan. Namun ternyata ia adalah orang yang paling mengecewakan.
"Cell, makasih banyak atas bantuan Lo dan juga temen-temen lo." Richard berterima kasih pada Marcell ketika situasi sudah mulai tenang.
Anak buah Herman telah ditangkap dan petugas medis juga sudah jalan membawa korban.
"Sama-sama, jangan lupa korban terus di dampingi dan diberi perhatian." ujar Marcell lagi.
Richard dan Ellio mengangguk. Hari menjelang subuh, Richard dan Ellio hendak pulang ke rumah.
Tiba-tiba ada notifikasi panggilan dari Daniel.
"Hallo, Dan." ujar Richard.
"Bro, lo dimana?. Lea kayaknya mau melahirkan sekarang deh. Soalnya udah pecah ketuban."
"Hah?".
__ADS_1