
"Hallo Arka."
Richard tiba-tiba muncul di kamar rawat Arkana, sambil membawa makanan. Arka yang memang sejak tempo hari sudah di jenguk oleh Richard itu pun, tersenyum.
"Om Richard." ujarnya seolah menyambut kedatangan teman lama.
"Hei."
Richard memegang kepala anak itu.
"Arka sudah enakan badannya?" tanya nya kemudian.
"Udah lumayan, om. Tapi masih pusing kadang." ucap Arkana.
"Nanti juga lama-lama bakal pulih 100% koq. Oh ya, om Richard bawain kue coklat sama buah buat Arka."
"Wah, makasih ya om." ujar anak itu lagi.
"Sama-sama, Arka. Mama belum kesini?" tanya Richard.
"Belum, mungkin sebentar lagi." jawabnya.
Richard menganggukkan kepala. Sementara di lain pihak Hanif mulai teringat akan Arkana, dan berpikir apakah ia harus menyudahi acara bulan madu tersebut sekarang.
"Sayang, kita pulang aja yuk. Aku mau ketemu Arkana." ucap Hanif pada Susi.
"Yah, masa udahan sih. Kan belum saatnya berakhir." Susi merajuk.
"Iya, tapi kan Arka juga anakku dan aku mau menjenguk dia." ucap Hanif lagi.
"Terus yang di perut aku ini apa, mas?" tanya Susi dengan nada marah.
"Ini juga benih kamu, dia pengen liburan. Masa nggak dipenuhi kebutuhannya."
Seperti biasa yang namanya perebut suami orang, ia akan memenangkan diri dan anaknya sendiri.
Dan seperti biasa pula laki-laki yang terlanjur menjadi budak pelakor, akan melupakan anak yang telah lahir duluan dan lebih mementingkan si pelakor serta anak barunya.
Tanpa disadari jika anak yang telah ada sebelumnya juga mempunyai hak yang sama atas diri ayah mereka.
"Kalau mas mau pulang, pulang sendiri aja. Aku masih mau disini. Nggak usah pedulikan aku dan anak ini." ucap Susi.
Karena terlanjur memuja kelegitan dari istri barunya tersebut, Hanif pun luluh dan tak lagi berniat melihat Arkana.
"Ya udah, kita disini aja dulu sampai liburan selesai." ujar Hanif.
__ADS_1
Susi lalu sumringah dan memeluk suaminya itu.
***
Di rumah, Nadya baru saja selesai memasak makanan kesukaan Arkana dan memasukkannya ke dalam wadah kedap udara.
"Emang nggak apa-apa bu, Arka dibawain makanan lain selain makanan rumah sakit?" tanya Putri pada Nadya.
"Selama makanannya sehat ya nggak masalah harusnya, Put. Toh kadang kita menjenguk orang lain sakit juga bawa makanan dan buah kan." jawab Nadya.
"Iya juga sih. Arka bilang ke saya kalau makanan di rumah sakit itu aromanya enak, tapi soal rasa hambar."
"Namanya juga buat orang sakit, yang penting gizinya cukup. Soal rasa mungkin memang nggak ditambahkan garam yang banyak. Soalnya siapa tau ada yang hipertensi."
"Iya ya." ujar Putri lagi.
"Maklum nggak pernah masuk rumah sakit, bu." seloroh Putri.
"Jangan sampai, Put. Amit-amit kalau bisa sehat aja terus."
Nadya berkata sambil tertawa. Bahkan mungkin ini tawa pertamanya yang begitu tulus semenjak Hanif berkhianat padanya.
"Yuk, kita berangkat. Barangkali Arka sudah menunggu kita." ucap Nadya lagi.
Maka keduanya pun bergegas. Setibanya di rumah sakit, Nadya bersemangat untuk segera memberi makan pada anaknya. Namun langkah wanita itu terhenti di pintu masuk, tatkala matanya melihat pemandangan yang seolah meremukkan hati.
"Om, boleh tambahin kecapnya nggak?. Soalnya belum berasa di lidah Arka." ujar anak itu.
"Oke."
