
"Buuuk."
"Aw."
Lea sengaja menabrakkan kakinya ke pinggiran meja di depan televisi, ia bermaksud menarik perhatian Daniel yang saat ini tengah ngopi di meja makan.
Namun Lea kurang jeli melihat, jika saat ini Daniel tengah menggunakan airpods di kedua telinganya dan mendengarkan Ellio yang bercakap di telepon.
"Cuek amat sih." gerutu Lea lalu berlalu begitu saja ke dalam kamar, ia ingat jika masih ada beberapa buku yang ketinggalan.
"Lea."
Daniel memanggil Lea, ketika gadis itu telah keluar dari kamarnya. Ia sudah hendak berangkat ke sekolah.
"Iya." ujar Lea dengan nada yang sedikit acuh tak acuh. Gadis itu sudah kesal pada Daniel yang gagal ia pancing perhatiannya.
"Saya nggak bisa nganter kamu, karena harus menemui klien di tempat yang nggak searah dengan kantor saya ataupun sekolah kamu."
"Oh ya udah." ujar Lea lalu beranjak menuju ke lift.
Lea sempat menunggu, kalau-kalau Daniel mengungkapkan rasa bersalahnya karena tak bisa mengantar gadis itu. Ia berharap seperti di film-film, Daniel mendadak khawatir akan keselamatannya, lalu menyusulnya. Namun sampai pintu lift terbuka pun, Daniel tak memberikan reaksi apa-apa. Pria itu malah fokus ke arah laptop.
"Hhhh, batu banget sih. Sebenernya ciuman tempo hari itu apa artinya buat dia, kalau masih bersikap cuek gini ke gue. Manis dikit kek, gombalin gitu gue. Kan gue juga pengen di romantisin kayak cewek-cewek pada umumnya."
Lea menggerutu seraya menuju ke pinggir jalan raya, kini ia telah sampai dibawah. Ia bermaksud menunggu bus yang lewat.
"Emang cuma Hans doang yang romantis dan perhatian. Sayangnya entah kenapa gue cuma mikirin si om-om es batu itu." lanjutnya lagi.
***
Siang itu, mendadak Hans ada di depan sekolah Lea. Ia menjemput gadis itu dengan Aston Martin miliknya.
"Hans?"
Lea terkejut, begitu juga dengan puluhan bahkan ratusan siswa lain yang baru saja keluar. Karena ini memang sudah jam pulang.
Mereka terkejut melihat Lea dijemput seorang cowok tampan berseragam SMA sekolah lain. Rangga dan Sharon, serta kedua teman Sharon juga menyaksikan hal tersebut.
Lea sumringah, dan sengaja ia lebay-lebaykan agar yang lain makin sirik. Lea seakan hendak menegaskan pada Sharon, bahwa dirinya tidaklah menjual diri kepada om-om. Seperti yang pernah dituduhkan Sharon padanya. Ia ingin memberitahu pada mereka, jika ia memiliki pacar.
Selama berhubungan
beberapa bulan belakangan ini, belum pernah Hans menjemput Lea di sekolah. Mereka selalu janjian di suatu tempat, jika ingin bertemu atau berkencan.
Tapi hari ini, entah ada angin apa. Hans tiba-tiba saja muncul. Lea kemudian masuk ke dalam mobil Hans, tak lama setelahnya mobil tersebut pun berlalu.
"Kamu koq, tumben banget hari ini."
Lea bertanya pada Hans, ketika mobil mereka telah melaju cukup jauh.
__ADS_1
"Aku tadi pulang cepet, karena abis nganterin temen aku yang sakit pulang kerumahnya."
"Koq bisa?" tanya Lea heran.
"Ya namanya juga penyakit, tiba-tiba dia nggak enak badan. Akhirnya aku menawarkan diri untuk antar dia pulang. Berhubung udah mepet jam pulang, ya udah sekalian aja aku izin."
"Oh gitu, cewek apa cowok temen kamu?"
"Cewek."
"Oh." jawab Lea kemudian.
"Oh ya, aku mau ngajak kamu makan di salah satu restoran favorit keluarga aku." ujar Hans pada Lea.
Gadis itu pun tersenyum.
"Tau aja kalau aku lagi laper." ujarnya kemudian, kali ini Hans yang tertawa.
"Makanya ini, mau aku ajak makan." ujar Hans lagi. Pasangan itu pun lalu tertawa satu sama lain.
***
Saat tiba di restoran, Hans langsung mengajak Lea. Untuk duduk pada kursi meja yang telah di reservasi sebelumnya oleh Hans, melalui telpon. Seorang pelayan mendekat dan memberikan menu pada keduanya.
Lea banyak bertanya pada Hans, karena ia sulit menyebutkan nama-nama makanan dalam daftar menu tersebut. Terlalu kebarat-baratan baginya, dan ia pun belum pernah memakannya sama sekali.
