Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Murka Untuk Ellio


__ADS_3

"Apa kamu bilang, Marsha hamil?"


Suara dengan nada bentakan itu terdengar di ruang tamu kediaman orang tua Marsha.


Ellio mengangguk sambil menatap ayah kekasihnya itu dan memperlihatkan penyesalan dalam dirinya. Sementara ibu Marsha kini menangis, dan sang putri tertunduk dalam.


"Benar apa yang dia katakan, Marsha?"


Sang ayah bertanya pada perempuan itu, sedang yang ditanya hanya diam.


"Jawab!"


"I, iya pa."


Marsha terisak dalam tangis lalu,


"Plaaak."


Sebuah tamparan mendarat di pipi perempuan itu. Membuat semua orang yang ada disana termasuk Daniel dan Richard menjadi terkejut.


"Om, ini salah saya bukan salah dia."


"Buuuk."


Ayah Marsha memukul Ellio hingga pria itu nyaris terjatuh. Daniel ingin membantu melindungi Ellio, namun ditahan oleh Richard.


"Om, saya mencintai dia dan mau bertanggung jawab."


"Buuuk."


Ellio kembali mendapat pukulan.


"Saya nggak akan ninggalin Marsha dan nggak akan nyakitin dia."


"Buuuk."


Sudut bibir Ellio telah berubah menjadi biru lebam dan berdarah. Ayah Marsha kembali hendak memukul, namun kini dihalangi oleh sang anak.


"Jangan pa!. Dia ayah dari anak Marsha."


"Nggak tau malu kamu Marsha. Kamu disayang dari kecil, apa yang jadi mau kamu selalu dituruti. Di sekolahkan tinggi-tinggi supaya jadi perempuan bermartabat. Sekarang kamu coreng muka keluarga kamu sendiri."

__ADS_1


"Maafin Marsha, pa."


"Enak kalau cuma ngomong doang. Harga diri keluarga kamu pertaruhkan."


Ayahnya kembali berbicara dengan nada sangat tinggi. Ia ingin kembali memukul Marsha, namun dihalangi oleh Ellio.


"Pukul saya, om. Jangan pukul dia."


"Buuuk."


Ellio kembali mendapat pukulan. Daniel memalingkan wajah karena tak tega melihatnya. Sedang Richard tetap diam memperhatikan.


"Pa, udah cukup." Salah satu kakak Marsha yang tadi diam kini ikut berujar.


"Kamu nggak bisa jaga adik kamu."


Kakak Marsha yang paling tua itu menjadi sasaran amukan sang ayah.


"Kalian bertiga laki-laki semua, tapi nggak bisa jaga satu adik perempuan. Kakak macam apa kalian?"


"Pa, kita udah sama-sama dewasa. Kita nggak bisa 24 jam mengawasi Marsha."


"Diam kamu, Lukas."


"Apa yang dibilang Luke itu benar, pa. Kita nggak bisa mengawasi Marsha seharian full. Lagipula resiko seperti ini juga atas dasar kehendak Marsha. Dia harusnya tau mana batasan, dia bukan anak kecil lagi."


Mark kakak keduanya menimpali.


"Iya, Pa. Lagipula yang penting laki-laki ini mau bertanggung jawab. Mau papa semarah apapun, semua sudah terjadi. Nggak akan bisa waktu diputar balik." Marshal kakak pertama Marsha kembali berbicara.


"Jadi maksud kamu, kamu membela perbuatan mereka?" sang ayah kembali berapi-api.


"Bukan membela. Tapi saat ini ada baiknya kita selesaikan semua ini dengan kepala dingin." lanjutnya kemudian.


"Bener, pa. Gimana caranya kita harus nikahkan mereka berdua, sebelum kehamilan Marsha makin kelihatan." Mark sang kakak kedua menimpali.


Ayah Marsha terlihat menarik nafas beberapa kali. Ia dilanda stress yang amat berat. Betapa tidak, satu-satunya anak perempuan yang ia miliki kini membuat malu keluarga.


"Terserah kalian mau menikah dimana dengan cara apa. Saya akan berikan syarat kuasa kepada penghulu. Tapi saya tidak mau hadir dalam pernikahan tersebut."


Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut. Seketika air mata Marsha kembali jatuh mendengar keputusan sang ayah. Tampaknya pria itu benar-benar murka dan tak dapat lagi memaafkan Marsha.

__ADS_1


"Kalian bertiga, jangan ada yang hadir ataupun bertindak menjadi wali nikah bagi Marsha."


Sang ayah berbicara pada ketiga kakak Marsha. Salah satu dari mereka hendak membantah, namun ditahan oleh yang lainnya. Kakak Marsha yang lainnya tersebut memberi kode, seakan ia mengatakan untuk jangan membantah ayah mereka dulu saat ini. Mungkin sang ayah masih sangat emosi.


Lalu ketiga kakak Marsha itu pun diam dan akan menunggu suasana reda, untuk kemudian mereka akan bicara lagi terhadap ayah mereka tersebut.


Sementara Marsha menangis dalam pelukan Ellio. Richard dan Daniel menuturkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga Marsha. Mereka berjanji agar pernikahan ini akan berlangsung dengan cepat dan lancar.


"Kenapa kamu lakukan ini, Marsha?. Kenapa melakukan ini pada keluarga kita?"


Sang ibu yang masih terisak dalam tangis bertanya pada Marsha. Saat ini keduanya sudah memisahkan diri dari sang ayah. Bahkan Ellio, Daniel, dan Richard juga ada disitu. Mereka sudah sedikit lagi akan pulang, lalu mendadak sang ibu menghampiri.


"Maafin Marsha, ma. Marsha salah dan berdosa sama kalian."


Marsha turut menangis, Ellio yang beberapa hari belakangan merasa tak menyesal kini menjadi sangat menyesal.


Ia telah melihat sebuah tangisan dari seorang ibu dan kemarahan dari seorang ayah yang merasa di khianati oleh anaknya sendiri. Hati Ellio seperti di pukul, sementara Daniel dan Richard tak bisa berbuat banyak.


"Mama nggak akan bisa hadir ke pernikahan kamu nanti. Karena sudah pasti papamu akan melarang kami semua. Kamu tau papamu gimana orangnya."


Marsha makin terisak. Sang ibu lalu menyerahkan sebuah kotak yang berisi banyak perhiasan.


"Ambil ini, mama nggak bisa ngasih apa-apa sama kamu."


Tangis keduanya makin tak bisa di bendung. Sang ibu lalu memeluk Marsha dan setelah itu ia menyuruhnya pergi.


Ellio membawa Marsha ke dalam mobilnya di iringi air mata sang ibu. Tak lama Daniel dan Richard pun turut pamit.


***


Di sepanjang perjalanan Marsha terus menangis. Ellio semakin terdiam dengan perasaan yang campur aduk.


"Kenapa mereka nggak mau maafin saya, pak. Padahal selama hidup saya nggak pernah membuat mereka marah ataupun kecewa. Baru kali ini saya salah, dan saya manusia biasa."


Ellio menarik Marsha ke dalam pelukan, dengan tangan kiri yang masih memegang setir kemudi.


"Saat ini mereka masih marah, tapi kita nggak tau besok. Sebab marah itu ada batasnya, dan kita hanya perlu menunggu sampai isi kepala mereka jernih. Kita salah, kita pantas menerima kemarahan mereka hari ini." jawab pria itu kemudian.


Marsha pun menyeka air matanya dengan tissue yang ada di dashboard mobil. Sementara di mobil Richard yang ada di belakang.


"Kenapa tadi lo ngelarang gue bantuin Ellio?" Daniel berbicara pada Richard.

__ADS_1


"Lo juga kalau punya anak perempuan, bakal melakukan hal yang sama koq. Kalau kejadiannya sama kayak tadi. Ellio salah dan dia pantas menerima itu semua. Lagipula nggak sampai mati kan?. Namanya emosi orang tua, yang anaknya dihamili di luar nikah." jawab Richard.


Daniel pun akhirnya diam. Benar apa yang dikatakan sahabat sekaligus mertuanya itu barusan. Mungkin jika ia mempunyai seorang anak perempuan dan berada di posisi yang sama dengan ayah Marsha. Bisa jadi ia akan melakukan hal yang sama, atau bahkan lebih murka dari pada itu.


__ADS_2