Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Rencana


__ADS_3

Dari pagi hingga sore hari, Darriel tak begitu banyak menangis. Mungkin karena rumah Richard ruangan-ruangannya lebih lega, ketimbang ruangan yang ada di penthouse milik Daniel. Anak itu anteng meski jarang di gendong oleh Lea.


Tak lama Daniel dan Richard pulang dari kantor. Namun mereka terlihat membawa barang-barang yang mirip seserahan.


"Mas kamu mau nikah lagi?"


Lea melontarkan pertanyaan, yang membuat Daniel ingin menggetok kepala istrinya tersebut.


"Nikah lagi, ngurus kamu kalau ngambek aja udah pusing. Lagi mau nambah bini."


"Terus ini buat siapa?" Lea kembali bertanya.


Tiba-tiba perempuan itu terpikir akan sesuatu.


"Ini buat ayah ya, ayah mau ngelamar kak Dian?" tanya Lea.


"Dian udah dilamar tapi personal." jawab Richard.


"Ayah kamu nikahnya masih 2-3 tahun lagi. Dian sendiri yang maunya begitu." Daniel menimpali.


Mereka menyerahkan barang-barang itu kepada para asisten rumah tangga, untuk kemudian disimpan.


"Kelamaan dong, keburu ayah dinikahkan sama Maryam kalau gitu.


"Nenek kamu udah tobat, kata papi sih." Richard kembali berujar.


"Dia udah dimarahin papi dan janji nggak akan maksa ayah lagi." lanjutnya kemudian.


"Terus ini buat siapa?" Lagi dan lagi Lea bertanya.


"Buat Ellio, minggu depan kita mau ke rumah orang tuanya Marsha."


"Oh."


Lea tampak gembira.


"Jadi itu beneran ya mas?" tanya nya.


"Beneran." jawab Daniel.


"Ya mudah-mudahan nggak berubah pikiran. Tau sendiri Ellio, kadang begini kadang begitu." Richard berujar seraya menuangkan air putih ke dalam gelas dan meminumnya hingga habis.


"Darriel tidur?" tanya Richard kemudian.


"Kayaknya nggak deh yah. Tadi tuh bangun, aku mandiin, terus tidur bentar. Nah tadi sebelum aku turun, aku liat dia melek. Tapi nggak tau juga."


"Nggak nangis seharian?" tanya Daniel.


"Nggak, anteng dia. Seneng kali tempatnya luas. jawab Lea."


"Ayah mau liat, tapi mau mandi dulu." Richard bergegas menuju ke kamarnya.


"Aku juga mau mandi." timpal.Daniel.


"Ya udah, aku mau makan." ujar Lea.


"Ntar aku nyusul."


Daniel lalu pergi ke kamar dan meninggalkan Lea sendirian. Sementara Lea kini mengambil makanan.


Usai mandi Daniel membawa Darriel ke bawah. Tadi ada sempat bayi itu terlelap, namun kini ia membuka mata dan melihat ke arah Daniel.


"Kamu kenapa sih, kalau di gendong sama papa pasti ngeliatin mulu. Seneng ya di gendong sama orang ganteng?"

__ADS_1


"Nggak usah diliatin dek, papa tuh kepedean."


Lea nyeletuk dari meja makan, perempuan itu masih belum selesai. Sebab tadi asisten rumah tangga Richard memasak ikan goreng kesukaannya.


"Liat tuh Darriel, mama kamu sirik sama kegantengan papa."


"Pede banget, sumpah."


Lea sewot sambil terus makan. Tak lama Richard turun dan langsung menghampiri lalu mencium kening Darriel. Pandangan mata Darriel langsung berpindah pada Richard. Kemudian Richard mengambil bayi itu dari tangan Daniel.


"Sana lo makan dulu, biar dia sama gue." ujar Richard kemudian.


Maka Daniel pun pergi ke meja makan dan duduk di samping Lea. Richard kini mengajak Darriel berjalan-jalan, dari satu ruangan ke ruangan lainnya.


***


Sementara itu di kediaman Reynald, Arsenio menyiapkan makan malam untuk ayahnya itu. Sebab kini Reynald sudah di perbolehkan pulang, dan besok rencananya pria itu akan kembali bekerja.


"Pa, makan dulu."


Arsen membawa makanan tersebut ke kamar Reynald. Reynald yang tengah berada di atas tempat tidur sambil berkutat dengan laptop itu pun, menghentikan aktivitasnya.


"Kamu masak apa?"


"Ini ada nasi, sayuran, sama salmon grill."


Reynald tersenyum. Arsen duduk di sisi Reynald dan mulai menyuapi ayahnya itu.


