Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Hangat di Tengah Dingin


__ADS_3

Usai makan, Daniel tak buru-buru mengajak Lea pulang. Ia dan istrinya itu, kini menyusuri jalan demi jalan.


"Kita mau kemana sih mas?" tanya Lea.


"Kenapa, kamu capek?" Daniel balik bertanya.


"Nggak sih, penasaran aja."


"Kita muter-muter doang koq, nggak ada tujuan ini. Kali aja kamu bosen dari kampus ke rumah, kampus ke rumah terus."


"Iya sih, tau aja mas." ujar Lea seraya menempelkan kepalanya di bahu Daniel.


"Kalau kamu laper lagi, bilang ya."


"Masih kenyang, mas. Tadi aja nasi, ayam bakar, sate Maranggi, es teh manis. Gila aja kalau masih laper."


Daniel tertawa.


"Kan aku bilang, kalau laper lagi. Berarti maknanya bisa nanti dong."


"Iya sih, hehe."


Daniel lalu merangkul istrinya itu, dengan tangan lain masih memegang stir kemudi. Mereka menyusuri jalan demi jalan sambil mendengarkan musik dan berbincang. Sesekali mereka tampak bernyanyi bersama, apabila ada lagu yang mereka sukai dan kebetulan hafal liriknya.


"Mas, mas pernah main ice skating nggak?" tanya Lea ketika mereka telah mengitari kota selama satu jam lebih. Bahkan sudah mengisi bensin lagi, sejak tadi.


"Sering, dulu waktu sekolah di luar negri. Tiap musim salju, aku main. Kalau kamu?"


Lea mengerutkan bibirnya lalu menggeleng.


"Kan di mall sini ada." ujar Daniel.


"Tapi aku nggak pernah main, masuk mall aja jarang. Ibu kan nggak punya duit terus." tukas Lea.


"Mau kesana?" tanya Daniel kemudian.


"Serius mas mau ajak aku kesana?"


"Ya ayok." ujar Daniel sambil tersenyum.


"Yeay, asik."


Lea begitu antusias. Daniel membelai kepala perempuan itu sejenak, lalu kembali fokus ke jalan. Selang beberapa saat, mobil mereka tiba di pelataran parkir sebuah mall yang didalamnya terdapat wahana permainan ice skating. Berupa ruangan besar dengan kaca melingkar, yang didalamnya terdapat lantai es batu.


Ada beberapa pasangan dan keluarga yang bermain di sana. Namun karena ini bukan weekend, tempat itu menjadi tidak ramai. Tentu saja Daniel menyukai tempat yang sepi seperti ini, meski jika ramai sekalipun ia akan tetap menemani Lea. Demi agar perempuan itu merasa gembira.


***


Lea tengah memakai sarung tangan yang disediakan, ketika Daniel mendekat dan memasangkan topi di kepalanya. Agar perempuan itu tidak merasa dingin ketika telah berada di dalam.


Saat Daniel memasangkan topi tersebut, Lea tertegun menatapnya. Rasanya begitu aman memiliki laki-laki itu disampingnya. Daniel selalu bisa menjadi sosok yang dibutuhkan. Ia bisa menjadi suami, sahabat, pelindung, teman berdiskusi, teman bertengkar dan lain sebagainya.


Tiba-tiba Daniel mengecup kening Lea, membuat Lea terkejut dan makin terdiam. Padahal disisi mereka juga ada orang lain, namun Daniel sebegitu beraninya memperlihatkan kemesraan.


"Ayo...!" ajak Daniel kemudian.


Lea pun mengangguk dan mengikuti langkah suaminya tersebut. Mereka telah memakai sepatu ice skating, dan kini Lea begitu kagok serta takut-takut dalam melangkah.


"Mas aku takut."


"Nggak apa-apa." Daniel menggenggam erat tangan Lea.

__ADS_1


"Hah." Lea nyaris terjatuh, lalu ia menghentikan langkahnya.


"Ayo...!" ujar Daniel lagi.


"Nggak mau mas, takut."


"Masa cewek sebar-bar kamu takut sama lantai ice skating?"


Lea tertawa.


"Ngeri mas, licin." ujarnya kemudian.


"Nggak apa-apa, ayo...!"


"Tapi, mas."


"Lea, percaya sama aku."


Daniel menatap Lea dalam-dalam, membuat perempuan itupun seketika memantapkan hati. Ia melangkah mengikuti Daniel, kemudian Daniel mulai mengajarinya. Bagaimana caranya meluncur di es.


"Gini ya mas?" tanya Lea sambil memperlihatkan gerakan.


"Yap, ayo lagi." ujar Daniel.


"Hah."


Lea hampir terjatuh untuk yang kedua kali. Namun lagi-lagi Daniel menggenggam erat tangan istrinya itu, bahkan menangkap tubuhnya. Ia kembali mengajari Lea dengan sabar, sampai kemudian sedikit-sedikit Lea mulai bisa melakukannya sendiri.


"Ayo, sendiri." ujar Daniel melepaskan tangannya. Lea pun mulai meluncur, meski di jarak yang pendek.


"Yeay, aku bisa mas." ujar Lea gembira.


Daniel kemudian meluncur cukup jauh.


Lea tersenyum namun masih takut, karena jarak Daniel dua kali jarak yang tadi ia tempuh.


"Takut mas." ujarnya masih sambil tertawa.


"Nggak apa-apa, ayo...!"


Lea pun mulai meluncur dengan lancar, namun ketika hampir sampai tiba-tiba saja ia seperti hendak terjerumus. Buru-buru Daniel langsung menangkap tubuh istrinya itu dan mereka kini berada dalam posisi berpelukan.


