Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Lea Pecicilan


__ADS_3

"Mas, aku pergi dulu ya."


Lea buru-buru hendak berangkat di pagi itu. Karena ia ada kelas pagi dan tadi perempuan itu bangun di waktu yang sedikit mepet.


"Hati-hati, Le." ujar Daniel yang baru bangun tidur. Nyawa pria itu belum kembali seutuhnya.


"Haaa." jawab Lea acuh tak acuh.


Kemudian ia menghilang di balik lift. Daniel mengambil air minum dari dalam kulkas.


Namun belum sempat ia meminum air tersebut, Lea sudah kembali lagi ke atas. Ia melangkah dengan cepat dan masuk ke kamar. Tak lama ia pun keluar dan menuju ke lift lagi.


"Lupa mas, hehe."


Ia mengacungkan handphone lalu berlalu. Saat pintu lift terbuka, ia berbalik arah. Perempuan itu kembali ke kamar dan keluar dengan membawa sebuah buku.


"Tugas mas." ujarnya seraya mengacungkan buku tersebut, sama seperti kejadian dengan handphone sebelumnya.


Daniel menggeleng-gelengkan kepala, lalu minum.


"Mas bagi duit cash dong, males ke ATM."


Lea mendadak tiba di muka Daniel, membuat Daniel nyaris tersedak karena kaget.


Pria itu lalu merogoh saku celana pendek yang ia kenakan. Disana ada uang sebanyak seratus ribu. Ia lalu menyerahkan uang tersebut kepada Lea.


"Aku berangkat ya mas."


"Iya."


"Eh mau minum dong." ujarnya kembali berbalik.


Daniel memberinya segelas air putih. Lea minum lalu benar-benar berlalu meninggalkan tempat itu. Tak lama lift kembali naik ke atas. Daniel mengelus dadanya kali ini.


"Apaan lagi, Le?" tanya nya ketika pintu lift tersebut telah terbuka.


"Apaan sih?" tanya Richard tak mengerti.


"Eh, elo bro. Gue pikir si Lea balik lagi" ujar Daniel dengan wajah cukup kaget.


"Kenapa emangnya Lea?" tanya Richard heran.


"Tau tuh anak lo, mondar-mandir mulu dari tadi. Udah kayak setrikaan ayam tau nggak."


Richard tertawa.


"Terus dia dimana sekarang?" tanya nya pada Daniel.


"Udah berangkat kuliah, emang nggak ketemu tadi di bawah?" Daniel balik bertanya.


"Nggak, nggak ngeliat gue." jawab Richard.


"Jadi ke tempat klien lo itu?" lagi-lagi Daniel bertanya.


"Jadi dong, dan gue butuh lo sekarang buat melobi dia." ujar Richard.


"Gue mandi dulu." tukas Daniel.


"Ya udah, gue tunggu 10 menit."


"Lo pikir gue paskibra." seloroh Daniel.


"Paskibra lima menit ya. Masih untung lo gue kasih tambahan waktu lima menit lagi. Buruan...!"

__ADS_1


"Iye bawel."


Daniel lalu naik ke atas dan pergi mandi. Sepuluh menit kemudian ia pun siap. Ia dan Richard sempat sarapan sejenak, sebelum akhirnya bertolak meninggalkan penthouse.


***


"Tuh liat tuh kelakuan anak lo."


Daniel memperhatikan layar aplikasi "Cari Aku". Dimana Lea terlihat mondar mandir dari satu tempat ke tempat lain. Ia dan Richard  kini tengah melintas di sebuah jalan.


Aplikasi cari aku sendiri adalah aplikasi besutan startup milik Ellio, yang kini dikelola saudara sepupunya. Pada aplikasi tersebut kita bisa melihat pergerakan dari orang yang telah kita masukkan nomor handphonenya.


Uniknya lagi, kita bisa merekam suara dan akan otomatis tersampaikan kepada orang tersebut. Seperti orang yang tengah bicara dengan speaker.


"Lele, kamu dari tadi aku liat udah sepuluh kali ya mondar-mandir. Ada tandanya nih, kamu jalan kecepatannya berapa dan dalam keadaan gusar atau nggak."


Lea yang tengah berjalan itu pun menghentikan langkah. Sebab aplikasi itu adalah aplikasi sial yang pernah ada di dunia ini.


Betapa tidak, speaker handphone sudah dibisukan olehnya. Tetapi suara Daniel masih tetap masuk dan terdengar. Bahkan oleh orang sekitar Lea.


"Mas, ini aplikasi menyusahkan banget ya. Aku hapus ntar, liat aja."


"Oh ya udah kalau di hapus. Aku cuekin, liat aja."


"Ngancem lagi." ujar Lea.


Daniel dan Richard menahan tawa.


"Udah tua mas." lanjut Lea dengan nada makin sewot.