Richard menambahkan kecap manis yang ia beli atas permintaan Arka, ke atas bubur nasi. Kemudian ia kembali menyuapi anak itu. Hati dan perasaan Nadya makin diaduk-aduk rasanya. Antara senang, sedih, haru sekaligus hancur. Hancur karena Arka tak mendapatkan semua itu dari Hanif selama ini.
"Ada apa bu?"
Putri yang tiba belakangan karena tadi membeli air mineral pun bertanya, ia heran mengapa Nadya berdiri terpaku di muka pintu. Nadya kemudian menyuruh Putri untuk diam dan tak bersuara.
Mata Putri melihat pada Richard dan juga Arkana. Hati asisten rumah tangga itu mendadak diliputi rasa haru. Sebab ia lebih tau perasaan Arkana selama ini ketimbang Nadya sendiri.
Arka kerapkali mencurahkan isi hatinya pada Putri. Tentang hubungannya dengan sang ayah yang terasa seperti bukan ayah dan anak, tapi seperti orang lain.
"Dikit lagi ya, abisin." ujar Richard.
"Tapi Arka udah kenyang om. Nggak apa-apa kan?" tanya anak itu.
"Oke, ini kamu minum dulu."
__ADS_1
Richard tak memaksa Arkana untuk menghabiskan makanannya, karena sejak tadi ia telah makan cukup banyak.
Usai minum Arkana menyerahkan gelasnya pada Richard dan Richard membereskan semua itu. Namun Richard akhirnya menyadari kehadiran Nadya.
"Nad?"
Nadya sudah ingin menangis. Rasanya jika ia bukan istri orang lagi, ia ingin menghambur ke pelukan laki-laki itu dan berterima kasih padanya. Sebab telah menyediakan sosok ayah bagi Arka yang saat ini sedang membutuhkan.
"Mmm, makasih sudah care sama Arka." ucap Nadya kemudian.
Richard menganggukkan kepalanya. Nadya lalu mendekat pada Arkana dan menanyakan kabar anak itu. Sementara Putri melaporkan hal tadi pada Lita, asisten rumah tangga Richard melalui sambungan telpon. Tentu saja ia menjauh agar tak didengar.
"Beneran?" tanya Lita senang.
"Beneran, Lit. Pak Richard tuh emang baik banget ya." tukas Putri.
"Emang, terus reaksi bu Nadya gimana?" tanya Lita lagi.
"Bu Nadya kayak terharu dan pengen nangis gitu, cuma kayak masih dia tahan aja dalam hati."
Lita senang mendengarnya, kebetulan handphone tersebut ia aktifkan loud speakernya, agar yang lain bisa ikut mendengarkan.
"Pokoknya kita harus terus comblangin mereka sampai halal." ujar Lita.
"Iya, gue pengen banget kondangan." seloroh Putri sambil tertawa-tawa.
Mereka kemudian melanjutkan percakapan, sedang didalam sana Nadya, Richard, dan juga Arkana tampak saling berbicara satu sama lain sambil tertawa.
***
Hari itu Lea menemani ibunya mencari kebaya. Pernikahan kembali antara wanita itu dan sang mantan suami akan dilaksanakan dalam waktu dekat.
Ayah Leo membebaskan ibu Lea untuk memilih tempat dan wedding organizer. Namun ibu Lea hanya menginginkan sebuah pernikahan yang sederhana. Kalau bisa dilaksanakan dirumah apa salahnya, pikir perempuan itu.
Sementara Lea hanya menuruti dan menemani sang ibu. Sambil sedikit memberikan saran. Baginya kebahagiaan sang ibu lebih penting dari apapun.
"Lea, ini Darriel kenapa ngeliatin gue begini?"
Leo merasa aneh ketika Darriel melihatnya dengan mata yang fokus.
"Dia lagi mengidentifikasi lo. Liat aja bentar lagi ketawa." ujar Lea.
"Heheee."
"Tuh kan." ujar Lea lagi sambil tertawa.
__ADS_1
"Oh iya, di matanya ada sensor kali ya kayak handphone." seloroh Leo.
Lea dan ibunya jadi tertawa-tawa. Sementara Darriel membuat gerakan-gerakan yang seolah minta disambut. Akhirnya Leo pun menggendong anak itu, seperti saat sebelum-sebelumnya mereka bertemu.