Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Manis Gula


__ADS_3

"Gubrak."


Lea bergegas dan setengah berlarian meningalkan rumah sakit. Ia kini diikuti Iqbal dan juga Vita.


"Lo jangan lari-larian, Le. Ntar jatuh terus kenapa-kenapa, gue sama Vita lagi disalahin laki lo."


Iqbal ngoceh sambil terus mengikuti langkah Lea.


"Gue buru-buru, Bal." jawab Lea.


"Ini kita nggak pamit dulu?" tanya Vita.


"Nggak bisa Vit, ini menyangkut hidup dan mati. Gue nggak mau laki gue murka, terus dia menyemburkan api." ujar Lea lagi.


"Lagian lo kenapa bisa lupa sih?" tanya Iqbal.


"Ya lupa, gimana sih Bal. Namanya juga gue manusia."


Mereka buru-buru melangkah, sang supir sudah duluan di depan sana. Ketiganya lalu berpisah di halaman parkir, usai saling berpamitan dan berterima kasih untuk hari ini.


Lea masuk ke mobil dan mencoba menghubungi Daniel.


"Mas."


"Lea, kamu kemana aja?"


"Mas maaf mas, tadi aku lupa banget. Bener-bener lupa, sumpah."


Daniel terdengar menghela nafas di seberang sana. Sementara mobil yang membawa Lea mulai merayap.


"Aku udah tiga jam loh nunggu kamu disini, restonya udah mau tutup lagi. Disini nggak sampe malem banget."


"Yah, gimana dong mas?" Lea merasa amat bersalah kali ini.


"Ya udalah mau di apain, ini kamu dimana?"


"Udah di jalan, menuju kesana." jawab Lea.


"Ya udah, kamu kesini aja dulu. Ntar kita pikirin lagi mau kemana. Soalnya makanan disini juga udah pada abis jam segini."


"Yah, maaf ya mas. Maaf banget, sekali lagi maaf."


"Ya udah, kamu jalan aja dulu. Aku posisi di lantai dua."


"Ok mas, tunggu ya...!"


"Ok."


Lea menyudahi telponnya, dan ia kini kian dilanda rasa bersalah.


"Duh, kenapa sih gue pake acara lupa segala. Padahal tadi udah di inget-ingetin banget."


"Hhhh." Lea menghela nafas.


"Lemot banget sih Lea, ah." gerutunya sambil menggaruk-garuk kepala.


Lea diam sejenak, tak lama ia pun menelpon Richard.


"Lea?"


"Ayah." Suara Lea terdengar cukup berat.


"Kamu kenapa?" tanya Richard kemudian.


"Yah, aku ada janji sama mas Daniel. Tapi aku bener-bener lupa, aku tadi dari liat temen aku yang kritis mendadak di rumah sakit. Jadinya lupa, kira-kira mas Dan bakal marah nggak ya yah?"


"Kamu udah bicara sama Daniel belum?" tanya Richard lagi.


"Hmm, udah sih. Dia tadi kayaknya nggak marah, tapi rada kesel gitu loh. Kayak orang kecewa gimana sih. Soalnya dia nunggu aku tanpa kabar selama tiga jam."


Richard menahan tawa.

__ADS_1


"Daniel itu, dia nggak suka orang yang nggak tepat waktu. Dia nggak akan marah, memang. Tapi ya, dia akan kecewa dan ingat terus."


"Yah, gimana dong yah. Aku bener-bener lupa." rengek Lea.


Richard masih menahan tawanya, ia suka melihat anaknya menjadi sedikit resah.


"Ya, mulai sekarang kamu harus jadi orang yang menepati janji. Kalau nggak, ya jangan buat janji."


Lea menghela nafas panjang.


"Ayah nggak bisa apa, bantu bilangin mas Dan supaya nggak marah gitu. Kan ayah temennya dia."


"Mmm, bisa nggak ya?" Richard masih terus menahan tawa.


"Bisa dong yah, masa nggak bisa. Masa temennya dia dari kecil, nggak tau celah gimana bujuk dia."


"Hmm ok, ayah akan coba bilang ke dia."


"Tolong ya, yah. Sekarang pokoknya...!"


"Buru-buru banget." ujar Richard.


"Iya, soalnya aku lagi otw ke dia sekarang. Aku nggak mau pas sampe sana nanti, dia ngamuk-ngamuk ke aku."


Kali ini Richard tak kuasa lagi menahan tawanya.


"Koq ayah ketawa?"


"Nggak, nggak apa-apa. Ya udah deh, ntar ayah bilangin."


"Sekarang yah."


"Iya, abis ini langsung ayah telpon."


"Ya udah aku matiin dulu telponnya. Dah ayah, sayang ayah."


"Iya, hati-hati di jalan."