Membuat beberapa pasang mata memperhatikan mereka. Namun banyak dari mereka yang tersenyum, karena mereka tidaklah iri dengan kebahagiaan yang ditunjukan pasangan itu.


"Aduh, hampir aja." ujar Lea seraya tertawa, tetapi jantungnya masih berdegup kencang.


Detik berikutnya, mereka pun meluncur berdua sambil bergandengan tangan. Lea sudah tak lagi hendak terjatuh seperti tadi, ia kini lebih bisa menyeimbangkan tubuhnya. Tak lupa mereka mengambil foto berdua, beberapa kali.


"Mas laper lagi."


Lea berucap ketika mereka telah keluar dari tempat ice skating.


"Yuk makan, sebelum kita pulang." ujar Daniel.


"Nanti di rumah tinggal mandi sama tidur." lanjutnya lagi.


Lea pun mengikuti langkah Daniel, ternyata Daniel mengajaknya ke sebuah restoran Korea. Tempatnya tidak di dalam mall tersebut melainkan di tempat lain.


"Waw, dalamnya bagus ya." ujar Lea seraya memperhatikan interior dalam restoran. Vibes nya benar-benar seperti berada di Korea.


Daniel tersenyum, lalu menggandeng istrinya tersebut untuk masuk lebih dalam. Mereka diarahkan oleh pelayan pada sebuah kursi dan meja yang berada di pojokan. Restoran tersebut semi private, ada sekat-sekat yang membatasi. Sehingga membuat suasana makan menjadi nyaman.

__ADS_1


"Wah, ada odeng dan teman-temannya. Enak nih, anget." ujar Lea ketika memperhatikan menu.


"Masih anget jepitan kamu."


Daniel berujar nakal yang berujung dengan mendaratnya cubitan Lea di perut sang suami.


"Le, Le. Sakit, Le." Daniel menjauhkan lengan Lea, karena cubitan perempuan itu mirip cubitan guru BP saat ia masih sekolah dulu.


"Abisnya mas mesum, kan aku jadi kepikiran."


"Hmm kan, yang paling mesum tuh kamu tau nggak." ujar Daniel seraya tersenyum.


"Abisnya mas yang mancing, jadi pengen menjepit beneran nih."


"Lea, liat aku tegang nih." ujar Daniel sambil mengatur nafas. Terlihat ada yang mengeras dibalik resleting celana nya.


Tak lama pelayan datang, untung benda yang mengeras itu tertutup meja dan juga ditutupi tas oleh Lea secara serta merta. Mereka pun menahan tawa sambil memesan makanan.


"Kamu ya bener-bener." ujar Daniel, ketika pelayan telah pergi dengan daftar pesanan.


"Sakit tau nggak." lanjutnya kemudian.


Lea terkekeh, lalu mereka mengalihkan topik obrolan ke arah lain. Agar junior Daniel tak semakin meronta-ronta didalam sana. Mereka membicarakan tentang drama Korea dan Daniel pun menanggapi, meski tak mengerti banyak.


Tak lama kemudian makanan yang mereka pesan pun tiba. Berupa fish cake dan teman-temannya serta daging untuk di panggang. Tak lupa juga nasi sebagai pelengkap, dan terdapat selada, jamur Enoki, kimchi, serta menu ala ke Korea-Koreaan lainnya. Dan yang paling istimewa dari tempat tersebut adalah, minuman dan makanan bisa diambil sepuasnya alias all you can eat.


Mereka kemudian menghidupkan kompor, lalu memanggang dan merebus bersama diatas meja.


"Ini bawang putihnya?" tanya Daniel pada Lea.


"Di bakar aja, enak koq." ujar Lea. Ia kemudian mengambil fish cake beserta kuahnya, lalu memberikan pada Daniel.


"Mas coba dulu deh, seger." ujar Lea.


Daniel meraih mangkuk berisi makanan hangat tesebut dan memakannya secara perlahan. Tak lama Lea pun melakukan hal yang sama.


"Sluuurp."


"Huh, anget." ujar Lea lalu kembali menghirup kuah segarnya.


"Sluuurp."


"Gimana mas, enak?" tanya Lea.


Daniel mengangguk, sambil terus makan. Tak lama daging panggang mereka pun matang. Lea meletakkannya ke dalam helaian daun selada lalu menyuapkannya pada Daniel.


"Hap."


"Hmm, enak." ujar Daniel.


Ia langsung memberikan finger heart pada Lea, yang berujung tangannya dipukul oleh istrinya itu. Karena dia tau Daniel tengah bercanda.


"Mas kamu mah, ada aja yang bikin ketawa."


"Ya emang kenapa kalau aku begini?. Saranghaeyo." ujarnya kemudian.


"Nggak pantes mas, mas tuh tipikal yang harusnya cool sambil menatap aku gitu."


"Oh gini." ujar Daniel mempraktekkan gayanya yang biasa, sebelum ia menikah dengan Lea. Ia tampak dingin dan berwibawa. Baru saja Lea hendak memuji, namun tiba-tiba Daniel kembali dengan finger heartnya.


"Maaas, ah."

__ADS_1


Daniel tertawa-tawa, ia suka melihat Lea menjadi sewot. Tanpa Daniel sadari dari sebuah meja di kejauhan, tampak Grace tengah memperhatikan dirinya.


Grace yang masih memiliki rasa pada Daniel jauh di lubuk hatinya yang terdalam, namun terlanjur telah menjadi ibu tiri bagi pria itu. Ibu tiri yang ia pikir akan bahagia setelah memiliki anak. Namun beberapa saat yang lalu, ia baru saja memergoki sang suami yang keluar dari hotel bersama perempuan.


__ADS_2