
Ellio telah pulang ke rumahnya, kini tinggal Daniel sendiri yang terpaku dalam diam. Bayangan Lea kembali mengusik pikiran pria tersebut. Pun juga dengan saat dimana tadi Lea jatuh tak sadarkan diri.
Meski Ellio mengatakan jika istrinya itu baik-baik saja, tetapi hati Daniel tidak tenang jika belum melihat secara langsung.
Tak apa misalkan Lea tak mau berbicara dengannya, atau jika Richard hanya membiarkannya bertemu sebentar saja. Yang penting la melihat Lea dari jarak dekat. Bukan dengan menunggu dalam diam seperti ini.
"Lea kenapa telpon aku nggak di angkat?"
Daniel berujar ketika lagi-lagi telponnya tak diangkat oleh Lea. Sedang di dalam kamarnya kini Lea menangis, ia benar-benar merindukan rumah dan suaminya. itu Tetapi ia tengah dalam pengawasan ayahnya yang egois. Ia dan Daniel kini sama-sama saling memikirkan.
"Hhhh."
Daniel menghela nafas, pria itu duduk di tempat tidur yang biasa digunakan Lea. Disitulah pertama kali cintanya kembali bersemi, setelah mati suri bersama kepergian Grace hampir setahun lamanya.
Daniel mengingat ketika ia menghadapi pertanyaan-pertanyaan polos Lea mengenai sesuatu, saat mereka tengah merajut malam bersama. Mendadak hatinya menjadi sakit, ia merasa begitu bersalah sudah membentak Lea waktu itu.
Kini ia menerima balasan, alam sedang menjauhkan Lea dari pandangan matanya. Barulah ia menyadari betapa berharganya waktu yang telah mereka lalui selama ini.
***
Flashback.
Saat pertengkaran antara Daniel dan juga Richard tengah berlangsung, Dian kembali ke apartemennya dengan perasaan yang begitu kacau.
Perempuan itu bahkan tak henti-hentinya menangis. Ia tidak tahu apa-apa, dan tiba-tiba saja di salahkan. Parahnya lagi, Richard mengirim pesan singkat yang berisi jika ia muak pada Dian. Ia tak akan menemui perempuan itu lagi sampai kapanpun.
Sejatinya Dian tidaklah begitu masalah soal keuangan. Ia bukan Clarissa yang ditinggalkan begitu saja oleh sugar daddy nya. Dian masih memiliki apartemen atas namanya, dan tabungan yang berjumlah ratusan juta rupiah.
Selama ini Richard tak pernah perhitungan pada perempuan itu. Namun satu hal yang membuatnya sakit adalah, ia telah jatuh cinta pada Richard.
Cinta lah yang memberatkan hatinya untuk berpisah. Meski ia tahu jika Richard masih suka bermain perempuan lain dibelakang dirinya. Namun Richard selama ini selalu bersikap baik padanya. Richard memperlakukan Dian seperri ratu, sampai tadi semua kemarahan pria itu membuatnya seperti terperosok ke dalam jurang.
Ia benar-benar tidak tahu jika Lea adalah anak kandung dari Richard. Yang ia tahu Lea pernah bercerita, bahwa ayah kandungnya entah dimana. Dian menangis tersedu-sedu, ia bingung harus bagaimana dan mesti melakukan apa.
"Aku benar-benar nggak tau, kamu nggak bisa menyalahkan orang atas kesalahan yang kamu buat sendiri. Kamu yang tidak mengetahui kalau Lea adalah anak kandung kamu. Sekarang kamu salahkan orang lain, atas apa yang terjadi di hidup Lea."
Dian mengirim pesan itu pada Richard setelah Lea siuman dari pingsannya, dan setelah dokter Joe pulang. Richard membaca pesan tersebut, namun tak membalas. Pria itu kini terpaku di ruangannya, mengingat segala ucapan yang di lontarkan oleh dokter Joe.
***
"Dan, lo jangan nggak beraktivitas. Nggak usah macem-macem dulu, ademin suasana."
__ADS_1
Ellio mengirim pesan singkat pada Daniel, di malam yang sudah sangat larut. Saat itu baru saja Daniel berniat mendatangi kediaman Richard. Ia benar-benar tak bisa menunggu lebih lama lagi.
Ia harus membawa Lea pulang bersamanya, kalau tidak ia akan terus gelisah sepanjang malam karena memikirkan istrinya itu. Namun pesan dari Ellio seperti sebuah rem baginya, bahwa ia tidak boleh bertindak gegabah. Ia mesti sabar dalam hal ini.
