
"Papa mau kerja nak."
Lea mengatakan hal tersebut pada Darriel, lantaran Darriel terlihat begitu menempel pada Daniel pagi itu. Seperti enggan dilepaskan sedikitpun. Daniel sendiri menatap sang anak sambil tersenyum.
"Papa pergi dulu ya, sayang." ujarnya.
"Hokhoaaa."
"Iya, papa kerja dan cari uang buat Darriel."
"Hokhoaaa."
"Jangan nakal dan jangan suka ngamuk ya."
"Heheee."
"Hoaaaa."
Daniel kemudian mencium pipi Darriel dan menyerahkannya pada Lea. Tak lama ia pun berpamitan untuk segera berangkat ke kantor.
"Hati-hati di jalan, mas." ujar Lea.
"Iya."
Daniel mendekat lalu mencium kening Lea. Tak lama ia pun bergerak dan menghilang di balik pintu lift.
***
"Kenapa, Sha?"
Ellio melihat Marsha yang tampak meringis serta memegangi perutnya.
"Mules pak, kram banget ujungnya."
"Kita ke dokter aja apa?. Takut kamu dan anak kita kenapa-kenapa nanti."
Marsha mengangguk, karena ia pun tak tau kondisinya tengah mengalami hal apa.
"Ya udah, ayo!" ujar Ellio.
Tanpa membuang waktu banyak ia pun segera membawa istrinya itu ke dokter kandungan terdekat. Untung sudah ada yang jadwal prakteknya pagi, sehingga mereka tidak harus menunggu terlalu lama.
Marsha diperiksa dan ternyata hal yang ia alami tidak membahayakan. Ellio bernafas lega sekali setelah itu. Kemudian mereka pulang ke rumah dan Ellio menelpon ke kantor.
Ia mengabarkan jika hari itu dirinya tak masuk kerja terlebih dahulu. Lantaran ia masih khawatir dengan kondisi sang istri.
***
Daniel tiba di kantor, namun ia tidak melihat Marsha. Biasanya sekretarisnya itu sudah datang duluan dan menyiapkan segala sesuatu. Tetapi kali ini yang terlihat di meja malah Amy, salah satu karyawan lainnya.
"Marsha mana, my?" tanya Daniel pada Amy.
"Nggak masuk, pak. Tadi pak Ellio nelpon katanya Marsha sakit." jawab Amy.
"Oh, sakit apa dia?" tanya Daniel lagi.
"Tiba-tiba perutnya bermasalah dan udah di bawa ke dokter."
__ADS_1
"Oke, nanti saya hubungi Ellio deh." ujar Daniel.
"Baik, pak."
Daniel lalu masuk ke ruangan dan menyiapkan segala pekerjaan. Tak lama ia pun menelpon Ellio.
"Hallo, bro." jawab Ellio di seberang sana.
"Lo dimana, bro?" tanya Daniel pada temanya itu.
"Di rumah gue, bro. Si Marsha sakit, tadi udah ngabarin ke kantor lo."
"Udah lo bawa ke dokter kan?" tanya Daniel.
"Iya, udah." jawab Ellio.
"Terus apa kata dokter?" Lagi-lagi Daniel bertanya.
"Cuma butuh istirahat aja sih selama dua atau tiga hari ini."
"Ya udah, kalau ada apa-apa kabarin gue ya."
"Sip, makasih ya bro."
"Sama-sama."
Daniel lalu memulai pekerjaannya pagi itu, tepat sesaat setelah ia menyudahi obrolan tersebut.
***
"Aku mau keluar kota." ujar Hanif pada Susi.
"Ngapain mas?" tanya Susi penasaran. Sebab selama menikah belum pernah Hanif berpamitan untuk hal tersebut.
"Aku ada urusan pekerjaan." jawab Hanif kemudian.
"Berapa hari?"
"Ya kira-kira seminggu lah." jawab Hanif.
"Oh oke."
Susi senang, karena sejatinya ia bisa banyak bersantai bahkan pergi nongkrong sana-sini. Tak harus takut pulang jam berapa.
"Oh ya udah mas, hati-hati ya." jawab Susi.
"Iya."
Hanif balas tersenyum. Tak lama Susi pun membantu membereskan baju-baju pria itu ke dalam koper, dan mengantarnya ke mobil. Hanif mencium kening Susi lalu pamit pergi.
Seketika Susi berjingkrak-jingkrak kegirangan. Ia merasa begitu bebas, hingga seperti melayang di udara.