"Kamu tau nggak. Kalau ngeliat kamu kayak gini tuh, papa jadi pengen sakit terus."


Arsen menatap Reynald, namun kemudian ia menundukkan pandangan ke bawah. Saat ia kembali ke posisi semula, Reynald masih tetap menatapnya.


"Jangan liatin Arsen kayak gitu." ujarnya kembali menundukkan pandangan, kali ini ke arah piring yang ada di tangannya.


"Pa."


Arsen berkata dengan nada memohon, seketika Reynald pun tertawa.


"Oke." ujarnya meraih gelas berisi air minum dan meminumnya. Arsen pun kembali menyuapi Reynald.


"Kamu itu pacarnya siapa sih, boleh dong dikenalin ke papa."


"Arsen belum punya pacar." jawab pemuda itu.


"Ah bohong banget kamu, masa iya model tampang kayak kamu nggak ada pacar."


Reynald berujar seraya menerima suapan dari tangan sang anak.


"Orang emang nggak ada." jawab Arsen kemudian.


"Tapi yang kamu taksir ada nggak?" tanya Reynald lagi.


"Ada tadinya."


"Terus sekarang?"


"Ya udah nggak bisa."


"Kenapa?"


Arsen diam.


"Ya..." Ia menarik nafas panjang.

__ADS_1


"Orangnya Lea." jawabnya kemudian.


Reynald tersedak karena tertawa. Kemudian ia buru-buru mengambil air minum dan meminumnya.


"Serius?" tanya Reynald memastikan.


Arsen kembali menarik nafas panjang lalu tersenyum. Namun matanya masih menunduk, sebab ia harus mengambil suapan yang baru lagi.


"Pas kamu udah tau kalau dia nikah sama Daniel?"


"Nggak, pas belum tau. Makanya suka."


"Setelah tau?" tanya Reynald lagi.


"Ya marah." jawab Arsen.


Reynald kembali tertawa.


"Tapi untung Lea udah nikah. Kalau jadi sama kamu, masa iya papa besanan sama saudara sendiri. Ntar kalau misalkan kalian cerai, canggung dong papa sama om Richard."


"Ya walaupun Lea belum nikah, nggak bisa juga. Kan papa sepupu sama om Richard dari line bapak. Bapak kalian bersaudara kandung. Kalian sedarah, jadi ya nggak bisa."


"Iya sih, lagipula papa kan sepersusuan sama om Richard."


"Koq bisa?. Bukannya ASI itu ada pas punya anak ya?" Arsen mendadak bingung.


"Dulu di atas om Richard itu ada. Namanya Rico, seumur papa. Pas baru dilahirkan, meninggal. Makanya buat ngobatin luka oma kamu, diambilah papa."


"Oh gitu ceritanya."


"Iya."


"Oh ya, kamu masih sering dapat teror nggak?" tanya Reynald.


"Udah nggak sih, tapi om Richard bener-bener nggak ngebolehin Arsen pergi tanpa pengawalan. Arsen sampe dikatain temen kampus."


"Dikatain apa?"


"Ya pas Arsen datang, temen-temen langsung pada ngambil handphone. Sok-sok jadi wartawan yang lagi mewawancarai artis gitu. Ada yang bilang Arsen anak sultan lah, apa lah."


"Tapi mereka bercanda kan, bukan membully kamu."


"Ya emang bercanda, tapi Arsen malu. Temen Arsen tuh kalau bercanda, pada parah-parah banget."


Reynald tertawa.


"Om Richard itu nggak bisa dibantah orangnya. Sekali dia bilang begini, ya begini. Harus nurut, kalau nggak mau taringnya keluar. Dia kalau buat keluarga itu emang bener-bener. Ya walaupun kalau sama oma kamu, suka berantem dan ngelawan. Tapi masalah kesehatan, perlindungan, harga diri dan lain-lain. Dia sangat mendahulukan itu untuk keluarganya."


Kali ini Arsen tertawa.


"Oh ya pa, kita belum liat anaknya Lea."


"Mau ketemu anaknya apa ibunya?" goda Reynald kemudian.


"Ya, kalau bisa dua-duanya kenapa mesti satu."


Arsen menjawab dengan nada candaan. Ia dan Reynald kini benar-benar tertawa lepas.


"Nih pa, satu suapan lagi." ujar Arsen.


Reynald menerima suapan terakhir itu dan menyelesaikan semuanya.


"Kamu makan gih sana!" ujarnya pada Arsen.

__ADS_1


"Iya, ini Arsen mau makan koq." jawab pemuda itu.


__ADS_2