Lea dan Hans semakin larut, sampai kemudian.
"Tap, tap, tap."
Sebuah langkah datang dari suatu arah, mata Lea menangkap pergerakan tersebut. Dan betapa terkejutnya ia, ketika mendapati Daniel yang tengah melangkah ke satu meja.
"Degh."
Batinnya bergemuruh, pasalnya di meja tersebut terdapat tiga pria yang juga tampaknya adalah seorang pekerja atau mungkin bos. Dan disebelahnya lagi,
"Grace?"
Lea menatap wanita itu tak percaya, entah mengapa hatinya mendadak terbakar. Bisa-bisanya Daniel yang sempat mengaku tak ada lagi hubungan dengan Grace, kini malah terlihat bersama.
"Selalu munafik."
Itulah persepsi yang terbentuk di benak Lea.
"Bucin munafik."
Ia menambahkan anggapan terhadap sugar daddy nya itu. Padahal sejatinya Grace disuruh sang suami, yang tiada lain adalah ayah Daniel. Untuk mewakili dirinya dalam pertemuan bisnis tersebut. Sebab Edmund tengah berada di luar negri, dan Grace adalah istri sekaligus orang kepercayaannya di kantor.
Grace sudah melahirkan seorang bayi perempuan, itulah sebab dirinya lebih leluasa kesana kemari.
__ADS_1
"Om Dan."
Hans menyapa Daniel, dikarenakan ia mengikuti pandangan mata Lea yang tampak tertegun ke suatu arah.
"Hans?"
Daniel terkejut, apalagi ketika melihat Lea juga ada di sana. Tetapi ia berusaha stay cool. Grace dan tiga klien lainnya menoleh serta menatap kedua anak itu.
"Hai Hans." sapa Grace, namun tidak menyapa Lea. Hans tersenyum dan melambaikan tangannya.
Singkat cerita, Lea dan Hans pun makan, sementara Daniel terus berkutat pada urusannya. Sesekali Lea melihat ke arah pria itu, dan merasakan hatinya kian terbakar. Lantaran ia terlihat begitu dekat dengan Grace.
Selang beberapa saat kemudian, Grace dan yang lainnya berpamitan.
"Om Dan, boleh kami gabung di sana?"
Hans bertanya pada Daniel, tanpa persetujuan dari Lea. Lea yang terkejut mendengar semua itu pun, hanya bisa diam. Dalam hati ia mengumpat.
"Ngapain sih, Hans. Elah, pake ke dia segala lagi. Besar kepala tuh dia, jadinya."
"Kesini aja." jawab Daniel.
"Yuk, Lea...!"
Hans membereskan makanan di meja dan beralih ke meja Daniel. Dengan berat hati serta menahan dongkol yang begitu dalam, Lea pun mengikuti keinginan kekasihnya itu.
Mereka pindah ke meja, tempat dimana Daniel berada dan lanjut makan di sana. Tampak Daniel pun memesan kopi, karena tadi ia sudah makan bersama Grace dan yang lainnya. Lea diam saja, fokus makan. Sementara Hans dan Daniel terlibat sebuah obrolan yang cukup seru.
Setelah beberapa waktu berlalu, Hans dan Daniel masih saja terlibat perbincangan. Namun kali ini mereka tampak berjalan ke arah ke halaman parkir. Karena mereka memutuskan untuk pulang.
"Lea, kamu tunggu disini ya." ujar Hans.
"Kamu mau kemana?" tanya Lea.
"Mau beli rokok bentar, diseberang."
Hans menunjuk minimarket yang ada di seberang jalan. Kebetulan di restoran ini memang sengaja tak menjual rokok, entah untuk alasan apa.
"Om juga mau beli." ujar Daniel lalu melangkah duluan, Hans mengikuti pria itu.
Mereka kemudian menyebrang jalan dan sama-sama masuk ke dalam minimarket. Tak lama setelahnya mereka pun keluar dan hendak kembali menyebrang, ketempat dimana kini Lea masih terpaku menunggu.
Daniel dan Hans berjalan sambil terus melihat kanan kiri, karena itu adalah jalur lalu lintas dua arah. Pengendara di sana cukup ramai, Hans dan Daniel ingin buru-buru. Hingga tanpa mereka sadari sebuah mobil melaju kencang dan nyaris menabrak keduanya.
"Om Daaan." teriak Lea dari seberang, seketika Hans pun terkejut.
Pasalnya yang hendak tertabrak itu ada dua orang, dirinya dan Daniel. Tapi entah mengapa, Lea sepertinya lebih mengkhawatirkan Daniel ketimbang dirinya.
Hans terpaku, ia nyaris ditabrak dua kali. Sampai kemudian Daniel menariknya untuk bergegas.
__ADS_1