Ia menelpon ibunya dan banyak meminta pendapat mengenai beberapa hal. Terutama bagaimana supaya Hanif lebih bucin lagi kepada dirinya. Guna agar seluruh harta dan uang Hanif bisa ia kuasai.
Ibunya bilang, cukup dibacakan beberapa mantra. Sang ibu sendiri sangat percaya dukun dan memberikan Susi bacaan-bacaan menyesatkan. Usai menelpon sang ibu, Susi beralih menelpon Shela.
"Iya beb." ujar Shela dengan ramah dan antusias seperti biasanya.
__ADS_1
"Beb, nongkrong yuk dimana kek. Laki gue lagi keluar kota soalnya, jadi gue free." ujar Susi bersemangat.
"Oh ya?"
Shela menoleh ke arah Hanif yang baru tiba dan meletakkan kopernya di depan.
"Iya, barusan aja pergi. Jadi gue bebas mau pulang jam berapa." ujar Susi.
Hanif mendekat dan memeluk Shela dari belakangan. Sementara Shela memberi kode pada pria itu, bahwa yang menghubunginya adalah Susi.
"Gimana beb?" tanya Shela lagi.
"Oke deh, tapi agak sore ya. Soalnya gue lagi banyak kerjaan banget ini." ucap Shela.
"Oke deh beb, beres."
"Berkabar aja." ujar Shela.
"Sip beb."
Susi lalu menyudahi obrolan tersebut. Shela berbalik dan memeluk Hanif. Dalam sekejap tangan Hanif langsung bergerilya. Hingga adegan ah, oh, ah, oh pun terjadi di ruang tamu.
Shela meracau nikmat ketika permainan berlangsung. Hanif dengan penuh gairah menghujam-hujamkan batang miliknya.
Hingga akhirnya sesuatu yang hangat menyembur. Shela berteriak dengan kepala menengadah ke atas. Sementara Hanif merasa begitu puas dibuatnya.
Sore hari sesuai janji, Shela menemui Susi di sebuah kafe. Susi sama sekali tak curiga jika suaminya bukanlah keluar kota. Melainkan keluar di liang kenikmatan lain.
"Seneng deh gue bisa ke luar rumah, tapi nggak usah khawatir untuk pulang."
Susi benar-benar terlihat seperti menikmati kebebasannya.
"Iya sih, kan semenjak nikah lo jadi agak segan kemana-mana." jawab Shela.
Lalu minuman yang mereka pesan tiba. Shela mengambil sebatang rokok dan membakarnya. Ia memang sangat egois dan tidak memikirkan bayi yang tengah ia kandung.
Perbuatan yang ia lakukan tersebut sampai mengundang perhatian beberapa pengunjung kafe lainnya. Mereka sangat menyayangkan sifat Susi, namun tak bisa berbuat apa-apa.
Shela mengambil handphone. Pura-pura mengetik sesuatu disana, namun ia mengambil foto Susi. Lalu mereka lanjut mengobrol dan setelah itu mereka nonton serta berbelanja di mall.
Saat pulang, Shela memberitahu kelakuan Susi pada Hanif. Tentu saja Hanif menjadi sangat murka. Namun ia juga tak bisa langsung memarahi Susi, lantaran Susi akan menjadi curiga soal siapa yang sudah mengambil foto dirinya.
Sudah pasti ia akan mengetahui jika itu perbuatan Shela. Dan jika Shela terbukti memberitahu Hanif, Susi akan bertanya mengapa Shela memiliki nomor Hanif.
Dan pada saat itu terjadi semua akan kacau balau. Susi bisa saja langsung mengetahui hubungan yang terjadi diantara keduanya, dan Shela sangat berhati-hati untuk itu.
Sebab saat ini cinta Hanif padanya belum begitu kuat. Lain halnya jika Hanif sudah sangat bucin, atau minimal dirinya telah hamil. Ia akan dengan mudah menyingkirkan kedudukan Susi.
Saat ini Susi masih lebih menang dari Shela, lantaran ia mengandung anak dari Hanif. Jika terjadi pertengkaran antara mereka, jelas Hanif akan membela Susi terlebih dahulu.
Shela akan disingkirkan dan tak memiliki sumber keuangan lagi. Shela tak mau sampai hal tersebut terjadi.
***
Catatan : Yang mendesak supaya cepat cerai. Bisa aja saya buat episode nya besok. Tapi setelah Hanif dan Nadya cerai, cerita juga akan END disitu.
Jadi selagi saya masih nulis, nikmati aja episodenya, jangan diburu-buru.
__ADS_1