Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Ada-Ada Saja


__ADS_3

"Mas, pengen makan tape sama nanas."


Lea merengek pada suaminya di suatu malam.


"Makan aja kalau mau keguguran."


Daniel berujar secara frontal. Karena untuk hal berbahaya seperti itu, baginya tak perlu sebuah kiasan. Ia akan mengatakan apapun yang membahayakan untuk Lea.


"Aku tau itu bahaya, tapi aku pengen. Gimana caranya menghilangkan perasaan ini?"


"Ya pikirin makanan atau hal lain, apa kek misalnya. Coklat, roti, martabak, kebab. Kan banyak yang bisa di pikirin."


"Iya sih, tapi susah. Beli aja mas, tapi mas yang makan gimana?"


"Maksudnya?" tanya Daniel tak mengerti.


"Ya beli tape kek, nanas gitu. Terus mas yang makan. Aku cium baunya aja nggak apa-apa, yang penting keinginan aku terpenuhi."


"Kamu itu ada-ada aja deh, lagian jam segini udah nggak ada orang jualan."


"Ada koq, baru juga jam 8 malem. Mas mau menghindari tanggung jawab ya?"


Lea memasang wajah yang cemberut.


"Menghindari tanggung jawab gimana, Lea?. Kalau aku nggak tanggung jawab, kamu pasti udah aku tinggalin."


Daniel ingin sekali memukul kepala Lea dengan batu, namun pria itu berusaha keras untuk bersabar. Mengingat Lea adalah perempuan, sekaligus istrinya yang juga tengah mengandung.


"Aku ngidam begini tanggung jawab kamu loh mas. Kamu yang bikin aku hamil."


Daniel menghela nafas.


"Ya udah, aku cari dulu deh dekat sini." ujarnya kemudian.


Wajah Lea yang tadinya cemberut, seketika berubah kembali ceria.


"Nah gitu dong, itu baru suami aku." ujarnya sambil tersenyum.


Daniel pun mau tidak mau harus menuruti keinginan Lea. Daripada ditagih besok-besok, lebih baik di selesaikan hari ini pikirnya. Akhirnya pria itu pergi, guna mencari apa-apa yang diinginkan Lea untuk dirinya makan.


Daniel berputar arah kesana-kemari, tak ada orang yang menjual tape singkong satupun. Namun kemudian ia menemukan salah satu pedagang buah, yang kebetulan masih mangkal di sebuah tempat.


Daniel lalu membeli beberapa nanas dan membawanya pulang ke rumah. Lea sangat gembira ketika suaminya itu berhasil membawakan apa yang ia mau.


Meski hanya satu jenis, namun itu membuatnya sangat-sangat puas. Seperti tak ada lagi beban yang mengganjal di hatinya.


"Ayo dong mas, makan...!" pinta Lea.


"Tunggu, aku cuci dulu buahnya." ujar Daniel.

__ADS_1


Ia kemudian mengambil nanas tersebut dan mencucinya di wastafel. Tak lama ia kembali ke meja makan, sambil membawa satu mangkuk kecil berisi garam.


"Aku sebenarnya nggak makan nanas loh, karena menurut aku gatel di lidah. Ini demi kamu aja nih." ujar Daniel.


"Hehehe."


Lea nyengir, ia kini menarik kursi meja makan dan duduk di hadapan sang suami. Sementara Daniel mulai makan.


"Hmm."


Lea menelan ludah, nanas yang dimakan oleh Daniel seperti terasa di mulutnya. Lea ingat bagaimana buah tropis itu menggoyang lidahnya saat ia belum hamil. Manis, asam, ditambah garam yang asin. Ah, benar-benar perpaduan yang sempurna pikir perempuan itu.


Daniel lanjut makan dan lagi-lagi Lea menelan ludah, membuat Daniel serba salah jadinya. Di satu sisi ia harus makan demi kepuasan hati Lea. Sementara di sisi lain ia kasihan pada ekspresi wajah istrinya tersebut, yang seolah tak pernah makan selama tiga hari.


"Hmm, enak banget kayaknya ya mas?" tanya Lea.


Daniel menghela nafas, dan kali ini ia tertawa.


"Le, sumpah muka kamu. Aku tuh kasian tau nggak, tapi aku nggak bisa kasih."


