Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Berdua


__ADS_3

"Mas."


"Hmm?"


Daniel yang tengah rebahan di kamarnya, didatangi oleh Lea.


"Mau burger nggak?"


"Kamu mau beli?" tanya Daniel.


"Iya, mau pesan online." jawab Lea.


"Ok, aku mau yang double cheese."


"Bentar."


Lea menscroll laman ojek online yang dimilikinya. Ia mulai mencari penjual burger terdekat.


"Double cheese satu, sama kentang goreng nggak?"


"Kamu mau bikin aku gemuk ya?" Daniel kembali bertanya seraya tersenyum.


"Nggak apa-apa mas, elah. Sekali-kali makan fast food, enak loh. Lagian badan mas masih kotak-kotak tuh, belum ada yang berkurang kotaknya."


Daniel tertawa.


"Ya udah." ujarnya kemudian.


"Tambah minumannya nggak?" Lea kembali menggoda suaminya itu, dengan biang lemak.


"Hmm, oke deh." ujar Daniel tanpa perlawanan. Lea pun lalu tersenyum dan mulai memesan.


Sambil menunggu pesanan tersebut sampai, ia kini merebahkan diri di samping Daniel.


"Mas nggak kerja emangnya?" tanya Lea.


"Itu apa, Jamilah." tanya Daniel seraya melirik ke arah laptop, yang masih menyala di atas meja.


"Kirain mas hari ini rebahan doang."


"Ini aja baru rebahan, dari pagi tadi aku bangun. Dan ini adalah rebahan pertama di jam sibuk, sejak delapan bulan terakhir."


"Berarti selama delapan bulan mas sibuk tuh kalau siang?" tanya Lea.


"Ya, iya." jawab Daniel.


"Termasuk hari libur?" tanya Lea lagi.


"Termasuk hari libur." ujar Daniel memperjelas.


"Nggak pegel gitu badan mas, nggak ngilu-ngilu?"


"Hahaha."


Lagi-lagi Daniel tertawa, mereka kini dalam posisi berbaring serta saling berhadapan satu sama lain.


"Kan aku olahraga terus, jadi badan aku juga jarang sakit."


"Oh ya, mas tempo hari nggak kenapa-kenapa kan pas pulang dari Bandung. Soalnya aku banyak banget ngajakin mas makan ini itu, takut kejadian kayak waktu dulu. Yang mas sakit."


"Aku nggak apa-apa koq." ujar Daniel lalu mencium bibir istrinya itu.


Ia sedikit berdusta, padahal sepulang dari kota tersebut ia sempat mengalami demam. Namun karena ia sering tidur di atas, jadi Lea tidak mengetahuinya. Dan lagi Daniel cepat-cepat minum obat, agar demam tersebut tidak berlanjut.


"Mas."


"Hmm?"


Daniel menatap mata Lea, sementara perempuan itu mendadak menutup mata dengan tangan. Namun ia merenggangkan sedikit antara jari manis dan kelingkingnya, agar bisa mengintip Daniel. Tampak Daniel pun tertawa melihat semua itu.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Daniel kemudian.


"Tadi manggil, giliran di respon malah nutup mata." ujarnya lagi.


"Abis mas menatap aku gitu banget."


"Emang kenapa?" tanya Daniel heran.


"Nggak kuat, rasa mau meleleh."


Daniel tertawa untuk yang kesekian kalinya. Lea memang masih muda, bahkan lebih sering terlihat seperti anak kecil. Namun Daniel memakluminya, karena secara usia saja ia baru menginjak angka 17 tahun.


Di luar sana bahkan yang seumuran dengannya, banyak yang masih mengejar cita-cita. Sedang Lea sendiri sudah dihadapkan pada rumah tangga.


"Kamu mau ngomong apa?" tanya Daniel.


"Mas seberapa sayang sama aku?"


Daniel tersenyum.


"Menurut yang kamu rasakan?" Ia balik bertanya pada Lea.


"Menurut aku, mas sayang banget sama aku."


"Itu tau." Daniel memberikan Lea tatapan yang seperti sebelumnya.


"Mas, bisa nggak jangan gitu natapnya. Biasa aja coba, nggak kuat aku tuh."


Lagi dan lagi Daniel tertawa, didekatinya perempuan itu kemudian ia tindih tubuhnya. Daniel juga mencium bibir Lea dengan sangat.


"Mas, hmmh."


Seperti biasa Lea gampang terpancing gairahnya. Sementara tangan Daniel sudah meremas gundukan besar milik istrinya.


"Mas, hmmh."


