
"Pokoknya aku mau ikut mas, kamu udah janji nggak akan bikin aku jadi istri yang kerjanya cuma di rumah doang. Mana janji kamu itu, baru hal sepele kayak gini aja kamu udah ingkar. Laki-laki dimana-mana tuh sama aja, maunya menang sendiri."
Lea mengoceh pada Daniel di suatu weekend. Tepat setelah ia mengutarakan keinginan, untuk ikut teman-temannya berwisata ke beberapa kota. Namun Daniel menolak menyetujui hal tersebut.
"Bukan aku mau menang sendiri, kamu itu lagi hamil. Dalam dua hari ke depan, usia kandungan kamu kamu menginjak lima bulan. Masih rentan, masih perlu di jaga baik-baik."
"Terus kapan bisanya?. Nunggu usia kandungan aku 8 bulan, atau 9 gitu?. Keburu berat mas, air ketubannya keburu banyak. Keburu susah melangkah, dan keburu berojol dijalan. Keburu repot ngurus anak."
Lea berbicara dengan suara yang keras, serta nada yang sedikit kacau. Emosi telah menguasai hati perempuan itu.
"Mas enak, udah berumur sekarang, udah puas sama masa muda mas sendiri. Sedangkan aku, usia 18 tahun harus mengalah ini itu. Demi anak yang mas paksakan ke aku."
"Lea." Kali ini Daniel berujar penuh emosi.
"Koq kamu ngomong gitu sih?"
Lea diam dan memalingkan wajah ke arah lain. Namun ia terlihat masih bersikeras dengan egonya.
"Maksud kamua apa coba ngomong kayak gitu?. Seolah-olah anak ini cuma aku yang menginginkan. Bukannya kamu juga yang mati-matian mempertahankan dia, waktu Richard memberi kamu pilihan untuk lanjut atau di gugurkan. Kamu kan yang memilih mempertahankan, kenapa sekarang omongan kamu egois kayak gini?"
"Mas yang egois. Mas cuma takut bayi ini kenapa-kenapa kan?. Tapi nggak takut kalau aku ngerasa hidup aku di rampas, terkungkung dan nggak bisa bebas ngapa-ngapain dalam pernikahan ini. Mas cuma mikirin anak ini, bukan aku."
"Ya udah kalau kamu mau gugurkan, ayo...!"
Daniel berteriak dengan emosi yang meledak-ledak, nafas pria itu memburu serta matanya terlihat memerah. Sementara kini lea terdiam, dengan mata yang masih menatap suaminya itu.
"Ayo, kalau kamu mau menggugurkan anak ini. Aku temenin, aku bayarin. Supaya kamu nggak ngerasa kalau aku cuma memperhatikan anak itu. Aku nggak apa-apa nggak jadi punya anak, bukan masalah besar buat aku."
"Koq kamu ngomong gitu sih mas?. Berarti kamu nggak beneran sayang dong sama anak ini?"
Daniel sejatinya sudah siap menampar Lea, namun ia benar-benar berusaha keras menahan emosinya. Ia selalu ingat jika Lea adalah perempuan, istrinya, dan juga tengah mengandung anaknya.
"Jangan playing victim kamu Lea."
Daniel berusaha mengatur nafasnya, ditengah udara yang mendadak terasa sesak.
"Ya kenapa mas sampe punya pikiran kayak gitu?. Mau mengugurkan dia segala?"
"Kamu yang mancing."
__ADS_1
Daniel berteriak dengan suara yang lebih keras dan dibalas teriakan yang tak kalah kerasnya oleh Lea.
"Nggak usah teriak terus kamu mas, aku tau ini rumah kamu dan aku cuma numpang disini."
"Lea bisa stop nggak kamu?"
Daniel benar-benar sudah berada di titik stress. Dari sepanjang pernikahan, baru kali ini Lea benar-benar menunjukkan sisi kanak-kanak yang dimilikinya. Ia terkesan memaksa Daniel untuk menjadi tersangka utama dalam pertengkaran ini. Padahal sedari tadi ia juga memancing emosi suaminya tersebut.
Hening seketika menyeruak. Lea tak lagi menjawab Daniel, ia masuk ke dalam kamar dan membanting pintu.
"Braaak."
Tinggallah kini Daniel dengan kepala yang begitu sakit.