"Iya nggak apa-apa mas. Manis nggak mas?" tanya Lea lagi.


"Manis, tapi asem juga." jawab Daniel.


"Hmm, pasti seger banget itu." Lea menelan ludah hingga berkali-kali.


"Tuh mulai gatel lidah aku, Le."


"Ya udah deh, stop mas. Jangan di lanjutin."


Daniel menatap Lea.


"Kamu udah puas liat aku makan?" tanya nya kemudian. Lea pun menganggukkan kepala.


"Ya udah, ini nggak apa-apa ya aku buang?"


"Iya nggak apa-apa mas, buang aja."


Daniel beranjak ke arah tong sampah dan membuang sisa nanas yang masih ada di tangannya.


"Kasian nanasnya mas."


"Tadi katanya nggak apa-apa di buang." ujar Daniel seraya menghela nafas. Ia benar-benar harus ekstra sabar dalam menghadapi Lea.


"Iya nggak apa-apa, tapi tiba-tiba jadi kasian. Sayang tau mas, itu kan enak."


Daniel menatap sang istri sambil menahan senyuman. Tak lama ia mencuci tangan lalu memeluk perempuan itu.


"Sabar ya, nanti kalau anak kita udah lahir kamu boleh makan apa aja yang nggak boleh di makan selama kamu hamil."

__ADS_1


Lea mengangguk.


"Iya mas." jawabnya kemudian.


Daniel mengusap-usap punggung Lea agar istrinya tersebut merasa tenang. Sejak hari itu ada saja tingkah Lea yang membuat Daniel mengelus dada. Pada suatu malam istrinya itu mendadak minta dibelikan opak singkong."


"Opak apaan Lea?" tanya Daniel pada Lea.


Ia terlahir dalam keluarga kaya dan belum pernah memakan makanan yang bernama opak. Apalagi opak bukanlah makanan yang ramai dijual seperti kerupuk. Belum ada produksi masal yang dijual ke seluruh wilayah. Kalaupun ada, pastilah itu di daerah-daerah tertentu.


"Opak tuh kayak keripik tapi lebar gitu mas, dari singkong. Emang mas belum pernah makan gitu?" tanya Lea.


Daniel menggelengkan kepala.


"Belum." jawabnya kemudian.


"Bentuknya aja aku nggak pernah liat." lanjutnya lagi.


Lea lalu membuka laman pencarian google dan memperlihatkan gambar opak pada Daniel. Seumur hidup baru kali itu Daniel melihatnya.


"Nyarinya dimana Le?" tanya nya pada Lea.


"Nggak tau mas, pengen banget deh rasanya."


"Coba cek di online marketplace, kali aja ada."


"Oh iya ya, mas. Kenapa nggak kepikiran sama aku?"


Lea mengambil handphone dan membuka laman salah satu online marketplace. Ternyata ada banyak yang menjual.


"Tuh banyak." ujar Daniel.


"Pesen aja, Le." lanjutnya lagi.


"Ok deh."


Lea kemudian memesan dan kebetulan bisa dikirim hari itu juga. Namun penjualnya gak melayani via ojek online melainkan via expedisi. Bagi Lea tak mengapa, toh besok juga dipastikan akan sampai.


Ia sudah membayangkan betapa krispi nya opak tersebut apabila di goreng. Di makan begitu saja atau di cocok gula merah, atau dengan sambal. Pasti sangat enak sekali.


Esok harinya pesanan opak tersebut tiba. Pada sore hari Daniel melihat sang istri yang duduk di meja makan, dengan opak yang sudah di goreng. Tapi Lea tidak makan, hanya diam memandangi saja.


Hal tersebut tentunya membuat Daniel merasa heran. Sebab kemarin Lea tampaknya sangat menginginkan makanan tersebut. Tapi entah mengapa sore ini ia terlihat seperti tak bergairah.


"Kamu kenapa Le?" tanya Daniel pada istrinya itu.


"Kenapa opaknya nggak dimakan?" lanjutnya lagi.


"Udah nggak kepengen, mas. Sekarang malah kepengen makan pizza."

__ADS_1


Daniel kemudian menghela nafas, sambil mengelus dada.


__ADS_2