
Daniel tengah menyetir mobil sore itu, ia baru saja keluar dari sebuah supermarket. Sebab popok Darriel sudah habis.
Ia mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Semua tampak tenang, hingga kemudian ketika ia melintas di suatu jalan. Sebuah mobil terlihat oleng dan berputar dua kali hingga menabrak salah satu pohon di pinggir jalan.
Ia dan beberapa pengguna jalan lain langsung memberhentikan laju kendaraan, guna mengecek pengemudi yang menabrak tersebut.
"Rey?"
Dua orang keluar dari dalam sana dan itu adalah Reynald beserta supir. Daniel yang khawatir kini berlarian.
"Rey."
"Dan."
Rey tampak memegangi bekas luka operasi di perutnya. Sepertinya gerakan mobil yang spontan telah menyentakkan bagian tubuhnya yang masih perlu di rawat itu.
"Kenapa Rey?" tanya Daniel kemudian.
Reynald menggeleng karena tidak mengetahui apa yang terjadi, namun tiba-tiba supir menemukan sebuah fakta.
"Pak."
Ia memperlihatkan sebuah bagian mobil yang seperti tertembus proyektil.
Reynald, Daniel, dan beberapa pengendara terkejut. Tak lama Daniel pun segera menghubungi polisi. Suasana mendadak menjadi heboh, namun kedatangan polisi membuat semuanya kembali kondusif. Pengendara lain diminta segera melanjutkan perjalanan.
Mobil Reynald kini menjadi objek penyelidikan. Proyektil peluru yang ditembakkan akhirnya ketemu, kemudian diambil oleh pihak kepolisian untuk di observasi lebih lanjut.
Daniel menemani Reynald ke kantor polisi dan menjelaskan semuanya. Ia juga memberitahu Richard mengenai hal tersebut. Kemudian Richard meminta tolong pada Ellio untuk segera menjemput Arsen dari kampus. Karena takutnya anak itu juga akan menjadi sasaran.
Sedang Richard kini tengah berada di dalam sebuah rapat penting yang besar. Sangat tidak mungkin ia meninggalkan ruangan, meski hatinya sangat cemas pada Arsen.
Ellio bergegas dan menjemput pemuda itu, kemudian membawanya kembali ke kediaman Richard.
***
"Ini udah nggak bisa dibiarin."
Richard berujar ketika akhirnya mereka semua bisa berkumpul di rumah. Lea tengah mengurus anaknya, sedang Arsen tertidur di kamar karena ia kuliah dari pagi dan merasa lelah.
"Ini pasti ada hubungannya dengan orang yang mau mencelakakan lo sebelumnya." lanjut Richard lagi.
__ADS_1
"Gue rasa selama Arsen masih tergabung di dalam lembaga itu, dia akan terus mendapat teror dan imbasnya ke lo." timpal Ellio.
Daniel masih diam dan mendengarkan, sedang Reynald kini membuang pandangannya ke atas meja.
"Mau nggak mau Arsen dan teman-temannya harus menghentikan kegiatan yang selama ini mereka buat." Richard kembali berujar.
"Tapi dia sangat konsen disitu. Itu keinginan dia." ucap Reynald.
"Kalau udah menyangkut nyawa lo, gue rasa dia bakalan mau." Kali ini Daniel bersuara.
"Tapi gue kesannya jadi membiarkan apa yang dia dan teman-temannya perjuangkan selama ini jadi sia-sia."
"Rey, ini soal nyawa lo dan nyawa Arsen. Arsen harus sadar kalau apa yang dia perbuat membahayakan dia sendiri dan ayahnya." Richard berkata seraya menatap saudaranya itu dalam-dalam.
"Kalau terjadi apa-apa sama lo, dia nggak punya orang tua lagi. Gue mungkin bisa jagain dia, tapi rasanya akan beda. Lo bapaknya, gue sekedar om, saudara lo. Dan kalau lo kehilangan dia, apa lo bisa terima itu?"
Reynald menghela nafas, ia masih merasa berat untuk meminta anaknya agar keluar dari semua kegiatan yang ia jalani selama ini. Itu artinya Arsen sama saja harus mengalah dengan kejahatan. Tapi disisi lain apa yang dikatakan Richard itu benar adanya.