"Dert."


Tiba-tiba handphone Lea bergetar, ternyata dari ojol yang mengirim burger yang ia pesan.


"Mas, makanan sampe." ujar Lea.


"Aku mau ambil dulu." ujarnya kemudian.


Daniel kemudian membiarkan perempuan itu beranjak. Lea pergi ke bawah dan mengambil pesanannya, sesaat kemudian ia kembali naik.


Ia membawa burger itu ke kamar Daniel dan meletakkannya di meja, namun Daniel tak ada di sana.


"Mas?"


Lea memanggil Daniel, tiba-tiba pria itu muncul dari arah belakang sambil tak henti menatap dirinya.


"Mas?"


Daniel melangkah ke arah Lea, secara serta merta ia meraih tubuh gadis itu dan merapatkan ke tubuhnya. Daniel mencium bibir gadis itu dan Lea pun tak bisa menolak.


Gairah wanita muda itu kembali memuncak, bahkan lebih tinggi ketimbang yang tadi. Pasalnya Daniel memberikan sentuhan yang penuh kenikmatan.


"Mas, hmmh."


Daniel merebahkan tubuh istrinya itu ke atas tempat tidur dan menindihnya. Pergumulan pun terjadi, hingga satu persatu helai benang yang melekat ditubuh mereka terlucuti.


Mereka terus saling menyentuh, meraba dan meremas satu sama lain. Sampai akhirnya Daniel mulai memasukkan miliknya ke milik Lea.


"Aaakh."


Erangan keluar dari bibir keduanya, aktivitas panas itupun kemudian berjalan.


"Lea, sssh."

__ADS_1


"Aaah, maaas."


Mereka meracau dan saling menyebut nama pasangan mereka. Lea tampak selalu menikmati permainan suaminya dan Daniel selalu ingin mendominasi.


***


Usai bercinta, keduanya dilanda rasa lelah dan lapar yang luar biasa. Sebab tadi durasinya lebih lama dari yang sudah-sudah.


Mereka berdua menyempatkan diri untuk mandi bersama terlebih dahulu, setelah itu baru kemudian menikmati makanan yang tadi mereka pesan.


"Huh, untung kamu pesennya double porsi." ujar Daniel seraya mengunyah burger yang ada di tangannya.


"Laper banget kan jadinya." ujar Lea.


"Iya gara-gara kamu, abis tenaga aku." ujar Daniel.


"Orang mas yang mesum."


"Kamu juga gampang dibuat naik."


Daniel membela diri, Lea tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di bahu Daniel. Sementara ia masih mengunyah makanan.


"Yah mas, saosnya abis. Dikit banget ini ngasihnya."


"Kan di dapur ada." ujar Daniel mengingatkan.


"Oh iya, aku ambil dulu deh." ujar Lea.


"Nggak usah biar aku aja." ujar Daniel seraya beranjak.


"Sama air putih ya mas."


"Ok."


Daniel pun bergegas menuju ke bawah. Sekembalinya dari sana, Daniel melihat Lea yang menatap layar handphone. Namun raut wajah istrinya itu mendadak lesu serta murung.


"Kenapa Lea?" tanya Daniel heran, ia kemudian meletakkan saos dan air putih ke atas meja. Lalu ia pun kembali duduk di sisi Lea.


"Ibu aku, mas."


"Kenapa ibu kamu?"


"Ibu aku bilang, katanya..."


Lea menghela nafas, Daniel masih memperhatikan. Pria itu menanti kelanjutan dari ucapan sang istri.


"Ayah kandung aku akan segera di ketemukan."


Daniel menatap Lea, ia terkejut mendengar semua itu.


"Oh ya?" tanya nya kemudian.


Lea mengangguk, namun ekspresinya masih sama seperti tadi. Ia lesu dan seakan tak bergairah, padahal sebelum itu ia makan dengan lahap.


"Perasaan kamu nggak enak?" tanya Daniel.


Lagi-lagi Lea mengangguk.


"Kalau nanti ketemu, aku harus gimana dan ngomong apa mas?" tanya Lea.


Kali ini Daniel menghela nafas, ia menatap mata istrinya itu.


"Kalau ketemu dia, kamu mau marah atau diem aja juga nggak apa-apa. Ungkapkan aja apa yang kamu rasakan, supaya nggak jadi dendam dan sakit di kemudian hari."


"Mas nanti temenin aku ya, kalau ketemu dia."


"Iya, sayang."


Lea merebahkan kepalanya di bahu Daniel, kemudian Daniel memeluk perempuan itu dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2