"Lo harus bisa berdamai dengan Richard, apapun caranya. Walaupun kita berteman, posisi lo adalah suami Lea. Richard adalah bapak mertua lo."
Ellio berujar pada keesokan harinya, tatkala Daniel memaksakan diri untuk masuk ke kantor. Daniel mendengarkan Ellio, meski pandangan matanya jatuh ke sudut yang lain. Ia mengisap rokok dan menghembuskan asapnya di ruangan tersebut.
"Gue yakin Richard cuma lagi emosi, kaget sekaligus syok. Atas kenyataan bahwa Lea adalah anak kandungnya."
Ellio kembali berujar, Marsha tampak mondar-mandir di ruangan Daniel. Ia mengumpulkan file yang harus ia selesaikan. Tiba-tiba seseorang masuk dan berbicara pada Ellio.
"Pak Ellio, saya cari bapak kemana-mana. Ada yang nyari bapak." ujar orang tersebut.
"Siapa?" tanya Ellio.
"Klien bapak dari perusahaan sebelah."
"Ok."
"Gue balik kantor dulu." ujarnya berpamitan.
Daniel mengangguk, sesaat kemudian Ellio pun beranjak. Marsha kini mendekat pada Daniel dan mengambil beberapa file yang ada di meja bosnya itu. Sementara Daniel masih terpaku dan menghisap batang rokoknya sesekali.
Kali ini Daniel melihat ke arah Marsha.
"Kalau menurut saya, pak Ellio benar. Dari omongan dia yang sebelum-sebelumnya tadi, dia pengen bapak berjuang untuk kembali mendapatkan istri bapak."
Daniel kembali menghisap batang rokok dan menghembuskan asapnya.
"Cinta kalau nggak ada perjuangannya, suatu saat akan gampang luntur."
Marsha berujar sekali lagi, dan itu kembali membuat mata Daniel kembali menatap dirinya.
"Saya yakin bapak pasti bisa." lanjut perempuan itu. Ia kemudian kembali ke meja kerjanya yang ada di luar.
***
"Eh say, bener nggak sih soal affair nya bos Dan sama si karyawan baru itu?"
Salah seorang karyawan perempuan berujar pelan, saat Daniel melintas ke suatu arah.
__ADS_1
"Iya ya, masa iya pak Daniel merekrut karyawan pake acara di tes keperawanan dulu." ujar yang lainnya lagi.
"Iya, gosipnya pak Daniel minta ehem-ehem dulu sama tuh cewek. Imbalannya diterima kerja."
"Ah nggak percaya gue." Karyawan lainnya ikut berujar.
"Gue tau pak Daniel itu bucin abis sama mbak Grace. Gue aja yang lebih cakep dari si karyawan baru itu. Nggak ada tuh pak Daniel minta macem-macem ke gue, pas lagi perekrutan."
"Bener." timpal karyawan yang lainnya lagi.
"Pak Daniel bukan orang yang seperti itu. Gue lebih percaya kalau mereka itu punya hubungan sebelumnya, tapi nggak berhasil. Lantaran pak Dan masih belum bisa move on dari mbak Grace." lanjutnya Kemudian.
"Iya karena nggak di lanjut, itu cewek dendam. Biasa lagu lama kaset baru, cinta di tolak dokumentasi bertindak."
"Hahaha."
Tim karyawan pembela Daniel tertawa. Membuat team penggosip jadi tak enak hati sendiri.
"Heh, berisik aja kerja kalian."
Seorang kepala divisi yang terkenal galak, menegur mereka semua.
"Gosipin siapa kalian, pak Daniel?" tanya nya kemudian. Para karyawan itu pun diam serentak.
"Masih di gaji, di kasih tunjangan, kemudahan dan lain-lain. Bos baik begitu masih aja kalian gosipin. Mau di rumahkan dan nggak di gaji?" tanya kepala divisi itu lagi.
"Nggak, bu." jawab mereka semua.
"Mau dikirim SP 1, Marion, Tiara, Naura?."
Ketiga karyawan itu diam.
"Isyana, Raisa, Jihane?"
"Jangan bu, cicilan rumah saya masih 12 tahun." jawab Jihane.
"Iya bu, saya juga lagi nyicil apartemen bu." timpal Raisa."
"Makanya kalian kerja yang bener, kalau ada gosip nggak usah di urusin. Jadilah manusia yang memanfaatkan waktu berharga dengan melakukan hal penting. Jangan jadi hamba lambe murah."
"Iya bu."
__ADS_1
Suasana pun kembali kondusif.