
Beberapa hari berlalu, Daniel masih bisa menghandle semuanya dan merahasiakan apapun itu dari Lea.
Beruntung Richard dan Ellio pun bergerak cepat, dalam membasmi berita yang masih tersedia di beberapa media online nakal.
Selama beberapa hari ini pula hidup Daniel kembali tenang. Ia bersusah payah berakting di depan Lea, jika dirinya tak mengalami stress dan masih terlihat baik-baik saja.
"Pak, ini ada surat untuk bapak."
Marsha berujar pada Daniel seraya menyerahkan sepucuk surat. Surat tersebut berlogo sebuah instansi dari pihak yang berwajib.
Daniel membuka surat tersebut, lalu menghubungi pengacaranya, Richard, dan juga Ellio.
Dalam sekejap Richard dan Ellio pun datang. Padahal saat ini keduanya sama-sama tengah sibuk. Tak jauh berbeda, Daniel pun demikian. Ada banyak pekerjaan yang mesti ia urus.
"Apalagi sih ini?. Sumpah capek banget gue."
Daniel menutup kedua matanya dengan tangan kanan, yang sikunya tertumpu di meja. Terlihat pria itu memang sangat lelah sekali menghadapi berbagai perkara yang terjadi belakangan ini.
Selang beberapa saat kemudian pengacaranya datang dan mereka pun mengadakan pembicaraan internal.
"Jadi menurut lo, gue harus memenuhi panggilan ini?" tanya Daniel pada pengacaranya.
"Iya, bersikap selayaknya warga negara yang baik aja." ucap pengacaranya tersebut pada Daniel.
Pria itu kini beralih menatap sang mertua dan juga Ellio. Richard agaknya setuju dengan pendapat dari pengacara Daniel tersebut.
"Datang aja, bro. Biar nggak simpang siur jadinya." ucap Richard.
Maka Daniel pun akhirnya menyetujui. Ia memenuhi panggilan dari pihak yang berwajib tersebut, pada keesokan harinya.
Sesuai jadwal yang terlah ditentukan, maka ia datang pagi-pagi. Lea saja sampai tidak bertemu suaminya itu, sebab ia bangun agak siang akibat begadang mengerjakan tugas kuliah.
Daniel pergi dengan ditemani pengacaranya dan juga Ellio. Sedang Richard ada rapat penting pagi itu.
Daniel ditanyai seputar keterlibatannya dalam kasus SB Agency. Ada banyak pertanyaan yang di ajukan pada pria itu. Ia menjawab dengan jujur dan apa adanya. Tak ada satu hal pun yang ia coba sembunyikan.
Beberapa jam berlalu begitu saja. Seperti biasa bila pergi ke kantor pihak yang berwajib, bukan satu atau dua pertanyaan saja yang diajukan kepada kita. Melainkan belasan, dan masing-masing jawaban membutuhkan waktu sepersekian detik atau menit.
Hingga tanpa terasa hari pun telah sedemikian siang. Daniel akhirnya kembali ke kantor, dalam keadaan yang cukup lelah. Ellio yang menemaninya saja tampak begitu lelah, padahal ia tak melakukan apa-apa disana.
"Gimana, Dan?"
Richard bertanya pada Daniel ketika telah masuk jam makan siang. Pria itu sengaja datang, dan baru saja menyelesaikan pekerjaan yang cukup banyak.
"Ya, gue di tanya-tanyain." ucap Daniel.
"Apa aja yang mereka pertanyakan?"
__ADS_1
"Seputar sejak kapan gue mulai menggunakan jasa SB Agency, siapa aja cewek yang pernah gue dapat dari sana. Dan lain-lain." ujar Daniel.
Richard menghela nafas kali ini. Tak lama seorang office girl membawakan minuman untuk mereka. Daniel meraih segelas kopi yang ia pesan dan meminumnya. Begitupula dengan Richard. Ellio saat ini tengah makan siang bersama Marsha di bawah.
"Gue takut ini akan melebar kemana-mana, bro." ucap Daniel lagi.
Dan lagi-lagi Richard menghela nafas.
"Tadi lo udah mengakui semuanya secara jujur kan, di hadapan mereka?"
"Iya." jawab Daniel.
"Lo masih berstatus saksi kan?"
"Iya."
