
"Gimana, siap?"
Pengacara sekaligus sahabat lama Nadya bertanya pada wanita itu. Sambil mengambil satu tarikan nafas panjang, Nadya pun menjawab.
"Siap."
Maka si pengacara itu pun mengangguk dengan pasti. Nadya telah menyampaikan berkas-berkas yang diperlukan dan pengacara itu siap melayangkan gugatan yang diajukan kliennya tersebut.
Sementara di sudut lain Hanif mulai pusing dengan permintaan Susi. Laki-laki itu duduk di kursi meja kerja sambil terdiam memegangi kepala.
"Dert."
"Dert."
Tiba-tiba handphone Hanif berbunyi. Ternyata panggilan dari salah satu teman akrabnya, Robby.
"Iya, Rob." jawab Hanif.
"Kenapa lo, lesu begitu?" tanya Robby.
"Lagi banyak pikiran gue." jawab Hanif.
"Ah pikiran apaan sih, hidup lo enak, bini banyak." ujar Robby.
Hanif hanya tertawa kecil. Namun tawa itu agak sedikit terpaksa. Sebab ternyata ia pun baru sadar, jika mempunyai istri banyak tidaklah semudah yang ia kira. Ada banyak masalah yang ia hadapi, terutama soal kecemburuan dan persaingan diantara pada istri.
Enak memang, disaat kita tengah bersama dengan salah satu dari mereka. Bercinta, berpacu dan bercumbu didalam kenikmatan. Tapi setelah itu, lebih banyak hal yang tidak mengenakkan.
Tetapi dilepas pun sayang. Maka semuanya kini seperti buah simalakama. Dimana apapun yang diperbuat seolah serba salah.
"Ya, namanya juga hidup bro." ujar Hanif.
"Bersyukur, kalau nggak bersyukur kapak cukupnya." seloroh Robby. Dan lagi-lagi Hanif tertawa.
"Lo kenapa nelpon gue?. Tumben." ucap Hanif.
"Gue mau minta pendapat, bro. Gue kan lagi kenalan nih sama cewek. Ya, cem-ceman gitu lah. Terus dia minta dinikahi, siri nggak apa-apa katanya. Kebetulan lo udah pengalaman nih kan, banyak bini. Menurut lo, gue harus gimana?"
Hanif diam, justru saat ini ia sudah tidak percaya diri lagi untuk membicarakan semua itu. Kemarin-kemarin ia masih bisa berbangga diri atas apa yang ia lakukan. Tapi hari ini dirinya benar-benar tengah kalut atas itu semua.
"Ya kalau gue sih tergantung lo aja bro. Mau baiknya gimana ya terserah. Yang pasti gue dukung aja apapun itu." ucap Hanif.
Maka Robby pun sumringah. Memang setan akan selalu berada satu lingkaran dengan setan lainnya.
"Oke deh kalau gitu." ucap Robby.
Maka ia pun berbasa-basi sejenak lalu menyudahi percakapan tersebut. Kini Hanif kembali pada mode sebelumnya, yakni kusut.
***
"Hah, lo berdua mengira gue sakit keras?"
Richard baru mengetahui hal tersebut. Ketika Daniel dan Ellio akhirnya jujur mengenai dugaan mereka selama ini terhadap kesehatan teman mereka itu.
"Iya, makanya gue sama Ellio ngebet banget nyariin lo jodoh." ujar Daniel.
Richard pun lalu terbahak.
"Bisa-bisanya anjay, lo berdua mengatakan gue seperti itu.
__ADS_1
"Ya habis tingkah lo kadang mencurigakan gitu, bro. Gimana gue sama Daniel nggak curiga coba." ujar Ellio.
"Emang pemikiran anak babi lo semua." jawab Richard.
Dan lagi-lagi ketiga sahabat itu sama-sama tertawa.
"Terus yang jodoh buat gue dapat?" tanya Richard.
"Kagak." seloroh Daniel seraya masih tertawa.
"Dasar." ujar Richard kemudian.
"Sumpah, gue sama Daniel tuh jadi kepikiran mulu sama lo. Setiap hari kita mikir kalau kehilangan lo, kita berdua gimana." tukas Ellio.
