
"Lele, aku pulang ya." ujar Dian ketika sesi kunjungan telah selesai.
"Iya, kakak diantar ayah kan?" tanya Lea.
"Nggak, kakak bawa mobil sendiri." jawab Dian.
"Ya udah hati-hati di jalan kak." ujar Lea lagi.
"Iya, aku pulang ya, Le."
Dian mencium pipi Lea.
"Lea, ayah anter Dian dulu ke depan." tukas Richard.
"Iya yah."
Baru saja keduanya hendak melangkah.
"Lele."
Cindy masuk ke ruangan itu, dan seketika semua menjadi Freeze. Lea tau tentang kedekatan temannya itu dan sang ayah. Sementara Cindy tau jika Dian adalah pacar dari pria yang tengah ia dekati. Richard sendiri takut jika sampai Dian tau ia dekat dengan teman dari anaknya.
"Eee, hai Cin."
Lea langsung bersikap penuh keramahtamahan. Semata agar Cindy segera teralihkan fokusnya.
"Le, jalan." ujar Dian lagi.
"Iya kak."
Dian segera melangkah dan menghilang dibalik pintu, diikuti oleh Richard.
"Bapak lo pulang ya Le?" tanya Cindy kemudian.
Ia ingin tau kemana Richard dan Dian akan pergi. Sementara Lea pura-pura tidak tau mengenai hubungan diantara keduanya.
"Nggak koq, nganter doang ke depan." jawab Lea jujur.
Seketika Cindy pun menjadi sumringah, lalu ia menanyakan kabar Lea. Semestinya jika memang tidak ada apa-apa. Cindy pastilah akan menanyakan kabar Lea terlebih dahulu. Karena saat ini ia tengah menjenguk Lea, bukan Richard. Tapi gadis itu malah duluan fokus kepada Richard, baru kemudian kepada Lea.
***
"Ya maaf, mana aku tau kalau Cindy bakal datang di saat Dian masih ada."
Daniel berujar pada Lea setelah semuanya pulang.
"Tadi mas kemana emangnya?"
"Makan sama Ellio di depan. Makanya nggak bisa menghalau kalau ada gebetan Richard lagi yang datang. Karena aku pikir huru-hara nya udah kelar. Udah ada ibu kamu, Maryam, Dian. Eh nggak taunya ada lagi si Markonah."
Lea tertawa mendengar celotehan suaminya itu.
"Sumpah, ayah tuh banyak banget yang naksir ya mas. Nggak habis pikir aku." ujar Lea.
"Kamu sendiri kalau misalkan ketemu sama cowok yang modelnya kayak Richard, aku, sama Ellio. Kamu akan pilih yang mana?" tanya Daniel.
"Mmm, nggak ada." jawab Lea.
"Koq nggak ada?" Daniel terlihat heran.
"Ya karena kalian bertiga itu sebenarnya bukan tipe aku." ujar Lea.
"Emang tipe kamu siapa?" tanya Daniel lagi.
__ADS_1
"Yang mana nih, bule atau lokal?" Lea balik bertanya.
"Lokal deh, yang disini. Siapa coba?"
"Siapa ya?" Lea tampak berpikir.
"Mmm, Jeffri Nichol deh kayaknya." ujar perempuan itu kemudian.
"Terus, nggak ada lagi?" tanya Daniel.
"Joe Taslim dong." jawab Lea.
"Kenapa Joe Taslim?"
"Soalnya dia tuh, antara cute dan galak jadi satu. Gemes aja kalau ngeliat dia."
"Sayangnya, kamu bukan tipe Joe Taslim. Tipenya Joe Taslim itu ya, istrinya."
Daniel meledek Lea, hingga perempuan itu sedikit cemberut namun tetap tersenyum.
"Ih mas mah." ujarnya dengan nada manja.
"Udahlah, kamu pasrah aja sama takdir. Jodoh kamu itu Daniel Taslim. Aku juga bisa judo kayak dia, bentar lagi aku bakal ikut casting di Hollywood."
"Mimpi." tukas Lea seraya makin tertawa.
Daniel lalu mengelus perut Lea yang berisi bayinya.
"Mama nakal ya dek, pecicilan ya kan?" ujarnya kemudian.
"Nggak ya dek, jangan ngadu kamu. Ntar nggak mama keluarin, mau?"
"Dih mamanya ngancem." ujar Daniel lagi.
"Kamu istirahat ya, biar cepet sembuh, cepet pulang. Kan kita masih harus maternity shoot sebelum dia berojol."