"Kita akan tetap menyelidiki semua ini. Kita akan temukan dan menangkap pelakunya. Supaya teman-teman Arsen yang masih tergabung bisa terlindungi. Yang jelas saat ini, kita fokus menyelamatkan nyawa lo dan nyawa Arsen dulu." ujar Richard.
Reynald benar-benar tak bisa berkata apa-apa lagi. Sepertinya ia memang harus berbicara berdua dulu dengan Arsen.
***
Lea berujar pada Daniel, ketika rapat di ruang makan bersama Richard dan yang lainnya telah selesai. Ia kini masuk ke kamar, ke tempat dimana Lea tengah menyusui Darriel.
"Iya, kamu tenang aja ya." jawab Daniel lalu duduk di sisi Lea.
"Aku takut mas, gimana kalau ada orang yang tiba-tiba nembak kamu terus kena. Aku nggak mau jadi janda mas."
Air mata Lea mengalir, Daniel tersenyum lalu mengusapnya dengan tangan. Kemudian ia mencium kening istrinya itu dengan lembut.
"Aku bakal hati-hati koq, kamu doain aku tiap hari ya."
Lea mengangguk. Kemudian Daniel merangkul istrinya itu dan mencoba menenangkannya.
"Darriel udah berapa kali minum susu hari ini?"
Daniel mengalihkan topik pembicaraan, semata agar Lea tak berpikir macam-macam.
"Udah berkali-kali mas. Tapi dari tadi dia pake yang udah aku pompa."
__ADS_1
"Bersyukur banget ASI kamu banyak, jadi dia nggak kekurangan." ucap Daniel lagi.
Lea tersenyum.
"Iya mas." jawabnya kemudian.
Darriel tiba-tiba membuka mata menatap Daniel.
"Kenapa melek?. Kangen ya sama papa, hmm?"
Darriel terus memperhatikan ayahnya, sementara Daniel kini membelai kepala dan rambut lebat anaknya itu.
***
Di sebuah kawasan, di malam hari.
Marsha tengah berjalan ke halte bus, sebab tadi ia ada meet up dengan teman semasa kuliahnya dulu di sebuah kafe. Kini perempuan itu hendak pulang ke rumah dan menunggu bus terakhir, karena hari kebetulan telah larut.
Marsha melangkah masuk ke bus, ketika akhirnya kendaraan itu tiba di muka tempat dimana ia menunggu. Suasana bus tak begitu ramai, hanya ada beberapa penumpang saja.
Marsha lalu duduk di paling depan, dengan alasan agar aman berada di dekat supir dan juga kondektur. Di sepanjang perjalanan tak ada hal yang mencurigakan. Namun ketika ia tiba di tujuan, seseorang juga ikut keluar bersamanya.
Marsha sedikit menoleh, sosok itu adalah seorang pria bertubuh tinggi besar dan tampak menyeramkan. Jarak antara halte bus dan apartemen Marsha masih sekitar 300 meter lagi. Sebab tak ada akses langsung dari depan apartemen tersebut.
Pun lagi kawasannya menang sepi, di jam seperti itu bahkan sudah tak ada lagi orang yang lalu-lalang. Sedang di sepanjang jalan menuju ke sana adalah swalayan, restoran yang bahkan telah tutup semuanya. Sama sekali tak ada pemukiman warga di daerah itu, kecuali di apartemen itu sendiri.
Marsha kemudian berjalan, dan orang tersebut juga berjalan. Marsha mencoba untuk positif thinking. Namun orang tersebut seakan mengikuti dirinya.
Marsha mempercepat langkah, dan pria itu pun melakukan hal yang sama. Bahkan ketika Marsha ikut berlari, ia juga seolah mengejar.
Marsha berteriak, dan berlari sekencang-kencangnya. Hingga kemudian ia sampai ke muka apartemen dan langsung di hampiri oleh sekuriti.
"Ada apa mbak?" tanya para sekuriti tersebut.
Marsha yang masih ngos-ngosan menoleh ke arah belakang. Namun orang yang mengikutinya tadi sudah tidak ada lagi.
"Saya diikuti orang pak." jawabnya kemudian.
"Di kawasan sini tuh kalau bisa jangan pulang malam mbak, rawan. Kalaupun mau pulang malam, mending naik taxi saja dan turun di depan sini."
"Iya pak. Makasih ya pak."
__ADS_1
"Iya, sama-sama mbak."
Marsha kemudian berjalan menuju ke lobi, dengan jantung yang masih berdegup kencang.