"Ya udah." ujar Richard.
"Berarti yang harus kita bereskan saat ini adalah, biang yang membuat berita miring tentang lo." lanjutnya lagi.
"Ya, kita harus bisa menutup mulut media." ujar Daniel.
"Bukan medianya, tapi orang yang berada di belakangnya." ujar Richard.
Kali ini Daniel menatap Richard, dan tak mengerti dengan apa yang dikatakan mertuanya itu.
"Maksud lo?" tanya Daniel.
***
"Mas, tadi pagi koq buru-buru banget perginya. Emang kantor datang pagi tadi?"
Lea bertanya pada Daniel ketika ia dan juga Richard sudah pulang ke kediaman Richard. Kini mereka tengah berada di meja makan.
Daniel menatap Richard dan begitupun sebaliknya. Dari kantor tadi Daniel sudah mewanti-wanti pada Richard, untuk tidak memberitahu Lea apapun soal ini semua.
"Aaa, iya. Aku sibuk banget tadi, ada banyak yang mesti di bereskan di kantor." ucap Daniel.
"Ayah juga?" tanya Lea.
"Iya, makanya tadi ayah juga berangkat pagi-pagi kan?" ucap Richard.
Hal tersebut memang benar adanya, Richard memang ada rapat penting pagi tadi. Dan hal tersebut berbeda dengan Daniel yang pergi memenuhi panggilan pihak yang berwajib.
"Oh, pantesan. Aku bangun, udah pada nggak ada." ucap Lea.
Daniel dan Richard berusaha tertawa. Lea tak ada menyinggung soal pemberitaan Daniel di media. Itu artinya sampai saat ini, perempuan itu masih tak tau apa-apa.
__ADS_1
"Darriel lagi apa?"
Daniel mengalihkan topik. Sebab sejak kepulangannya tadi, Lea langsung mengajak sang suami dan sang ayah makan. Karena kebetulan mereka juga sudah lapar. Siang tadi mereka bahkan hanya minum saja, seolah tak ada keinginan makan sama sekali.
"Darriel ada noh, di kamar." jawab Lea.
"Tidur?" tanya Richard.
"Nggak, dari tadi udah bangun." tukas Lea lagi.
Daniel dan Richard hanya tersenyum, kemudian melanjutkan makan. Usai makan mereka semua kembali ke kamar. Richard mandi dan berganti pakaian, begitupula dengan Daniel.
Untuk sejenak kepenatannya seharian ini terusir. Dengan terpaan air shower kamar mandi dan juga tawa Darriel. Bayi itu seakan menjadi obat untuk sang ayah.
"Hehe."
"Hehe."
Ia tertawa dan mulai mengeluarkan suara. Daniel memperhatikan anaknya itu.
"Koq, udah ada aja suaranya?"
Goda Daniel seraya mendekatkan wajahnya ke dalam box bayi. Kemudian Darriel mulai mengeluarkan celotehan-celotehan, lalu menggerakkan tangan serta kaki. Seolah-olah minta segera disambut oleh ayahnya itu.
"Nggak mau, ah. Papa nggak mau gendong Darriel." ucap Daniel pada sang anak.
Lea yang melihat semua itu hanya tersenyum. Namun Darriel makin kencang menggerakkan tangan dan kakinya.
"Oalah, ngebut banget nak." ucap Daniel lalu tertawa.
"Emang." jawab Lea.
"Dia kalau lagi antusias, tenaganya kenceng banget mas. Sampe kadang ngeri aku gendongnya, takut jatuh." lanjutnya lagi.
Daniel makin tertawa, lalu menggendong Darriel.
"Eh iya, kenceng amat."
Daniel mengomentari Darriel yang masih tampak antusias bergerak dalam gendongannya.
"Hati-hati, Le." ujarnya kemudian.
"Makanya, tenaganya kuat banget. Apa karena bayi cowok ya mas?"
"Maybe." jawab Daniel.
"Eh tapi nggak juga, ding. Bayi temen aku kalem aja."
__ADS_1
Lagi-lagi Daniel berujar, dan sambil tertawa. Darriel pun ikut-ikutan tertawa, melihat ayahnya tersebut.
"Kamu doang tuh nak, yang over excited." ujar Lea. Dan lagi-lagi Darriel tertawa kali ini.