"Iya mas, ini juga mau tidur koq. Mas pulang dulu aja, ganti baju. Atau tidur dirumah juga boleh, kan aku nggak apa-apa. Nggak perlu di jagain juga."
"Apa guna Ellio kalau dia nggak bisa bawain baju aku kesini." ujar Daniel sambil tersenyum.
"Om Ellio mau datang?" tanya Lea..
"Iya, lagi di jalan." jawab Daniel.
"Oh ya udah kalau gitu, aku mau tidur ya mas."
"Iya."
Daniel lalu membantu Lea untuk berbaring. Ia juga menarik selimut agar menutupi hingga ke bagian dada.
"Good night sayang."
Daniel mencium kening Lea, lalu mencium perut istrinya itu dengan lembut.
"Istirahat ya kalian." ujarnya lagi.
"Iya papa."
Lea memejamkan mata, Daniel menunggunya hingga lelap. Setelah memastikan Lea tertidur dengan nyenyak, Daniel pergi keluar. Tak lama Ellio pun tiba.
"Lo ganti baju dulu." ujar Ellio pada Daniel.
Ia menyerahkan beberapa helai pakaian untuk sahabatnya itu.
__ADS_1
"Mandi dulu deh gue."
"Ya udah."
Daniel kembali ke kamar Lea. Ia pergi mandi kemudian berganti pakaian.
"Bro ke seberang yuk, pengen ngerokok gue." Daniel berujar ketika semuanya telah selesai.
"Lea?" tanya Ellio.
"Udah tidur dia." jawab Daniel.
"Ya udah."
Maka Ellio pun menemani Daniel untuk pergi ke seberang rumah sakit. Kebetulan ada sebuah warkop disana. Mereka kemudian merokok sambil memesan kopi panas di tempat itu.
"Tadi kata lo di WA, lo di omelin sama maminya Richard?" tanya Daniel pada Ellio, lalu menghisap batang rokok yang ada diantara kedua jarinya.
"Iya anjir, gue yang di omelin. Gara-gara Richard kebanyakan gebetan." jawab Ellio.
Tak lama kopi mereka pun jadi.
"Ngoceh apa cuma curhat doang?" tanya Daniel lagi. Kali ini ia menyeruput kopi.
"Ngoceh, kayak seolah-olah gue ini Richard."
Daniel tersedak kopinya sendiri, sementara Ellio tertawa.
"Paham kan lo gimana mami?" tanya Ellio.
Daniel mengangguk sambil masih batuk dan menahan tawa. Ia lalu membuka air mineral yang tersedia di depan mata, lalu meminumnya.
"Ngomel apaan aja mami tadi?" lagi-lagi ia bertanya.
"Ya banyak, dia bilang Richard itu harusnya tegas mau milih siapa. Jangan kesana mau, kesini mau. Tapi pas gue bilang, kalau Richard milih Dian gimana. Gue di semprot, dibilang kenapa nggak mau sama Maryam. Maryam perempuan baik-baik, bla, bla, bla. Pokoknya satu setengah jam, gue dengerin dia ngoceh."
Daniel benar-benar tertawa kali ini.
"Tadi tuh ada mami nelpon gue. Tapi karena di silent, gue nggak denger. Gue rasa tadi dia ngomelin gue juga, tapi nggak kena." ujar Daniel.
"Pantesan, gue yang jadi sasaran." ujar Ellio.
Sahabat Daniel itu kini mulai menyeruput kopinya.
"Tapi kata lo, maminya Richard setuju sama siapa?" tanya Daniel.
"Ya yang pasti Maryam lah." jawab Ellio.
"Kan calon mertua di kita kalau nyari menantu, yang penting look. Isi dalam belakangan." lanjutnya kemudian.
"Pas setelah menikah tau-tau zonk, baru deh di omong-omongin ke tetangga. Di jelek-jelekin."
Daniel tertawa mendengar semua itu.
"Tapi lo ngebayangin nggak sih, kalau Richard Istrinya dua atau tiga?" tanya pria itu pada Ellio.
"Anjir, Richard otak mesum gitu dikasih istri dua atau tiga. Kasih satu aja anaknya pasti banyak. Bunting mulu pasti tuh cewek. Apalagi dikasih lebih dari satu, bakalan selusin adiknya Lea."
Daniel makin terbahak-bahak.
"Gue nggak bisa membayangkan kalau ipar gue banyak dan masih kecil-kecil lagi." tukas Daniel.
"Jadi elu yang ngasuh mereka." celetuk Elio.
__ADS_1
"Hahaha." tawa keduanya pun kembali terdengar di telinga.