"Heh, tua-tua juga kamu cemburu kan kalau ada yang naksir sama aku."


Lea sudah memasang headset di handphone. Sehingga suara tersebut kini kedap.


Daniel dan Richard tertawa, namun tanpa suara.


"Kamu ngapain sih mondar-mandir gitu?. Inget perut tuh, udah gede. Ntar kecengklak aja, jatuh atau apa." Daniel mengocehi Lea.


"Koq mas doanya jahat sih sama istri sendiri?"


"Bukan jahat Le, aku tuh khawatir sama kamu. Dari tadi kamu mondar-mandir terus. Orang tuh pikirin dulu mau ngapain, barang apa aja yang mau di bawa. Biar nggak bolak-balik terus."


"Iyaaa." jawab Lea kemudian.


"Itu tadi ngapain kamu mondar-mandir cepet banget gitu?"


"Ya ada urusan kampus yang mendesak mas. Apalagi coba?"


"Ya udah, sana. Hati-hati dan fokus, jangan sampai jatuh atau apa. Jalannya pelan-pelan aja."


"Iya bawel." jawab Lea.


Daniel menyudahi pengintaiannya dan kembali fokus menyetir mobil. Ia dan Richard masih tertawa-tawa lantaran Lea.


***


"Mas pegel."


Lea merengek ketika telah pulang ke rumah. Ia mengeluhkan bagian punggung serta pinggangnya yang terasa pegal. Juga area sekitar bawah perut yang kram.


"Pegel kan, tadi aja seharian ini. Kamu ngebantah omongan aku mulu."


Daniel mengoceh sambil mendekat.

__ADS_1


"Udah tau hamil, pecicilan banget. Kesana-kesini, kesana-kesini."


"Duh udah deh mas, nggak usah ngoceh. Orang aku hamil karena perbuatan kamu koq. Kalau nggak karena kamu, nggak bakal melendung kayak gini." gerutu Lea kemudian.


Ia memasang wajah sewot pada Daniel, yang mulai memijat pinggangnya dengan lembut dan sangat hati-hati.


"Salah lagi kan aku." ujar Daniel.


"Emang salah, orang mas yang bikin aku hamil. Bikin gerak aku jadi terbatas. Sekarang mas juga yang ngomel, kalau aku banyak gerak."


Daniel bingung harus menjawab dari mana. Karena sudah pasti sebagai laki-laki, ia akan tetap di salahkan.


"Ya udah, bagian mana aja yang sakit?" tanya nya kemudian.


"Ini, ini, sama ini nih."


Lea menunjukkan area-area yang terasa nyeri serta linu di tubuhnya. Daniel mengusap dan memijat area-area tersebut. Ia mencoba memberikan rasa nyaman bagi Lea.


"Pengen rebahan." ujar Lea setelah beberapa menit Daniel memijatnya.


"Ya udah sini."


Daniel membantu Lea untuk berbaring. Ia mengganjal bagian pinggang perempuan itu dengan bantal yang lembut. Kemudian ia mengusap-usap perut Lea.


"Udah enakan?" tanya Daniel.


Lea mengangguk.


"Makasih ya mas."


Daniel mengangguk, lalu mencium bibir perempuan itu. Terasa bayi mereka bergerak-gerak di dalam sana.


"Kadang udah mulai terasa nyeri gitu mas, perut aku. Apa itu kontraksi ya?" tanya Lea.


Daniel diam sejenak.


"Maybe." ujarnya kemudian.


"Tapi kebanyakan palsu kontraksinya." lanjut pria itu.


Lea diam, sambil terus memperhatikan Daniel.


"Kan kamu udah baca juga di beberapa artikel. Kalau memasuki bulan-bulan akhir itu, akan sering terjadi kontraksi ringan. Karena kan bayi kita udah mau lahir."


Lea menghela nafas.


"Makin kesini aku makin takut mas, sebenarnya. Tapi jadi pengen cepet-cepet dia keluar juga. Biar perut aku nggak berat lagi."


Daniel tersenyum lalu mencium perut Lea.


"Nanti kalau udah lahir, aku isi lagi. Biar melendung lagi kayak gini." Canda pria itu.


"Ih, mikirin diri sendiri." ujar Lea seraya mencubit Daniel.


"Kan enak kata kamu. Tiap di masukin bilangnya, "Enak mas, enaaak."


"Iiih." lagi-lagi Lea mencubit Daniel. Namun ia tersipu malu dengan wajah yang memerah.


"Emang enak sih." ujarnya mengakui.


"Tapi ya kalau beranak tiap tahun, serem juga. Udalah sakit, bakal pusing juga sama tangisan para bocil."


Daniel kembali tertawa-tawa, begitupun dengan Lea.

__ADS_1


__ADS_2