***
Malam itu Lea hanya sekali menampakkan diri, ketika ia hendak mengambil air minum dan tak sengaja menemukan Daniel di meja makan. Karena sudah terlanjur, ia pun lanjut membuka kulkas dan mengambil sebotol air dingin di sana.
"Kamu nggak makan?" tanya Daniel pada Lea.
Perempuan itu tak menjawab dan malah melengos masuk ke kamar.
"Braaak."
Ketika pagi menjelang, Lea makin menjadi-jadi. Ia tampak hendak pergi ke kampus, namun membawa beberapa paper bag.
"Mau kemana kamu?" tanya Daniel langsung mencurigai tingkah istrinya itu. Pasalnya Lea tak pernah membawa banyak barang saat kuliah.
"Mau ke kampus, abis itu nginep di rumah ayah." jawab Lea ketus.
"Le."
"Aku nggak mau berdebat mas, aku mau pergi. Mas renungi aja tuh keegoisan mas."
Perempuan itu buru-buru menuju ke dalam lift dan menghilang dari pandangan mata Daniel.
***
"Lea nginep di rumah lo." ujar Daniel ketika ia telah sampai di kantor dan menyambangi ruang kerja Richard.
__ADS_1
"Tumben." ujar Richard seraya memperhatikan Daniel.
Sementara sahabat sekaligus menantunya itu kini duduk di hadapannya, lalu mengambil dan menyalakan sebatang rokok. Richard merasa ada sesuatu yang salah dengan Daniel.
"Kenapa, kalian berantem?" tanya Richard kemudian.
Daniel menjatuhkan pandangannya, dengan terus menghisap batang rokok.
"Apa gue salah melarang dia untuk nggak ikut teman-temannya?"
"Teman-temannya dia mau kemana emangnya?" tanya Richard yang juga kini menyalakan sebatang rokok.
"Mereka mau jalan-jalan ke beberapa kota selama beberapa hari, naik bus. Lea ngotot mau ikut, sementara gue khawatir sama dia dan bayinya."
"And then?"
"Dia bilang gue egois, cuma mikirin anak kami doang. Dia membuat seolah-olah kalau kehamilan itu sudah merampas seluruh hidupnya dia. Dia berteriak ke gue, dan gue juga sama pada akhirnya. Karena gue kesel banget sama omongannya.Tadi sebelum berangkat ke kampus, dia bilang akan nginep di rumah lo."
Richard menghisap rokoknya sekali lagi, lalu menghembuskan asap ke sekitar ruangan.
"Itulah kenapa waktu itu, gue memberi pilihan terhadap dia. Kehamilan itu mau dilanjutkan atau nggak. Bukan perkara gue jahat, atau tidak menginginkan anak itu lahir. Tapi gue mikirin kesiapan mentalnya dia. Dia itu masih sangat muda, egonya masih tinggi. Seberapapun dia berusaha untuk jadi dewasa dan mengimbangi orang seumur kita, tetap di saat-saat tertentu dia akan kembali ke sifat aslinya dia. Yang menunjukkan betapa dia itu belum dewasa."
Daniel terpaku mendengarkan Richard, tak ada sepatah penyangkalan pun yang ia buat. Ia hanya diam sambil sesekali masih menghisap batang rokoknya.
"Dalam hal ini gue juga mikirin lo. Kalian itu saling mengenal satu sama lain aja, belum lama. Belum saling mengerti banyak hal dari masing-masing pihak. Tiba-tiba sudah mau punya anak, ya otomatis kalian pasti kaget dengan semua perubahan yang ada. Lo pengen begini, Lea maunya begitu."
Daniel masih bungkam, Richard menghela nafas dan melirik arloji.
"Gue ada rapat, nanti si Lea gue nasehatin. Lo sabar aja, renungi lagi apa yang terjadi diantara kalian dan cari jalan keluar."
Daniel mengangguk, Richard kemudian beranjak. Ia meninggalkan ruangan, usai menepuk bahu sahabatnya itu.
"Richard."
Tiba-tiba Ellio masuk dan menemukan Daniel ada di sana.
"Richard mana?" tanya nya kemudian.
"Rapat." jawab Daniel seraya mematikan sisa rokok, yang masih terselip di jarinya.
__ADS_1
"Lo kenapa, Dan?"
Ellio seakan bisa menangkap masalah yang ada di wajah sahabatnya itu. Karena tak bisa berbohong, akhirnya Daniel pun bercerita.