"Sampe gue nangis-nangis anjir, sambil ibadah. Nggak pernah- pernah taat, jadi taat gue." ujar Daniel.
Richard pun makin terbahak.
"Makanya komunikasi, apa-apa tuh ngomong. Jangan malah berasumsi sendiri, kan jadi doa buat gue." tukas pria itu.
Daniel dan Ellio masih saja tertawa. Namun kemudian mereka sama-sama menghisap rokok elektrik yang ada ditangan mereka masing-masing.
"Lea tau juga dong berarti?" tanya Richard.
"Lah iya, makanya kita kalau sedih bertiga-tigaan." jawab Daniel.
"Nyusahin hati anak gue lo berdua." ujar Richard.
"Ini ntar gue kasih tau deh sama Lea." ucap Daniel.
Richard tersenyum lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
***
Lea menghampiri Darriel yang saat ini tengah. bermain sendiri di dalam box bayi. Tadi ia pikir anak semata wayangnya itu masih tidur, tapi ternyata sudah bangun.
"Heheee." Darriel tertawa.
"Panas nggak badannya."
Lea meraba kening anak itu dan ternyata sudah tak panas lagi.
"Mandi yuk!" ajak Lea.
Maka Darriel pun antusias.
"Mama siapin dulu ya, airnya."
"Heheee."
Lea pun bergegas menuju ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk anaknya itu. Tak lama ia membawa dan membersihkan tubuh Darriel disana. Darriel tampak senang dan tidak menangis saat dimandikan. Tetapi Lea tak ingin berlama-lama, sebab anaknya itu baru sembuh.
Setelah semuanya usai, ia membawa tubuh Darriel ke kamar dan memakaikan ia pakaian, bedak, minyak telon dan lain sebagainya.
"Hmmm, udah wangi anak mama."
"Heheee."
"Hehe melulu."
__ADS_1
Lea mencubit pipi Darriel namun tidak kencang. Tak lama ia menyiapkan ASI di dalam botol, lalu memberikannya. Selang beberapa saat kemudian Daniel menelpon.
"Hallo, mas."
"Le, Darriel mana?" tanya Daniel langsung mempertanyakan perihal sang anak.
"Emaknya kagak ditanyain nih?" goda Lea.
"Ini kamu udah ngobrol sama aku, aku udah denger suara kamu. Ngapain lagi aku nanyain kamu." seloroh Daniel.
"Dih, jahat." ujar Lea sambil tertawa.
"Anak kamu lagi minum susu." lanjutnya kemudian.
"Udah nggak apa-apa dia?" tanya Daniel.
"Udah, udah mandi malahan." jawab Lea.
"Oh ya?"'
"Iya, nih ya mas denger."
Lea mendekatkan handphone pada Darriel.
"Delil, papa mu ngomong nih." ujar Lea.
"Darriel, ini papa nak." tukas Daniel di seberang.
Darriel agak diam sejenak guna meresapi suara sang ayah.
"Heheee." ujarnya tak la kemudian.
"Semangat banget." tukas Daniel.
Lea lalu mendekatkan kembali perangkat itu ke telinganya dan mereka kembali berbincang.
"Oh iya Le, aku mau ngomongin hal lain." ucap Daniel.
"Soal apa mas?" tanya Lea penasaran.
"Soal penyakit Richard waktu itu." jawab Daniel kemudian.
"Loh, ayah kenapa?. Kambuh ya mas?" Lea panik.
"Nggak gitu, Le. Richard tuh sebenernya nggak sakit apa-apa." ujar Daniel.
"Lah, koq bisa?" tanya Lea heran.
Kemudian Daniel lalu mengatakan isi pembicaraannya dengan Richard tadi. Lea merasa benar-benar lega namun sedikit lemas.
"Ya ampun mas, aku tuh udah giman banget rasanya." ucap Lea.
"Sama Le, aku juga." ujar Daniel.
Lalu Lea pun tertawa-tawa.
"Emang konfirmasi da klarifikasi itu penting banget ya." ujarnya kemudian.
"Bener." jawab Daniel.
__ADS_1
***