Lea menutup sambungan telponnya dengan Richard. Ada sedikit kelegaan di hati perempuan itu kini. Sementara Richard kini masih tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ada-ada saja, pikirnya.


***


Mobil terus berjalan, dan Lea terjebak di jalan yang salah. Dimana ada kemacetan yang cukup panjang, disana.


"Yah, macet lagi bu." ujar supir padanya.


"Jam segini masih aja macet?" tanya Lea.


"Nggak tau, biasanya di jalan ini nggak pernah macet. Apa ada galian kabel kali ya di depan."


"Iya kali pak. Duh gimana ini?. Saya telpon mas Daniel dulu deh."


Lea pun menelpon sang suami, namun tak diangkat.


"Ini kemana lagi orangnya, ditelpon nggak diangkat." ujar Lea.


"Di depan ada jalan ke arah perumahan gitu bu, lewat situ aja kita mau nggak?" tanya sang supir.


"Boleh aja sih pak, daripada kejebak macet berjam-jam."


"Tapi banyak polisi tidurnya disitu." ujar sang supir.


"Ya udah yang penting bapak pelan-pelan aja." tukas Lea.


"Iya bu."


Mereka pun menuju arah yang dimaksud. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, mereka tiba di restoran. Tampak restoran tersebut gelap, karena memang sudah tutup. Hanya lampu di area menuju dapur saja yang masih hidup.


Dari kaca, Lea bisa melihat Daniel yang membenamkan wajah ke atas meja di sebuah tempat duduk. Tak lama ada seorang karyawan yang membuka pintu.


"Mas maaf, saya mau ke suami saya." ujar Lea.

__ADS_1


"Oh ya silahkan mbak. Suami mbak ketiduran, tadi saya suruh pindah dari lantai atas kesini. Takutnya saya lupa ada orang, terus saya pulang. Tadi dia minta izin nunggu mbak katanya."


"Iya mas, makasih banyak ya mas."


"Iya mbak sama-sama."


Lea melangkah, ia jadi kasihan pada Daniel. Di dekatinya dan di belainya kepala pria itu dengan lembut. Daniel terkejut dan terbangun, ia tidak berpura-pura dan memang tertidur lelap.


"Lea, kamu udah dari tadi?" tanya nya kemudian.


"Nggak, barusan koq mas." jawab Lea.


"Ya udah, kita kemana yuk. Belum terlalu malam kan ini."


"Tapi mas ngantuk."


"Bentar lagi juga ilang koq ngantuknya."


"Aku sih pulang juga nggak apa-apa mas."


"Beneran?" tanya Daniel.


"Iya, lagian nggak tega liat mas ngantuk gini."


Daniel tersenyum.


"Aku cuci muka dulu deh." ujarnya.


Pria itu beranjak ke arah wastafel di depan toilet restoran. Tak lama karyawan yang masih tersisa pun muncul, Daniel lalu berterima kasih dan berpamitan pada mereka. Tak lama Daniel dan Lea keluar, lalu menghampiri supir.


"Pak, ikut kita yuk. Kita mau cari makan dulu." ujar Daniel.


"Aduh maaf pak, anak saya udah nanyain saya mulu dari tadi. Kenapa saya belum pulang katanya."


"Bapak mau pulang?"


"Iya pak, saya mau pulang aja." jawab supir tersebut.


"Ya udah, hati-hati di jalan pak."


"Nggak apa-apa kan pak, saya pulang?"


"Iya nggak apa-apa, pak. Biar Lea sama saya." ujar Daniel lagi.


Kemudian mereka pun berpisah di pelataran parkir tersebut. Lea dan Daniel kini masuk ke dalam mobil satunya.


"Lain kali mas kalau ngantuk pulang aja, kan kalau gini aku ngerasa bersalah."


"Emang aku sengaja koq, biar agak drama dikit." jawab Daniel sambil tertawa.


"Dasar kamu."


Lea mencubit bagian kiri dari perut suaminya itu.


"Aduh Le, sakit Le. Kayak guru BP kamu."


Lea tertawa.


"Mending kamu elus aja itu agak kebawah dikit."


"Ih mas, nggak dimana tempat mesum aja otak kamu."


Lea kembali mencubit suaminya itu, kali ini Daniel yang tertawa. Ia lalu menarik tubuh Lea dan mencium bibir perempuan itu secara serta-merta, membuat Lea seketika terdiam. Lalu membalas ciuman tersebut.


Mereka berhenti, usai puas saling menangkup, dengan tangan yang saling meraba satu sama lain. Lalu keduanya diam dan sama-sama tersenyum.


"Kita cari makan yuk." ajak Daniel kemudian.


"Mau nasi goreng, mas."


"Ok." ujar Daniel lalu menghidupkan mesin mobil. Tak lama mereka pun meninggalkan pelataran parkir restoran tersebut.

__ADS_1


__ADS_2